Minggu, 01 Agustus 2010

Sekar Jagad



14 Juli 2010, dalam sebuah seminar inetrnasional di kampus UMN, Scientia Garden, Gaading Serpong, Wapres Boediono berkenan menjadi keynote speaker. Membahas kewirausahaan dalam industri kreatif, seminar dihadiri sekitar 400 peserta.

Salah seorang ibu mahasiswa, dari Bali, punya sanggar tari. Kebetulan, salah satu anggota penari, putri saya, anak sanggar tersebut. Mereka menarikan tarian Sekar Jagad, bunga pertiwi, pertanda tamu lambang kesuburan.

Dengan kata lain, tarian itu tarian menyambut tamu kehormatan. Berkenan datang Gubernur Banten, Ratu Atut dan Wabup Tangsel, H. Rano Karno.

Saya di antara para penari. Mana putri saya? Apakah Anda bisa mengenal?

Selasa, 27 Juli 2010

Kejujuran sebagai kebaikan tertinggi

Saya sedang menempuh studi lanjut Magister Komunikasi pada Program Pascasarjana Universitas Pelita Harapan dan mengambil konsentrasi Media Studies (Kajian Media). Saya ingin berbagi dengan pembaca topik yang pernah saya dalami lewat paper maupun bacaan. Ini salah satu di antaranya.
***

Komunikasi ialah proses menciptakan dan membangun saling pengertian dengan orang lain. Sebenarnya, yang paling pokok dalam komunikasi bukan pertama-tama terletak pada prosesnya, tetapi pada isi (content)-nya. Penting tidaknya isi komunikasi sangat bergantung pada enkoder-dekoder, selain suasana dan konteks pada saat itu.

Dalam (ber-)komunikasi, kejujuran merupakan kebaikan tertinggi (summum bonum). Berkata dan menyampaikan informasi dengan jujur adalah kebaikan tertinggi itu sendiri.

Kejujuran dalam berkomunikasi diukur dengan pengungkapan fakta apa adanya. Manakala fakta yang diungkapkan benar, sesuai dengan kenyataan, maka secara etika komunikasi bisa dikatakan sudah jujur dan kebenaran sudah terpenuhi. Kebenaran yang dimaksudkan ialah kebenaran korespondensial, yakni kesesuaian antara pernyataan-pernyataan yang disampaikan dengan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya terjadi .

Nilai atau kadar kejujuran dalam komunikasi, dengan demikian, dapat ditakar dari seberapa berkorespondensinya pernyataan yang disampaikan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Bagi umumnya bangsa Barat, mereka akan terus terang berkata dan menyampaikan isi hati dan pikiran apa adanya. Kejujuran bagi mereka adalah menyampaikan apa adanya, baik fakta maupun informasi. Sebaliknya, bagi bangsa Timur, berkata apa adanya dianggap kurang ajar, tidak sopan, dan berkata jujur dapat menyakiti hati orang lain.

Apakah nilai kejujuran di sini berbeda? Nilainya sendiri tidak, kejujuran tetap dijunjung tinggi. Hanya saja, kultur yang berbeda. Selain itu, cara mengatakannya lain. Jika dalam bangsa Barat, komunikasi terjadi secara lugas, apa adanya, blak-blakan. Sebaliknya, pada bangsa Timur isi dalam komunikasi pada umumnya dibugkus dalam metafora, simbol, bahkan kerap paradoks. Untuk mengerti isi atau pesan sesungguhnya maka bahasa dan simbol-simbol ini harus ditafsirkan lagi.

Communications skills di tempat kerja
Keterampilan berkomunikasi, sesuai dengan redefinisi kecerdasan, semestiya diarahkan untuk memecahkan dan menjawab setiap persoalan. Bahkan, dapat menjadi nilai tambah tersendiri dalam segala bidang dan di setiap tempat, termasuk di tempat kerja.
Seseorang yang terampil berkomunikasi, berpeluang unggul dibandingkan orang lain.
Akan tetapi, di era yang penuh dengan persaingat saat ini, menurut The National Skills Task Force di Inggris, keterampilan berkomunikasi saja tidak cukup agar sukses di tempat kerja.

Masih diperlukan sejumlah keterampilan lain lagi, yakni beberapa keterampilan yang disebut sebagai keterampilan generik (generic skills). Keterampilan (ber-)komunikasi masih ditempatkan pada nomor satu, namun seseorang harus pula menguasai keterampilan yang lain.
1. Literacy Skills: keterampilan membaca maupun menulis, membuat catatan, memo, tanda tangan, surat-menyurat, membuat dokumen pendek dan panjang.
2. Physical Skills: kemampuan menjaga kebugaran fisik dan atau stamina.
3. Number Skills: keterampilan menambah, mengurangi, membagi, memahami desimal atau cakap dalam menghitung, dan / atau menguasai matematika dan statistika.
4. Technical ‘Know-How’: cakap mengunakan dan mengoperasikan alat atau mesin, menguasai produk dan layanan, terampil menggunakan tangan.
5. High-level Communication: menguasai keterampilan komunikasi top-down, termasuk membujuk atau mempengaruhi orang lain, memerintahkan, menyelenggarakan pelatihan atau mengajar orang, membuat pidato atau presentasi dan menulis laporan panjang. Keterampilan ini juga terkait dengan pentingnya menganalisis masalah yang kompleks secara mendalam.
6. Planning: merencanakan kegiatan, mengatur waktu, dan berpikir ke depan.
7. Client Communication: menjual produk atasu jasa, konseling atau peduli pada pelanggan atau klien.
8. Horizontal Communication: bekerja dalam tim atau kelompok, mendengarkan kolega dengan sabar dan penuh simpati.
9. Problem-Solving: mendeteksi, mendiagnosis, menganalisis, dan memecahkan masalah.
10. Checking Skills: keterampilan mengamati dan mencatat hal-hal yang penting untuk perbaikan dan peningkatan.

Kesuksesan seseorang di tempat kerja bergantung pada sejauh mana ia dapat mengelola informasi. Masalahnya, bukan terletak pada seberapa banyak informasi yang dikomunikasikan, namun pada bagaimana membuat makna dari informasi itu, kemudian men-sharing maknanya.

Komunikasi ialah upaya berbagi informasi. Masalahnya, bagaimana caranya kita menciptakan makna? Caranya ialah mengubah informasi menjadi gagasan. Gagasan ialah apa yang kita katakan dan kita tulis. Ketika berkata, atau menulis, kita membuat kalimat.

Gagasan, dengan demikian, ialah pemikiran yang diekspresikan ke dalam kalimat.
Gagasan atau ide sangat penting dalam (ber-)komunikasi. Gagasan ialah mata uang dari komunikasi.

Seperti halnya mata uang, gagasan bisa dinyatakan dalam denominasi besar atau kecil. Ada gagasan besar, ada pula gagasan kecil. Seperti mata uang, gagasan punya nilai dan nilai itu dapat saja berubah. Satu gagasan dapat sangat berharga, sementara gagasan lainnya merosot nilainya.

Sabtu, 24 Juli 2010

The Flying Geese

26 Juli 2010 menjadi hari istimewa buat saya. Mengapa? Pada hari itu, saya reborn. Saya kembali duduk menjadi mahasiswa program magister komunikasi Universitas Pelita Harapan, yang berkampus di Plaza Semanggi, Jakarta. Ketua Program, Prof. Tjipta Lesmana adalah guru saya nantinya.

Saya berharap, Pak Tjip layaknya pemimpin dalam formasi "The Flying Geese" yang menarik maju para mahasiswa mencapai kemenangan (victory), yakni academic excellent, sama seperti dia.

***
Saya tak akan berkisah ihwal studi lanjut itu. Saya hanya berbagi mengenai flying geese. Tahun 1990-an, saya kerap mengikuti seminar internasional di CSIS. Pak Hadi (Hadisusastro) dan Bu Mary (Mari Elka Pangestu) kala itu sangat berpengaruh. Seingat saya, memperingati Pang Lay Kim, Bu Mary menjadi pembicara kunci. Lalu salah satu ekonom Jepang tampil waktu itu sebagai narasumber. Seringat saya, Kenichi Ohmae.

Pada saat itulah, saya mafhum istilah flying geese, dari Pak Hadi.

***

Istilah “flying geese” pertama muncul dari ekonom Jepang, Kaname Akamatsu pada era 1930-an dalam tulisannya yang dimuat di media Jepang, dan selanjutnya dipresentasikan dalam dunia akademik sesudah Perang Dunia II pada 1961 dan 1962 di Inggris.

Khasanah ini pun serta merta diadopsi dunia ekonomi karena sangat menarik dan dapat menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu kawasan --suatu model yang di kemudian haru dapat menjelaskan ihwal integrasi ekonomi kawasan dan pasar bersama yang sokong-menyokong.

Apakah model angsa terbang atau The Flying Geese (FG)? Model ini coba menjelaskan industrialisasi ekonomi yang terlambat dari dari tiga aspek.

Pertama, intra-industri: yakni pengembangan produk dalam suatu negara berkembang dengan satu industri yang tumbuh lebih dari tiga seri kurva, misalnya impor (M), produksi (P), dan ekspor (E).

Kedua, inter-industri: sekuensial kinerja dan pengembangan industri di negara berkembang tertentu, dengan industri yang terdiversifikasi dan upgrade dari barang-barang modal dan atau dari produk sederhana ke yang lebih canggih.

Ketiga, aspek Internasional: relokasi industri proses berikutnya dari lanjutan untuk negara-negara berkembang selama proses terakhir untuk mengejar ketertinggalannya.

Konsep Kaname Akamatsu ini kemudian dikembangkan dan semakin disempurnakan oleh ekonom Jepang, Saburo Okita (1914-1993). Mantan menteri luar negeri Jepang era 1980-an ini memberikan kontribusi besar karena memperkenalkan model FG ke masyarakat dunia, termasuk ke dunia politik dan bisnis.

Dengan demikian, kawasan-kawasan transmisi dari industrialisasi FG didorong perkembangannya oleh proses ketertinggalan melalui diversifikasi atau rasionalisasi sektor industri. Hal ini menjadi sangat terkenal dan menjadi motor dan mofdel pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia.

Lebih jelas dan sistematis, Dr. Saburo Okita mempresentasikan model Flying Geese pada “The 4th Pacific Economic Cooperation Council Conference di Seoul, 1985”. Yang menarik, ia memaparkan secara terperinci –yang kemudian memesona peserta konferensi sehingga menerima konsepnya sebagai sebuah model—ialah penggambarannya tentang pertumbuhan ekonomi kawasan mengikuti formasi angsa terbang.

Inilah model pertumbuhan ekonomi angsa terbang di Asia yang di dalamnya dapat kita lihat formasi sektor-sektor industri. Jepang sebagai pemimpin dalam formasi angsa terbang ini “menarik maju” sesama negara kawasan Asia, utamanya negara industri baru (NIEs) dan ASEAN. Sebagaimana tampak dalam gambar, kawanan angsa terbang membentuk V dan memang mereka sedang terbang, bergerak ke pencapaian tertentu.

Terbukti bahwa ekonomi negara industri baru di Asia tumbuh secara akseleratif, sebagai contoh Taiwan, Korea, dan Singapura. Percepatan laju pertumbuhan ekonomi kawasan ini menarik negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sehingga Malysia, Thailand, Filipina, dan juga Indonesia.

Kibasan sayap Jepang dan NIES secara aeoridinamis menarik kawanan angsa di kawasan Asia, sehingga laju pertumbuhan ekonominya pun mengikuti sang pemimpin dalam formasi victory. Berikut ini struktur transformasi di kawasan Asia dalam formasi angsa terbang sebagaimana diperkenalkan Saburo Okita.

Karena terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bangsa-bangsa Asia, di mana sumber daya alam, budaya, agama, dan warisan sejarah saling memberikan kontribusi yang nyata dengan Jepang sebagai yang terdepan. Dengan demikian maka pola integrasi ekonomi pada model Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) lantas dilihat sebagai “keluar dari kotak” karena terdiri atas negara-negara yang boleh dikatakan tingkatan ekonominya kurang lebih sama. Namun, justru inilah keragaman model teori ekonomi dan pembangunan karena setiap teori atau model memunyai kekhasannya masing-masing dan dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan fenomena yang ada.

Jumat, 23 Juli 2010

LIFE and LOVE

Apakah yang paling berharga di dunia ini? Anda dapat membuat litani panjang, lalu menyarikannya menjadi, misalnya, sepuluh. Dari sepuluh menjadi hanya lima. Dan dari lima diperas lagi menjadi hanya dua. Dari sekian banyak hal, atau sesuatu, yang dianggap berharga dalam hidup ini, apakah Anda menyarikan dua hal saja sama seperti saya, yakni life dan love (kehidupan dan cinta)?

John Powel, penulis kenamaan yang banyak menelurkan tulisan-tulisan seputar masalah kebijaksanaan dalam hidup dalam The Secret of Staying Love menulis demikian, “I am convinced that man was meant to live at peace within himself, filled with a deep joy. I am convinced that there should be going on in the heart of every man not a funeral but a celebration of life and love” (halaman 10).

