Kamis, 29 Oktober 2009

Rumah Kontrakan (cerpen)

Kulirik Irine, istriku. Ia tidur pulas. Sementara aku setitik pun belum dihinggapi rasa kantuk.

Perlahan aku bangkit. Kusingkap daun jendela rumah. Membuat cahya rembulan malam itu sempat menjenguk.

Terdorong hasrat ingin meniru penyair Tiongkok kuna, kuambil sebatang pena dan carik kertas. Ingin kualihkan kemilau kekuningan bola awan malam itu ke dalam bahasa puisi. Tetapi tidak! Lantaran malam kian merangkak. Sedang pikiranku menerawang ke masa sepuluh tahun lalu.

Cintaku yang pertama dan terakhir pada Irine adalah keindahan sukma termurni. Walau mungkin cinta pertama itu seakan cuma suatu kebetulan saja.

Kami pertama bertemu pada sebuah sarasehan sastra di Solo. Aku datang sebagai munsyi, sedang Irine panitia pelaksana. Tak dinyana, pertemuan pertama itu berlanjut. Kami surat-suratan. Akhirnya, surat biasa berujung pada cinta. Sampai akhirnya, aku dan Irine bersanding dalam pelaminan.

Barangkali cinta telah membutakan mata hati Irine ketika itu. Gara-gara menyukai puisi dan cerpen-cerpenku, ia lebih memilih menikah denganku ketimbang Bambang, si calon dokter.
***
Aku tersentak, ketika seseorang menepuk bahuku. Aku kini tengah bertatap muka dengan kenalan lama. Dia dulu penyair terkenal kota Solo. Namun yang segera menyadari bahwa profesi sebagai penyair tak bias kaya, maka Budiman memilih jadi kontraktor.

Hampir saja aku lupa siapa dia. Dia adalah Tuan Budiman. Anaknya pernah kubantu masukkan ke SMA tempatku mengajar tiga tahun silam. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Anak itu diterima. Malahan jadi bintang pelajar sehingga dikirim memperdalam pendidikan di Kanada, dengan maksud setelah lulus akan mengajar kembali di SMA asalnya.

“Ini sekadar ungkapan terima kasih kami pada bapak.” Aku masih terngiang kata-kata Tuan Budi sambil menyodorkan selembar amplop putih berisi uang ketika mengetahui bahwa anaknya berhasil kubantu masuk SMA.

“Aha, Tuan Budiman. Ambil saja kembali. Kan semestinya orang hidup saling menolong.” Aku menolaknya secara halus.

Agak kecewa juga kulihat Budiman. Itu terpancar dari raut mukanya. Namun, ia semakin mendesakku sudi menerimanya. Kutolak dengan cara yang sama. Maka tak urung amplop tadi dimasukkannya ke dalam saku celanaku.
Percakapan tadi terjadi tiga tahun lalu. Kini Tuan Budiman benar-benar hadir di depan mataku.

“Kudengar masa kontrakan rumahmu beberapa hari lagi akan habis,” katanya.

“E… eh, benar tuan,”sahutku.

“Nah, kebetulan. Sebulan lalu aku membeli sebuah rumah baru dari hasil penjualan kebunku. Rumah itu terbilang permanenlah. Saya ingin tahu, apakah Tuan Rony sudi menempati sekalian memeliharanya? Mau bukan?”

Dihadapkan pada tawaran seperti itu, aku tidak bias segera menjawab. Dilema rasanya. Apalagi hatiku masih diliputi rasa haru atas kebaikan hati Budiman, manusia berbudi sesuai namanya.

“Lho… kok diam saja? Aku tidak minta sewa. Asalkan rumah itu dipelihara, itu sudah lebih dari cukup buat saya.” Tampak Tuan Budiman tidak sedang basa basi. Ia bersungguh.

“Aku bukannya tidak mau, tuan. Tetapi mesti menanyakan dulu pada istriku.”
Ketika kabar bahwa Tuan Budiman menawarkan rumahnya untuk ditempati kusampaikan pada Irine, betapa wajahnya tampak gembira. Sorot matanya berbinar-binar.

“Oh, Tuhan. Engkau Mahamengerti di antara yang mengerti,” ucapan syukur meluncur dari bibir Irine.

“Bang Rony Pardamean,” ujarnya kemudian kepadaku. “Kita selayaknya bersyukur pada Tuhan lantaran kita seakan-akan mendapatkan durian runtuh. Justru ketika rumah kontrakan kita sedang habis masanya. Rumah Tuan Budiman itu tentu cantik, bukan?” ia bertanya, ingin tahu.

Terbersit sepotong rasa iba dalam hatiku mendengarnya. Aku rasa jiwaku sedikit tersayat. Justru karena istriku tidak terlalu menuntut sesuatu yang tidak bisa kuberikan padanya sebagai suami.

Betapa Irine sangat mengerti diriku. Tiba-tiba aku menyadari bahwa selama ini tak pernah membahagiakan dirinya dengan materi. Aku hanya memberinya hadiah dua anak yang lucu dan manis. Padahal, kalau saja Irine mau mengejar materi ia bisa. Bukankah dulu ia pernah dilamar Bambang, mahasiswa kedokteran tingkat akhir saat aku mengenalnya?

Dengan Bambang, Irine bisa saja hidup kaya. Sebagai “nyonya dokter”, ia bisa saja hidup manja. Tetapi tidak. Irine lebih memilih hidup sebagai nyonya sastrawan daripada nyonya dokter. Meski pilihan sadar itu menuntunnya ke tubir hidup pas-pasan, Senin-Kemis. Namun, itu semua dilakukannya demi sepenggal cinta. Cinta dan setianya padaku melebihi apa pun juga. Padahal aku cuma seorang pemuda yang tak punya apa-apa, kecuali keterampilan pena. Selain menyandang predikat sebagai mahasiswa jurusan sastra sebuah universitas negeri.

Hanya itu. Selebihnya tidak ada. Irine begitu antusias aku segera menyelesaikan kuliah dan segera bekerja. Nyatanya, cita-cita itu hanya menggantung di angkasa, tidak pernah kesampaian. Aku drop out kuliah karena sibuk mencari tambahan penghasilan mengajar sebuah SMA.

Sambil sesekali menikmati honorarium dari cerpen dan puisi-puisiku dimuat koran ibukota. Kendati demikian, Irine tidak pernah mengeluh. Ini yang membuat aku semakin menyintainya. Apalagi ia sekali pun tidak pernah menyatakan penyesalannya menikah denganku. Ia pasrah menerima hidup apa adanya. Menerima adaku seperti sekarang.
***
Aku menggigil. Kutatap kaki langit sebelah barat. Angin menyeruak masuk lewat celah-celah jendela. Malam dingin. Sedingin hati yang sedang merenungi hidup ini. Dalam kamar juga dingin. Dedaunan eru didesir angin yang lalu.

Rembulan yang sejak tadi menari-nari di awan gemawan, berangsur-angsur turun. Dalam larutnya malam, pemandangan kurasa kian asri. Pepohonan eru yang membayang tampak anggun menjulang dalam temaram malam. Menjadikan alam ini sebuah gaib yang bisu. Ataukah memang begitu alam, tak pernah berkata dusta tentang realita manusia?

“Tidak, Rin, tidaaak!” rintihku. Tapi cuma cuaca yang mendengar. Aku tidak mengeluarkan suara, rintihan pilu itu hanya tersekat di kerongkongan saja. Aku takut Irine terjaga tidurnya.

Memang kemarin siang, Tuan Budi usai menawarkan untuk menempati rumahnya langsung mengajakku untuk melihat. Rumah itu memang bagus. Luas dan asri. Cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

“Kurasa, di sini kau akan lebih kondusif menghasilkan karangan,” kata Tuan Budi padaku. “Tambahaan pula, sarana menulis cukup menunjang karier kepengaranganmu. Kau lihat, bukan, di sana terhampar sawah hijau yang bisa jadi inspirasimu?” Tuan Budi meyakinkanku bahwa rumahnya layak aku tinggali. Aku tak menjawab. Tapi dalam hati aku mengiyakannya.

Segera tampak olehku sebuah rumah cukup mewah bergaya Spanyol beberapa meter di belakang. Terdorong hasrat ingin tahu pemiliknya, aku segera bertanya.

“Rumah apik itu siapa punya?” Aku beranikan bertanya, sekadar mengusir ingin tahu.

“Oh, itu rumah seorang dokter!”

“Wow, keren sekali. Rupanya, kami akan bertetangga dengan dokter. Suatu kebetulan, jika perlu bantuan medis, tidak usah jauh-jauh.”

“Ya, dokter itu sangat memasyarakat.”

“Siapa namanya?”

“Dokter Bambang.”

“Hanya itu?”

“Lengkapnya, Bambang Eka Budi Susila.”

“Bambang Eka Budi Susila?” aku seakan tak memercayai pendengaranku sendiri.

“Ya, seperti yang kau sebutkan.”

Tuan Budiman menceritakan jika Dokter Bambang Eka Budi Susila baru saja kembali dari dinas di pedalaman Kalimantan. Dan rumah yang kini ditempatinya adalah rumah bekas seorang pengusaha ekspor impor yang kini pindah ke Amerika.

“Rupanya Tuan Rony kenal baik dengan Bambang Eka Budi Susila?”
Aku seperti tersengat arus listrik. Tuan Budi melihat perubahan air mukaku. Wajah sendu membayangi diriku. Membuyarkan harapan untuk segera menempati rumah kontrakan baru.

Tidak. Tidak mungkin aku mau bertetangga dengan dokter bekas mantan pacar Irine. Ia begitu sukses. Sedangkan aku? Aku gagal total. Bukan saja gagal membahagiakan Irine, tetapi terlebih karena merasa tidak mampu untuk bersaing secara material dengan Dokter Bambang.

Aku membayangkan betapa lebur harga diriku sebagai lelaki di matanya. Lebih-lebih lagi di mata Irine, istriku. Masih bisakah ia menerimaku dalam keadaan begini? Lunturkah cintanya? Sementara di sebelah rumah mata kepalanya melihat kemewahan seseorang yang dulu lamarannya pernah ia tampik. Bambang bukanlah makaikat, pasti ia sakit hati dan membalas dendam. Bisa saja itu dilakukannya dengan pamer kekayaan. Biar Irine ngiler dan akhirnya menyesali keputusannya. Atau jika perlu menghancurkan rumah tangga yang susah payah kubangun.

Bila ingin menghindari keretakan rumah tangga, berarti aku harus mencari rumah kontrakan baru. Tapi kemungkinan ini sangat musykil. Tinggal tiga hari lagi sewa rumah kontrakan kami habis. Kami harus siap-siap angkat kaki. Dapatkah aku mengupayakan sebuah tempat perteduhan, walau bagai gubuk sekalipun? Tidak! Masalahnya, kenapa aku tak bisa mencari rumah lain sekiranya rumah yang ditawarkan Tuan Budi ternyata tidak cocok dengan seleraku atau selera istriku?
Tanpa memberikan kepastian kepada Tuan Budi, aku langsung mengajaknya pulang. Alasanku, penyakit maagku kambuh lagi.

Setibanya di rumah, Irin riang bukan alang kepalang ketika kuceritakan. Matanya berbinar penuh pengharapan. Diliputi rasa ingin tahu, ia langsung bertanya,

“Rumahnya memenuhi standar kesehatan kan bang?”

“Tidak!” jawabku ketus. “Kita tak mungkin menempatinya.”

“Lho, mengapa? Apakah terlalu buruk?”

“Bukan buruk, malah terlalu bagus. Tapi aku tak sudi tinggal di situ.”

Kusulut sebatang ji sam soe. Lalu menghirupnya dalam-dalam. Asapnya mengepul putih, bergulung-gulung. Bagai hidup ini juga layaknya. Bergulung-gulung, lalu lenyap entah ke mana.

“Apakah rumah itu dekat dengan kuburan?” Irine mendesakku sekali lagi. Aku cuma diam seribu bahasa.

“Apa ada setan di sana?” Irine semakin merengek-rengek.

“Diam!” bentakku padanya. Irine menangis. Aku menatap keluar dengan pandangan kosong. Hampa. Seingatku, selama sewindu perkawinan kami, baru kali inilah aku membentak Irine. Padahal masalahnya hanya sepele. Gara-gara Irine ingin tahu bagaimana rumah baru dan siapa yang bakal jadi tetangga kami nantinya. Harga diri sebagai laki-laki dan nafsu mau menang sendiri kutumpahkan padanya. Seharusnya itu bukan pada tempatnya. Aku bersaing dengan dokter Bambang, bukan dengan Irine, istriku.
***
Pagi itu aku bangun kesiangan. Tentu saja, lantaran semalam merenungi hidup ini. Sebenarnya, tak perlu direnungkan. Toh hidup ini nyata. Tapi tidak. Nyatanya, aku masih diombang-ambingkan perasaan. Kacau!

Dengan langkah gontai aku pergi mengajar. Beban demi beban tanggung jawabku sebagai seorang suami dan ayah semakin terasa di pundak. Bagaimanapun beratnya, toh mesti dipikul.

Begitu tiba di sekolah. Kusodorkan tugas pada ketua kelas. Sebagaimana biasa, anak-anak membuat karangan fiksi. Tapi kali ini ada tambahan. Mereka lebih dulu harus mengerjakan soal-soal ujian tahun kemarin untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sedang aku ingin tidur di kantor guru. Tentu, sebelum itu, izin pada kepala sekolah dulu.

Begitu pulang dari sekolah dan baru saja meletakkan tas di meja, Irine menyongsongku.

“Mas Rony, sebaiknya kita pindah hari ini juga.

“Hari ini?” aku terbelalak. “Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak?” Kini aku tahu, mengapa kau ngoto tak mau tinggal di rumah Pak

Budiman. Bukankah karena kita akan bertetangga dengan dokter Bambang?”

“Itu yang aku cemaskan!”

“Kau mencemaskan sesuatu yang bukan-bukan.”

“Aku takut kau tergiur harta kekayaannya!”

“Aku menikah denganmu bukan karena apa yang kau miliki, tapi karena aku mencintai dirimu.”

“Kukira kau wanita yang gampang berpaling karena harta.”

“Aku bukan tipe wanita begitu. Aku menerimamu apa adanya. Aku sudah cukup bahagia dengan hidup kita. Apalagi setelah dua buah hati kita lahir, aku merasa sudah mendapat segala-galanya.”

“Maafkan saya berpikir terlalu jauh.”

“Pepatah mengatakan, ‘you can buy a house not a home.’ Kita memang tak sanggup membeli rumah, namun hidup kita bahagia. Kita merasa krasan dan senang tinggal di rumah kontrakan.”

Tanpa terasa, sebutir air jatuh dari pelupuk mata Irine. Ia benar-benar berkata tulus.

“Tapi dari mana kamu tahu info bahwa tetangga sebelah dokter Bambang?”

“Tadi pagi aku ditemani istri Tuan Budi ke sana waktu kau sedang mengajar.”

“Bertemu dokter Bmbang di sana?

”Ya.”

“Dan kau menyesal?”

“Ya. Aku menyesal baru sekarang ini mengenalkannya padamu.”

Kurengkuh bahu Irine lebih dekat denganku. Kukecup keningnya. Lalu turun ke bibirnya yang tipis. Bau wangi rambutnya masih seperti dulu saat pertama ia kucumbu.
Irine membalas dekapanku. Ia merapatkan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Ia masih seperti dulu. Sang dewi yang tak pernah lekang kemolekannya meski temaramnya malam coba membayanginya.

