Sabtu, 18 September 2010

Emosi

Emosi telah lama menjadi kajian ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dan psikologi.

Para pakar ilmu sosial seperti Durkheim, Simmel, dan Weber sudah coba menjelaskan asal usul emosi, relasinya dengan perilaku dan tindak tanduk sosial, pengaruhnya pada pencapaian yang disebut “sukses”, serta sumbangsihnya pada kemaslahatan bersama.

Akan tetapi, hingga hari ini jawaban yang memuaskan untuk semua pihak tampaknya belum juga ditemukan. Semakin dijelaskan, semakin kita merasa bidang kajian “emosi” adalah samudera mahaluas yang tidak mungkin diarungi dalam sekejap.

Karena itu, untuk memahami emosi secara cukup komprehensif, agaknya memerlukan kajian interdisiplin.

Sebelum karya Hochschild terbit pada 1970 hingga dekade 1980-an, kajian emosi dari tinjauan sosiologi sangatlah intens. Meski hari ini banyak pakar tidak selalu sependapat dengan Hochschild yang mendefinisikan emosi, pendapat umum yang berkembang tetap menempatkan emosi dari sisi sosiologi, membangun maknanya dalam konteks sosiohistorikal dan kritis terhadap analisis interaksi sosial.

Menggambarkan perspektif interaksionis simbolik dari khasanah Mills dan Goffman, Hochschild (2003) menyatakan bahwa emosi memunyai fungsi sinyal untuk mengomunikasikan informasi yang menyatakan bahwa kita sedang berada pada relasi dengan situasi tertentu, relasi dengan ekspektasi sosial, diri kita sendiri, dan relasi dengan aktor lain.

Kerja emosi, menurut Hochschild, adalah olahan dari emosi seseorang dalam konteks pribadi, berbeda dengan kerja emosional yang mengolah perasaan dalam konteks publik. Konteks memberikan makna pada perubahan nilai kerja emosional.

Mengendalikan emosi termasuk salah satu kecerdasan. Setidaknya, ini menurut Daniel Goleman. Dalam bukunya yang laris manis, Goleman mengemukakan bahwa orang yang ber-IQ tinggi saja tidak cukup untuk menjamin ia sukses dalam hidup. Manakala seorang yang kadar intelektualnya tinggi, namun emosinya meluap-luap tidak dapat dikendalikan, ia tidak akan sukses (dalam hidup).

Goleman memperkenalkan gagasan baru dengan menjelaskan, mengapa beberapa orang dengan IQ tinggi mengalami kegagalan, sedangkan banyak orang lain dengan tingkat IQ sedang-sedang saja, bahkan rendah, sukses. Menurutnya, gagasan ini memiliki landasan ilmiah.

Emosi mencerminkan kemampuan kita untuk berempati dengan orang lain, menunda rasa gembira, mengendalikan dorongan-dorongan hati, sadar diri, bertahan, dan dapat bergaul secara efektif dengan orang lain.

Mengutip beberapa contoh, Goleman menyatakan bahwa sukses kehidupan kerap yang lebih menentukan adalah faktor emosi dibandingkan dengan intelektualitas tinggi. Akan tetapi, sebagaimana halnya dengan IQ, tidak setiap orang sanggup memaksimalkan daya atau potensi EQ-nya, meskipun sebenarnya mereka memiliki kemampuan dasar itu.

Emosi kerap tercermin dalam bentuk perilaku dan tindak tanduk sehari-hari. Meski muncul ke permukaan, adalah tidak mudah untuk mengukur kecerdasan emosi. Apalagi emosi adalah sesuatu yang abstrak, mudah berubah, dan terkait dengan kecerdasan-kecerdasan yang lainnya; sehingga mengklaim dan mengukur emosi melalui tolok ukur yang tunggal bisa menjadi bias.

Barangkali belum ada pakar yang menyebut dan memperkenalkan istilah “manajemen emosi”. Yang ada adalah bagaimana mengelola emosi dan mengendalikan emosi. Dalam bangun segita yang berikut ini, kita melihat pertautan antara tiga kecerdasan: EQ, AQ, dan IQ.

Manakah dari ketiganya yang lebih unggul dibandingkan dengan yang lain? Dapatkah ketiganya dipisahkan? Apakah sukses ditentukan oleh salah satu dimensi, dengan menafikan dimensi lain?


Sejak kecerdasan intektual diperkenalkan oleh Simon dan Binet melalui pada , sudah berulang kali kecerdasan didefinisi ulang.

Bagaimana sesungguhnya emosi bekerja? Dari perspektif keilmuan, jawaban atas pertanyaan ini masih belum final. Namun, riset dari berbagai dekade terakhir menunjukkan fenomena yang semakin jelas tentang emosi.