Selebrasi cinta dan kehidupan penting karena tanpa cinta maka kehidupan tidak punya makna dan berjalan tanpa tujuan. Cinta memungkinkan kita berbuat lebih banyak daripada yang bisa kita capai tanpa kekuatannya.

Sering kita menghabiskan sebagian besar waktu mengurus kebutuhan fisik. Setiap hari, kita memastikan tubuh kita makan, bersih, berpakaian, berolah raga, dan beristirahat. Kita juga melakukan rangsangan intelektual dan menempatkan hiburan sebagai prioritas untuk memuaskan diri. Namun, kita kerap mengabaikan kebutuhan yang paling penting, yakni cinta kasih.

Ciri orang yang tinggal dalam cinta (stay in love) ialah menjadikan cinta sebagai kebutuhan emosional yang kuat sebagai keinginan untuk mencintai orang lain dan sesama makhluk. Karena itu, kebutuhan untuk mencintai dan peduli terhadap sesama perlu ditanam dan ditumbuhkembangkan dalam diri kita secara biologis.

Kebutuhan emosional ini yang memungkinkan orang tua untuk rela meninggalkan kebiasaan tidur, makanan, dan kesenangan lain saat membesarkan anak-anak mereka. Kebutuhan ini memungkinkan orang untuk mengambil risiko untuk menyelamatkan orang lain dari bencana alam dan ancaman terhadap manusia lain. Kebutuhan emosional cinta mendorong orang-orang seperti Bunda Teresa, Lady Diana, Paus Yohanes Paulus II dan para pekerja karitatis dan kemanusiaan melakukan sesuatu tanpa pamrih demi sesama manusia tanpa menghitung untung dan rugi.

Mengasihi orang lain akan memungkinkan kita untuk menempatkan kebutuhan dan keinginan orang lain sama seperti kita. Kita akan bekerja lebih keras dan tidak mengenal waktu, kadang-kadang mungkin kita benci pada pekerjaan tersebut, tetapi toh dilakukan demi orang yang kita cintai. Kita akan memahami kondisi orang lain dan sudi mengurus dan merawatnya untuk orang yang kita cintai, entah masih muda entah sudah tua.

Cinta berarti menyayangi, berbagi, memberikan diri, dan pada urutan yang berikutnya baru harta. Kita tidak melukai, membahayakan, atau menyebabkan rasa sakit pada orang yang kita cintai. Sebaliknya, kita berusaha untuk meringankan penderitaan mereka.

Melakukan sesuatu atas dasar cinta, jauh dari keinginan untuk menguasai dan membuat orang lain terikat dan berutang budi, melainkan tentang keinginan orang untuk menjadikan yang bersangkutan bahagia. Cinta sejati bukan didasarkan atas keinginan untuk memiliki atau mengendalikan orang lain; sebaliknya dilandasi oleh keinginan untuk membebaskan mereka.

“Cinta sejati itu memberi,” kata William Arthur Dunkerley. John Oxenham, nama pena penulis dan penyair ini, menggambarkan cinta secara indah, “Love ever gives. Forgives outlives. And ever stands with open hands. And while it lives, it gives. For this is love's prerogatives -- to give, and give, and give.”

Orang yang menjalani hidup berkualitas dan bermakna menjalani hidup lebih hidup. Orang ini juga menatap dan melihat segala hal dengan tatapan kasih. Seakan-akan yang dilihatnya ialah pantulan wajahnya sendiri. Oleh karena itu, kematian bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Akan tetapi, kehilangan terbesar dalam hidup, seperti dikatakan Norman Cousins ialah “Segala sesuatu yang mati dalam diri kita ketika kita hidup (Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live.” Sesuatu yang mati itu adalah cinta. Ketika cinta hidup, hidup pulalah kehidupan kita. Sebaliknya, ketika cinta mati dalam diri kita maka akan kita menjadi orang yang kehilangan besar.

Boleh dikatakan bahwa cinta ibarat minyak yang memungkinkan roda kehidupan terus berputar. Apabila kita mengasihi orang lain maka kita akan melihat di luar diri kita sendiri, yakni sesuatu yang ada di luar kebutuhan kita dan keinginan kita. Kita mengorbankan waktu, energi, keinginan, dan bahkan kadang-kadang diri kita sendiri karena cinta. Kita lebih sering berkorban demi cinta kepada orang yang kita kenal, namun kerap juga memberikan cinta kepada orang yang tidak kita kenal.

Cinta menjadikan orang pahlawan setiap hari di setiap tempat di dunia ini. Seperti ditegaskan Thomas Kempis, "Cinta bukan suatu beban, orang yang menyinta tidak merasakannya sebagai masalah, upaya yang dilakukan atas nama cinta melebihi kekuatannya. Oleh karena itu, cinta dapat melakukan segala sesuatu, menyelesaikan banyak masalah, dan menjamin orang yang dicintai merasakan efeknya dan memancarkan pula cinta itu kepada orang lain di sekitar."

Definisi utama cinta bukan tentang merasa baik, melainkan berbuat baik. Sebuah contoh dari cinta ialah tindakan Bunda Teresa yang bekerja begitu lama dan begitu keras atas nama cinta. Jika membuka mata maka kita akan melihat bahwa cinta ada di sekitar, sehingga tidak perlu jauh-jauh mencari cinta. Dalam konteks ini, Robert Louis Stevenson berkata, "Inti cinta adalah kebaikan."

Cinta penting, karena tanpa cinta, kehidupan tidak punya makna dan tanpa arah. Seperti dikatakan Frank Tebbets, "Hidup tanpa cinta seperti tumpukan abu di atas tungku kosong yang apinya mati, tawa terhenti dan memadamkan bara." Cinta memungkinkan kita untuk lebih hangat dan lebih hidup dan menjadi pendorong untuk berbuat lebih banyak daripada yang bisa kita capai jika tidak dilandasi kekuatan cinta.

Di antara sekian banyak ungkapan atau quotes tentang cinta, agaknya Thomas a Kempis yang paling mengesankan. Di bawah judul “On Love”, Kempis menulis demikian,

Love is a mighty power,
a great and complete good.
Love alone lightens every burden, and makes rough places smooth.
It bears every hardship as though it were nothing, and renders
all bitterness sweet and acceptable.

Nothing is sweeter than love,
Nothing stronger,
Nothing higher,
Nothing wider,
Nothing more pleasant,
Nothing fuller or better in heaven or earth; for love is born of God.

Love flies, runs and leaps for joy.
It is free and unrestrained.
Love knows no limits, but ardently transcends all bounds.
Love feels no burden, takes no account of toil,
attempts things beyond its strength.

Love sees nothing as impossible,
for it feels able to achieve all things.
It is strange and effective,
while those who lack love faint and fail.

Love is not fickle and sentimental,
nor is it intent on vanities.
Like a living flame and a burning torch,
it surges upward and surely surmounts every obstacle.

Sabtu, 17 Juli 2010

Hold Infinity in the palm of your hand

Seorang jenderal pada 2005 menulis buku berjudul The Willingness to Change. Soemarno Soedarsono, penulis buku tadi, menyimpulkan bahwa perubahan diawali dengan mengubah diri sendiri. Mula-mula ada hasrat yang kuat untuk berubah. Setelah itu, perubahan akan menggelinding bagai bola salju. Makin lama makin cepat dan besar, lalu menerpa dan memengaruhi orang sekitar.

Saya setuju dengan tesis Soemarno, tetapi ingin menambahkan sesuatu. Untuk itu, izinkan saya meminjam puisi termasyhur gubahan pujangga kenamaan, William Blake (1757 - 1827). Larik yang menurut saya bukan saja indah, tetapi juga sarat dengan muatan filosofis. Bernas, sekaligus cerdas.

To see a world in a Grain of Sand,
And a Heaven in a Wild Flower,
Hold Infinity in the palm of your hand,
And eternity in an hour.

Untuk melihat dunia di antara butir pasir,
Dan surga di sela-sela bunga liar,
Genggam sesuatu yang nirbatas pada telapak tangan Anda,
Dan keabadian dalam waktu satu jam.


Saya ingin mengajak Anda merenungkan kalimat yang menyangkut garis tangan, “Genggam sesuatu yang nirbatas pada telapak tangan Anda (the palm of your hand).” Ternyata, garis tangan (0) kita ketika menggenggam menyimpan potensi yang nirbatas (hold infinity). Artinya, jika saja potensi yang nirbatas itu digali, dikembangkan, dan diarahkan, maka sudah cukup sebagai bekal dan pegangan hidup. Masalahnya, banyak orang kurang menggali dan memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

Jika potensi itu sudah sepenuhnya diberdayakan, maka niscaya Anda akan “see a world in a Grain of Sand, and a Heaven in a Wild Flower.” Akan halnya garis tangan yang di luar cukup melengkapi dan sebagai cadangan energi untuk mengarungi bahtera kehidupan.

Jadikan sebagai kapal sekoci atau sampan ketika bahtera Anda oleng lalu karam tenggelam untuk tetap bertahan, mengapung, dan bermain-main di atas samudera kehidupan.

The Iceberg Theory: Gunung Seribu Janji

Seperti fenomena gunung es, manusia pun memunyai sisi-sisi gelap tertentu yang tidak muncul ke permukaan. Namun, suatu saat akan tampak manakala gunung es kita meleleh.

Fenomenon puncak gunung es tidak saja memunculkan banyak metafora, akan tetapi juga teori. Sebagaimana diketahui bahwa “The Iceberg Theory” (juga populer dengan "theory of omission") ialah terminologi untuk menggambarkan gaya tulisan penulis Amerika, Ernest Hemingway (1899-1961). Hemingway amat populer karena mahakaryanya yang universal dan populis berjudul The Sun Also Rises, A Farewell to Arms, dan The Old Man and the Sea.

Menurut Hemingway, manakala seseorang menulis menguasai topik yang ditulisnya maka pembaca akan memahami, lalu mengapresiasi tulisannya. Akan tetapi, manakala penulis tidak jelas menyebut (omission) atau menulis sesuatu sehingga kurang “nyambung”, maka ia memberikan kesempatan kepada pembaca untuk meneruskan cerita itu dalam perspektif mereka sendiri. Jeda ini memberikan kesempatan pada pembaca untuk berpikir mengenai alternatif dan setting cerita yang mungkin dibangun.

The Iceberg Theory kemudian dikembangkan dalam berbagai bidang, termasuk di bidang bisnis dan manajemen. Pada 2005, Stephen G. Haines dari Centre for Strategic Management mengembangkan konsep “The Iceberg Theory of Change”, suatu pendekatan sistem berpikir yang dapat meningkatkan kapasitas keunggulan bersaing dalam dunia bisnsis.

Bagaimana konsep itu? Sebenarnya, cukup sederhana. Gambarnya adalah sebuah prisma segitiga. Segitiga yang ada di depan, kita sebut sebagai yang pertama, di tengah adalah segitga yang kedua, dan yang paling kiri adalah segitiga yang ketiga.

Pada segitiga pertama terdapat tiga lapisan, paling puncak (peak) adalah lapisan 1 di mana terdapat gunung es karena letaknya di atas permukaan laut. Puncak ini disebut sebagai isi (content), yakni bagian yang paling tampak dan kasat mata. Untuk meraih keunggulan kompetitif di dunia bisnis, bagian ini memberikan kontribusi 13%.

Pada lapisan yang kedua terdapat apa yang disebut sebagai “proses” yang kata kuncinya adalah “how”. Bagian ini berada di bawah permukaan laut, tidak tampak.

Sementara lapisan ketiga ialah struktur (framework) yang terdapat di dalam kedalaman dasar laut. Struktur ini disangga oleh kultur dan komitmen. Sistem berpikir ada dalam lapisan ini.

Dua lapisan segitita pertama gunung es di bawah permukaan laut ini bersama-sama dengan segitga kedua (resources) dan segitiga ketiga (competences) memberikan sumbangan yang sangat besar untuk meraih keunggulan kompetitif di dunia bisnis, yakni 87%.

Apa hikmat puncak gunung es bagi kita? Banyak sekali. Yang pertama, tentu saja, jangan pernah menilai atau menghahimi orang berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Mengapa? Seperti gunung es, permukaan hanyalah apa yang tampak secara fisik, tidak mencerminkan isi dan struktur yang ada di dalam. Sebagaimana dikemukakan Stephen G. Haines bahwa apa yang tampak di atas permukaan baru menggambarkan sebagian kecil (13%) dari isi dan luas gunung es yang sesungguhnya.

Di pihak lain, apa yang ada di bawah permukaan (laut) justru isi dan luasnya lebih besar, yakni 85%. Meski tidak tampak secara fisik, bagian yang terdiri atas dua lapisan ini kontribusinya sangat besar. Proses dan kultur ada di lapisan ini, karena itu, puncak gunung es sebenarnya adalah akumulasi dari bagian yang tidak tampak ini.

Jika judul tulisan ini mengajak pembaca memahami misteri gunung es, artinya kita coba melihat puncak misteri. Di ketinggian pula, biasanya orang menyadari bahwa dia “bukan siapa-siapa”. Setelah bersusah payah mengerahkan tenaga dan pikiran meraih puncak, pendaki menyadari bahwa apa yang diraihnya memerlukan tekad dan mental baja. Hanya orang yang mengalami bahwa mencapai sesuatu tidak mudah akan menghargai pencapaiannya dan memahami para pendaki yang mencoba, namun belum berhasil mencapai puncak.