Di luar, daun-daun eru berdesir bersanding dengan deru angin. Helai demi helai melambai. Yang kuning luruh, jatuh ke tanah.

Kudongakkan kepala Irine. Kusentuh dagunya yang berlipat. Berkat datang dari Tuan Budi. Saat masa kontrakan rumah kami sudah habis. ***

Jakarta, Okt. 2009. rmsp

Sabtu, 24 Oktober 2009

Buku Pintar Menulis Buku Ajar


Judul Buku : How to Write Your Own Text Book (Cara Cepat dan Asyik Menulis Buku Ajar yang Powerful)
Penulis : R. Masri Sareb Putra
Penerbit : Kolbu
Uk. Buku : 13.0 x 19,0 cm
Jmlh Hal : xvi + 192 halaman
Harga : Rp. 30.000

Hanya sedikit di antara kita yang bisa melakukan hal-hal besar, tapi semua orang di antara kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. (Bunda Theresa).

Demikian halnya dengan menulis buku ajar bagi mahasiswa. Tidak cukup banyak pendidik kita yang peduli untuk menulis buku ajar yang baik dan menuju sempurna dan menganggap pekerjaan menulis buku ajar adalah hal besar dan sulit. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Menulis buku ajar (walaupun bukan hal kecil juga) tapi jika dilakukan dengan cinta yang besar, akan menghasilkan buku yang “menggugah” dan menginspirasi pembacanya. Jadi, bukan hanya sekadar menghasilkan buku yang dibaca, dihafalkan, dan dilupakan setelah ujian selesai.

Inilah yang perlu dicamkan pada para dosen kita. Tapi jangankan menulis buku yang demikian, untuk menulis saja pun kadang para dosen kita masih gagap. Dan makna inilah yang ditangkap oleh R Masri Sareb Putra, seorang dosen yang sangat produktif menulis dan aktif sebagai trainer dalam berbagai pelatihan penulisan. R Masri Sareb Putra mengajak para pendidik untuk menulis untuk menularkan ilmu yang dimilikinya.

Dosen adalah orang yang berilmu, sudah semestinya mereka menuliskan ilmunya. Tujuannya agar ilmunya tetap lestari sepanjang masa. Dosen adalah pemikir, dan itu perlu dibuktikan dengan cara menulis buku karena buku merupakan karya mental intelektual sekaligus perwujudan budaya.

Jalaluddin Rahmat adalah salah seorang yang berbeda dari dosen lainnya karena ia menulis buku Psikologi Agama dengan menggunakan bahasa yang menggugah dan sangat menguasai benar tentang buku yang ditulisnya. Oleh karenanya, dosen yang menulis buku akan berbeda dengan yang tidak menulis buku.

Generasi yang diajar oleh para dosen saat ini adalah generasi yang disebut generasi millenial. Sebuah generasi yang lahir pada tahun 1980an ke atas. Para millenial ini haus dan gila belajar, punya daya tangkap dan cerap yang lebih tajam daripada yang diperkirakan. Selain itu mereka juga punya daya orientasi yanglebih kuat, lebih berani hands on, fleksibel, dan bisa bekerja tim. Selain itu mereka juga lebih senang belajar secara praktis daripada teoretis. Hal ini perlu diperhatikan betul oleh para dosen.

Mahasiswa saat ini perlu diberi energi, tantangan, dan petualangan dalam buku apapun yang ditulis oleh para dosennya. Ini penting, karena secara langsung dan tidak langsung para dosen telah mengajari mahasiswa memberikan rasa hormat terhadap ilmu apapun yang terus berubah secara dinamis, serta rasa percaya diri bahwa mereka dapat menguasainya.

Pangsa pasar buku ajar perguruan tinggi adalah pasar yang pasti, dan akan terus tumbuh dan berkembang. Tentunya kita tidak akan berdiam diri kan membiarkan mahasiswa kita hanya diajar dan “dihajar” buku-buku teks terjemahan yang kadang kurang kerelevanannya dengan keadaan bangsa ini. Kita harus buktikan, bahwa dosen Indonesia juga mampu menulis buku ajar referensi yang bagus.

Kota Kembang, 10 Agustus 2007
Nurchasanah

Sabtu, 17 Oktober 2009

Anggrek Hitam Untuk Domia


Gong dari rumah panjang menggelagar bertalu-talu. Penduduk kampung Tebelianmangkang sudah tahu. Jika gong ditabuh, berarti ada keadaan genting. Merekapun bergegas mendatangi rumah itu.

Rupanya, seorang wanita bernama Darahitam akan melahirkan bayi. Namun bayinya tak juga mau keluar. Darahitam sangat khawatir. Sebelumnya, sudah dua kali bayinya meninggal. Sambil kesakitan ia berdoa dan bernazar,

"Jubata, tolonglah agar anakku lahir dengan selamat. Lelaki atau perempuan, anak ini akan kupersembahkan menjadi pelayanmu!"

Jubata adalah dewa tertinggi suku Dayak. Jubata adalah perantara antara manusia dan Tuhan. Darahitam yakin Jubata akan menolongnya. Dan…

"Hoa, hoa, hoa …" suara tangis bayi memecah keheningan.

Seluruh penduduk desa menyambut gembira. "Ia lahir dengan selamat! Bayi yang cantik! Kulitnya bersih. Hidungnya mancung. Alisnya tebal. Bulu matanya lentik," seru para wanita.

Karena sangat cantik, bayi perempuan itu dinamakan Domia. Dalam bahasa Dayak, Domia berarti dewi.

Seperti ramalan banyak orang, Domia tumbuh menjadi gadis jelita. Banyak pria yang melamarnya. Namun Domia menolaknya. Sebab ia terikat nazar ibunya pada Jubata. Domia ditakdirkan menjadi pelayan Tuhan, atau imam wanita. Seorang imam tak boleh menikah. Tak seorang pun bisa membatalkan nazarnya. Kecuali Jubata sendiri yang mencabutnya.

Meskipun demikian, Domia jatuh cinta pada pemuda bernama Ikot Rinding. Pemuda itupun mencintai Domia. Namun Ikot Rinding heran. Karena Domia tak mau menikah dengannya.

Suatu hari yang panas, pergilah Ikot Rinding memancing. Namun, karena tak ada seekor ikanpun yang didapatnya, ia lalu pergi ke hulu sungai. Di tengah jalan, Ikot Rinding terhenti! Ia melihat Domia sedang mencuci pakaian. Pemuda itu langsung menghampiri gadis pujaan hatinya.

"Domia, mengapa kau tak mau menjadi istriku?" tanya Ikot Rinding.
Mendengar pertanyaan itu, Domia terkejut. Gadis cantik itu akhirnya berterus terang. Ia bercerita tentang nazar ibunya pada Jubata ketika melahirkannya. Betapa sedih hati Ikot Rinding mendengar cerita itu. Ia tahu, nazar pada Jubata hanya bisa dibatalkan oleh Jubata sendiri. Tapi… kemana ia harus mencari Jubata?

Karena cintanya pada Domia, Ikot Rinding pun mengembara. Siang berganti malam. Malam menjelang pagi. Setelah enam hari mengembara, sampailah ia di Bukit Sungkung.

Ikot Rinding beristirahat dan tertidur pulas di bawah pohon rindang. Begitu bangun, hari sudah pagi. Berarti ini hari ketujuh pengembaraanya mencari Jubata.

Ketika akan melangkah pergi, Ikot Rinding terkejut. Ia melihat sebuah sumpit tergeletak di tanah. Di hutan belantara tak berpenghuni ini ada sumpit? Dari mana asalnya? Ikot Rinding segera memungutnya. Di hutan belantara seperti ini, sumpit tentu sangat berguna, pikirnya.

Ikot Rinding meneruskan pengembaraanya. Ketika melintasi sebongkah batu, ia tiba-tiba teringat pada nasihat ibunya. Ketika masih kecil, saat menemani ibunya menyikat pakaian di atas batu, ibunya selalu berkata, "Jangan sekali-kali mengambil barang orang lain tanpa izin!"

Seketika Ikot Rinding berbalik, meletakkan sumpit itu ke tempat semula. Sumpit itu bukan miliknya. Mungkin milik pemburu yang lewat di daerah itu.

Maka Ikot Rinding pun meneruskan perjalanannya mencari Jubata. Badannya lelah. Ia merasa lapar dan dahaga. Tapi begitu ingat akan Domia, ia menjadi bersemangat kembali.

Tiba-tiba ia mendengar suara desisan. Sekelebat melintas seekor ular tedung. Ia berhenti di depan Ikot Rinding. Lidahnya kecil panjang bercabang. Badannya yang tadi melingkar, ditegakkan.

Ikot Rinding sadar ia harus waspada. Tangan kanannya kini meraih ranting. Diputar-putarnya ranting itu. Lalu dengan cepat tangan kirinya menyambar leher si ular tedung. Ular itu rupanya terpedaya oleh gerak tipunya. Dilemparnya ular tedung itu jauh ke tepi jurang.

Usai pertistiwa itu, terdengarlah langkah kaki. Rupanya ada orang yang menonton perkelahian Ikot Rinding melawan ular tedung. Semula Ikot Rinding curiga. Namun wajah pemuda itu tampak ramah.

"Aku Salampandai, putra bungsu raja hutan di sini," ujarnya. Salampandai bercerita, sudah dua hari ia berburu. Namun tak berhasil menangkap apapun. Ini gara-gara senjatanya hilang. Ia juga bercerita bahwa ayahnya menyuruhnya rajin berlatih menyumpit. Terutama menyumpit binatang liar yang bergerak cepat.

Sekarang Ikot Rinding tahu siapa pemilik sumpit yang ditemukannya tadi. Ia mengajak Salampandai ke tempat sumpit itu. Benda itu masih ada di sana.

Karena gembira, Salampandai mengundang Ikot Rinding bermalam di rumahnya. Ia ingin mengenalkan sahabat barunya kepada keluarganya. Bahkan, ia pun ingin menjadikan Ikot Rinding saudara angkat. Walau ia sudah mempunyai enam orang kakak.

Sejak itu, Ikot Rinding diizinkan tinggal di istana. Raja dan ratu sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Salampandai dan Ikot Rinding-pun selalu bersama kemanapun mereka pergi.

Suatu hari, "Jaga Si Bungsu baik-baik," pesan Raja pada Ikot Rinding dan keenam putranya saat mereka akan pergi berburu.

Ikot Rinding mengangguk. Tapi enam saudara kandung Salampandai tak menjawab. Mereka tidak menyukai Ikot Rinding. Mereka merasa Ratu dan Raja hanya memperhatikan Si Bungsu dan Ikot Rinding. Mereka lalu membuat rencana mencelakakan salah satu dari Ikot Rinding atau Si Bungsu.

Setibanya di hutan, mereka harus berpencar. Salampandai mendapat tempat yang agak mendaki. Dan Ikot Rinding ke tempat yang menurun. Keenam kakak Salampandai sengaja memisahkan mereka berdua. Namun, ketika keenam orang itu sudah pergi, diam-diam Ikot Rinding membuntuti Salampandai. Ia tahu, keenam orang itu sengaja menyuruh Salampandai ke tempat yang berbahaya.

"Berhenti! Jangan lewat gua itu!" teriak Ikot Rinding pada Si Bungsu.

Ikot Rinding tahu, di gua itu hidup sekawanan kalong. Gigi dan cakar hewan-hewan itu sangat tajam. "Salampandai, tiarap!" teriak Ikot Rinding saat melihat gumpalan-gumpalan hitam keluar dari mulut gua. Tetapi terlambat. Si Bungsu kini dalam kepungan kelelawar.

Dengan tangkas, Ikot Rinding mencabut mandau. Ia menebas ke segala arah. Satu persatu binatang gua itu dikalahkannya. Kini tinggal raja kelelawar yang bertubuh besar. Kali ini Ikot Rinding menggunakan sumpitnya. "FUUHH!" Hanya dengan sekali tiupan, robohlah si raja kelelawar. Si Bungsu pun selamat.

Keduanya lalu pulang. Salampandai menceritakan peristiwa itu pada ayahnya. Raja sangat takjub mendengarkan cerita ketangkasan Ikot Rinding. Ia sangat bahagia karena putra kesayangannya selamat.

"Mintalah apa saja yang kau inginkan," ujarnya pada Ikot Rinding. "Hari ini juga akan segera kupenuhi."

Pada saat itu Ikot Rinding baru sadar. Ayah Salampandai ternyata adalah Jubata itu sendiri. Inilah saat yang diimpikan Ikot Rinding. Meski agak ragu, Ikot Rinding pun berkata,

"Aku memohon bukan untuk diriku. Untuk orang lain. Sudilah kiranya Raja membebaskan Domia, dari nazar ibunya, Darahitam."

Jubata ingat. Tujuh belas tahun lalu, seorang ibu bernama Darahitam kesulitan bersalin. Karena putus asa, Darahitam bernazar.

Dan kini Ikot Rinding meminta agar nazar itu dilepaskan. Jubata yang bijaksana mengerti. Berbuat baik jauh lebih penting daripada memegang teguh sebuah sumpah.

"Permohonanmu kukabulkan," ujarnya.

"Apakah tandanya?" tanya Ikot Rinding.

Melihat keraguan putra angkatnya, Raja masuk ke kamarnya. Begitu keluar, tangannya memegang setangkai anggrek hitam. Yang hanya tumbuh di halaman istana Jubata.

"Inilah tandanya," sabda Jubata. Anggrek itu lalu diserahkannya pada Ikot Rinding.
"Begitu Domia menerima sendiri dari uluran tanganmu, bunga ini segera berubah warna.
Itulah pertanda. Bahwa nazar ibunya telah kulepaskan."

Usai menerima anggrek hitam itu, Ikot Rinding bergegas meninggalkan istana. Ia telah sangat rindu pada Domia. Perjalanan panjang ditempuhnya tanpa rasa lelah. Tak terasa, tibalah ia di kampung Tebelianmangkang.

Anggrek hitam ia serahkan pada Domia. "Pejamkan matamu…" pinta Ikot Rinding. Tanpa banyak bertanya, Domia menurut. "Nazar ibumu akan dilepaskan Jubata. Sebagai tanda, anggrek hitam di genggamanmu akan berubah warna."

Ketika membuka kelopak matanya kembali, Domia melihat anggrek hitam telah berubah warna. Jadi butih bersih. Indah berseri bagai anggrek bulan. Domia telah terlepas dari nazar.

Sepasang kekasih itu tak hentinya mengucap syukur pada Jubata. Dan keduanya hidup bahagia sampai masa tua mereka.

Jumat, 02 Oktober 2009

PELABUHAN (untaian puisi)

Pengantar
Saya mengawali karier kepenulisan, seperti pernah disinggung, dari publikasi puisi-puisi di Suara Indonesia, Rohani, Busos, Hidup, dan berbagai media di Jatim tahun 1980-an.

Beruntung, sejilid kumpulan puisi saya 20 tahun lalu, masih sisa. Saya sendiri tak menyimpannya lagi. Yang nyimpan mantan pacar, yang kini jadi istri saya. Inilah salah satu manfaat menikah, ada yang mengarsipkan naskah-naskah.