Indonesia menurut Global Peace Index

Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu, kini tingkat kedamaian dapat diukur dengan alat ukur tertentu. Kita mengenalnya dengan nama Global Peace Index (GPI).

Apakah GPI? GPI ialah suatu usaha untuk mengukur posisi relatif dari bangsa dan kedamaian di suatu kawasan. Ini adalah produk dari Institute for Economics and Peace (Lembaga Ekonomi dan Perdamaian) yang dikembangkan dalam konsultasi dengan sebuah panel pakar internasional dari lembaga perdamaian perdamaian dan think tank dengan data yang dikumpulkan dan disusun oleh Economist Intelligence Unit.

Daftar negara yang meraih predikat “damai”, diluncurkan pertama kali pada Mei 2007. Selanjutnya, dirilis lagi pada Mei 2008 dan pada tanggal 2 Juni 2009. Dan baru-baru ini, diluncurkan pada 10 Juni 2010 yang diklaim sebagai studi pertama untuk peringkat negara di seluruh dunia sesuai dengan kedamaian yang telah diusahakan dan senyatanya terjadi yang dapat diukur dengan indeks tertentu di negara itu.

Alhasil, terdapat peringkat 149 negara (naik dari 121 pada tahun 2007). Penelitian ini adalah buah dari gagasan pengusaha Australia, Steve Killelea dan didukung oleh individu yang amat peduli pada perdamaian dunia, seperti Kofi Annan, Dalai Lama, Uskup Agung Desmond Tutu, mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, Muhammad Yunus, ekonom Jeffrey Sachs, mantan presiden Irlandia Mary Robinson, dan mantan Presiden AS, Jimmy Carter.

Faktor-faktor yang diteliti meliputi faktor internal, seperti tingkat kekerasan dan kejahatan dalam negeri dan faktor-faktor dalam hubungan eksternal suatu negara seperti pengeluaran budget militer dan perang (24 indikator).

Negara yang dikategorikan “damai”, memeroleh nilai indeks lebih rendah. Negara paling damai yang dirilis tiap tahun dimasukkan dalam zona hijau, GPI negara ini di bawah indeks 1,7. Adapun negara-negara yang GPI-nya di atas 1,7 dimasukkan ke dalam zona merah, karena kedamaian di negara itu masih perlu untuk diperjuangkan dan ditingkatkan lagi.

Kelak,jika perjuangannya membuahkan hasil, dan ke-24 indikator berkorelasi positif dengan keadaan damai yang senyatanya, suatu negara dapat masuk zona hijau. Dengan demikian, otomatis mendapatkan predikat sebagai negara yang “damai” di dunia.
Pengamatan dilakukan antara tahun 2007-2010 berdasarkan 24 indikator, termasuk pengerahan dan penggunaan kekuatan militer dalam suatu negara, hingga tingkatan kriminilaitas dan tindakan terorisme.

Di antara negara-negara dunia maka New Zealand menduduki ranking tertinggi negara yang damai. Disusul Islandia, Jepang, Austria, Norwegia, Irlandia, Denmark, Luxemburg, Finlandia, dan Swedia. Terdapat 30 negara yang berada dalam zona hijau (yang GPI-nya di bawah 1,7).

Dari 149 negara yang dicatat GPI-nya berdasarkan hasil penelitian maka Irak menduduki posisi buncit, disusul Somalia (148), Afganistan (147), Sudan (146), dan Pakistan (145). Sedangkan Israel, negeri yang selalu bertikai dengan Palestina sejak puluhan tahun, berada di posisi GPI ke-144. Mengamati situasi dan kondisi negara tersebut, di mana kedamaian masih jauh dari harapan, maka rasa-rasanya rilis oleh GPI layak dipercaya keabsahannya dari sisi ilmiah karena memang terukur dan berkorelasi.

Yang menarik, di manakah posisi Indonesia? Meski dibekap oleh berbagai praktik kerusuhan, sikap anarki segelintir warga, militerisme, premanisme, serta tindak terorisme, masih “beruntung” bahwa Indonesia berada di urutan ke-67. Namun, jangan dulu bangga. Nilai rapor kita masih merah. Masih perlu banyak upaya untuk menjunjung Indonesia menjadi sebuah negeri yang damai, masuk ke zona hijau.

Pada 2007, GPI kita adalah 2.111 (peringkat 78). Merangkak naik menjadi 1.853 pada 2009. Lalu cukup berfluktuasi lagi menjadi 1.946 pada 2010. Bandingkan Irak yang berada di posisi ke-149 (2010) dengan GPI 3.406. Melihat indeks tersebut, rasanya masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk mendongkrak kenaikan peringkat dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang masuk zona hijau.

Damai: mulai dari diri sendiri
Dalam buku Living Values (2001) yang penerbitannya diprakarsai oleh Brahma Kumaris, sebuah organisasi religius bekerja sama dengan Unesco, Diane Tillman, dkk. mencatat bahwa dari 12 nilai universal maka peace (kedamaian) termasuk salah satu di antaranya. Nilai yang sangat penting sebagai prasyarat terciptanya dunia yang lebih baik dan lebih adil ini diakui sesuatu yang tidak mudah diusahakan, namun bukan berarti tidak mungkin.

Bagaimana caranya? Mulailah melakukan sesuatu dari yang paling kecil dan sederhana: berdamai dengan diri sendiri. Yakni berusaha menerima, memaafkan, mengerti, tidak melakukan balas dendam, dan membawa sikap kelemahlembutan dalam setiap kesempatan dan dalam setiap saat. Kemudian, membawanya ke lingkungan sekitar. Baru ke level yang jauh lebih luas.

Akan tetapi, manakala kedamaian dalam sendiri sendiri masihlah sebuah wacana yang “jauh panggang dari api”, bagaimana mungkin mengusahakan dan menciptakan kedamaian di aras global?

Jadi, just do it! Meski kecil sekali pun dan dianggap remeh oleh banyak orang. Omong kosong bicara dan menyuarakan damai, manakala kita tidak mulai dari hal yang kecil, dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kantor.

Jumat, 09 Juli 2010

The Secret of "Déjà vu"

Pertama kali terminologi déjà vu diperkenalkan oleh periset di bidang fisika berkebangsaan Prancis, Émile Boirac (1851–1917) dalam bukunya L'Avenir des Sciences Psychiques (Masa Depan Ilmu Fisika) yang diperluas dari esai yang ditulisnya ketika masih menjadi mahasiswa.

Pengalaman déjà vu biasanya disertai dengan perasaan akan adanya kedekatan atau keakraban sekaligus keangkeran, keanehan, dan keasingan yang oleh Sigmund Freud disebut uncanny (luar biasa). Pengalaman sebelumnya paling sering dikaitkan dengan mimpi, meski dalam beberapa kasus hal tersebut meneguhkan perasaan bahwa itu benar-benar terjadi pada masa lampau.

Sejak penggalan tahun pertama abad 20, déjà vu menjadi bidang penelitian psikologi dan neurofisiologis. Dari sisi ilmiah, penjelasan yang paling mungkin déjà vu bukan pertama-tama ihwal prekognisi (precognition) atau nubuat (prophecy), namun juga anomali memori, memberi kesan pengalaman masa lampau yang dipanggil kembali (recalled).

Penjelasan ini didukung oleh fakta adanya perasaan dari ingatan pada pengalaman-pengalaman sebelumnya. Namun, ihwal kapan, di mana, dan bagaimana pengalaman terjadi sebelumnya, sukar untuk dipastikan. Demikian juga, seiring berjalannya waktu, seseorang dapat menunjukkan ingatan kuat pada peristiwa atau keadaan ketika mengalami déjà vu.

Lebih spesifik, bisa saja déjà vu merupakan akibat dari tumpang tindihnya saraf yang bertanggung jawab untuk memori jangka pendek (peristiwa yang dianggap sebagai masa sekarang) dan saraf yang bertanggung jawab untuk memori jangka panjang (peristiwa yang dianggap sebagai masa lampau). Peristiwa akan disimpan ke dalam memori pada alam bawah sadar otak, meski telah menerima informasi dan mengolahnya.

Teori lain mengenai déjà vu yang sedang dieksplorasi adalah pandangan. Teori ini menunjukkan bahwa satu mata dapat merekam apa yang dilihat secara fraksional lebih cepat sekian milidetik dari mata yang lain. Penglihatan ini menciptakan ingatan "yang kuat" akan sensasi pada adegan yang "sama" yang kemudian dilihat oleh mata satunya.
Para pakar memang sudah coba menjelaskan déjà vu, namun hingga hari ini rasanya masihlah sebuah pulau misteri yang belum terpecahkan. Pendekatan psikologi barangkali dapat sedikit mengungkap fenomenon ini.

Menurut dr. Naek L. Tobing, pakar di bidang sexology dari negeri sendiri, yang pada hemat kami cukup menjelaskan fenomenon ini dari sisi psikologi terapan, “Manusia cenderung mengulangi hal-hal yang indah dan menyenangkan dan cenderung menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan.”

Ke dalam bingkai kecenderungan umum, bahkan sifat naluriah dasar manusia inilah kita menempatkan déjà vu sehingga lebih mudah untuk dipahami. Hal-hal yang indah dan menyenangkan tidak selalu dalam arti harfiah, sebab recall masa lampau dapat pula kita artikan sebagai proses memanggil kembali pengalaman (dan pengetahuan) masa lalu yang ada dalam memori kita untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mengisi soal-soal ujian dan menjawab berbagai pertanyaan.

Déjà vu, diakui atau tidak, bahkan kerap kita munculkan dengan sengaja. Pernahkah Anda menyadari, manakala sedang ngobrol, diskusi, atau rapat jika membahas topik tertentu yang ada kaitannya dengan kisah sukses atau terkait dengan cita rasa dan sikap-sikap heroik tertentu, kita cenderung memunculkan dan me-recall pengalaman kita sendiri? Seakan-akan experiences kita mengenai segala sesuatu yang indah, menyenangkan, dan yang hebat-hebat hadir kembali di sini, pada saat ini. Dengan bangga kita menceritakan sesuatu yang pernah kita alami, entah sekadar pamer, entah benar-benar tulus untuk membantu mengatasi masalah dan memberikan kontribusi bagi siapa saja agar tampak bahwa kita hebat.

Sebenarnya, déjà vu bukan hanya ingatan akan pengalaman masa lampau yang datang secara spontan. Ia juga bukan semata-mata monumen atau lambang yang mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa masa lalu yang pernah kita alami. Lebih dari itu, déjà vu kerap sengaja kita munculkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari harta karun, perbendaharan, sekaligus inheritance kita yang sangat bernilai.

Akan tetapi, jujur harus dikatakan bahwa kerap juga déjà vu muncul dalam suatu konotasi yang agak negatif. Pernah mengamati orang yang terkena stroke yang tidak terlampau berat atau orang yang bagian kepalanya terkena benturan?

Orang yang bersangkutan biasanya akan kehilangan sebagian kesadaran akan masa lalu (long-term memory) perbendaharaan ingatan yang tersimpan dalam memori otaknya sedikit mengalami gangguan seperti komputer yang error karena terjatuh atau diserang virus berbahaya. Penyimpanan file-file dan dokumen tidak lagi rapi, satu dokumen tercampur dengan yang lain, atau bahkan ada yang rusak, sehingga yang muncul bukan yang sebenarnya. Akibatnya, yang dapat dipanggil kembali hanya sebagian saja. Itu pun sudah tidak lagi utuh.

Nah, orang yang yang terkena stroke atau orang yang bagian kepalanya terkena benturan dapat mengalami hambatan untuk pemanggilan kembali memori –seperti komputer yang pernah jatuh dan terserang virus tadi. Saya pernah punya pengalaman seperti ini ketika salah satu orang tua dekat mengalami stroke lumayan berat. Sebagimana kita ketahui bahwa stroke mengakibatkan sebagian syaraf manusia malafungsi. Syaraf bekerja tidak sebagaimana biasanya.

Kembali ke cerita ihwal stroke tadi. Pada detik-detik awal terkena, orang yang mengalaminya tidak dapat berbicara sama sekali. Baru selang beberapa jam kemudian, gerakan mulutnya yang masih bergetar sudah dapat ditangkap kata-kata yang diucapkan. Namun, kesadarannya belum pulih seratus persen. Yang bersangkutan bertanya, “Saya di mana dan apa yang terjadi pada saya?” Daya ingatnya terbatas, hanya tahu masa kini (short-term memory).

Ternyata, rekaman pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori perlu waktu untuk pulih kembali. Untuk memulihkannya, perlu waktu dan juga kesabaran. Harus dipancing dengan pertanyaan, baru rekaman masa lalu dapat muncul kembali dan déjà vu adalah salah satu teknik terbaik yang secara efektif dapat memanggil kembali memori yang hilang. Barangkali kondisi seperti ini yang disebut sebagai anomali yang terjadi akibat kurang berfungsinya saraf. Namun, jika memori itu dipancing dan ditata lagi dengan teknik recall, dapat kembali seperti sediakala.

Jika kita punya pengalaman hidup dan bergaul dengan orang tua yang usianya di atas usia 70 tahun ke atas, maka hukum umum yang berlaku ialah bahwa mereka selalu senang berbicara atau mengisahkan pengalaman masa lalu. Sangat jarang topik pembicaraan mengenai masa kini, apalagi tentang masa lampau. Kata kuncinya adalah “saya dulu”, “bukan begitu, kami dulu” “yang benar seperti pernah saya alami”, “wah, saya dulu lebih dari itu”, “itu belum seberapa, waktu saya muda lebih lagi”, dan sebagainya.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tua yang demikian hidup dalam dunia berisi pengalaman-pengalaman masa lalu? Apakah ia hidup di antara dua dunia? Nyatakah dunianya?

Mungkinkah itu fatamorgana terbalik, ibarat memandang cermin di depan, tapi yang dilihat ialah yang ada di belakang, yakni kejadian-kejadian atau pengalaman masa lalu?
Itulah sebagian dari misteri déjà vu. Nyata dialami, tapi masih belum dapat untuk dijelaskan sepenuhnya.

Kamis, 08 Juli 2010

Intuisi sebagai Langkah menuju Pengetahuan (The Plato's Five Stages of Knowing)

Apakah yang dimaksudkan dengan intuisi? Intuisi ialah daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati (KBBI).

Sementara Stanford Encyclopedia of Philosophy mencatat, “Intuition is a form of rational insight. Intellectually grasping a proposition, we just "see" it to be true in such a way as to form a true, warranted belief in it. Deduction is a process in which we derive conclusions from intuited premises through valid arguments, ones in which the conclusion must be true if the premises are true. We intuit, for example, that the number three is prime and that it is greater than two. We then deduce from this knowledge that there is a prime number greater than two. Intuition and deduction thus provide us with knowledge a priori, which is to say knowledge gained independently of sense experience.”

Sementara itu, pecatur World Champion, Vladimir Kramnik mengatakan, “Intuition is the immediate awareness of the position, but this is difficult to explain logically. Intuition in a sense depends on knowledge; the more you accumulate, the better your intuition becomes.”

Intuisi adalah kesadaran yang muncul seketika, yang mengatur bagaimana seseorang bertindak. Namun, sukar menejelaskannya secara logis. Semakin kita melatih menggunakannya, intuisi akan semakin baik bekerja.

Intuisi yang terhubung dengan mata batin merupakan mekanisme dari pengetahuan yang muncul dari dalam atau pengetahuan instingtif yang kadang kita tidak tahu dari mana datangnya. Namun, kita mengakui bahwa intuisi dalam banyak hal berperan penting.
Intuisi diperlukan untuk membangun strtategi jangka panjang, membina hubungan, dan ketika harus melakukan tindakan sesegera mungkin tanpa harus berpikir panjang.

Intuisi kadang jauh lebih berperan dalam banyak hal dibandingkan dengan logika. Dapat dikatakan bahwa intuisi membuka saluran bagi alam semesta. Perasaan yang mendorong intuisi jauh lebih besar dayanya dibandingkan dengan otak manusia: intuisi melihat sesuatu atau kesempatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan akal budi. Itu sebabnya, intuisi kerap pula disebut “mata batin”, mekanisme atau pengetahuan instingtif yang tidak memerlukan adanya proses berpikir dan persyaratan-persyaratan pelanaran logis.

Filsuf Aristoteles, dan kemudian para pemikir setelahnya, menyebut bahwa intuisi merupakan sumber alternatif dari pengetahuan, tingkat kesadaran, dan suara batin (inner voice). Kita semua mengalami mekanisme tersebut dalam berbagai tingkatan, demikian pula bagaimana mengembangkan intuisi dan menggunakannya secara baik dan benar.

Itulah sebabnya, Plato (murid Socrates yang mengembangkan pemikiran filsuf sebelumnya) menyebut bahwa salah satu dari lima tahap mencapai pengetahuan adalah intuisi.

Dalam kahasanah filsafat, intuisi kerap dipersamakan dengan deduksi .
Banyak pemikir besar, dari Immanuel Kant hingga Carl Jung menekankan pentingnya intuisi dan dampak yang besar tersebut pada kehidupan pribadi dan profesional. Mereka mendefinisikan intuisi sebagai “a priori” (mendahului) pengetahuan, dan sebagai alat penting dan sangat diperlukan bagi kita sebagai manusia.

Menurut Jung, intuisi ialah salah satu dari empat fungsi utama pikiran manusia bersama dengan sensasi, pikiran, dan perasaan. Dengan menyeimbangkan semua fungsi dalam diri kita, kita memiliki kemampuan untuk memaksimalkan potensi kita. Dia menulis: "I regard intuition as a basic psychological function that mediates perception in an unconscious way. Intuition enables us to divine the possibilities of a situation......"

Intuisi juga merupakan sarana ekspresi diri yang kreatif, terutama dalam dunia seni, musik, dan sastra. Intuisi tidak terbatas hanya pada seni kreatif. Banyak orang yang telah mencapai sukses luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, bisnis dan kewirausahaan, meraih keuntungan karena kemampuannya dalam membuat keputusan yang benar dengan mengikuti kata hati, intuisi, dan perasaan.

Intuisi juga dikaitkan ekspresi diri secara kreatif, khususnya di dunia seni, musik, dan sastra. Intuisi tidak dibatasi oleh seni kreatif. Banyak pencapaian di bidang ilmu dan teknologi, bisnis dan wirausaha, atau hal-hal positif lainnya berawal dari intuisi.

Boleh dikatakan bahwa intuisi menghubungkan seseorang ke alam bawah sadar. Intuisilah yang menghubungkan alam bawah sadar dengan alam sadar kita. Karenanya, kita dapat mendahului kekuatan kreatif, kebijaksanaan, dan pengertian. Semua ini melampaui pengalaman nyata atau akal budi manusia.

Bagaimana mengasah dan mengembangkan intuisi? Berikut ini langkah-langkahnya.
• Tenangkan pikiran dan mendengarkan. Luangkan waktu setiap hari untuk mengalami keheningan. Praktik menenangkan pikiran Anda dengan menggunakan apa pun yang bernapas atau teknik meditasi yang Anda inginkan. Lepaskan kebiasaan untuk berpikir, menganalisis dan mencoba untuk tahu segalanya. Terbuka dan dengarkan. Biarkan pikiran Anda berkelana dan terbuka untuk menjaring ide-ide dan solusi yang datang pada Anda. Ketika mendengarkan intuisi, hubungkan diri Anda dengan pengetahuan yang lebih besar. Biasanya, berkomunikasi melalui simbol, perasaan, dan emosi jauh lebih efektif dan efisien.
• Belajar memercayai firasat dan perasaan halus. Jika ada firasat buruk akan terjadi sesuatu, ikutilah. Apa yang mungkin baik untuk sesorang bisa jadi salah bagi Anda. Pernahkah Anda merasa tidak enak melakukan, atau tidak melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas? Mendengarkan perasaan halus dan memercayai firasat mungkin membantu Anda menghindari kecelakaan lalu lintas atau membuat Anda berada pada tempat yang tepat dan waktu untuk mendapatkan pekerjaan besar, atau pertemuan dengan seseorang. Intuisi Anda adalah panduan batin Anda. Karena itu, belajar untuk mempercayainya. Pada awalnya, percaya mungkin agak menakutkan, tetapi memberikan kesempatan untuk berkembang.
• Sadar dan memerhatikan. Untuk meningkatkan kemampuan intuitif, Anda harus memerhatikan apa yang terjadi di sekitar. Semakin banyak data dan informasi yang Anda serap dari lingkungan, pikiran bawah sadar Anda semakin bekerja dan memberikan sumbangsih untuk membuat keputusan penting. Manakala intuisi Anda menangkap informasi yang dikumpulkan oleh pikiran sadar, semakin Anda menemukan solusi terbaik. Demikian juga pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dari pengalaman memberikan sumbangsih bagi penyelesaian masalah. Ingat bahwa informasi yang muncul dari pikiran bawah-sadar berkomunikasi dengan pikiran-sadar melalui intuisi Anda.
Jenis intuisi yang lain memunculkan dirinya dalam kilatan pemikiran atau secuil pengetahuan bawah sadar. Kuncinya ialah memberi perhatian. Semakin Anda memberi perhatian, semakin Anda mengalami intuisi. Manakala Anda tidak pernah mengenal intuisi dan kemudian masuk dalam lingkaran berikutnya yang tidak menyenangkan, Anda akan menyadari perasaan seperti apakah yang dialami. Untuk mencegah hal itu terjadi maka yakinlah untuk tetap memberikan perhatian pada petunjuk dan tanda yang Anda terima.
• Mengaktifkan bawah sadar ketika tidur. Sebelum pergi tidur di malam hari, refleksikan pertanyaan dan masalah yang tidak dapat Anda temukan solusinya pada siang hari. Pikirkan dan eksplorasi berbagai kemungkinan. Hal ini akan memicu imajinasi Anda dan menempatkan bawah sadar Anda untuk bekerja dan akan memberikan solusi kreatif saat Anda tidur. Siapkan pen dan kertas sehingga begitu bangun dari tidur dan terjaga di malam hari, Anda siap menuangkan solusi kreatif itu untuk segera diimplementasikan.
Terdapat lima keuntungan jika Anda mengembangkan, dan kemudian membiarkan intuisi bekerja.

Pertama, mengurangi stres dengan mengidentifikasi dan menangani masalah secara lebih efektif.

Kedua, mengeluarkan kreativitas dan imajinasi.

Ketiga, berhubungan dengan bawah sadar Anda, dan karena itu, membantu Anda menemukan kebenaran tersembunyi tentang diri Anda dan situasi dalam hidup. Dengan berhubungan dengan intuisi, Anda mencegah penumpukan emosi dan pemikiran yang negatif.

Keempat, mengintegrasikan fungsi otak kiri dan otak kanan. Ini akan memberikan Anda perspektif yang lebih lengkap tentang isu-isu.

Kelima, membantu pengembangan diri lebih baik dan membantu membuat keputusan yang lebih integratif. Pada gilirannya, intuisi akan meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan emosional.

Sesudah memahami apa yang dimaksudkan dengan intuisi dan logika, menurut Anda bagaimana hubungan keduanya? Apakah keduanya saling meniadakan atau saling melengkapi? Bertentangan atau merpersyaratkan?

Boleh dikatakan bahwa intuisi ibarat telur dan ayam. Intuisi bekerja lebih dulu mengikuti dorongan yang muncul dari dalam. Sulit untuk dijelaskan secara nalar, namun ada semacam keyakinan kuat yang muncul dari dalam yang membimbing seseorang bertindak atau melakukan sesuatu. Setelah mengikuti apa kata intuisi, ternyata benar. Intuisi baru bisa dibuktikan benar setelah dilakukan atau setelah terjadi. Jadi, pembuktiannya setelah segala sesuatu terjadi (post factum).

Sebaliknya, logika dapat menjelaskan sesuatu secara runtut dan nalar. Ada argumen-argumen logis yang mendasarinya. Ada pembuktian-pembuktian, mulai dari aras empiris hingga aras logis. Dengan kata lain, logika adalah jalan nalar membuktikan kebenaran.
Menurut hemat kami, intuisi dan nalar bukanlah vis a vis dalam arti harfiah. Keduanya datang dari kutub yang berbeda dan entitas yang sama sekali berlainan, sehingga tidak dapat dipertentangkan. Keduanya diperlukan bergantung pada situasi pada situasi dan kondisi.

Dengan kata yang agak ilmiah, intuisi ialah pengetahuan yang bersifat a priori, sedangkan nalar atau pembuktiannya adalah a posteriori. Yang pertama adalah pengetahuan yang tidak bergantung pada pengalaman (non-empiris), sedangkan yang kedua berdasarkan pengalaman (empiris).

Dengan bahasa awam, intuisi ialah dorongan dari dalam diri yang begitu kuat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Orang yang mengalaminya sulit menjelaskan dorongan tersebut. Pokoknya, percaya bahwa hal itu baik dan benar. Namun, orang lain sukar untuk mengerti, apalagi memercayainya. Baru setelah terjadi, dan terbukti benar, orang percaya bahwa intuisi tersebut benar adanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sudah mempraktikkan kapan keputusan dan tingkah laku didorong intuisi dan kapan didasarkan pada pengalaman (logika). Namun, kita mungkin kurang menyadarinya.

Semoga tulisan ini memberikan suluh yang dapat menerangi Anda menelisik lebih dalam soal intuisi. Sebuah dorongan batin yang bukan saja perlu diasah, tetapi juga sangat mutlak dikembangkan untuk meningkatkan sukses pribadi dan sukses dalam bisnis.

Rabu, 16 Juni 2010

Just Start

Saya punya usaha kecil-kecilan. Writing business. Selalu ada order, meski tidak distrategikan betul. Dulu, merambah usaha ini terasa musykil. Namun, seiring berkembangnya industri kreatif, bisnis ini menjanjikan.

Adakah rumusan yang jitu, agar sebuah usaha sukses? Di buku 101 Writing Businesses You Can Start from Home saya sudah menjelaskan terdapat 101 peluang. Hanya saja, kerap orang takut untuk memulai.