Malang, Selamat Pagi
Gema genta tua
setia bangunkan kita agar jaga
cuaca menebar rona
fajar merekah
tembusi tembok suci-rendah
selinap
meriap-rapat
tumpat padat
merasuk pori-pori kota

halimun menyeruak
mengepak sayap
kini sisa
tinggal purnama

kutatap teja
tembus kaca benggala
sejumput tanya:
- bayang siapa
kian kusam
ditelan masa?

Dari tempat kini tiarap
sekelebat kutangkap
segaris sayu
terlukis
di bola matamu

Tuhan,
biarpun samar
kan kupahat abadi nama-Mu
pada gerbang-masuk
kota ini.
1984

Malang, Selamat Siang
Tlah lelahkah kau berkelahi
bergumul
sekalian bercumbu dengan waktu?

di rerimbun daun-daun eru
terlukis pasi pucat wajahmu
(adakah itu kerna terjaga tidurmu tadi malam?)
ku tetap setia menunggumu

pada halte ini
sedetik kita henti
bukan cuma tunggu
angin lalu
atau bunuh waktu
keberangkatan tiba

di titik berangkat ini
sempurna sudah penantian
dibekap luka para penglaju
disesap reguk tetes madu

ketika tanya pengemis tua
menghujam tusuk luka-lukamu
(ku jadi tak ngerti
kenapa kau rela dihina
tanggung dosa kami semua?)
1984

Malang, Selamat Sore

Tiap sudut kota ini
tlah kujalani
sekalian kukencingi

ke mana melangkah
ketika lelah memuncah?
ke mana lari
ketika sepi menanti-nanti?
ke mana mengadu
ketika lidah jadi kelu?

maafkanlah
bila nanti malam
ku tak dapat datang
menjemputmu lagi
di sini
1984


Malang, Selamat Malam

Tahu tak ada yang melintas
kututup saja gerbang kota ini
biar rel kereta berbagi dingin di malam hari
dan jalan raya menangis ditinggal pergi pejalan kaki

nyanyi kenari telah pergi
burung kepodang kembali ke sarang
maka biarlah
sekalian kuucapkan: selamat malam
buatmu
kotaku tercinta
Mei 1990

Gunung Bromo
(kepada I.P.)

(1)
Di barat
langit terbakar
mentari merona
gemawan putih
berarak riang menyongsong siang

pucuk-pucuk pinus yang gemulai
dibelai mesra
dan dicumbu
bayu yang lalu
bersama waktu

lelambai daun cemara
pucat pasi
kuning
luruh
jatuh ke bumi

adakah Segara Wedhi lahir dari cinta?
atawa hanya fatamorgana?
kudampar tanya pada kawah yang menganga:
- akan kautelan jua duka lara anak manusia?

(2)
Pada titian anak tangga penghabisan
tak terasa
kusebut namamu
Bapa, Kau alfa dan omega
bolehkah kubersamanya mendaki
puncak gunungmu yang menjulang?

siang kian angkuh menyongsong senja
sayap-sayap malam menjala mata angin
kusesap segala arah
1989

Edelweiss
Ini
seputik untukmu
kucuri dari negeri
segala cinta
beri siapa saja
yang datang ke sini
menjemputmu
17 Mei 1988

Pohon Kehidupan
Butir air hujan yang curah dari awan
seperti hendak menelan
guratan sketsa kisah perjalanan
datang,
datanglah pelangi segra
merasuk dalam hidupku

Tuhan, maafkan kami
tlah bakar habis hutan titipan anak cucu kami
bambu-bambu cimari
padang ilalang
ganti hijau daun kehidupan
yang pernah Engkau Tanami sendiri
1986

Katedral
Di pelataran rimbun pohon mahoni
sendiri
menahan terik matahari

seulas senyum tersimpul
lurus tegak tengadah ke langit
pada menara miring
pada salib
pada luruhnya daun-daun kenangan
yang kini terkubur
bawah onggok tanah merah

dan perjalanan dari pagi hingga malamku
berujung pada bangunan tua kokoh ini

mengapatah burung gereja mencicit gelisah
padahal tangan-Mu masih terulur?
hujan tak pernah curah di musim kering
sirami atap sirap bait-Mu yang kudus

dalam diam
kuayun langkah masuk kamar pengakuan
kuakui semua dosa dan salah
dan pengampunan melimpah muncrah
keluar dari bibir merekah
Pontianak, 1989
 
Lilin Altar
Sore ketika gerimis. Gema gereja kirimkan nada. Aku tepekur. Kau bersimpul senyum ketika kutanya, “Benarkah katamu, tak kan ada hari tanpa cahaya?”

Kepala kau angguk. Tapi ku kaubiar tafsirkan ayat-ayat
yang tersirat di raut wajahmu
ah,
langit memang selalu pekat bila kan turun hujan
biar bumi jadi hidup lagi
segar sehabis minum
curah hujan kasih sayang-Mu

Kulihat semut umat membentuk baris
berjajar keliling altar mezbah-Mu
lilin-lilin nyala
dian yang padam
kembali semburatkan harapan
lagu Vesperae (ibadat sore) kumandang
pujian bagi-Mu, ya Tuhan!
1987

Rosa
Ku tak pernah tahu
dari mana asal bunga ini
kaupetik?

yang kutahu
putik mawar yang kau siram
waktu janji setia itu
kini tlah merekah

Kerap kulontar tanya pada angin senja
dan titip sejumput rindu pada waktu:
- bila kau tebar aroma
lalu tusuk dagingku dengan duri?
1986

Bulan Bersimbah Darah
Bulan yang pecah
bersimbah darah
merekah
muncrat
mengalir masuk kamarku

merah
menetes basah
merembes masuk daun-daun jambu

Tuhan di sini
dalam rupa roti
sendiri saja Dia
dingin hawa menusuk kulit

di tabernakel
seuntai doa mengembang
terucap dari bibir yang terkatup rapat,
“Kasihan dia kedinginan,” katamu
sembari menghunjukkan tinggi-tinggi rupa-Nya dalam roti
badan-Nya kaku tapi tak mati
darahnya terkuras tapi tak berbekas
kita makan dan minum Dia
biar mamah
jadi satu tubuh satu darah

esok harinya
ketika bangun dari mimpi
bulan kemilau tlah pecah
langit runtuh
kitab kehidupan tersibak
kenisah tercabik belah dua
dikuduskan nama-Mu, Bapa, Allah segala Allah.
1989

Dalam Kenangan
musim tlah ganti
cericit unggas merubah cuaca
ke mana udara pergi
situ jua langkahmu

Completorium
Tanpa terasa
waktu berjalan bagai alam mimpi
kerdip dian demikian sunyi
sperti cahya bintang kerdip di malam hari

sepasang tangan terkatup
rapat
pohon ampun
Tuhan, Sang Mahapengampun
beri kami setetes kasih sayang

daras-daras syair dari polifoni
menguntai puji
membaca doa
dari Mazmur cinta

teruntai sulur
cinta yang murni
terucap janji
niat yang suci
terangkat hati
jiwa berbakti

Tuhan,
dalam peraduan nanti
Izinkan kungelindur sebut-sebut nama-Mu
biar Kau tetap berjaga
meski semesta terlena
dibuai mimpi-mimpi
1989

Persembahan I
Tuhan,
Jika kudatang pada-Mu
ada yang ingin kupersembahkan
ku tak punya
itu yang kan kuberi pada-Mu

Tuhan,
Jika kudatang pada-Mu
ada yang ingin kupersembahkan
keringnya air telaga
kelamnya awan
sepotong buah karya tangan-Mu

Persembahan II
Di atas altar ini….
kurangkai buket mawar untukmu
tapi kau hilang
seblum kupersembahkan
pada-Mu
2009

Persembahan III
Sumbu yang berkedip
nyala dian yang redup
tak kan pernah
Kau padamkan
2009

Getsemani
Butir-butir keringat tiba-tiba berubah jadi darah
taman ini tetap sendiri
dibekap dingin malam hari

dari balik riap daun-daun zaitun
segerombol pasukan menyeruak
lalu teriak:
orang yang kita cari semayam di sini

dengan pedang terhunus dan balatentara
mereka rantai dia dengan baja
dengan doa dan air mata
ia bungkam mereka dengan cinta

: sarungkan pedangmu!
tidakkah kamu tahu
dunia ini taman cinta
yang dijadikan Dia
asal mula
segala cinta?
2009

Doa Malam
Hilang bayang-bayang
angan terkulai
pelangi luruh
jatuh
sentuh matamu

rindu memendam
berlabuh dalam laut kelam
kutebar jala
menangkap
ikan kasih-Mu

Bapa kami yang ada di sorga
doaku malam ini
sama dengan yang kemarin
1987


Negeri Peri
Kepada: I.S.
Seonggok tubuh terempas
memelas
meremas-remas kanvas
dengan belah tangan yang lemas
ia coba pindahkan isi bumi pada lembar kain

darah mengucur deras lumuri kerikil dan wadas
terdengar isak tangis
sedu sedan di seberang
juga penyesalan
(duri mawar itu kembali menyayat luka lama)

jalan penuh liku ini
kenapa banyak yang melintas?

biar jauh negeri segala peri
akan kujelajah jua
biar tinggal jejak
membekas tapak
1989

Selasa, 29 September 2009

KETIKA CINTA BERSALIB (novel)

Pengantar
Lama saya mangkir, tidak menulis novel. Padahal, karier kepenulisan saya justru diawali dari karya fiksi. Tatkala M.Djupri, Henri Supriyanto, dan Toto Sonata, para redaktur fiksi harian Suara Indonesia tahun 1980-an, hampir setiap minggu memberi ruang di rubrik "Seni Budaya" untuk puisi-puisi saya. Lalu, Basuki Soejatmiko dari Jawa Pos dan Busos menakar cerber saya laik-muat di media yang di Jawa Timur saat itu populer, lantas sastrawan senior yang juga redaktur budaya harian Surya, Julius Sijaranamual memuat cerber-cerber saya di Surya.

Terinspirasi novelis, sekaligus ilmuwan idola saya, Umberto Eco sang profesor semiotik Universitas Bologna, Italia,yang menulis novel --kemudian jadi film terkenal-- The Name of The Rose, saya menulis novel ini berlatar sejarah Katolik Sanggau, Kalbar. Sembari menyibak lembar-lembar daun lontar sejarah masa lalu, novel ini, harus diakui, memang bernuansa sejarah. Dari 9 jenis novel, ragam novel ini ialah hibrida historical novel dan roman-fleuve.

Ada pepatah, "Mengajar dengan contoh." Mahasiswa semester III Univ. Multimedia Nusantara yang mengambil mata kuliah wajib Creative Writing di akhir kuliah saya tugaskan menulis dan menghasilkan novel yang laik-terbit. Dalam konteks tut wuri handayani itu pula, saya terlecut menulis serial trilogi novel ini.

- Ketika Cinta Bersalib adalah satu dari trilogi novel. Dua lainnya:
- Ketika Cinta Berosario (mengisahkan konflik cinta dua remaja beda agama, sang dara harus memilih: tetap menguntai rosario, ataukah ikut agama pacarnya? Ternyata, sang dara memang menikah dengan pria idaman yang semula beda agama, namun akhirnya mengikuti agama yang ia anut. Rina, dara pelaku utama novel ini, tetap bisa mendaras untaian doa rosario. Puji Tuhan!)
- Ketika Cinta Berkorban (mengisahkan pengorbanan seorang ibu dalam sebuah keluarga Katolik, ketika cinta sang ayah harus berbagi dengan wanita idaman lain/wil).

Saya akan muat secara bersambung. Mulai dengan sepenggal dulu dari babakan buku yang pertama.
rmsp

RINGKASAN CERITA
Cinta milik semua anak manusia. Tak terkecuali Atunarang Embaloh yang, sejak masuk biara, ganti nama jadi Suster Andriana. Nama belia nan rupawan ini berujung dengan “Embaloh” karena waktu lahir, Sungai Embaloh sedang meluap, memuntahkan air bah.

Tumbuh jadi gadis menawan, Atunarang memikat tiap mata yang melihat. Ibarat mawar yang baru mekar, harumnya menyebar ke segala mata angin. Menebar pesona tak ada tara.

Bodinya tinggi semampai. Berkulit kuning langsat. Berjuta sukma tertambat padanya dan ingin memujanya. Atunarang menjalani masa SMA layaknya gadis biasa. Karunia multitalenta, membuat gadis itu dikerubungi banyak pangeran. Tak menghiraukan salah satu. Atunarang hanya menikmati dan menjalani hidup ini bagai sebuah permainan. Homo ludens. Manusia makhluk yang senantiasa bermain, sesuai lakon sandiwara!

Namun, babakan sandiwara hidupnya berubah jadi air mata, ketika menjelang EBTA, gadis manis itu ikut retret dipimpin Frater pujaannya yang juga guru Agama. Usai retret, Atunarang mengutarakan niatnya pada orang tua: tamat SMA, ia tak mau kuliah, tapi mau masuk biara…. Ibu setuju. Tapi Ayah mati-matian menentang rencananya. Dengan segala cara, Ayah mencegahnya jadi gadis berkerudung dan berjubah putih.

Tapi apa hendak dikata? Lulus SMA, Ayah yang otoriter memaksanya masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Dan naas. Ketika pulang dari menjenguknya di Surabaya, pesawat Adam Air yang ditumpangi Ayah lenyap di perairan Sulawesi.

Ayah tiada! Atunarang tentu bersedih hati. Namun, Tuhan mungkin memberinya jalan, agar Atunarang bisa kembali meniti jalan panggilan suci….

Atunarang pun berhenti kuliah. Namun, selama kuliah, ia telah meninggalkan titik-titik noda di kampus Unair. Rio, temannya kuliah dan karibnya waktu SMA, menodainya.

Namun, noda hitam masa lalu tak kuasa menghambat keinginannya masuk biara. Setelah mengikrarkan kaul kekal, Andriana ditugaskan menjadi kepala SD di bumi khatulistiwa, tepatnya di kota Sanggau.

Waktu akan menyembuhkan luka, dokter hanyalah merawat. Ya, waktu yang berlalu, akan mengatup luka dan stigmata yang sempat menoreh hati dan meluruhkan bunga kesuciannya.

Bulat tekadnya mengabdikan diri pada Tuhan dan bersumpah jadi pelayan setiap insan. Ia bercita-cita jadi suster yang suci, sebagai silih dan tebusan atas dosa-dosa masa lalu yang nyaris menyeretnya ke tubir yang gulita. Ia yakin, Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya merangkul dan sedia tiap saat membuka pintu tobat bagi domba yang mengetuk pintu maaf pada-Nya.

Di SD yang dipimpinnya, Suster Andriana melihat seorang anak mirip mantan kekasihnya. Andriana tidak mengira, kalau anak itu berasal dari benih Rio, kekasihnya semasa kuliah. Tidak mungkin! Ini tentu sebuah ilusi. Obsesi yang jadi bayang-bayang dan selalu mengejarnya ke mana saja akibat karma masa silam. Bukankah jarak bermil-mil serta waktu beribu minggu telah memisahkan mereka?

Ya, beribu minggu telah berlalu. Dan kini Rio benar-benar hadir di depannya. Mereka bertemu di Sanggau. Ternyata, pengusaha kayu kaya itu sengaja menitipkan anaknya pada nenek dan kakeknya di Sanggau lantaran ditinggal mati istrinya dalam sebuah tragedi kecelakaan pesawat Garuda di Jogjakarta.

Bisakah tali cinta yang kusut antara keduanya dirajut kembali? Tetap setiakah Suster Andriana pada panggilannya? Inilah metafora cinta bersalib. Andriana yang semula bukan Katolik, lalu jadi Katolik. Bahkan, memilih panggilan hidup sebagai biarawati. Dengan jalan ini, ia yakin pengabdiannya akan total untuk Tuhan dan sesama.

Menarik ceritanya. Diupayakan juga indah gaya bahasanya. Banyak pesan dalam cerita ini perlu dipetik hikmahnya. Pengarang yang juga sarjana filsafat itu tidak hanya piawai bercerita. Ia juga menggali makna di balik setiap peristiwa. Lalu menyarinya untuk pembaca. Menjadi sebuah kisahan yang tidak saja menghibur, tapi juga berguna. Di sini menjadi genap makna susastra: indah dan berguna (dulce et utile) seperti dikatakan pujangga Romawi kuna, Horatius.

Sebuah kisahan yang unik. Karena dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta ini mengambil setting peristiwa dan menetapkan tempat novel ini akrab dengan pembaca. Dalam menulis novel ini, ia melakukan studi pustaka. Referensi zaman kolonial dibukanya. Tahulah pengarang asal usul nama Sintang dan Sanggau. Menjadi mafhumlah dia mengenai kisah kepahlawanan tokoh Sintang dan Kalbar, Apang Semangai.

Latar sejarah dan lokasi novel ini terjalin dalam bingkai kisah asmara dua anak manusia. Yang satu suster biara, sementara yang lain awam, pengusaha kayu yang kaya. Ikuti kisahnya hingga tamat.

Selamat menikmati!


(1)
SUNGAI Kapuas.
Seberapa dalam airnya? Kala kemarau tiba, cuaca mencerahkan mata memandang onggok-onggok batu yang terhampar di tengah-tengah pusaran segara. Menahan laju air mengalir dari hulu. Dan ketika hujan dari langit tak juga kunjung curah, gerah bumi khatulistiwa kian parah.

Langit bumi khatulistiwa merah merona. Meluruhkan daun-daun ketapang. Mengeringkan sawah-sawah di Mempawah. Membuat Sintang jadi senentang antara Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Sanggau tak lagi hijau dengan rimbun daun-daun sangau (semacam rambutan, konon nama Sanggau berasal dari tanaman ini karena dahulu kala banyak pohon sangau tumbuh liar di pesisir Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas).

Kemarau telah memupus segala yang baik dan indah dalam sekejap saja. Ke mana hutan Borneo yang dijuluki sebagai hutan lindung dunia?

Pengusaha telah membabat habis belantaranya. Menyulap Borneo jadi lahan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri akasia. Sementara truk-truk di tepian Kapuas berjejer, siap mengangkut pasir ke kota dari para penambang perusak lingkungan.

Debit air makin surut karena tak ada lagi penyeimbang sebagai peresap dan penahan air. Membuat sungai Kapuas jadi kian dangkal. Sedangkal akal para pengusaha dari kota yang ingin mereguk nikmat sesaat. Merusak dan mencuri di siang hari rumah penduduk dengan segenap isinya.

Ah, betapa sulit kini menebak kedalaman air sungai. Pada zaman dulu, tak masalah melayari Kapuas dengan kapal motor dan tongkang. Mengukur kedalaman airnya dengan suar bambu. Sepanjang musim, air sungai mengalir tak pernah lelah. Tak ada riam-riam. Tak ada kiham. Juga tak ada hambatan dalam perjalanan.

Kini riam-riam Sungai Kapuas mengandaskan segalanya. Perjalanan. Pelayaran. Harapan. Dan juga, mimpi-mimpi!

(2)
Isi otak Suster Andriana siang itu melingkar-lingkar, bagai kisaran air Pancur Aji. Dari susteran, di ketinggian Sungai Liku, matanya terpanah ke tepian Kapuas. Katedral tampak berdiri anggun. Samar-samar pintu utamanya seperti tangan terbuka. Seakan mempersialakan siapa saja untuk masuk ke dalamnya.

Deru mesin motor meraung-raung seperti raksasa batuk, menyeretnya ke bongkah-bongkah kenangan masa silam. Barangkali beribu minggu telah lalu, sebelum ia tiba di Sanggau, kota tempatnya ditugaskan sekarang.

Ketika kakinya pertama kali menginjak bumi Borneo setelah resmi jadi biarawati, suster yang menjemputnya di bandara Supadio, menyuruhnya minum air Sungai Kapuas. “Kualat,kalau tada diminum!” kata rekan sekomunitasnya, setengah memaksa.

Maka Suster Andriana pun menenggak air Sungai Kapuas. Saat itu, ia belum tahu apa maknanya. Baru kemudian, setelah dihadiahi seseorang sebuah kaset lagu daerah Kalbar, Andriana tahu maknanya. Syair lagu “Sungai Kapuas” dalam bahasa setempat menjelaskan banyak, mengapa setiap pendatang baru di Borneo harus minum air Sungai Kapuas.

Sungai Kapuas punye cerite
Bile kite minum aiknye
Tak kan bise melupekannye....


Siapa yang pernah minum air Sungai Kapuas, tak bisa mengelak, dan ingin selalu kembali. Ia dihantui rindu selalu menyatu dengan bumi khatulistiwa. Seperti seorang bayi yang merasa nyaman di kehangatan pelukan ibunya. Demikian tiap pendatang baru rindu direngkuh perut bumi Borneo.

Cinta bumi khatulistiwa tak pernah jemu menebar pesona. Kalau hidup manusia ibarat garis-garis panjang, bisakah sebuah noktah putus, agar pupus kenangan masa lalu? Tidak juga! Bagaimanapun, masa lalu, meski hanya setitik, adalah bagian utuh sebuah kehidupan.

Memandang garis dan tiang-tiang awan bumi khatulistiwa, Andriana terkenang masa remaja. Tatkala cinta bisa menghalang segala daya dan coba memisahkan dua anak manusia. Ketika bunga-bunga sedang kuncup di tangkai ingin dipetik untuk segera dinikmati harum dan indahnya. Segera! Darah muda yang menggelora sering tak kuasa untuk dicegah.

Ya, mereguk manisnya cinta bagai memetik sekuntum bunga. Begitu tergenggam tangan, si bunga layu karena lepas dari tangkainya. Lepas tangkai dari pokok. Menjadikan bunga kering. Tak menarik lagi. Sirna semua indah dan pesonanya karena tersedot oleh radiasi tangan si pemetik.

Meski kerudung dan jubah putih membungkus jasadnya yang halus mulus, dan salib perak kemilau memendar cahaya pada dadanya, Suster Andriana tak kuasa menanggalkan sisi-sisi manusianya. Makin berusaha ia mengekang, makin angan-angan dalam membawanya masuk rentang waktu lalu.

Ah, mengapakah sosok laki-laki itu kembali mengisi relung-relung hatinya, saat ia coba bunuh semua kenangan bersamanya? Mengapa jiwa dan pikiran bisa menembus ruang dan waktu yang fana? Tidak seperti badan yang hanya bisa mengenali waktu sekarang ini dan di sini?

Semayup lagu kondan “Pantai Engkakal” yang dinyanyikan Rafael mengalun lembut dari tape recordernya. Seperti mengantarnya kembali ke masa lalu.

Sudah lama tidak ke hulu, Pantai Engkakal
Skarang ini ke hulu lagi, Pantai Engkakal
Sudah lama tidak bertemu, Pantai Engkakal
Skarang ini kita bertemu, Pantai Engkakal


Adakah rindu menyeretnya menatap kosong ke bawah, ke aliran Sungai Liku yang terus mengalir, tak pernah lekang oleh waktu? Mengapa bongkahan masa lalu seperti mendera-dera? Menyayat lagi luka lama yang kembali menganga, setelah sekian lama pupus, hangus diberangus sang waktu? Lalu, musna bersama mengalirnya air meresap ke terjal-terjal Pantai Engkakal. Mengalir, lalu kandas pada bongkah-bongkah batu riam Kapuas.

Atau memang demikiankah garis hidup yang mesti dijalaninya? Datang, pergi, silih berganti. Bagai aliran Sungai Kapuas?

Teringat Andriana kuliah anatomi yang sempat didalaminya di Universitas Airlangga, Surabaya beberapa tahun silam. Ia termasuk salah satu mahasiswa cerdas, dengan indeks prestasi tinggi. Ujiannya selalu summa cum laude. Tapi yang harus rela drop out dari fakultas kedokteran. Karena memilih meniti jalan panggilan dan mengikuti bisikan Tuhan.

Benar kata dosen mata kuliah anatomi dulu yang kini masih terngiang di telinganya. Manusia bukan hanya seonggok daging belaka. Ia juga lubuk misteri yang tak pernah sepenuhnya dapat terselami. Semakin manusia memahami siapa dirinya, semakin ia tak mengerti. Itulah sebabnya, di kuil Apollo di Delphi, gerbang kota di Yunani,tertulis ”gnothi seauton”. Peringatan agar manusia selalu mengenali dirinya. Dua kata yang sarat makna, kini jadi motto resmi dunia kedokteran.

Dan kini Andriana sedang bergulat dengan pencarian makna perkara siapa dirinya. Semakin mencari, semakin ia bersua tanya. Tak satu pun misteri hidup ini berhasil dicatatnya dengan pena.

Maka diletakkannya pena di atas meja. Serta merta ditutupnya catatan sekolah hari itu. Kini kantor telah sepi. Para karyawan Sekolah Dasar yang dipimpinnya, sudah pulang semua.

Perlahan ia bangkit dari kursi berwarna cokelat berukir yang merupakan pasangan pada sebuah meja besar khas seorang direktris.

Ia mengayun kaki ke arah jendela. Disingkapnya korden. Lalu menyapu pandang ke luar. Setumpuk pekerjaan di hadapannya telah membuat hatinya meloncat-loncat tak menentu. Bola matanya yang biasanya cerah, terbungkus lamunan. Ah, seandainya saja Tuhan mau melenyapkan obsesi yang selama ini mengusik hati dan pikirannya?

Sembari menggeliatkan tubuhnya yang mulai terasa pegal, Andriana meneliti kembali meja tulisnya. Di tempat semula, yang bertumpukan puluhan rapor, kini tinggal beberapa. Hanya beberapa buah saja lagi yang belum diambil oleh orang tua murid.

Lonceng bubar sekolah sudah lama berdentang. Tapi Andriana tetap saja bergeming dari ruang kantornya. Ia sangat mencintai pekerjaannya. Dan merasa sudah terbiasa dengan rutinitas. Mempersembahkan diri, waktu, tenaga, dan seluruh hidupnya untuk orang lain.

Semua itu adalah cita-citanya sejak kecil. Baginya, tidak ada kasih yang lebih besar, kecuali ikut ambil bagian dalam pengorbanan dan penderitaan Kristus, Sang Guru. Buatnya, kesetiaan pada tugas dan panggilan adalah nomor satu. Adakah kebahagiaan yang lebih sempurna, kecuali bahagia mengantar orang lain jadi bahagia?

Tetapi hari ini? Sepotong keraguan diam-diam menyelinap dalam dadanya. Ia seperti tengah diterjang arus Pantai Engkakal. Haruskah ia mengingkari kaul suci yang telah diikrarkannya? Mestikah ia melepas jubah dan kerudung putihnya demi seseorang?

”Selamat siang, Suster....,” gelombang suara tiba-tiba saja menggelegar dari balik pintu kantornya yang separuh menganga, disertai dengan gedoran halus.

”Silakan masuk!” jawabnya, sekenanya, tanpa betul-betul memandang siapa yang baru saja menyapanya.

”Srrrr!” Jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan kencang, ketika bola matanya menatap sosok pria yang kini berdiri persis di depannya. Andriana mengucek-ngucek mata. Seakan tak percaya pada penglihatannya. Lidahnya jadi kelu. Hatinya beku. Syarafnya seketika berdesir.

Dengan tatapan tak percaya, Andriana hanya sanggup mematung. Benarkah apa yang dilihatnya? Bukankah ini hanya fatamorgana? Tidakkah sebuah ilusi karena ia memang tadi merindukannya? Rio Dewanto Rinding Banua. Benarkah dia sosok yang kini sedang berdiri di depannya?

”K... kau?” Andriana hanya sanggup mendesis. Benar-benar ia tak memercayai penglihatannya sendiri. Realitakah yang diinderanya? Ataukah hanya fatamorgana?

”Ya, saya,” sahut Rio. ”Tidak menyangka kita bisa bertemu kembali, setelah sekian lama dipisah oleh batas dan disekat-sekat oleh kesewenang-wenangan dunia.”

Andriana menghela napas. Seakan-akan mengeluh. Mengapa laki-laki itu muncul lagi dalam lembar catatan kehidupannya, setelah sekian lama ia hapus? Mengapa ia menguntitnya ke mari? Apa yang dicarinya?

Andriana benar-benar terkejut. Hatinya masih tak percaya. Dipandangnya lamat-lamat laki-laki yang masih terpaku di depannya.

”Mengapa kau menatapku seperti itu? Seperti singa betina yang siap menerkam mangsa? Kau masih benci padaku, Atunarang Embaloh?” kata Rio, menyapa wanita anggun berkulit putih itu.

Dulu, demikianlah nama asli wanita cantik berjubah dan berkerudung putih dari Embaloh itu. Setelah masuk biara, dan mengikrarkan kaul perdana, Atunarang ganti nama menjadi Andriana.

”Eh... mmm, tidak!” sahut Andriana. Ia membetulkan kerudung putih yang separuh tersingkap. Membuat rambutnya yang hitam lebat bergurai dihembus angin yang bertiup lewat daun-daun jendela yang terbuka....


(3)
Sebelum merdeka, ayah Andriana pernah mondok di tempat yang sekarang menjadi areal Keuskupan Sanggau. Pada mulanya, Paroki Sanggau berasal dari Sejiram. Tahun 1909, Pastor Gonsalvus yang bertugas di Sejiram tiba dan menetap sebulan di Sanggau.
Pastoran Sanggau tahun 1930, yang kini berdiri gereja Katedral dan keuskupan.

Kehadiran Pastor Gonsalvus menarik para pemuda dan gadis Sanggau dan sekitarnya untuk bersekolah ke Sejiram. Menyaksikan gejala itu, tahun 1922, Mgr. Pacifikus Bos OFM Cap dan Pastor Eugenius sengaja datang ke Sanggau khusus mencari tanah untuk rencana mendirikan pastoran.

Lokasi yang dipilih saat itu adalah areal di atas Sungai Liku. Tiga tahun kemudian, 1925, Stasi Sanggau resmi berdiri. Namun, karena belum tersedia tempat, Pastor Cassianus sementara waktu mondok di rumah umat, Mong Seng. Pada 19 Mei 1927, dapur pastoran berdiri. Dan pada 8 Juli 1928 gedung gereja Sanggau untuk pertama kalinya digunakan.

Berarti sudah 80 kali kalender berganti, sejak para padri dan bruder Kapusin mendirikan gereja Sanggau. Adakah yang berubah selama rentang masa usia manusia itu? Suster Andriana tidak tahu persis. Yang ia tahu, panorama Sanggau kini memendar cahaya kemilau. Sejak berangkat ke kantor sekolahnya tadi, pikirannya menerawang jauh ke masa silam.