Sebenarnya,takut mulai usaha ini bukan hanya pada bidang tulisan. Bidang lain pun, kerap orang merasa gamang.

Kita memang kerap terjebak pada “mitos”, misalnya agar suatu usaha sukses, maka terlebih dahulu harus dibuat rencana usaha (business plan) yang terperinci dan feasible. Sebelumnya, dilakukan lebih dahulu studi kelayakan lengkap dengan analisis yang akurat. Termasuk kesiapan dan keandalan sumber daya manusianya, kecukupan modal, sampai berapa lama usaha benar-benar mampu menghidupi diri sendiri. Jika semua itu sudah dilakukan, maka bolehlah mulai suatu usaha.

Langkah-langkah seperti itu tidak salah, bahkan merupakan suatu keniscayaan. Bahkan, sangat dianjurkan para pakar bisnis dan manajemen. Text book juga mencatanya demikian.

Akan tetapi, saya agak keluar dari kotak pemikiran banyak orang. Judul tulisan ini tegas menggambarkan bagaimana pemikiran saya. Bahwa suatu usaha tidak harus mulai ketika semuanya sudah siap.

Ada kalanya kita mulai lebih dulu saja (start). Lalu, seiring dengan bergulirnya waktu, usaha kita pun bergulir (roll) juga. Tinggal kita sempurnakan yang kurang dan yang coba mengupayakan perbaikan yang belum baik. Pada saatnya nanti, ketika segalanya siap, didukung sumber daya yang siap pula, baru kita percepat (accelerate).

Membuka suatu usaha yang penting mulai lebih dulu, kini semakin diamini banyak pakar. Renee dan Don Martin, misalnya dalam The Risk Takers: 16 Women and Men Who Built Great Businesses Share Their Entrepreneurial Strategies For Success (Vanguard Press, 2010), dalam salah satu tips menggarisbawahi pentingnya mulai usaha: Just Start!

Namun, segera ditambahkan bahwa bukan tidak ada risiko di dalamnya. Pengusaha sejati ialah yang tahu dan siap menghadapi risiko. Karena itu, berdasarkan pengalaman dan kisah sukses 16 entrepreneur di Amerika Serikat, Renee dan Don Martin mencatat bahwa orang-orang yang sukses dalam usaha tersebut adalah pengambil risiko (risk takers).

Just Start
Jika Anda punya gagasan tentang suatu bisnsis baru, yakin dan pede saja lagi bahwa Anda akan sukses di dalamnya. Yang tak kalah penting, dorong diri sendiri dengan berbagai cara untuk mencapainya. Lalu jangan takut pada risiko apa pun yang akan menghadang.

Jangan cemas akan hari depan. Sebab apa yang Anda cemaskan tidak selalu terjadi. Justru Anda harus bisa mengubah kecemasan menjadi kesuksesan. Jangan bimbang. Kadang usaha perlu dimulai dulu. Ketika berjalan, peluang masuk jala usaha kita. Namun, jika tidak pernah memulai, kapan peluang kita tangkap? Ayunkan langkah pertama Anda dalam usaha. Just get started.

Senin, 14 Juni 2010

Blunder: c'est la vie

Drama kehidupan juga merebak ke lapangan sepak bola. Pada pertandingan pembuka babak penyisihan grup C Piala Dunia 2010, Afrika Selatan, drama itu dipentaskan di Stadion Royal Bafokeng13 Juni 2010. Berhadapan kesebelasan Inggris melawan Amerika Serikat. Semua orang berharap, bahkan sebagian besar, yakin bahwa Inggris akan memetik angka penuh. Pasukan red cross asuhan Fabio Capello sudah menjebol gawang lawan menit ke-4 melalui tendangan Steven Gerard.

Pendukung Inggris pun bersukacita. Drama sepertinya akan berujung pada happy ending. Namun, apa yang kemudian terjadi? Blunder itu tiba-tiba datang menghancurkan mimpi. Gelandang Amerika Serikat, Clint Dempsey, melepaskan tendangan.

Bola yang meluncur sebenarnya perlahan saja. Tidak liar, apalagi keras. Tendangan gelandang Fulham itu mendatar, menyusur tanah. Kiper Inggris, Green bergerak menghalau. Ia coba menahan laju bola dengan kedua tangannya. Tapi sial, ia sedikit terjengkang. Alih-alih memeluk bola, si kulit bundar malah bersarang masuk gawang sendiri. Blunder itu pun terjadi!

“Kiper sontoloyo. Dungu sekali!” umpat suporter. Tak satu pun yang membela Green, semua orang menyalahkannya.

Apa kata Green? Dengan datar ia berucap, “Kadangkala orang bisa melakukan kesalahan. Itulah hidup.” C'est la vie.

Sengaja atau tidak. Dikehendaki atau tidak. Seperti pemain Green, dalam hidup ini, kerap kita membuat blunder. Bahkan blunder yang sebenarnya kita sendiri tidak menginginkannya, tapi toh terjadi juga. Kita sudah berupaya sekuat tenaga menghalau segala sesuatu yang mengancam reputasi dan hidup kita, namun suatu ketika tak berdaya menahan lajunya bencana.

Hans Christian Anderson mengatakan,“Just living is not enough. One must have sunshine, freedom, and a little flower.”

Adalah naïf jika kita hanya menerima kenyataan pahit dalam hidup ini. Kita harus mengubah hambatan menjadi peluang. Tidak semata-mata nrimo, tapi berusaha untuk keluar dari hambatan yang merintangi.

Seperti dikatakan Anderson, tidak cukup hanya menjalani hidup yang serba kelam. Kita harus melihat di balik kelam ada sinar matahari. Di balik jeruji besi yang mengungkung, lilitan nasib, dan simpul hereditas, ada kebebasan. Dan di antara daun-daun yang berguguran, ada sekuntum bunga.

Maka menyanyilah bersama grup musik legendaris, ABBA.
Sing c'est la vie
Tu pleures ou tu ris
Tu n'as pas choisi
Tout?a c'est la vie....

Bernyanyilah tentang hidup
Kau tertawa atau menangis
Anda tidak memilih
Semuanya? Apakah hidup itu....

Minggu, 13 Juni 2010

Santa Lusia dan Lux

Suatu ketika, saya sedang berada di Italia. Negeri ini dikaruniai bukan saja keindahan, tapi juga kenyamanan. Di antara negara-negara di Eropa, Italia adalah tempat yang bertaburan objek wisata bersejarah. Tinggal memilih ke mana kaki akan melangkah. Ada colosseum, Forum Romanum, Capitol, Via Appia, Basilika Santo Petrus, dan Fontana di Trevi. Semuanya menarik untuk dikunjungi.

Penuh kenyamanan, karena Italia termasuk negeri yang berhawa dan bercuaca lebih bersahabat dibanding negeri-negeri Eropa lainnya. Jika musim panas, hawanya tidak begitu menggerahkan. Sebaliknya, jika musim dingin, cuaca tidak begitu menggetarkan rahang karena dingin yang menusuk hingga sum-sum tulang. Tak mengherankan, Italia hampir tiap musim tumpah ruah oleh turis mancanegara, termasuk dari negara sesama Eropa.

Di sebuah sudut jalan, samping sebuah bangunan tua. Mata saya terpanah, kagum oleh suatu pemandangan eksotik. Iring-iringan orang berjajar rapi. Gadis-gadis di depan berbaris, sembari di tangan mereka membawa lilin-lilin yang bernyala.

Hati saya bersukacita. Turut larut dalam kegembiraan mereka. Tua-muda, pria-wanita, anak kecil maupun orang dewasa, serempak bernyanyi:

Sul mare luccia l'astro d'argento,
Placida è l'onda, prospero è il vento
Venite all'agile barchetta mia...
Santa Lucia! Santa Lucia!

Con questo zeffiro, così soave
Oh! Com'è bello star su la nave!
Su passaggieri, venite via!
Santa Lucia! Santa Lucia!

In fra le tende bandir la cena
In una sera così serena!
Chi non domanda, chi non desia?
Santa Lucia! Santa Lucia!

Mare sì placido, vento sì caro
Scordar fa i triboli al marinaro,
E va gridando con allegria,
Santa Lucia! Santa Lucia!

O dolce Napoli, o suol beato,
Ove sorridere volle il creato
Tu sei l'impero dell'armonia!
Santa Lucia! Santa Lucia!

Or che tardate? Bella è la sera,
Spira un'auretta fresca e leggera,
Venite all'agile barchetta mia
Santa Lucia! Santa Lucia!

Santa Lucia! Santa Lucia!
Santa Lucia! Santa Lucia!


Jujur, saya tidak mengerti arti lagu itu. Hanya bisa menangkap sepatah dua: laut, bintang perak, gelombang yang tenang, sejahtera, angin, dan perahu saya. Namun, bila memahami legenda seputar Santa Lusia, semuanya terungkap dengan jelas. Bahwa di balik kematian ada kehidupan (baru).

Di balik keputusasaan, ada secercah harapan. Di saat kelaparan, orang yang memohon doa minta dikenyangkan, dikabulkan Tuhan. Senang dan susah silih berganti. Hanya orang tawakal yang sanggup mengucap syukur. Dan penduduk Italia salah satu orang tawakal yang jumlahnya tidak banyak itu. Saya begitu kagum dan sangat terkesan pada mereka.

Legenda
Tidak bisa ungkapan syukur orang Italia lepas dari hagiografi Santa Lusia. Pesta Santa Lusia atau Saint Lucy's Day (kadang-kadang Lusia saja) adalah hari raya Gereja yang didedikasikan untuk St. Lusia yang diperingati tiap tanggal 13 Desember. Perayaannya tidak hanya terkenal di Swedia, tetapi Italia, juga di Norwegia, Denmark, Islandia, Latvia, Estonia, Finlandia, Malta, Italia, Bosnia, Bavaria, Kroasia dan Slovakia, Amerika Serikat.

Di Italia perayaannya sangat unik, sering berpusat sekitar gereja.
Dalam perayaan tradisional, Santa Lusia datang sebagai wanita muda dengan lampu dan permen. Prosesi dipimpin oleh seorang gadis mengenakan mahkota lilin (atau lampu). Sementara di tempat lain dalam prosesi hanya memegang lilin masing-masing.

Santa Lusia adalah pelindung kota Syracuse (Sisilia), tempat dia dilahirkan. Perayaan puncaknya berlangsung pada tanggal 13 Desember dan pada bulan Mei. Santa Lusia juga populer di kalangan anak-anak di beberapa daerah Timur-Utara Italia, yaitu Trentino, Lombardia Timur (Bergamo, Brescia, Cremona dan Mantova), beberapa bagian dari Veneto, (Verona), beberapa bagian dari Emilia-Romagna, (Piacenza, Parma, dan Reggio Emilia), dan Friuli.

Santa Lusia dikisahkan datang ke tempat itu membawa hadiah untuk anak-anak yang baik, sedangkan bagi anak-anak yang bandel ia datang membwa batubara. Anak-anak diminta untuk meninggalkan beberapa makanan untuk Lusia (sandwich, atau apa pun yang tersedia saat itu) dan untuk keledai yang membantu dia membawa hadiah (tepung, gula, atau garam). Tapi mereka tidak harus melihat Santa Lusia memberikan hadiah. Sebab Santa Lusia akan melempar abu ke mata mereka, membutakan mereka sementara.

Sebagaimana legenda, syahdan di negara bagian Syracuse, di pulau Sisilia, seorang anak dengan nama Lusia lahir pada tahun 283 dalam sebuah keluarga kaya Sisilia. Ketika tumbuh besar, dia memilih untuk hidup seperti Santa Agatha, orang suci yang sangat dihormati di kota tetangga. Ingin hidup menyerupai Santa Agatha, Lusia bersumpah untuk tetap menjadi perawan dan memberikan barang miliknya kepada orang miskin yang membutuhkannya.

Lusia secara harfiah berarti cahaya (lux). Namun, bukan merek sabun yang diiklankan oleh salah satu artis terpopuler negeri ini....

Senin, 07 Juni 2010

Put out into deep water

Suatu ketika, sejumlah nelayan sedang menangkap ikan. Bukan di kolam susu, namun di laut sungguhan. Mereka menangkap ikan dengan perahu. Semalaman mereka menebarkan kail dan jala. Namun, hasil tangkapan mereka tidak seperti yang diinginkan.

Kesal karena tidak berhasil, para nelayan pun menambatkan perahu di tepi pantai. Mereka uring-uringan. Rasa penat dan putus asa tergurat pada wajah-wajah mereka. Ketika tiba-tiba datang menghampiri seorang bijak dan bertanya,

“Hai, para nelayan. Mengapa kamu berhenti menangkap ikan?”

Para nelayan serta merta bangun dari perahu yang sedang ditambatkan. Mereka kaget. Tidak menyangka jika sepagi itu ada orang yang memerhatikan. Setelah mengucek-ucek mata, lalu dengan gagap mereka menjawab, “Kami kesal sekali. Semalaman menangkap ikan, namun sia-sia.”

“Mengapa kamu semua putus asa? Bangkitlah! Bertolaklah ke air yang lebih dalam lagi. Tebarkanlah jalamu, niscaya kamu akan mendapatkan ikan besar-besar.”