Katedral.
Ya, mengapa disebut demikian? Andriana ingat kembali kuliahnya waktu novisiat. Berasal dari kata Latin ”cathedra” yang berarti: gereja besar tempat tahta keuskupan. Jadi, setiap gereja disebut katedral, pasti ada uskupnya. Maka salah kaprah jika ada gereja, yang bukan Katolik, menamakan gerejanya katedral. Sebab, katedral hanya ada dalam tradisi dan kamus Gereja Katolik.

Andriana harus mengeraskan hatinya. Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan siapa pun. Termasuk di hadapan Rio, pria satu-satunya, selain papanya, yang selalu mengisi relung-relung hatinya.

Sebenarnya, Rio juga tidak kalah terkejut. Rina memang telah sering bercerita mengenai kepala sekolahnya. Tapi sama sekali Rio tidak menyangka, kalau Atunarang Embaloh yang dimaksudkan.

Selama ini, Rina hanya bercerita kepala sekolahnya baik dan sangat sayang padanya. Ketika ditanya, siapa namanya, Rina hanya bilang bahwa kepala sekolahnya disapa Suster Andriana.

”Jadi... kau telah lama rupanya bekerja di sini?” tanya Rio. ”Ternyata bumi hanya selebar daun kelor. Buktinya, kita bertemu lagi, setelah sekian lama berpisah.”

Andriana mengerutkan kening. Di luar dugaannya. Rio telah mengamati dengan saksama gerak gerik dan tingkah lakunya. Ia tak bisa menyangkal kenyataan yang kini sedang dihadapinya. Bumi memang hanya selebar daun kelor. Nyatanya, mereka kini berjumpa lagi, setelah sekian lama dipisah jarak dan disapu waktu.

Di luar kemauan dan kesadarannya. Lelaki yang telah lama ia benam namanya ke dasar laut, kini justru hadir kembali. Nasib, ataukah takdir, kalau sesuatu tanpa dikehendaki datang begitu saja tanpa diundang?

Bagaimanapun, kenyataan harus dihadapi, bukan dihindari. Andriana coba meneguhkan hatinya. Aku harus bisa mengatasi persoalan ini. Ia bertekad dalam hati.

Tetapi gunung es mana di muka bumi ini tak kan cair dibakar sinar matahari? Seperti hati Andriana yang lama beku. Akankah sepotong hati itu cair diterpa hangatnya rona-rona cinta yang terpancar dari bola mata pria yang kini menatapnya?

Ia coba kuatkan hati menerima segala fakta. Andriana sadar. Lelaki itu tak berubah sama sekali. Sorot matanya yang tajam dan bening, masih seperti dulu.

”Kamu masih seperti Atunarang yang dulu kukenal. Sulit ditebak, tapi selalu menebar pesona yang sulit dlukiskan dengan kata,” kembali Rio menggoda wanita itu. Walau nadanya seperti melucu, kata-kata itu bagai petir menyambar di siang hari. Membuat lidah Andriana kelu, tak bisa berkata-kata.

”Hm....” Andriana mengehela napas panjang. Dengan sapu tangan, diusapnya butir-butir keringat yang mulai mengucur di dahinya yang halus mulus. Aura biara telah membuat wanita itu tampak bagai madonna. Bersih. Sebersih bunga teratai. Meski pernah tumbuh di kolam penuh lumpur dan kotor, tetaplah si bunga teratai menebar keindahan dan kesucian. Putih bersih. Indah berseri-seri.

Ya, bongkah-bongkah masa lalu Andriana persis teratai. Pertemuannya dengan Rio sebagai mahasiswa Unair, membuatnya tercemar. Tumbuh di kolam berlumpur menjadikan si teratai sempat tercemar akar dan daunnya. Bagai sebuah penjara yang mengurung jiwa manusia yang hakikatnya bebas mengelana. Dapatkah manusia menjawab teka teki semesta, jika padanya hanya diberi seonggok otak untuk memilah, mana yang baik dan buruk? Sementara yang baik dan buruk itu bisa saja berbeda di mata Sang Pencipta?

Itu mimpi buruk masa lalu. Sudah dikuburnya dalam-dalam, tenggelam bawah batu nisan buaian kedamaian biara. Tapi kalau bukan bagian dirinya, mengapa kenangan itu kini terkuak kembali?

”Kamu masih seperti dulu, Rio. Suka mempermainkan perasaan orang,” akhirnya suara lirih itu meluncur dari mulut Andriana.

”Ah, tidak juga!” sahut Rio seperti kebingungan. ”Apakah prinsipmu yang dulu pernah kau utarakan, masih berlaku sampai hari ini?”

”Prinsip mana yang kau maksud?”

”Kau menutup pintu hati bagi kehadiran lelaki mana pun. Termasuk aku?”

Mendengar pengakuan Rio, Andriana tercenung. Ditatapnya rumpun-rumpun melati. Tetap indah dan setia menebar wangi. Kutilang di ranting-ranting mahoni pun setia bernyanyi. Hati Andriana pun turut bernyanyi-nyanyi.

Sekejap, dan hanya sekejap. Desiran cinta anak manusia sempat membuatnya terkesima. Lupa pada Dia, asal segala cinta.

”Allah Yang Maharahim, aku mencintai Engkau lebih dari segala sesuatu,” seakan telinga Andriana mendengar ”Doa Cinta” yang sedang didaraskan dari kapel biara. Pukul 12.00, tengah hari. Doa Angelus. Cinta Yesus menariknya masuk jauh ke dalam prahara cinta dunia.

Dalam ketermanguannya, Andriana masih menyebut nama Bunda Maria, Madonna. Ibu dari segala ibu. Biar lara sukma. Masih ingat dia ibu Tuhan. Biarlah segala beban dan persoalan yang ia hadapi tumpah ruah di haribaan Tuhan. Sebab, besar kasih setia-Nya bagi orang yang berseru. Meski seruan itu diucap dalam lembah kekelaman.

Matahari yang diam, larut dalam gelinding bola bumi. Di ufuk barat, langit khatulistiwa merah merona. Diam-diam, ada yang terasa damai merasuk dalam jiwanya. Andriana bergetar. Kalau dawai gitar yang bergetar, ia tahu siapa pemetiknya. Tapi jika hatinya kini yang bergetar, siapatah gerangan sang pemetik?
***


Entah berapa untai doa ia lambungkan dalam dada. Berapa juta pinta ia naikkan pada Bapa. Nyatanya, Andriana hanya sanggup diam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu. Pada siapa ia mengadu? Tembakan Rio tepat sasaran yang mematikan. Bahkan, getar-getar hatinya makin terasa kuat membakar. Membuat detak-detak jantungnya berpacu lebih keras.

Makin ia menenangkan diri, makin dirasanya getar-getar kian berpendar. Menjalar dari pori-pori hingga sendi-sendi. Cintakah yang kini menggelora dalam dada? Ia tak tahu jawabnya. Andriana tak mengerti. Ia merasa hampa di antara teka teki semesta.

Ya, manusia hanyalah sebuah noktah kecil di antara berjuta rahasia semesta. Dan kebisuan di ruang kepala sekolah itu hendak menyibak satu babak rahasia cinta anak manusia. Ternyata status dan profesi, tidak serta merta membunuh perasaan manusia sebab esensi manusia sebenarnya sama.

Seberkas cahaya menyelinap merasuk hati wanitanya. Rio senyum penuh makna. Dengan tawa yang ditahan, ”Aku ke sini mengambil rapor anakku, Rina.”

Rindu yang berpacu dengan waktu, menemukan kembali senyawanya. Dan setiap pergantian detik kini menghembuskan napas-napas cinta. Raungan klakson bus Damri jurusan Pontianak-Sintang di jalan raya sama sekali tidak mengusik suasana. Dua anak manusia tenggelam dalam alam pikiran dan masa lalu.

Rio tidak langsung masuk ke inti pembicaraan, tapi Andriana coba menebak apa isi lubuk terdalam hatinya saat ini. Oh, oh. Kesewenang-wenangan nasib! Mengapa tauke besar seperti Rio harus datang sendiri mengambil rapor anaknya? Bagi pebisnis seperti dia, waktu adalah uang. Time is money.

Sederet pertanyaan seperti tak habis-habisnya mengalir dari kepala Andriana. Mengapa lelaki itu datang lagi merasuk hidupnya yang damai sejahtera dan mengusik ketentraman jiwanya? Mengapa? Ya, mengapa? Apakah ia sengaja menyiksaku dan belum puas dengan segala penderitaan yang pernah kualami?

Di dunia yang fana, mustahil menemukan jawab semua rahasia semesta. Ya, tidak setiap tanya bersua jawab. Sering di antara dua manusia yang mencinta, terbentang jembatan khayal yang sanggup memutus kebuntuan. Yang bisa merajut-rajut tali kusut yang putus oleh sekat dan masa waktu.

Mendadak Andriana merasakan denyutan keras menghunjam kepalanya. Telah berapa lamakah mereka dipisah oleh jarak dan waktu? Seribu tahun? Oh, oh, tidak! Belum selama itu.

Bukan, bukan seribu tahun mereka berpisah. Bola dunia baru menggelindingkan waktu sewindu. Delapan tahun. Dan dalam perputaran waktu itu, rupanya Rio sudah menjadi suami dan ayah. Suami dari wanita manakah Rio? Aku tah tahu jawabnya, pikir Andriana. Tapi ayah dari siapa, aku tahu, bisik hati Andriana. Rio adalah ayah Rina, muridnya.

Hadir lagi di ruang mata Andriana sosok dan wajah Rina. Rina salah satu murid kesayangannya. Anak itu manis sekali. Rambutnya yang legam, selalu terkepang dua. Ia agak pendiam, tapi jika bicara, urut benar kata yang diucapkannya. Sorot matanya menunjukkan kecerdasannya. Ia anak gadis berlesung pipi. Jika bibirnya menyungging semyum, aduhai manisnya. Tahi lalat samar-samar yang menempel di bibir tipisnya, membuatnya makin mempesona.

Dipandang sekilas, sama sekali tidak ada kemiripan antara Rina dan Rio. Oleh sebab itu, sejak semula, Andriana sama sekali tak pernah menaruh syak wasangka bahwa Rina adalah anak Rio. Sekali-sekali tidak! Tapi naluri wanitanya seperti magnit yang terus menarik-nariknya untuk selalu dekat dengan anak itu.

Kalau begitu, tentu Rina mirip dengan ibunya. Di manakah ibunya? Mengapa bukan ibu yang mengambil rapor Rina?

”Kamu ke sini hanya untuk mengambil rapor Rina, bukan?” akhirnya Andriana melepas kata-kata. Sarat dengan makna dan terasa tajam menusuk dada Rio.

”Ya..., ya!” kata Rio seperti kehilangan akal. ”Dari dulu, kau selalu memojokkanku dengan pilihan yang sulit.”

”Ya, sekarang aku kepala sekolah di SD ini.”

Suster Andriana mencoba menenangkan dirinya. Percuma belajar psikologi kalau tidak bisa membenamkan perasaan ke dasar agar tak mencuat ke permukaan. Ia berusaha menempatkan diri sebagai kepala sekolah yang berhadapan dengan orang tua murid. Bukan hubungan seperti pria-wanita. Apalagi hubungan masa lalu antara Atunarang Embaloh dan Rio Rindang Banua.

Meski telah berusaha menekan perasaannya, dengan gemetar Andriana menghampiri tumpukan rapor yang tersisa. Diambilnya sebuah. Lalu menyerahkannya pada Rio. ”Rapor anakmu!”

Rio membolak-balik rapor Rina. Dengan saksama diamatinya angka-angka. Semuanya di atas rata-rata. Berarti, standar kompetensi sekolah jauh dilampaui Rina. Benar kata Suster di depannya, Rina adalah anak cerdas.

”Kata-kata Suster sungguh benar. Nilai Rina bagus-bagus. Terima kasih atas bimbingannya selama ini!”

„Kami tidak mengajar, hanya menggali potensi. Dari asalnya, anak itu sudah cerdas.”

”Ah, Suster terlalu memuji. ”

”Bukan memuji, nyatanya begitu.”

Haru biru mengisi ruangan kepala SD yang terletak di Jalan Sudirman Sanggau itu. Pohon-pohon cemara yang berjajar di sepanjang jalan meluruhkan ranting dan daun-daun kering. Burung-burung gereja melayang-layang di naungan gemawan. Lalu menukik ke bawah dan bersembunyi di bilik-bilik atap Gereja Katedral.

Khawatirkah Andriana pada masa depan? Tidak! Ia sama sekali tak ngeri menghadapi masa datang. Ia justru takut pada masa lalu. Takut pada bayangannya sendiri. Andriana memang berlari ke muka, namun matahari khatulistiwa selalu mengejar dan membayanginya. Dan bayangan itu adalah Rio!

Klakson dari arah Jalan Sudirman kembali meraung-raung. Kali ini bukan berasal dari bus Damri. Tapi dari sebuah mobil mercy yang telah lama parkir di luar. Menunggu Rio mengambil rapor anaknya.

Belum sempat Rio bercerita mengenai ibu Rina. Dan belum sempat meluncur pertanyaan dari mulut Andriana mengenai siapa wanita tambatan cinta terakhir Rio, waktu yang iri telah berlalu.

Waktu, demikian penyair Romawi kuna, Horatius, tak ubahnya bagai wanita yang cemburu. Seperti wanita yang cemburu, waktu selalu memisahkan dua manusia yang saling menyinta. ”Carpe diem!”, kata Horatius dalam bukunya Odes yang terbit pada tahun 23 sM.

Dan kini waktu yang cemburu memisahkan Rio dan Andriana lagi. ”Saya buru-buru, telah ditunggu rombongan.”

”K...ke...?” suara Andriana terbata-bata.

”Ke Sintang, studi kelayakan. Perusahaan kami hendak membuka lahan baru bagi perkebunan kelapa sawit. Di Ketapang, kami sudah buka usaha kayu. Mau diversifikasi.”

”Kamu jadi pengusaha tampaknya,” cetus Andriana.

”Kecil-kecilan,” jawab Rio. Sekejap tubuh pria tampan itu lenyap bagai bayangan. Oh, matahari khatulistiwa! Oh hati yang lama mendamba!

”Aku nanti sering lewat jalan ini dan pasti selalu mampir ke sekolah Rina. Rina tinggal sama nenek dan kakeknya. Aku sendiri sering bolak balik Jakarta-Surabaya-Pontianak. Dan bisa jadi, suatu saat benar-benar menetap bila jatuh dalam pelukan cinta bumi khatulistiwa.”

Hm, Rio, pikir Andriana. Dari dulu selalu mengumbar kata cinta. Tapi bagaimana tentang ibu Rina?

”Sampai lain waktu, saya sudah ditunggu. Kami menguber waktu, agar tak sampai gelap tiba di Sintang. ”

”Baiklah,” jawab Andriana sambil matanya tak putus memandang lelaki itu sampai masuk ke dalam mobilnya.

”Tolong jaga dan perhatikan Rina!” pinta Rio sebelum menutup pintu mobil.

Andriana hanya mengangguk. Dalam bayang-bayang matahari khatulistiwa, matanya tak lekang menatap rumah berjalan yang membawa masa lalunya itu menyusuri tepian Kapuas setelah berlabuh sejenak di Pantai Engkakal. Bola matanya terus membayang-bayangi masa lalunya yang pergi, setelah sejenak menambatkan hati.
***

DI kapel biara.
Sore itu, lagu Magnificat seperti menggetarkan hati Suster Andriana. ”Magnificat anima mea Dominum....” Jiwaku memuliakan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, Penyelamatku. Sebab Ia memerhatikan hamba-Nya yang dina ini....

Lagu pujian Bunda Maria, tatkala rumahnya dikunjungi Elisabeth ibu Yohanes Pembaptis, yang selama ini selalu menentramkan hatinya di kala lara, bagai menguap begitu saja. Sirna disapu oleh deburan sungai Kapuas. Lalu bersatu padu jadi abu, tatkala Sungai Liku bersekutu dengan Sungai Kapuas. Dan segalanya jadi api, tatkala solar dibakar mesin motor yang melintas di ruas-ruas jalan menyusuri Sungai Kapuas.

Sayup-sayup bunyi mesin motor sembilan PK dari Pancur Aji berpacu dengan deru mobil yang melintas di bawah. Andriana khusuk dalam ibadat vespere (doa sore rutin bagi para biarawan-wati).

”Jaga dan perhatikan Rina!” terngiang-ngiang di telinganya kata-kata Rio. Tadi siang, sebelum lelaki itu pamit, kata-kata itu berkali-kali diucapkannya.

”Kenapa saya mesti menjaga Rina? Mengapa bukan ibunya? Ke mana ibu Rina?” seuntai tanya yang belum bersua jawaban kembali menyelinap.

Andriana menggenggam rosario erat-erat, kendati ibadat sore suster-suster sekomunitas telah selesai. Dinaikkannya doa ke surga, semoga ia selalu setia menapaki dan tetap setia jalannya.

Lampu kekal yang memancar dari tabernakel seperti menyendandungkan keabadian. Sinarnya menembus sekat ruang dan waktu. Dan di atas tabernakel, corpus Christi yang tersalib merentangkan kedua tangan-Nya yang terpaku. Namun, mata Andriana seakan melihat Yesus yang tersalib itu justru sedang mengulurkan tangan-Nya.

”Aku perlu tanganmu untuk menolong dan meneruskan berkat. Aku butuh kakimu untuk memberitakan kabar sukacita. Aku juga butuh hatimu untuk menyinta!" seakan begitu Yesus menyapanya.

(4)
Dan seketika roda waktu merengkuhnya kembali ke masa lalu. Hidup lagi penggalan film masa lalu. Ketika benih panggilan yang hanya sebesar biji sesawi itu semayam tumbuh di hatinya. Bibit panggilan yang mulai bersemi ketika SMA, saat ia ikut retret yang dibimbing Frater pujaannya.

Ia ingat masa SMA yang penuh pesona. Gita cinta yang kini kembali menganga. Dan setelah retret, Andriana mengutarakan niatnya pada orang tua. Ibu setuju. Tapi ayah sangat menentang rencananya masuk biara.

”Selama ayah masih hidup,” kata ayahnya berkali-kali. ”Ayah tidak setuju kamu masuk biara!”

”Kenapa?” tanya Andriana.

Percuma mendapatkan jawaban dari ayah. Sebab ternyata ayah tak pernah sudi menjelaskan keberatan-keberatannya.

Sejak itulah hubungan antara Andriana dan ayah mulai renggang. Dengan terpaksa Atunarang Embaloh, namanya waktu itu, menuruti kemauan ayah masuk fakultas kedokteran setamat SMA. Demi ayah yang ia cintai, Atunarang terpaksa melepas keinginannya masuk biara.

Yang ia terus ingat, ”Selama ayah masih hidup, kamu tak boleh masuk biara.” Jadi, kalau begitu, bukankah masih ada celah baginya masuk biara? Yakni kalau ayahnya….?”

Ah, ah! Andriana segera menghapus bayangan buruk itu. Dilema baginya. Ia tak mau ayah lekas-lekas meninggalkan dunia fana di satu pihak. Tapi ia juga ingin segera masuk biara di pihak lain.

”Tetap saja fokus pada ujian SMA dan pada keinginan ayah agar kau jadi dokter,” begitu ayah selalu mengulang kata-katanya.

Dan kini betapa lekasnya waktu berlalu. Merampas masa remajaku, bisik hati Atunarang. Senyampang masih remaja, aku puas-puaskan hari-hariku. Dan demi ayah yang otoriter, akan kutunjukkan bahwa aku juga punya pendirian, tekadnya.

Sejak itu, Andriana seakan punya kepribadian ganda. Di satu pihak, ia penurut dan lemah lembut. Tapi di pihak lain, ia tegar dan keras kepala.
***


(5)
DELAPAN tahun lalu.
Di kota Khatulistiwa, Pontianak. Rio dan Atunarang Embaloh biasa berkeliling kota dengan sepeda motor. Pesiar ke Pasir Panjang, sembari menikmati indahnya desir angin Laut Cina Selatan.

Pemandangan paling indah di kala senja. Waktu lautan hendak menelan rona kemerah-merahan bola matahari. Manakala sang surya hendak menyentuh titik horizon, segalanya tampak bagai zamrut merah merona di atas bumi khatulistiwa.

Sinarnya yang mulia memendar ke mana-mana. Memantulkan lewat permukaan air laut kemilau cahaya Sang Maha Indah. Adakah cinta anak manusia seluas samudera? Yang tetap membuka hati bagi datangnya segala asa lewat tampungan muara sungai segala lara?

Segalanya bagai surga bagi hati yang sudi membuka kisi-kisi cinta. Ketika surya memantulkan nyala ke titik nadirnya kembali, seakan tersirat di sana janji pasti untuk terbit lagi esok hari. Siapa manusia bisa setia seperti matahari? Matahari tak pernah berjanji, tapi selalu muncul tiap pagi?

Dan pantai Pasir Panjang tetaplah misteri. Sebuah buku berisi lembaran-lembaran kosong yang harus diisi catatan anak manusia. Bagai legenda tua yang terus meningatkan, betapa kekuatan cinta tak pernah surut oleh sang waktu. Tak pernah mati, meski jarak dan waktu coba memisahkan. Oleh hereditas dan pilihan profesi.

Bukit-bukit kelapa membiru. Pepohonan cemara meriap-riap. Dan mengalir sungai-sungai, lalu bermuara pada samudera.

Semua serasi, menyenandungkan nyanyi semesta. Untuk semesta, ya untuk semesta ini manusia ada. "Aku akan penuhi isi dunia ini dengan sepasang anak manusia. Biarlah menguasainya. Dan jadi hiasan dan menguasai segala makhluk di muka bumi." Demikian seperti tertulis dalam Kitab Kejadian.

Selalu saja kata itu tak pernah lekang oleh sang waktu, meski sudah beribu, bahkan berjuta tahun lalu difirmankan. Bukankah setiap pasang anak manusia yang kasmaran merasa bahwa hanya mereka yang memiliki dan menguasai dunia ini? Seperti Rio dan Atunarang Embaloh kini. Dua sejoli yang sedang bermain-main di antara gemuruh ombak samudera cinta. Seakan tak peduli pada dunia yang terus berputar mengelilingi peredaran waktu.

Benarlah kata penginjil. Pada awal mula adalah sabda. Sabda itu bersama-sama dengan Allah dan sabda itu adalah Allah. Pada permulaan ada cinta. Cinta itu datangnya dari Allah. Dan cinta itu karunia Allah.

Akan tetapi, cinta pula yang menjerumuskan manusia ke tubir dosa. Hawa cinta pada bujukan ular yang menggodanya. Lupa bahwa cinta telah mengingkari cinta sejatinya pada Allah. Segala kesenangan dan kenikmatan duniawi telah menyeretnya ke alam fana. Akan halnya Adam yang tak berdosa pun, karena cintanya pada tulang rusuknya sendiri, akirnya turut larut dalam tubir dosa.

Itu hakikat dosa yang sebenarnya: menampik cinta Allah. Menduakan cinta-Nya, dan berpaling pada cinta lain yang penuh kepalsuan dan kefanaan.

Maka, dosa sesungguhnya ialah melawan cinta. Dan kini kedua anak manusia itu tengah mereguk titik nikmat indah cinta Allah yang dihembuskan lewat tarikan napas kehidupan. Hanya sehirup. Tapi cukup buat memindahkan isi dunia ini, kecuali mereka berdua.

Pohon-pohon pinus yang berdiri berjajar dan angkuh, seakan turut merasakan getar-getar kebadian bernama cinta. Betapa batu karang pun rela dihempas deburan ombak yang tak jemu-jemunya bergulung. Buihnya yang putih menyapu bibir pantai. Lalu kembali ke tengah, setelah mengangkut sampah-sampah yang menumpuk di tepi pantai.

Dan kini siklus itu berputar ke titik nadir kembali. Tak mungkin untuk melupakan begitu saja jejak-jejak masa lalu, meski waktu mencoba menghapus segalanya. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka. Percuma mengobatinya. Namun, nyatanya, Andriana sempat terseret ke potongan garis waktu masa lalu.

”Kamu datang lagi?” tanya Andriana pada lelaki di depannya. Baru tiga hari lalu pria itu datang ke kantornya mengambil rapor anaknya dengan tergesa-gesa.

”Ya, ini menyangkut masa depan anak itu,” sahut Rio.

”Masa depan? Masa depan bagaimana?”

“Aku mendapat telepon dari nenaknya yang mengabarkan hari-hari ini anak itu selalu murung.”

“Murung?” hanya sepatah kata yang sanggup meluncur dari mulut Andriana. Kali ini cuaca mendung. Langit kelabu. Di luar, angin bulan Desember mulai berembus kencang. Meluruhkan daun-daun kering pohon ketapang lalu jatuh ke tanah kembali.

“Ya, begitulah nasib yang harus diterima anak itu.”

“Murung, tapi jika kena, semangatnya bisa dinyalakan dengan bara. Bersamaku, ia selalu tersenyum. Alangkah cantiknya Rina kalau tersenyum. Saya bisa membayangkan, betapa cantik ibunya. Hanya sayang, sorot matanya tampak menyimpan sesuatu!”

“Menyimpan sesuatu? Apa maksudmu?”

“Seakan merindukan seseorang.”

“Ya, ia merindukan sosok seorang ibu!”

Seorang ibu? Tak jelas benar bagi Andriana arah pembicaraan Rio. Logikanya, bukankah kalau ada anak, ada juga ibu? Ke mana ibu Rina? Dan mengapa yang datang dan mengambil rapor ayahnya, bukan ibunya?

Belum sempat meneruskan pertanyaan lain di otaknya, Rio yang membaca pikiran Atunarang memotong. “Tapi anak saya masih ada harapan untuk ceria kembali kan Suster…?”

Dipanggil dengan sebutan “suster” oleh Rio, serasa bagai petir menyambar telinga Andriana. Sadarlah ia kini, bahwa hubungannya dengan pria itu hubungan antara biarawati dengan awam. Bukan hubungan antara pria-wanita biasa.

“Ehm…., ya… bisa, bisa. Rina bisa pulih kembali. Dengan bawaannya yang kurang periang saja ia bisa masuk ranking sepuluh besar, apalagi jika….”

“Jika ada ibunya?”

“Maksud saya, jika Rina didampingi orang tuanya belajar dan diberikan semangat agar kembali menemukan kegembiraan dalam hidupnya.”

“Oh, oh….” hanya anggukan kecil yang bisa diberikan Rio. Sukar dia menemukan kata-kata yang tepat utuk menyahut suster di depannya.

Melihat sikap Rio, hati Suster Andriana jadi trenyuh. Terbayang olehnya sosok dan perangai Rina. Cantik tapi selalu murung. Rasa kasihan tiba-tiba menyelinap dalam sanubarinya. Tapi benarkah demikian gambaran sesungguhnya perasaannya? Siapakah yang sebenarnya pantas untuk dikasihani, Rina ataukah dirinya?

“Ya, kekurangceriaannya itu, suster. Saya harap, tidak mempengaruhi perkembangan jiwanya.”

Kali ini Andriana tidak akan menyia-nyiakan kesepatan. Ia ingin tahu siapa dan di mana ibu Rina.

”Ke mana ibunya?” Andriana tak kuasa lagi menyimpan pertanyaan yang selama ini mengusik pikirannya. Lelaki di depannya tak menjawab. Sebentar-sebentar tampak ia menggigit bibir mencoba menahan perasaan.

”Hilang bersama pesawat Adam Air ketika akan mengikuti seminar di Makassar,” suara Rio lemah.

Mafhumlah kini Andriana, mengapa pada pertemuan pertama Rio menitip Rina padanya untuk dijaga dan dipelihara.

Oh, kejamnya dunia! Seandainya ibu Rina tak transit dulu di Surabaya dan langsung terbang ke Makassar dari Jakarta? Seandainya juga dia tak terikat oleh kaul dan janji presetia mulia? Ya... seandainya? Seandainya?
***

Di biara, di kamarnya yang jauh dari gaba-gaba.
Purnama telah lama sirna. Penguasa malam tenggelam bersama mimpi-mimpi. Memupus segala bayang. Menghilang semua angan.

Cuaca dingin di luar sampai juga di kamarnya. Menembus tembok biara, dingin menusuk badan. Jarum jam terus berpacu melawan sang waktu. Kini waktu yang iri telah menunjukkan angka dua lepas tengah malam.

Tapi tak stitik pun Andriana dihinggapi kantuk. Ia sama sekali tak sanggup memejamkan mata.

Pikirannya melayang ke masa silam. Mengembara bersama derai-derai cemara yang bersiuran ditiup angin malam, di halaman biara tua.

Ditingkah gerisikan suara jangkrik dan burung-burung malam, tak putus-putusnya ia menguntai doa. Menghitung biji-biji rosario di tangannya. Sembari menyimpan harap: esok pagi, kala membuka mata, segalanya jadi baru.

Maka ia pun bisa mulai menyibak lembar baru babakan kehidupan selanjutnya....
***


(6)
DENTANG lonceng biara yang didengarnya subuh itu semayup seperti suara angin. Mendesir-desir membelai tubuhnya yang halus mulus. Ah, kecantikan yang abadi. Tak pernah sirna oleh waktu yang iri. Keperawanan hati memancarkan cinta murni.

Dan bagi Andriana, keperawanan bukan semata-mata terjaganya selaput anak dara yang bisa saja robek oleh kesewenang-wenangan dunia.

Tapi keperawanan pertama-tama adalah soal hati, soal niat yang suci. Keperawanan ialah robeknya selaput yang menghalangi mata hati manusia melihat Allah dalam segala peristiwa dan fenomena.

”Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah” kata Yesus dalam salah satu Sabda Bahagia. Ya, bagi Suster Andriana, keperawan diartikannya sebagai setiap upaya melihat Allah di balik setiap peristiwa. Dan mencoba menangkap makna di balik gejala dari sebuah misteri yang disebut cinta.

Dan masa-masa SMA adalah saat Andriana tercelik matanya. Bahwa Tuhan yang turun dari surga masuk dunia mengenakan pakaian manusia, kini berkarya nyata lewat manusia juga.

Lonceng biara yang berdentang tengah malam itu, bagi Andriana seperti bunyi lonceng sekolahnya waktu SMA. Rohnya memang kuat berjaga, tapi tubuh manusianya lemah. Setelah lelah seharian bekerja di sekolah, pikirannya juga sedang kacau. Malas ia bangun berdoa tengah malam seperti biasa.

Lonceng biara yang berdentang terus memanggil-manggil. Persetan! Kali ini bunyi lonceng benar-benar tak diindahkannya.

Dibuai alam bawah sadarnya, Andriana terlelap dalam tidur.