Penuh kepercayaan, para nelayan mengikuti kata-kata orang bijak yang tak dikenal itu. Perahu mereka pun bertolak ke air yang lebih dalam lagi. Pelayaran ke sana memang penuh tantangan. Berbeda dengan angin pantai yang kadang berembus semilir dan memanjakan, ombak di laut besar bergulung-gulung. Jika tidak terampil mengendalikan perahu, bisa-bisa tenggelam.

Tiba di kedalaman laut, para nelayan pun menuruti apa yang disarankan. Mereka menebar jala. Setelah membiarkannya cukup lama, mereka menghela jala itu ke perahu. Astaga! Jala mereka penuh dengan ikan besar-besar, sehingga mereka nyaris tidak kuat lagi untuk menariknya. Saking besar dan banyaknya ikan, jala mereka hampir koyak.

Kakap vs teri
Bagi kalangan tertentu, tamsil “duc in altum” tentu bukan sesuatu yang asing lagi. Dalam bahasa Inggris, istilah itu menjadi “put out into deep water”. Dalam Indonesia, dapat diterjemahkan menjadi “bertolaklah ke air yang lebih dalam lagi”.

Tamsil itu lahir tidak terlepas dari konteks. Penangkap ikan atau nelayan mafhum bahwa jika mengail atau menjala di tepi laut, maka yang didapat adalah ikan teri saja. Kecil, banyak tulangnya. Dilihat dari tangkapan, jumlahnya memang banyak, tapi merepotkan. Pasti ikan kecil-kecil itu kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan ikan besar.

Ikan besar, terutama ikan kakap, habitatnya tidak di tepi laut yang dangkal. Namun, hidup di laut yang dalam. Karena itu, kita mengenal istilah “kakap” untuk menggambarkan sesuatu atau hal yang besar, sedangkan untuk hal atau sesuatu yang kecil kita menyebutnya “teri”. Misalnya, untuk melukiskan sesuatu yang kecil kita menyebutnya “kelas teri”. Sebaliknya, untuk melukiskan ihwal yang besar kita menyebutnya “kelas kakap”.

Dalam konteks teri-kakap itulah tamsil “duc in altum” muncul. Berpikir dan bertindak kecil, risikonya memang kecil juga. Namun, hasilnya tangkapan adalah ikan teri yang kecil-kecil. Tidak mungkin mendapatkan kakap di tepi pantai.

Tantangannya memang jauh lebih kecil, di tepi pantai angin cenderung lebih bersahabat, bahkan cenderung semilir dan meninabobokkan. Karena itu, setelah semalaman menebar jala, para nelayan kelelahan, lalu tertidur pulas di perahu. Mereka dininabobokkan dalam buaian semilir angin pantai. Lupa bahwa masih ada kewajiban yang mesti ditunaikan: membawa pulang hasil tangkapan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga.

Sebaliknya, bertolak ke air yang dalam mengandung risiko yang juga jauh lebih besar. Haluan perahu lebih sulit dikendalikan ketika badai menerpa. Bahaya perahu disapu ombak yang ganas sewaktu-waktu siap mengancam. Ketika tantangan dan risiko ini di satu pihak harus diatasi, sementara di pihak yang lain harus berhasil menangkap ikan, maka keberhasilan akan ditentukan setidaknya oleh tiga hal.

Pertama, keterampilan berlayar dan mengendalikan perahu. Jika tidak, kesalahan sedikit pun di laut lepas akan fatal dan tangkapan akan sia-sia belaka. Alih-alih mendapat kakap, bisa-bisa perahu tenggelam, dan para nelayan terseret oleh arus air laut yang ganas.

Kedua, penjala ikan yang cakap menebar jala dalam kondisi perahu oleng dan laut yang dalam. Diharapkan penjala lentur, dapat berpijak di lantasan yang goyah, namun lemparan jalanya harus bisa presisi tepat ke arah permukaan air yang ada ikannya. Si pelempar jala harus punya kemampuan adaptatif dan mempunyai intuisi dan visi di mana kira-kira jala harus ditebar.

Ketiga, adanya pembagian tugas yang jelas antara tukang perahu dan penjala, bahkan sejak rencana digulirkan. Semua harus terampil di bidangnya masing-masing.

Berpikir besar = hasilnya besar
Kita kerap menjumpai ada orang yang sulit dan orang yang kurang berani bertolak ke air yang lebih dalam. Sebagian orang mungkin merasa sudah cukup apabila dapat menangkap ikan teri. Lalu puas dengan hasil tangkapan itu. Sebagian lagi sudah berusaha, namun karena kurang berani bertolak ke air yang lebih dalam karena takut menghadapi risikonya, tidak mendapatkan apa-apa. Lalu tidur dalam buaian angin pantai dalam kehampaan.

Untunglah, ada orang arif bijaksana yang mencelikkan mata. Potensi mereka untuk meraih capaian sebenarnya ada. Di laut yang dalam, yang penuh ombak dan badai itu, banyak ikan kakapnya. Dan mereka menuruti apa kata sang bijak.

Apa hikmat yang bisa dipetik dari tamsil teri-kakap? Berpikir dan mengerahkan tenaga sekecil mungkin, hasilnya juga akan kecil. Risiko diterpa angin topan memang tidak ada. Seseorang bahkan cenderung dibuai oleh angin pantai. Tertidur. Lalu, lupa akan tugas dan tanggung jawabnya. Sebaliknya, jika bertolak ke air yang lebih dalam, akan menghadapi tantangan dan risiko yang jauh lebih besar. Namun, jika berhasil mengatasinya, akan mendapatkan ikan yang besar pula.

Jauhari windows
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memerlukan bantuan orang lain untuk mencelikkan mata hati kita. Kita kadang tidak melihat sesuatu yang ada dalam diri kita, entah itu potensi, entah itu kekurangan.

Celah itu sama sekali tertutup dan tidak tampak buat kita, namun orang lain melihatnya. Ada daun jendela kita yang terbuka lebar bagi orang lain di mana lewat jendela itu orang dapat melihat diri kita. Namanya “Jauhari Windows”.

Orang bijak yang menyuruh nelayan bertolak ke air yang dalam, melihat dari Jendela Jauhari. Bahwa di sana ada potensi luar biasa, yang sama sekali tidak tampak sebelumnya.

Minggu, 06 Juni 2010

How to get people to take action?

To get people to take action, appeal to their emotions and things they care about.

Kalimat sarat hikmat ini meluncur dari Doug Hattaway, president dan CEO Hattaway Communications.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa sulit meminta orang lain bertindak melakukan sesuatu yang diinginkan. Di rumah, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, tidak mudah menyuruh orang melakukan sesuatu.

Dalam suatu organisasi, baik organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi bisnis, selalu ada “orang kunci”. Orang kunci ini mewarnai dan memengaruhi orang lain. Pengaruh yang diberikan tidak selalu positif. Bahkan, kadang juga negatif.

Pengaruh muncul dari sikap atau kebiasaan meniru. Interaksi yang intens antarmanusia dalam berkomunikasi memengaruhi emosi. Emosi menimbulkan reaksi. Jika banyak orang berada dalam tataran dan letupan emosi yang sama maka akan mendatangkan reaksi atau tindakan sosial.

Pengalaman menunjukkan, tindakan sosial tidak selalu positif. Kembali ke masa-masa awal reformasi di negeri kita, tahun 1998. Betapa segelintir orang yang disebut “provokator” berhasil membakar emosi massa sehingga dalam waktu sekejap, seperti dikomandoi dan diatur dengan rapi, massa mengamuk. Kemudian, merusak sentra-sentra bisnis, fasilitas umum, rumah penduduk. Tanpa merasa bersalah, sekelompok massa yang sedang terbakar emosinya itu menyerang secara brutal orang di sekitar.

Jadilah provokator yang baik. Jangan ke yang negatif. Bukankah pada galibnya, kata provokator itu netral. Dari kata "provoke", menyemangati, memengaruhi.

Orang dengan mudah dipengaruhi, manakala kita dapat menarik emosinya. Lalu, peduli dengan apa yang menjadi masalahnya.

Sabtu, 05 Juni 2010

Work hard vs work smart

Bagaimana daya saing Indonesia di kancah global? Laporan World Economic Forum menunjukkan bahwa daya saing rata-rata manusia Indonesia masih rendah. Penyebabnya ialah masih segelintir manusia Indonesia yang menggunakan akal budinya dalam bekerja, sehingga di banyak perusahaan dan institusi proses kerja dan hasil kerja belumlah sangkil dan mangkus.


Kecerdasan dan daya saing sangat berkorelasi, sebagaimana juga kemiskinan berkorelasi dengan masyarakat literasi (melek huruf). Bukti-bukti menunjukkan bahwa di mana suatu negara tinggi buta hurufnya, yang mengindikasikan masyarakat itu belum cerdas, maka daya saingnya juga rendah atau angka kemiskinan juga tinggi di negara tersebut.

Di pihak lain, negara maju dan negara indutri-baru sangat tinggi daya saingnya dibanding negara lain. Mengapa bisa demikian? Tidak lain karena negara maju dan negara indutri-baru tingkat buta hurufnya rendah atau masyarakatnya terpelajar (cerdas). Orang yang bekerja dengan mengerahkan seluruh kemampuan otak, hasilnya akan maksimal daripada orang yang bekerja secara mekanis, kurang menggunakan akal budi, tidak kreatif, dan tidak inovatif.

Perbedaan orang cerdas dan orang yang kurang cerdas terletak pada cara dan hasilnya. Orang yang cerdas tahu bagaimana cara bekerja dan bagaimana cara mencapai tujuan. Dengan demikian, orang cerdas bekerja secara efektif dan efisien. Selain menghasilkan lebih banyak dan lebih cepat daripada orang lain, orang yang bekerja dengan cerdas juga menggunakan waktu untuk mencapai hasil jauh lebih sedikit. Waktu selebihnya dapat digunakan untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu yang lain lagi. Dengan kata lain, orang cerdas not just work hard, work smart (bukan hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja dengan cerdas).

Masalahnya, bagaimana menghasilkan manusia yang cerdas? Sebagaimana yang didefinisikan ulang oleh Gardner, kecerdasan ialah kemampuan seseorang untuk mengatasi persoalan atau potensi untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi peradaban (the ability to solve problems or fashion products that are valued in at least one culture”.

Tidak dapat tidak, cara menghasilkan manusia cerdas ialah melalui pendidikan dan latihan. Selain melalui pendidikan formal, mencerdaskan manusia juga dapat dilakukan melalui pelatihan dan pergaulan sehari-hari dalam masyarakat.

Sebagaimana dikatakan Bapak Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara bahwa “Sekolah adalah setiap tempat dan guru adalah semua orang” maka untuk mendidik manusia cerdas diperlukan tempat yang kondusif dan masyarakat yang kondusif pula.

Masalahnya, bagaimana menciptakan tempat yang kondusif dan masyarakat yang kondusif seperti di negara maju dan negara industri-baru? Dapat saja menempuh cara lain, namun upaya pencerdasan masyarakat dapat dimulai dari segelintir orang yang memiliki komitmen dan kepedulian yang tinggi pada kemajuan dan peradaban masyarakat. Orang-orang cerdas selalu ada dalam delapan pranata sosial berikut ini, yakni pranata sosial:
- yang bertujuan memenuhi kehidupan kekerabatan (domestic institutions),
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk pencarian hidup, memproduksi, menimbun, dan mendistribusi harta benda (economic institutions),
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi manusia yang berguna (educational institutions),
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan ilmiah manusia dan menyelami alam sekelilingnya (scientific institutions),
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia menyatakan rasa keindahannya dan untuk rekreasi (aesthetic and recreational institutions),
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib (religious institutions),
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur hidup berkelompok dan bernegara (political institutions), dan
- yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengurus kebutuhan jasmaniah (somatic institutions).

Orang-orang cerdas dalam kedelapan pranata sosial tersebut dapat menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Mereka seperti pemimpin dalam formasi angsa terbang (flying geese ) yang membawa maju masyarakatnya mencapai tujuan. Dengan demikian, manusia cerdas harus dididik secara terencana dan holistik dengan melibatkan dan menggerakkan orang-orang cerdas yang ada dalam setiap pranata sosial.

Manakala manusia-manusia cerdas di setiap pranata sosial sudah ditemukan, selanjutnya perlu dilakukan gerakan sosial secara terintegralistik yang mengarah ke peningkatan daya saing nasional. Dalam konteks tulisan ini, daya saing yang dimaksudkan ialah kemampuan suatu negara untuk menyediakan kemakmuran tingkat tinggi bagi warga negaranya.

Mengacu pada Global Competitiveness Report, laporan tahunan World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia), terdapat sembilan indikator daya saing yang mempengaruhi tingkat kemampuan suatu negara menyediakan kemakmuran tingkat tinggi bagi warga negaranya, yakni:
1) institusi publik dan swasta,
2) infrastruktur,
3) makroekonomi,
4) kesehatan dan pendidikan dasar,
5) pendidikan tinggi dan pelatihan,
6) efisiensi pasar,
7) kesiapan teknologi,
8) business sophistication, dan
9) inovasi.
Di mana posisi Indonesia dalam konteks persaingan global saat ini? Data Global Competitiveness Report menunjukkan data yang berikut ini:
- Tahun 2006-2007, daya saing Indonesia di kancah global berada pada peringkat ke-50.
- Tahun 2007-2008, daya saing Indonesia di kancah global berada pada peringkat ke-54.
- Tahun 2008-2009, daya saing Indonesia di kancah global berada pada peringkat ke-55.