Kenangan masa lalu menghiasi tidur malamnya. Dan bongkah-bongkah kenangan itu pun kembali menyeruak. Muncul satu demi satu bersama mengalirnya air Sungai Liku....

BUKU akan terbit (ke-52, 53, dan 54): Literary Journalism, Dayak Djongkang, dan Mengenal & Mencintai Kardinal, The Prince of Roman Catholic Church

Jurnalis era the new media dituntut menjadi knowledge worker, sebagaimana tuntutan pada dunia industri maju lain. Dengan demikian, posisi tawarnya makin tinggi dan profesi yang digelutinya menjanjikan ditilik dari status sosial dan segi finansial.

Namun, bagaimana “menghasilkan” jurnalis masa depan yang bukan saja terampil menulis (word smart), tetapi juga cerdas dalam berpikir (logic smart)? Bagaimana mengemas isi (content) media cetak, sehingga dapat bersaing dengan media elektronika yang jauh lebih cepat dan massif dari segi penyampaian?

Di Amerika Serikat, awal 1970-an, ketika tayangan TV dan media elektronika gencar menyerang keberadaan media cetak, tantangan dijawab Tom Wolfe. Wolfe mengenalkan genre baru penulisan media cetak saat itu yang kemudian populer dengan dengan nama “New Journalism”. Yakni fakta, data, informasi, dan wawancara yang dikumpulkan dan ditulis menggunakan elemen-elemen dan kaidah-kaidah sastra.

Menurut Connery, jurnalistik sastrawi ialah reportase yang dikemas dengan storytelling. ”Whether it’s called ”narrative journalism”, new journalism”, ”literary journalism”, or ”journalistic narrative”, the type of writing definied by these terms is blend of reporting and storytelling. ...narrative journalism upholds integrity and profesionalism, as its writers, astute to human experience, paint pictures and emotions with words. The narrative journalist is necessarily wrapped up in social realism, and is ”in fact, a Romantic Reporter, who assumes that reality is to be found by focusing on internal, rahter than external, human processes and movements; that feelings and emotions are more essential to understanding human life than idea”.

Di Indonesia, jurnalistik sastrawi dikenalkan dan dipraktikkan majalah Tempo tahun 1970-an. Meski sudah lewat empat dekade, aliran jurnalistik itu belakangan ini baru booming di negeri kita. Belum ada buku khusus yang mengupasnya. Inilah buku pertama yang secara akademik membahas jurnalistik sastra, menggabungkan word smart dan logic smart. Memenuhi bukan saja kebutuhan akademis, melainkan juga praktisi dan pekerja media.
ISBN 978-602-95532-1-5
Buku ke-52, diterbitkan Penerbit Salemba bekerja sama dengan UMN Press.

Daftar Isi
BAGIAN I
KECERDASAN OLAH KATA, KOMPETENSI MAHASISWA, SEJARAH, DAN PERTEMUAN JURNALISTIK-SASTRA

Bab 1
Kecerdasan Olah Kata (Word smart) dan Peluang Karier
1.1 Redefinisi Kecerdasan: Bukan Hanya IQ
1.2 Multikecerdasan
1.3 Peluang Karier
1.4 Writing Process

Bab 2
Tuntutan Kompetensi dan Pendidikan Jurnalistik di Perguruan Tinggi
2.1 Tuntutan Kompetensi dan Pendidikan Jurnalistik di Perguruan Tinggi
2.2 Membaca Menemukan Gaya
2.3 Pokok Bahasan dan Waktu yang Dibutuhkan

Bab 3
Jurnalistik dan Sastra dalam Lintasan Sejarah
3.1 Jurnalistik Zaman Romawi Kuno
3.2 Gutenberg dan Revolusi Pers
3.3 Sekelebat Sejarah Sastra

Bab 4
Jurnalistik Sastrawi sebagai Jurnalisme Baru
4.1 Ruang Lingkup Jurnalistik dan Sastra
4.2 Nama Lain Literary Journalism
4.3 Elemen Jurnalistik Konvensional
4.3 Sepuluh Elemen Sastra
4.4 Meramu Elemen Sastra
4.5 Karakterisasi
4.6 Point of View (sudut pandang)
4.7 Gaya Bahasa
4.8 Tema
4.9 Jurnalistik Sastrawi: Faksi
4.10 Jurnalistik Sastrawi menurut Para Pakar
4.11 Jurnalistik Sastra dan Perkembangannya di Indonesia
4.12 Sastra, Jurnalistik, dan Masyarakat
Bab 5
Logika sebagai Jalan Nalar Membuktikan dan Merangkaikan Fakta
5.1 Profesi Jurnalis dan Pertanyaan Filsafat
5.2 Logika sebagai Rangkaian Fakta dan Jalan Nalar Pembuktian
5.2.1 Asal Usul Logika
5.2.2 Alam dan kebudayaan Yunani
5.3 Apakah Logika Itu?
5.4 Induksi dan Deduksi: Jalan Menghasilkan PengetahuanBaru
Bab 6
Sillogisme: Jalan Mempraktikkan Deduksi
6.1 Sillogisme Kategoris
6.2 Bentuk-Bentuk Deduksi
6.3 Metateorikal Hasil
6.4 Taksonomi Logika
6.4.1 Logika Aristoteles
6.3.2 Logika Abad Pertengahan
6.3.3 Logika Modern
6.4 Logika dan Komunikasi Sehari-hari
Bab 7
Setiap Wacana Berawal dari Sepatah Kata
7.1 Struktur Bahasa
7.2 Kategori Kalimat
7.3 Argumen
7.4 Kapan Suatu Argumen Dapat Diterima?
7.5 Logika sebagai Cabang Filsafat Ilmu Pengetahuan

Bab 8
Merangkai Term sebagai Unsur Penalaran dengan Gaya Sastra
8.1 Term dan Kata
8.2 Isi dan Luas Term
8.3 Pembagian Term
8.3.1 Term menurut komprehensi
8.3.2 Term menurut ekstensi
8.3.3 Term menurut predikabilia
8.3.4 Term menurut kategori
8.4 Term sebagai Unsur Penalaran
8.5 Cerdas Merangkai Factum Menggunakan Term

Bab 9
Menulis dengan Hati, bukan Opini
9.1 Kode Etik Jurnalistik
9.2 Definisi dan Pengertian Kebenaran
9.3 Menulis Berdasarkan Fakta
9.4 Wacana sebagai Rangkaian Fakta, Bukan Opini
9.5 Jurnalistik Sastrawi: Menulis dengan Hati

Bab 10 Gaya Publikasi Jurnalistik Sastrawi
10.1 Gaya Publikasi
10..2 Unsur dan kaidah Sastrawi dalam Tulisan Kreatif Non-fiksi
10.2.1 Memoir
10.2.2 Biografi
10.2.3 Esai Personal
10.2. 4 Esai sastrawi
10.2.5 Artikel feature
10.2.6 Non-fiksi naratif

Bab 11
Literary Journalism: Paparkan, Jangan Katakan (Show, Don’t Tell)
11.1 Show, Don’t Tell
11.2 Persamaan antara Literary Journalism, Cerpen/Novelet/novel

Bab 12
Lead yang Mengail Minat Pembaca
12.1 Definisi Lead
12.2 Ragam Lead
12.1 Teras Ringkasan (Summary Lead)
12.2 Teras Paparan (Narrative Lead)
12.3 Teras deskripsi (Descriptive Lead)
12.4 Teras Tanya (Question Lead)
12.5 Teras Kutipan Langsung (Quotation Lead)
12.6 Teras Berkomunikasi Langsung (Direct Adress Lead)
12.7 Teras Berifat Teka Teki (Teser Lead)
12.8 Teras Imajinatif (Imaginative Lead)
12.9 Teras Kombinasi (Combination Lead)

Bab 13
Judul yang Memancing Minat Pemvaca
13. 1 Teknik Membuat Judul
13.1.1 Mengambil bulat-bulat nama tokoh utama
13.1.2 Menggabungkan tokoh utama dengan predikat
13.1.3 Simbolis
13.1.4 Alias
13.1.5 Intisari cerita
13.1.6 Persamaan dan Keindahan Bunyi (Eulogi)
13.1.7 Ha sil Akhir
13.2 Kalimat (dan Alinea) Pertama

BAGIAN III
LITERARY JOURNALISM DALAM PRAKTIK

Bab 14 Proximity, Clarity, Accucary, dan Readability
14.1 Empat Kunci Sukses
14.2 Fog Index dan Manfaatnya
14.3 Menerapkan Check Ability

Bab 15
Membaca Menemukan Gaya
15.1 Mencari dan Menempatkan Gagasan Pokok
15.2 Latihan

Gambaran orang Dayak bertelinga panjang berjuntai anting, bercawat, bersongket, makan sirih, tinggal di rumah panjang, pemburu kepala manusia (headhunter); hanyalah kenangan masa lalu. Labeling sebagai suku bangsa primitif dan sejumlah stereotype miring lain, tinggal cerita.

Kini, seiring modernisasi dan pembangunan, etnis Dayak masuk dalam peradaban baru. Tua muda, lelaki maupun perempuan, anak-anak hingga dewasa; semua berperilaku dan ber-modus vivendi seperti layaknya manusia modern. Telepon seluler, antena parabola, kulkas, televisi berwarna sudah jadi hal yang biasa bagi orang Dayak. Mobil dan motor pun bukan barang yang asing bagi mereka. Pendeknya, teknologi canggih dan informasi terkini dari penjuru dunia sudah merasuk bahkan memengaruhi peraaban dan cara hidup mereka.

Semua itu keniscayaan yang membuktikan bahwa etnis Dayak pun punya kemampuan adaptif untuk menghadapi perubahan zaman yang turbulen.

Buku ini merupakan kajian historis Dayak Jangkang, salah satu Land Dayak yang menurut para pakar lingustik dunia menuturkan bahasa Bokidoh. Ditutur lebih dari 45.000 penduduk, bahasa dengan sandi “Djo” di kancah dunia ini masih dan akan tetap eksis.

Diimbuhi sejumlah gambar kuno zaman kolonial yang didapat dari Herman Jozef van Hulten, misionaris Belanda yang menginjakkan kaki di bumi Borneo tahun 1938, foto koleksi Kon.Instituut v.d. Tropen Amsterdam, Romer Museum Hildesheim, dan koleksi pribadi. Menjadikan buku ini bukan saja bernilai historis, tapi juga sebuah studi komprehensif yang membahas kearifan lokal Dayak Jangkang hingga partisipasi politik meeka dalam Perang Majang Desa, filosofi di balik “ngayau” dan tradisi “mangkok merah”, Perjanjian “Tumbang Anoi” antarDayak Borneo 22 Mei - 24 Juli 1894 di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah yang belum banyak diketahui publik, riak-riak politik Dayak dalam Pemilu 1955 serta akar dan sumber konflik etnik di Kalimantan Barat.
Buku ke-53

Saya hanya memuat hingga 2 bab saja dari buku ini. Paus Benedictus XVI kini hampir berusia 80 tahun. Kita tidak tahu, hingga kapan beliau memimpin Gereja Katolik yang jumlah penganutnya di dunia 1,2 miliar itu.

Jelang Konklav, biasanya orang miskin informasi dan pengetahuan tentang Dewan Kardinal, kardinal elektor, termasuk sejarah dan kiprahnya dalam Gereja Katolik. Saya menggali semua data dan informasi itu sejak dua ribu tahun lalu...., menyiapkan naskah ini 3 tahun lamanya, hingga tidur saya sehari antara 4-6 jam saja. Jadi,, buku ini bukan sekadar directory APA dan SIAPA KARDINAL SEDUNIA.

Puji Tuhan, kini naskah telah rampung 90%. Dan dengan sukacita, saya sajikan appetizer ini buat Anda, pembaca.

BAB 1
KARDINAL
DALAM KESATUAN DENGAN PAUS
DAN GEREJA KRISTUS


GEREJA Katolik Roma, juga disebut Gereja Katolik, adalah Gereja Kristus dalam satu kesatuan dengan Paus, yang saat ini dipimpin Paus Benedictus XVI. Gereja Katolik didirikan oleh Yesus sebagai komunitas Kristiani yang tak terbagi, sesuai dengan tradisi. Diletakkan dasarnya oleh Dua Belas Rasul. Gereja Kristus itu sepanjang masa diteruskan oleh Suksesi Apostolik.

Gereja Katolik hari ini tidak hanya Gereja Kristus terbesar, akan tetapi juga organizasi terbesar keagamaan seantero dunia. Menurut Statistical Yearbook of the Church, tdi seantero dunia (akhir 2004) tercatat 1.098.366.000, atau satu dari 6 populasi penduduk sedunia.

Sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik, anggota Gereja Katolik yang tercatat itu ialah mereka yang sudah menerima Sakramen Pembaptisan, atau sudah diterima masuk ke dalam Gereja Katolik, dengan mengucapkan pengakuan iman. Jika tidak, mereka tidak diakui sebagai anggota Gereja.

Dalam kehidupan menggereja, Tahta Suci adalah pusat kehidupan Gereja di seluruh dunia yan disebut sebagai Ritus Barat. Sementara itu, dikenal juga 22 Gereja Partikular yang disebut Ritus Timur.

Gereja Katolik dibagi ke dalam wilayah yurisdiksional, yang didasarkan atas territorial tertentu. Standar teritorial unit itu disebut juga, dalam Ritus Latin, diosesan, dan dalam Ritus Timur disebut eparchy, yang dipimpin oleh seorang uskup. Pada pengujung tahun 2004, total jumlah wilayah yurisdiksi, atau see, 2. 755. (Annuario Pontificio 2005).

Arti Kata „kardinal“
Kardinal.
Kita tentu akrab dengan istiah ini. Namun, banyak dari kita belum tahu ihwal seputar arti kata, asal usul, tugas, macam, serta kiprahnya dalam hubungannya dengan Kuria Roma. Apalagi mengenal profil mereka secara lebih dekat dan detail.

Hampir sepuluh abad pertama sejak Petrus diangkat Yesus sebagai kepala Gereja kudus, pengangkatan Paus tidak hanya dipilih oleh kardinal terpilih (cardinal electors) seperti sekarang. Semula Paus, yang juga Uskup Roma, dipilih warga Roma dan keuskupan sekitarnya secara aklamasi. Waktu itu, belum ada tata cara pemilihan yang baku. Namun, dalam pemilihan itu umat memberikan suara.

Pada tahun 769, warga Roma tidak bisa lagi memberikan suara. Seabad berikutnya, peraturan diubah. Kaum bangsawan masih diperkenankan memilih, namun rakyat jelata tidak.

Baru pada 1059 diputuskan bahwa Paus hanya dipilih oleh kardinal. Kini peraturan menetapkan, kardinal yang berusia 80 ke bawah saja yang dapat memberikan suara bagi pemilihan Paus.

Pada zaman pencerahan, kadang kardinal menjadi kepala kabinet sebuah negara. Misalnya, Richeliu yang mengendalikan pemerintahan Prancis saat Louis XIII berkuasa. Hal ini diceritakan dalam novel Three Muskeeters oleh Alexander Dumas.

Secara harfiah, kardinal berarti:
 Pejabat tinggi Vatikan yang diangkat oleh Paus (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:508).
 Roman Catholic clergy-man ranking below the Pope --Klerus Gereja Katolik Roma di bawah Paus (Dictionary of American English, 2002: 197).
 A priest of very high rank in Roman Catholic Church: Cardinals elect and advise pope –Imam yang tinggi derajatnya dalam Gereja Katolik: Para kardinal memilih dan memberikan nasihat kepada paus (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, 2003: 177).