Yang mengejutkan dari data itu, Indonesia masih kalah peringkat dibandingkan dengan sesama negara Asean bahkan dengan India. Artinya, daya saing kita masih lemah. Lalu semakin ke depan, peringkat daya saing Indonesia di kancah global semakin melorot.

Apa sebabnya? Penyebabnya adalah Indonesia negara yang luas dengan penduduk yang besar sehingga cara mengelola dan cara mencerdaskan masyarakatnya tidak mudah dan perlu waktu. Secara kuantitas angka buta huruf memang turun, namun pesaing kita semakin cepat memacu pertumbuhan dan daya saingnya. Akibatnya, peringkat daya saing global kita makin merosot. Daya saing global kita tumbuh secara deret hitung, sedangkan daya saing pesaing tumbuh secara deret ukur. Karena itu, dibutuhkan gerakan nasional untuk meningkatkan daya saing.

Sembilan indikator yang dijadikan basis bagi pemeringkatan daya saing di kancah global yang dirilis Global Competitiveness Report juga mengindikasikan bahwa negara maju dan negara industri- baru yang masyarakatnya mayoritas cerdas, peringkat daya saing globalnya juga tinggi.

Secara intelegensia, banyak penduduk Indonesia cerdas. Lihat saja prestasi akademik mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri. Bukan saja mereka sanggup bersaing di kancah internasional, tetapi juga banyak di antaranya mengungguli rekan-rekan mahasiswa. Rata-rata penduduk Indonesia adalah pekerja keras. Namun, baru segelintir yang bekerja dengan cerdas dan produktif. Not just work hard, work smart!

Minggu, 23 Mei 2010

MEDITASI

Saya seorang penulis dan dosen. Saya butuh waktu tenang, konsentrasi, melakukan refleksi, agar tulisan saya hidup dan punya greget. Tiap hari, rutin, saya meditasi.

Kita kerap terjebak dalam rutinitas, sehingga tidak sempat, bahkan lupa, refleksi. Seberapa sering kita melakukan sesuatu, setelah sekian lama ditinggalkan, kita mengambil distance, ternyata ada pandangan lain. Ketika terbuai keasyikan mengerjakan sesuatu, mata hati kita sering buta melihat jalan lain.

Kaca mata kuda menutup sudut pandang lain, manakala rutinitas memerangkap kita tidak bisa berpikir, apalagi bertindak, keluar dari kotak (out of the box). Padahal, kita kerap mendengar salah satu ciri orang kreatif adalah tidak mengekor, berani keluar dari pakem untuk sesuatu yang lebih bernilai dan lebih mulia.

Salah satu cara agar mata hati tetap tercelik di tengah-tengah
rutinitas adalah dengan meditasi. Tidak perlu sampai berjam-jam menghabiskan waktu produktif, meditasi dilakukan rutin saja.

Apa manfaat meditasi? Banyak sekali. Shunryu Suzuki Roshi mencatat demikian,
“Meditations opens the mind to greatest mystery that takes place daily and hourly; it widens the heart so that it may feel the eternity of time and infinity of space in every throb; it gives us life within the world as if we were moving about in paradise; and all these spiritual deeds take place without any refuge into a doctrine, but by the simple and direct holding fast to the truth which dwells in our innermost beings .”

Dengan demikian, jelas bahwa meditasi dibutuhkan siala saja, bukan hanya agama atau sekte tertentu. Dengan meditasi, kita membuka mata pikiran untuk menyingkap misteri terbesar yang melingkupi jam dan seluruh waku kita.

Meditasi juga memperluas lautan hati, sehingga kita dapat merasakan keabadian waktu dan ruang tak terhingga di setiap denyut jantung. Meditasi menjadikan hidup kita dalai dunia ini seakan-akan di surga. Meditasi mengeliminir perbuatan spiritual terjebak menjadi sebuah doktrin, tetapi secepat kilat membawa kembali kita pada kebenaran sejati, yang tiggal dalam diri kita.

Kita semua perlu meditasi
Meditasi kerap dikaitkan dengan agama tertentu dan sekte tertentu. Labeling bahwa agama atau sekte tertentu identik dengan meditasi benar, namun sebenarnya kaum awam pun banyak yang rutin melakukan meditasi. Meditasi juga dilakukan para top executive. Bahkan, sadar atau tidak, kita semua melakukan meditasi.

Sebagaimana diketahui, banyak teknik meditasi yang tumbuh dan hidup di berbagai tradisi. Namun, semuanya dapat diklasifikasikan ke dalam lima macam meditasi sebagai berikut.
1. Meditasi Konsentrasi (concentration meditation)
2. Meditasi kesadaran (mindfulness meditation)
3. Meditasi kreatif (creative meditation)
4. Meditasi reflektif (reflective meditation)
5. Meditasi yang berpusat pada hati (heart-centered meditation)

Kelima macam meditasi ini menurut Joel Levey and Michelle Levey dalam buku Simple Meditation & Relaxtion,Conary Press, 1999, halaman 25.

Meditasi konsentrasi adalah dasar bagi meditasi yang lain. Lewat kekuatan konsentrasi, kita membangun kemampuan untuk mengatasi gangguan dan untuk tetap memusatkan mental. Kekuatan pikiran sangat terbatas. Meski demikian, pikiran ibarat aliran air yang dapat disalurkan untuk membuatnya lebih kuat dan menghasilkan listrik tenaga air. Kita dapat menjadikan pikiran sarana yang berdaya dengan mengembangkan benih yang kecil dari kesadaran menjadi “kekuatan konsentrasi”.

Dalam naskah-naskah klasik ihwal meditasi, benih kecil kesadaran pikiran ini dikembangkan melalui konsentrasi energi yang disebut samadi yang secara harfiah berarti “meneguhkan” atau “menguatkan”. Kekuatan pikiran yang terkonsentrasi dapat difokuskan secara efektif untuk meningkatkan dan memperdalam wawasan ke tema meditasi lain atau tujuan tertentu.

Apa pun teknik meditasi yang dijalankan, penting kiranya untuk memusatkan perhatian pada objek meditasi dan tetap berkanjang di sana tanpa gangguan. Dengan kesabaran dan latihan, pikiran akan menjadi lebih dingin, lebih berdaya guna, dan dapat menerapkannya pada tugas apa pun secara presisi dan penuh pengertian. Setiap objek atau kegiatan dapat digunakan untuk pengembangan konsentrasi yang lebih spesifik. Prinsip dasar yang sama, selalu berlaku tidak peduli apa bentuk latihan meditasi Anda: setiap kali pikiran Anda mengembara, selalu kembali ke awal lagi –lagi dan lagi—ke objek yang Anda meditasikan.

Meditasi kesadaran menekankan pada penumbuhan reseptif. Pada saat-saat dalam kehidupan kita, ketika kita sedang asyik dan heran menatap ke kedalaman langit malam, mendengarkan dengan cermat, mengagumi keindahan alam, atau sepenuh hati mendengarkan jawaban dari doa hati kita, sebenarnya kita telah mengalami jenis meditasi ini. Menyadari diri dan berdoa dari lubuk hati yang yang paling dalam merupakan praktik dari meditasi kategori ini.

Interaksi konsentrasi dan meditasi kesadaran memungkinkan kita mengembangkan kamampuan untuk memeriksa dan secara intuitif memahami kekuatan jauh di dalam pengalaman kita sehari-hari. Wawasan penetrasi yang berkembang, kemudian dapat diterapkan secara sistematis untuk menyelidiki interaksi sangat halus antara fenomena yang kita pandang dan sifat pikiran kita sendiri sebagai perseptor. Kita akan merasakan diri kita sendiri dan berkaitan erat dan kokreatif dengan dunia pengalaman kita.

Meditasi kreatif memungkinkan kita untuk secara sadar membangun dan secara sadar memupuk dan memperoleh kegembiraan, syukur, cinta, kasih sayang, keberanian, kerendahan hati, kelembutan, dan kualitas lainnya yang terkait dengan aspek-aspek yang paling umum ditumbuhkembangkan. Meditasi kreatif mengantar kita secara aktif memelihara kekuatan karakter ini dengan berpikir, berbicara, dan bertindak sekan-akan “pikiran” dan itu menjadi nyata dalam hidup kita.

Meditasi reflektif, atau juga disebut meditasi analitikal, sama seperti olah pikir: memilih tema, pertanyaan, atau topik untuk kontemplasi, atau melakukan analisis atas topik itu. Manakala perhatian kita mengembara ke pikiran lainnya, kita harus kembali lagi kepada topik yang sudah kita tetapkan. Secara tradisional, meditasi reflektif dijalankan untuk mendapat pencerahan tentang makna hidup, kematian, interrelasi, dan kesadaran sosial. Di samping itu, mengondisikan datangnya wawasan tentang beberapa ide penting dalam sains, filsafat, atau sastra. Setelah melalui proses analisis, kita sampai pada simpulan.

Dalam kehidupan dan dalam pekerjaan sehari-hari, meditasi reflektif memungkinkan kita lebih efektif dan memberikan daya agar tetap focus pada pertanyaan personal atau professional. Dengan demikian, memungkinkan kita menemukan solusi kreatif atau memecahkan masalah yang berat. Selain itu, meditasi reflektif juga membantu kita untuk memahami isu atau konflik terdalam yang mungkin saja timbul selama mempraktikkan meditasi yang lain.

Meditasi yang berpusat pada hati membuka mata hati kita. Untuk menyinta dan memberikan maaf.

Sabtu, 22 Mei 2010

Negara yang Dipimpin Filsuf

Naskah tua Politeía agaknya perlu kita baca. Bukan sekadar baca, tapi juga melakukannya. Mengapa? Sebab, siapa yang tidak mau mempelajari sejarah, akan dikutuk sejarah.

Kita ini tengah dikutuk sejarah. Perseteruan antarpartai menyebabkan rakyat makin melarat. Apa yang dikerjakan wakil rakyat di Senayan untuk memakmurkan rakyat? Apa pula sumbangsih partaipartai pada rakyat, kecuali memikirkan kepentingan golongan?

Pada abad 4 sM, Plato sudah mewanti-wanti akibat buruk pertentangan antarpartai. Bahwa perseteruan antarpartai akan melemahkan sebuah republik, yang akhirnya dapat menyeret warga ke tubir kehancuran. Bukan saja miskin secara harta, tapi juga secara intelektual dan juga moral. Yang terakhir tak bisa ditawar, sebab itulah hakikat manusia menurut para filsuf.

Konstitusi yang berpihak pada keadilan dan rakyat memang baik. Namun, jadi tak berarti manakala tidak ada yang menjamin pelaksanaannya. Bangsa Yunani setengah abad sebelum Plato lahir, sudah punya konstitusi. Tatkala Solon pada 593 sM jadi pemimpin Atena sudah diupayakan undang-undang yang adil, yakni aturan umum yang eunomia. Yakni konstitusi yang mengatur dan menjamin hak serta menciptakan keadilan bagi warga Athena.

Namun, aturan itu dirusak oleh perseteruan antar dua partai: golongan kaya dan golongan marjinal. Perseteruan yang tak berujung pada titik temu ini lalu memicu perang saudara. Athena, dengan segala kemajuan dan kemegahannya yang telah dibangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. Setitik nila mengancurkan susu sebelanga. Inilah akibat perseteruan partai. Yang terjadi bukan kebaikan, sebaliknya, kehancuran dan kerusakan.

Ada baiknya, demi kemaslahatan bersama, para pemimpin partai politik kita kembali duduk di meja perundingan untuk membangun koalisi yang saling menguntungkan. Tidak sebatas basa basi. Tujuannya demi kemaslahatan bersama. Senyampang masih ada waktu, jika keduanya bijak, menjalin koalisi kembali. Belajarlah dari sejarah. Sibak kembali naskah kuno kuna Politeía yang berarti pemerintahan negara-bangsa yang ditulis Plato pada tahun 380 sM.

Dalam Politeía dideskripsikan pemerintahan yang ideal. Memang terjadi dialektika empat bentuk pemerintahan yakni timokrasi, oligarki, (kerap disebut plutokrasi), demokrasi, dan tirani (kerap disebut despotisme).

Manakah bentuk negara paling ideal? Tidak ada! Yang ada ialah gabungan keempatnya. Penekanannya bergantung pada situasi kondisi. Mengapa Plato menyimpulkan, pemerintahan ideal seharusnya dikendalikan filsuf? Sebab hanya filsuf pemimpin yang dapat memilah dan memilih, kapankah menerapkan gaya kepemimpinan untuk mencapai kebaikan dan keseimbangan.

Naskah Politeía berbentuk dialog Sokratik ini jadi acuan negarawan-pemikir seperti Jean Jacques Rousseau, Bertrand Russell, Allan Bloom, Leo Strauss.

Tahun 561 Pisistratus tampil sebagai pemimpin kuat lagi tersohor di Athena. Pada 461 muncul pemimpin demokratik Ephialtes sebagai penyeimbang. Rakyat Athena mulai dikenalkan kekuatan yang saling mengoreksi dan menyeimbangkan (checks and balances) lewat dialog yang santun dan terbuka.

Maka pemerintahan oleh para filsuf tidak hanya akan mencegah terjadinya kehancuran yang potensial mengancam kota, lebih-lebih bahaya dari serangan musuh dari luar. Namun, lebih-lebih melindungi dan menjamin hak-hak warga agar tercipta keadilan dan kebahagiaan yang disebut sebagai “keadilan sosial”, yang didapat dari kerja sama dan persaudaraan sejati yang dibangun oleh setiap warga kota (Republic 462a-b, Laws 628a-b).

Kedamaian, menurut Plato, tidak identik dengan yang kini kita maksudkan. Yakni suatu keadaan yang dinikmati hanya segelintir orang, namun nilai yang diinginkan setiap orang. Inilah pemikiran luar biasa Plato yang didasarkan ide Solon, namun mempertajamnya lagi bahwa keadilan sosial haruslah didasarkan pada equilibrium dan harmoni dari kelas-kelas sosial yang berbeda.

Menurut Plato, fungsi pokok pemimpin filsuf ialah menjamin hak-hak sipil dan menghentikan perselisihan sosial, namun haruslah didasarkan pada tata hukum yang adil.

Pertanyaannya: apakah para pemimpin kita sudah demikian? Boro-boro. Seujung kuku pun tidak!

The Power of Forgiving

Seorang guru tengah mengajar murid-muridnya. Topiknya selain aktual, juga menarik dan sarat muatan filosofis. Sang guru membahas isu perdamaian. Katanya, seseorang akan menerima damai, manakala ia membuka pintu hati untuk permohonan maaf dari orang yang pernah berbuat salah dan menyakitinya.

Seorang pendengar yang terkesima mendengar penjelasan sang guru. Lalu buru-buru mengacungkan tangan dan bertanya, “Guru, berapa kalikah kami harus mengampuni? Satu kali? Dua kali? Tiga kalikah? Atau tujuh kali?”

Sejenak sang guru yang bijak terhenyak. Matanya menatap tajam sang murid. Lalu menengadah ke langit. Setelah itu, ujung jarinya menyentuh tanah. Ia hendak menggurat sesuatu. Lalu bertanya pada si murid. “Kesalahan apa yang dilakukan orang tersebut pada kamu?”

Si murid berkata, “Orang itu ingkar janji. Katanya hendak membayar utang hari ini, tapi sama sekali tidak.” Sang guru pun mencatat kesalahan orang yang telah melakukan kesalahan pada muridnya: ingkar janji. Kesalahan ini ditulisnya di permukaan tanah.

Selanjutnya, sang guru menjawab pertanyaan, berapa kali orang harus mengampuni? Begitu bijaknya sang guru, sehingga dalam menjawab pertanyaan ia justru bertanya. “Menurut keyakinanmu, berapa kali orang harus mengampuni?”

Si murid ingat buku suci yang pernah dibacanya, “tujuh kali, guru.”

Aku berkata kepadamu, kata sang guru, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Sembari berkata demikian, sang guru menulis angka 70 x 7 di permukaan batu prasasti.

Mengapa kesalahan seseorang ditulis sang guru di atas permukaan tanah, sedangkan berapa kali harus mengampuni di atas batu prasasti? Kesalahan harus dengan mudah dihapus dari ingatan, sedangkan berapa kali harus diingat selamanya.
***

Sukses

Apakah arti “sukses”? Mengapa seluruh hidup harus didedikasikan untuk meraihnya? Adakah cita rasa yang sama, semacam kesepakatan universal, tentang sukses? Ataukah sukses semata-mata persepsi individu yang berbeda satu sama lain?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, alangkah baik jika ditelusuri lebih dulu makna leksikal dan semantik “sukses”.

• Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 1099) sukses ialah berhasil, beruntung.
• Dictionary of American English (1544) mencatat terdapat tiga macam sukses, yakni: (1) Accomplishment of a task, the reaching of a goal, (2) a good event, an achievement, (3) wealth, good luck in life.
• Alex Bone menyebut bahwa sukses adalah sebuah proses, suatu kualitas pikiran dan cara kita berada, pengukuran kehidupan yang terbuka.
• Kevan H. Namazi, gerontologist, Univ. Texas’s Southwestern Medical Center, Dallas mengatakan bahwa sukses yang dicapai “The most successful old-old people are those who have important connection, a hobby, or something that gives them a zest for life.”
• Sementara Paul Stoltz mencatat bahwa sukses merupakan ganjaran atau reward dari sebuah proses pendakian atau usaha. “I use the term Ascend in the broadest sense –moving your purpose in your life forward no matter what your goals. Whether your Ascent is about gaining market share, getting better grades, improving your relationship, becoming better at what you do, completing an education, raising stellar children, growing closer to God, or making a meaningful contribution during your brief stint on the planet, the drive is imperative. Successful people share the profound urge to strive, to make progress, to achieve their goals and fulfill their dreams” (Adversity Quotient, hal. 13).

Kita melihat terdapat begitu banyak definisi sukses. Semua berkata kunci suatu capaian tertentu. Namun, yang cukup lengkap agaknya definisi sukses dari Dictionary of American English yang menyebut terdapat tiga macam sukses.

Pertama, seseorang dikatakan sukses manakala yang bersangkutan berhasil menunaikan tugas yang harus dikerjakan dan dipercayakan padanya dan berhasil mencapai tujuan tertentu.

Kedua, sukses ialah suatu pencapaian tertentu atau sebuah peristiwa/kejadian yang baik.

Dan yang ketiga, sukses ialah kesehatan yang prima dan nasib baik atau peruntungan yang didapat dalam hidup.

Meski tiap orang punya persepsi yang berbeda tentang sukses, toh ada semacam kesepakatan umum seperti dicatat dalam Dictionary of American English. Mengapa seluruh daya, tenaga, dan pikiran harus dicurahkan untuk meraih sukses, kini terjawab sudah. Bahwa sukses yang dipersepsikan seseorang adalah tujuan (goal) dalam hidup. Sebuah puncak gunung kehidupan yang harus didaki untuk kemudian diraih. Bila seseorang belum atau tidak dapat meraih puncak kehidupan yang ditentukan dan diinginkannya,ia gagal.

sukses haruslah dicapai dengan kerja keras dan sikap pantang menyerah. Pasrah pada keadaan tidak pernah akan membuahkan sukses. Hanya para pendaki (climbers) saja yang meraih puncak usaha, yakni sukses. Paul G. Stoltz, pendiri Peak Learning, dalam buku Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities menjelaskan terdapat tiga tipe manusia.

Pertama, Quitters (berhenti), yakni orang yang menampik untuk maju atau mendaki. Cirinya ialah bahwa orang ini do just enough to get by. Little ambition, minimal drive, sub-par quality. Take few risk, rarely activity.

Kedua, Campers (pekemah), yakni orang yang mudah puas. Cirinya ialah bahwa orang ini show moderate creativity and take some calculated risk, play it safe.

Ketiga, Climbers (pendaki), yakni orang yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah diraih. Orang ini selalu yang lebih dan lebih. Sudah meraih good, ia ingin better. Sudah mencapai better, ia ingin menjadi the best. Ciri orang pendaki ialah show moderate creativity and take some calculated risk, play it safe.

Tetapkan apa yang menjadi goal Anda dalam hidup dan strategikan bagaimana meraihnya. Sukses berawal dari diri sendiri. Rentangkanlah telapak tangan Anda. Lihatlah “garis nasib” yang tertoreh di dalamnya. Setelah mencermatinya, tutuplah. Sebagian besar garis tangan tidak tampak karena ditutupi keempat jari. Artinya, Anda yang harus mengubah nasib Anda. Sisanya, garis tangan yang terbuka adalah pengaruh luar.

Karena itu, sukses harus dimulai dari diri sendiri, dengan usaha dan kerja keras. Sukses tidak bergantung situasi dan orang lain, apalagi tergantung alat. Bukankah ada pepatah, “A bad workman always blames his tool”. Tukang yang tidak cakap selalu menghujat alatnya. Karena itu, jangan pernah menghujat alat, sebab alat tinggallah hanya alat. Orang di balik alat itu yang penting, karena kemampuan pikiran dan kreativitas jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan alat.

Selain itu, jangan pernah berpuas diri ketika pencapaian belum maksimal. Dag Hammarskjold, mantan Sekjen PBB mengatakan, “….Never measure the height of a mountain, until you have reached the top. Then you will see how low it was.”

Benar, jangan pernah buru-buru mengukur ketinggian gunung sebelum Anda dapat meraih puncaknya. Sebab, ketika mencapai puncak, Anda baru menyadari sebenarnya tadi Anda masih berada di bawah.

Hidup adalah pendakian menuju puncak gunung kesuksesan. Karena itu, sukses adalah sesuatu seperti yang kami bayangkan, “Onward climbing to reach the highest peak”.

Senada dengan ini, Stoltz menambahkan, “Success can be defined as the degree to which one moves forward and upward, progressing in one’s lifelong mission, despite all obstacles or other forms of adversity (Stoltz, 1997: 5). Perhatikan dengan saksama kata success dan adversity, yang dalam buku aslinya, dicetak miring.

Tentu, tiap orang berhak mempersepsikan sukses, puncak yang harus diraihnya dalam hidup. Anda pun berhak mempersepsikannya. Yang jelas, sukses tidak pernah jatuh dari langit.

Sukses harus disertai usaha dan kerja keras. Manusia merencanakan. Manusia menentukan sukses dalam hidupnya. Tuhan menyibak jalan dan merestui.
***

Kamis, 20 Mei 2010

Oase Baru bagi Jurnalistik dan Sastra Indonesia


Hadirin dalam acara peluncuran dan seminar. Edy Sutarto, Ahmadun,Niknik, Helvy, Masri, dan Ariobimo.

Tangerang, 11 Mei 2010 – Dua akademisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Niknik M. Kuntarto dan R. Masri Sareb Putra, meluncurkan buku terbarunya. Pada kesempatan kali ini Niknik meluncurkan novel Saatirah, sementara Masri berhasil meretaskan dua karya sekaligus, Principles of Creative Writing dan Literary Journalism (Jurnalistik Sastrawi).

Peluncuran buku ini dikemas dalam seminar bertajuk “Jurnalistik dan Sastra: Proses Kreatif Penulisan, Penerbitan, dan Peluncuran Buku” di Function Hall-UMN, Tangerang, Senin (10/5). Kemasan acara ini bertujuan untuk memotivasi para penulis muda dalam mengembangkan imajinasi, mendorong dan merangsang berpikir kreatif, serta mendapat pengetahuan dari para penulis berpengalaman seputar dunia penulisan.

Terdapat tiga sesi penting dalam acara seminar pada acara peluncuran yang berlangsung semarak itu, yaitu dimulai dengan presentasi topik “Jurnalistik dan Sastra” oleh Ahmadun Yosie Herfanda, Ketua Komunitas Sastra Indonesia. Kemudian, Helvy Tiana Rosa, seorang tokoh perempuan Indonesia sekaligus novelis, ikut membawakan makalah berjudul “Proses Kreatif Seorang Penulis”, sedangkan, sesi akhir seminar ditutup dengan tema “How to Deal with Publisher?” bersama B. M. Adam, Manajer Buku Referensi dan Umum Grasindo.

Bagi Niknik M. Kuntarto, peluncuran karya novel ini diharapkannya mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan sastra di Tanah Air. Apalagi tema yang ditampilkan dalam Novel Saatirah ini tergolong jarang diangkat dewasa ini menyusul banyaknya novel yang lebih bernuansa religi dan teenlit.

Novel perdana dosen Ilmu Komunikasi-UMN ini merupakan sebuah cerita feminin dengan tema amat domestik, mirip Mira W, tetapi dengan gaya bahasa lebih berpuitis. Plus, ada budaya Sunda yang amat kental menjadi latar cerita ini, dari paribasa (peribahasa) yang diyakini masyarakat Sunda sampai istilah-istilah Sunda.

“Lewat Saatirah saya mencoba mengkritisi budaya patrialisme yang masih kental dalam masyarakat kita,” ujar Niknik, yang sebelumnya telah menghasilan buku akademik di bidang Bahasa Indonesia ini, salah satunya berjudul Cermat dalam Berbahasa, Teliti dalam Berpikir.

Sementara Masri Sareb Putra, penulis buku Creative Writing dan Literary Journalism, berharap bukunya bisa menjadi referensi bagi siapapun yang akan terjun dalam bidang jurnalistik dan penulisan kreatif.

“Setiap orang bisa jadi penulis, karena industri kreatif sekarang ini sangatlah menjanjikan untuk ke depannya. Tapi untuk bisa menulis tentu harus mengetahui tekniknya,” ungkap pria kelahiran Jangkang, Sangau, Kalimantan. Bagi Masri, yang mantan wartawan itu, dua bukunya ini merupakan karya penerbitannya yang ke-53 dan ke-54.

sumber:
website Universitas Multimedia Nusantara