Para kardinal in uniform. Inilah pakaian lengkap kardinal, ketika mengikuti konklaf, sesi pemilihan paus.


Pakaian kardinal

Biasanya, pakaian kardinal mirip dengan uskup. Hanya bedanya, jubah resminya berwarna merah, dengan peci warna merah menyala pula.

Karena mengenakan pakaian serba merah, sinonim kardinal ialah burung berkicau dari Amerika Utara.


Burung kardinal: serba merah, dengan biretta yang juga merah mirip pakaian kardinal. Karena itu, dinamakan demikian.

Tugas kardinal
Apa tugas kardinal?

Tugas kardinal yang kasat mata dan yang paling menonjol ialah memilih paus baru, begitu paus terdahulu mangkat. Hal ini tidak bisa dipungkiri, sebab demikianlah kenyataannya karena sesuai dengan Konstitusi Aopostolik „Universi Dominici Gregis“ (selengkapnya lihat lampiran) yang menyebutkan, „Konklaf (pemilihan paus baru oleh kardinal) diadakan antara 15-20 hari setelah paus wafat.

Kardinal diangkat dan ditunjuk oleh Paus untuk memangku tugas-tugas Gerejani, atau untuk memelihara jiwa-jiwa yang ada dalam ancaman. Untuk itulah, dikenal tiga macam kardinal.
 Uskup Kardinal,
 Imam Kardinal, dan
 Diakon Kardinal

Identitas ketiga ranking kardinal ini sangat jelas-tegas. Selain prelat di dalam Gereja, mereka juga para diplomat yang melayani Gereja di Kuria Roma.

Pada saat-saat terakhir kehidupan Paus Yohanes Paulus II, kita dikenalkan adanya terminologi baru lagi mengenai kardinal, yakni in pectore (in = di dalam, pectore = hati). Jadi, kardinal yang nama dan identitasnya hanya Pauslah yang tahu, orang lain tidak tahu. Beredar kabar, di kalangan pers saat itu, kardinal yang dimaksudkan ialah sekretaris pribadi Paus Yohanes Paulus II.

Berapa banyak kardinal?
Total kardinal di seantero dunia 193, tidak termasuk kardinal in pectora. Pada pemilihan Paus Benedictus XVI, terdapat cardinal electors. Tapi, yang mengikuti konklaf kardinal. Artinya, kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak untuk dipilih (papabilis) dan memilih (electors).

Kardinal dari Indonesia
Adakah kardinal di Indonesia? Ada. Nama lengkapnya Julius Ryadi Darmaatmadja. Kardinal yang lahir di Muntilan pada 20 Desember 1934 ini adalah juga Uskup Agung Jakarta --sebelumnya Uskup Semarang.

Pada September 1957 Darmaatmadja masuk novisiat Jesuit di Girisonta. Ia mengikrarkan kaul pada September 1959. Tahun 1964 beliau memeroleh gelar licentiat filsafat di e Nobili College di Poona, India. Pada Desember 1964, ia ditahbiskan imam (selengkapnya lihat biografi, entry D).


BAB 2
KARDINAL
DALAM LINTASAN SEJARAH



Dewan Kardinal, pengangkatannya, jumlah, serta kiprahnya senantiasa mengalami kontekstualisasi atau penyesuaian dari zaman ke zaman. Pada masa Perjanjian Lama, Allah meminta Nabi Musa membujuk 70 tua-tua Israel untuk berkumpul dan membawa mereka ke hadapan wajah Yahwe di Kemah Pertemuan” (Bilangan 11:16).

Itulah dasar biblis, mengapa hingga hari ini Paus mengangkat dan memanggil para kardinal dalam sebuah consistory.

Dekrit Para Paus

Pada Sinode Lateran, 13 April 1059, Nicholas II mengeluarkan dekrit In Nomine Domini (Dalam Nama Tuhan) yang menyatakan bahwa paus harus dipilih oleh enam uskup kardinal.

Pemilihan Innosensius III pada 1130 menjadi praktik yang pertama, di mana tiga golongan cardinal ambil bagian di dalamnya.

Pada 1179, Konsili Lateran III (Konsili Umum Ke-11) menetapkan mengenai pemilihan paus yang memerlukan dua pertiga suara mayoritas. Selama Konsili Lateran III, ALEXANDER III (Licet de Vitanda) menegaskan kembali bahwa pemilihan paus harus diikuti tiga golongan kardinal.

Pada 1274, GREGORIUS X dalam Konstitusi Ubi Periculum menyatakan bahwa kardinal haruslah berkumpul pada konklaf, tidak lebih dari sepuluh hari setelah paus wafat di tempat dia meninggal untuk memilih penggantinya. Paus PAULUS VI mengeluarkan dekrit bahwa konklaf haruslah dimulai tidak kurang dari 15 hari dan tidak lebih dari 20 hari sesudah paus wafat.

GREGORIUS X juga menyatakan bahwa di dalam konklaf, para kardinal haruslah tidur dalam rumah komunal. Pada 1345, CLEMENT X mengizinkzn pemakaian tempat tidur bagi setiap kardinal yang dipisahkan oleh tirai atau tembok. Selanjutnya, LEO XIII mengizinkan setiap kardinal memiliki ruangan sendiri.

Sejak BONOFASIUS VIII (1294-1303), kardinal mengenakan jubah warna merah tua. Topi merah sebelumnya diperkenalkan INNOCENTIUS IV (1243-1254); pada November 1246, ketika bertemu dengan Raja Prancis di Cluny, INNOCENTIUS IV bahkan menganugerahkan topi merah kepada para kardinalnya. Pada 1464, PAULUS II (1464-1471) memutuskan bahwa kardinal harus mengenakan topi merah selama upacara kudus untuk membedakan mereka dari prelate yang lain.

Konstitusi Ubi Periculum dipertegas dekrit Ne Romani yang mengacu hasil Konsili Vienna pada 1311; melarang kardinal, selama Tahta Suci lowong, mengadakan kontak menggunakan apa pun dengan siapa pun selama pemilihan paus berlangsung.
Pada 1492, Lorenzo yang Agung menulis kepada putranya yang paling bungsu, Giovanni dei Medici, diakon cardinal pada usia tiga belas tahun (dia tidak tinggal di Roma hingga usia tujuh belas tahun), dan yang kemudian dikenal dengan Leo X (1513-1521):

Dalam dirimu, saya menaruh harapan, biarlah kasih karunia Tuhan melimpah atas keluarga, dan rasa syukur yang tak terhingga atas usiamu…
Jangan pernah alpa untuk selalau waspada bahwa ini semua bukan karena usahamu, bukan kebijaksanaanmu, bukan pula kehendakmu, yang telah menjadikan engkau seperti sekarang ini. Ini semata-mata karena Tuhan; Dia sendirilah yang memilih engkau sebagai kardinal. Karena itu, engkau harus menunjukkannya dengan hidup suci, senantiasa memberikan contoh dan menghargai kehidupan…
Saya memaklumi bahwa jika tinggal di Roma, yang merupakan sarang dari semua kejahatan, kamu akan menemui kesulitan besar di dalam menjalankan nasihat saya. Ini karena contoh itu gampang menyebar, dan juga lantaran kamu akan menemukan godaan, sehingga lupa akan nasihat ini.


JULIUS II(1503-1513) terpilih sebagai paus dengan suara bulat berkat uang suap serta janji-janji berlebihan pada konklaf yang diadakan haya sehari. Pada 14 Januari 1505, ia menerbitkan bulla yang mendeklarasikan bahwa pemilihan paus sama sekali bebas dari praktik suap-menyuap.

PIUS IV (1559-1565) dengan konstitusi In Eligendis menerbitkan “congregation particularis” yang menyatakan bahwa tiga kardinal, masing-masing dari setiap golongan, bersama dengan Camerlengo mengambil alih kepemimpinan Gereja selama konklaf berlangsung. Pada akhir tiga hari berikutnya, tiga kardinal senior akan mengangkat kongregasi ini.

Pada 3 Desember 1586, dalam bulla Postquam Verus, SIXTUS V menetapkan jumlah maksimum kardinal pada angka 70 (6 Ukup Kardinal, 50 Imam Kardinal, dan 14 Diakon Kardinal).

Kardinal dan Pemilihan Paus
Pada 21 Maret 1591, GREGORIUS XIV mengubah semua peraturan pemilihan paus, termasuk lamanya masa pontifikasi atau tata cara pengangkatan kardinal.
Pada 12 Maret 1622, GREGORIUS XV (Decet Romanum Pontificem) mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa pemilihan harus dilakukan dengan surat suara rahasia (ballot). Ia mengizinkan kardinal untuk mengikuti salah satu dari tiga bentuk pemilihan:

 Scrutinium (pemungutan suara)
 Compromissum (kompromi), atau
 Quasi-inspiratio (sebagai-bisikan hati)

Selain itu, ditegaskan bahwa tidak seorang pun dari kardinal dapat memilih dirinya sendiri. Paus Gregorius XIV juga menetapkan untuk menghitung suara berdasarkan ballot yang harus segera dibakar sesudah perhitungan selesai dilakukan.

Di bawah judul Eminentissimus, (Terkemuka) yang merupakan julukan dari imperium Byzantium dan berlangsung hingga Imperium Suci Roma hingga dari sanalah nanti orang terkemuka masuk ke dalam bilangan para orang terkemuka yang memilih paus. Sesuai dengan saran Richelieu, URBANUS VIII pada 10 Juni 1630 membatasi para pemilih paus hanya para kardinal, yang kemudian disebut sebagai ‘paling termashur’ dan ‘paling mulia’.

Julukan itu dikenakan juga pada Pemilih Gerejani dari Imperium Suci Roma, dan pada Grand Master of the Knights of Malta, yang menyandang gelar itu hari ini, sebagai satu-satunya awam yang begitu dimuliakan.

Pada 24 Mei 1882, LEO XIII mengeluarkan dekrit (Praedecessores Nostri) yang menyatakan bahwa pemilihan dapat diadakan di Roma jika paus wafat ketika sedang jauh dari tahtanya.

Pada 20 Januari 1904, PIUS X dalam bulla Commissum Nobis melarang hak pemerintahan secular untuk memberikan veto selama konklaf. Pada 25 Desember 1904, Paus yang sama menerbitkan Vacante sede Apostolico yang mengkodifikasi legislasi utama yang berkaitan dengan pemilihan paus. PIUS X, Apostolicae Romanorum, AAs, II (1910) 277 menegaskan bahwa oleh karena pekerjaan mereka di Kuria, maka uskup kardinal harus mempunyai uskup Bantu yang akan secara nyata bertempat tinggal di tahta suburbicarian. Namun, BENEDICTUS XV, Ex Actis Tempore AAs VII (1915) 229 mencabut dekrit Pius X.

PIUS XI, dengan Motu proprio, Cum Proxime, pada 1 Maret 1922 memperluas waktu antara paus wafat sampai pada pembukaan konklaf dari 10 menjadi 15 hari; ia memberikan pada para kardinal kekuasaan untuk memperluas rentang waktu sampai maksimum 18 hari.

Pada 8 Desember 1945, PIUS XII, dalam konstitusi Apostolik Vacantis Apostolicae Sedis, mendekritkan bahwa pemilihan harus dihadiri oleh dua pertiga tambah satu untuk menghidari suara pemilih yang memilih dirinya sendiri. Konstitusi yang sama menyatakan bahwa prodiakon kardinal mempunyai privelese melimpahkan pallium atas metropolitan dan hak untuk mengumumkan nama paus baru, setelah terpilih.

Pada Consistory 15 Desember 1958, JOHANES XXIII keluar dari tradisi dengan mengangkat lebih dari 70 kardinal.

Dalam Motu proprio Cum Garavissima pada 15 April 1962, YOHANES XXIII mendekritkan bahwa semua kardinal diangkat ke dalam martabat Episcopal dalam pemilihan.

Dalam Motu proprio Ad Purpuratorum Patrum 11 Februari 1965, PAULUS VI menambahkan Partiark Timur masuk ke dalam bilangan dewan kardinal.

Dalam Motu proprio Ingravescentem Aetatem 21 November 1970, PAULUS VI mendekritkan bahwa kardinal yang berusia 80 tahun:

 Berhenti menjadi anggota kuria dan bebas dari semua organisasi permanen Tahta Suci dan pejabat Negara Vatikan;
 Kehilangan hak untuk memilih paus, dan karena itu, otomatis tidak bias menghadiri konklaf.


Pada Consistory 5 Maret 1973, PAULUS VI menetapkan jumlah maksimum yang mempunyai hak memilih paus sebanyak 120 kardinal.


Pembagian Dewan Kardinal
Dewan kardinal dibagi ke dalam tiga golongan:
 Uskup Kardinal
 Imam Kardinal
 Diakon Kardinal

Uskup kardinal termasuk uskup titular dari tahta suburbicarian Roma, yakni (Ostia Palestrina, Porto dan Santa Rufina, Albano, Vellerti-Segni, Frascati, Sabina-Poggio Mireteto) serta para patriark Gereja Timur.

Tingkatan Episcopal terdiri atas para kardinal yang diberikan oleh paus gelar sebagai gereja suburbicarian. Seorang kardinal tidak dapat mengubah golongan ke Uskup Kardinal; ia haruslah diangkat oleh paus.

Ketua dewan kardinal menyandang tahta Ostia, seperti halnya tahta suburbicarian lain. Ketua dewan kardinal dan wakilnya dipilih oleh Kardinal Uskup dari golongan mereka juga. Uskup cardinal mengbdi purna waktu di Kuria Roma. Tatkala tahta suci mengalami kekosongan, Ketua Dewan Kardinal:

 Mengirimkan undangan kepada para kardinal supaya supaya datang menghadiri konklaf;
 Memanggil para kardinal menghadiri pertemuan, terutama untuk konklaf;
 Jika usianya di bawah 80, ia otomatis sebagai ketua konklaf;
 Jika Ketua Dewan Kardinal menghadiri konklaf, ia mempunyai hak untuk memimpin upacara kudus pemilihan paus baru seandainya paus terpilih belum ditahbiskan uskup.

Imam kardinal adalah uskup di luar kota Roma. Hal ini sesuai dengan hasil Konsili Trente, yang selanjutnya oleh Paus Urbanus VIII pada 1643 dinyatakan bahwa uskup, termasuk kardinal, haruslah tinggal di keuskupan mereka masing-masing.

Kardinal diakon ialah uskup tituler yang secara purna waktu mengabdi Kuria Roma. Sesudah menjadi Diakon Kardinal selama sepuluh tahun, Kardinal Diakon dapat naik kasta ke golongan Imam Kardinal. Sekretaris Tahta Suci masuk ke dalam bilangan Imam Kardinal yang masuk wilayah gerejani Keuskupan Roma dan sekaligus menjadi Imam Agung Basilika Lateran.

Sementara Imam Agung dua basilica patriarchal Roma (St. Petrus Vatikan dan St. Maria Majore) adalah juga kardinal namun biasanya diakon kardinal.

Diakon Kardinal Pertama (proto-deacon) mempunyai hak mengumumkan nama paus baru yang terpilih.

Kardinal mempunyai hak untuk mendengarkan pengakuan dosa dimana-mana di seantreo dunia tanpa tanpa hambatan dan bebas dari yurisdiksi uskup setempat.