Dalam buku Deeper Than Reason: Emotion and Its Role in Literature, Music, and Art (2005) misalnya, Jenefer Robinson menggali lebih dalam lagi berbagai teori mengenai emosi yang berkaitan dengan temuan-temuan psikologi dan neurologi yang kiranya dapat membantu kita menjawab pertanyaan dan menawarkan model untuk memahami emosi.

Model dasar Robinson, dengan menambahkan hasil riset dan analisis dari berbagai sumber, memberikan sumbangan yang sangat bernilai untuk memahami emosi. Menurut Robinson, emosi mulai dengan reaksi usus kepada sesuatu (emotions start with a gut reaction to something).

Emosi yang mendorong ekspresi wajah, membentuk gagasan, kesimpulan, atau sesuatu yang berubah dalam diri kita. Ia menyebut reaksi-reaksi itu sebagai “non-cognitive appraisals” yang kita namakan sebagai reaksi usus (gut reaction). Reaksi itu terjadi secara automatis.

Ada dua jalan bagi otak kita di dalam memperoleh reaksi usus, yakni jalan menanjak dan jalan menurun. Jalan meninggi ialah segala sesuatu yang pernah kita harapkan: kita lihat dan kita dengar (atau merasa, membaui, atau berpikir atau mengingat) sesuatu.

Kita membangun dalam pikiran kita mengenai itu semua, lalu mereaksinya secara emosional. Misalnya, manakala mengendara menuju rumah, kita melihat lampu warna warni menyala di depan kita dan sirene meraung-raung, kita tiba-tiba berpikir bahwa akan ada mobil polisi menghampiri. Kita khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.

Jalan menurun agak sedikit lain. Masih mulai dengan beberapa informasi sensory, seperti pemandangan atau suara. Ibarat bendera yang diasosiasikan dengan emosi yang sarat dengan emosi dan peristiwa-peristiwa traumatik lainnya. Misalnya, jika seseorang yang pernah mengalami meledaknya tabung gas, yang bersangkutan bila mencium bau gas, tiba-tiba merasa bahwa sesuatu akan terjadi.

Otak kita secepat kilat bekerja, mengirimkan pesan ke emergency systems dan sesegera mungkin syaraf meresponsnya bekerja untuk mengatasi masalah.

Meski reaksi usus itu muncul otomatis dan tiba-tiba, hal itu dapat masuk jalur jalan menanjak sebagai reaksi atas pemikiran.

Misalnya, kita sudah menghabiskan banyak waktu dan investasi untuk sebuah usaha. Tiba-tiba, kita kehilangan aset karena dicurangi karyawan. Kita mengalami reaksi usus, yang membuat kita selanjutnya merasa kapok dan selalu curiga pada hal yang serupa. Takut kalau-kalau kejadian masa lampau terulang lagi. Emosi pada aras bawah dapat masuk jalan menanjak.

Oleh karena itu, emosi adalah sebuah proses, bukan sesuatu yang tidak berubah-ubah. Namun, manakala mengalami reaksi usus, bukan berarti bahwa kita terjebak dalam lingkaran emosi. Sungguhpun demikian, emosi dapat dibangun melalui:
• Kimiawi tubuh (
body chemistry). Emosi akan memacu reaksi fisiologis melalui kimiawi layaknya dopamin (diasosiasikan dengan pleasure), adrenaline (diasosiasikan dengan ketakutan dan kemarahan), seratonin (diasosiasikan dengan serenity), oxytocin (diasosiasikan dengn rasa cinta), cortisol (diasosiasikan dengan stres), dan seterusnya. Kimiawi itu demikian banyaknya yang hendak dilakukannya untuk menciptakan perasaan emosi fisiologis. Semuanya ini saling berlomba untuk mempertahankan emosi apa saja yang ada dalam diri kita.
• Pikiran (kognisi). Sekali kita mulai dengan emosi tertentu, kita akan berpikir mengenai hal itu dan memonitor sekeliling. Misalnya, kita mungkin melihat kilatan lampu biru yang otomatis memberikan rangsangan rsa cemas jangan-jangan itu mobil polisi.
• Bahasa tubuh (body language). Jelaslah bagi kita bahwa kebahagiaan membuat orang tersenyum, sedangkan depresi membuat kita mengkerut. Yang menagumkan ialah bahwa ekspresi, postur, dan mungkin nada suara dapat merangsang kimiawi tubuh yang berhubungan dengan rangsangan emosi. Senyum dapat membuat kita merasa bahagia, sedangkan duduk tegak dapat membantu kita merasa awas dan positif.
• Siap bereaksi (being ready for action). Sudah jamak diketahui bahwa emosi kita cenderung menyiapkan bagaimana tubuh kita bereaksi. Untuk memerhatikan sesuatu dengan saksama atau untuk sigap bergerak dengan cepat. Emosi akan membuat tubuh kita siap bereaksi bahkan sebelum kita dapat merencanakan bagaimana harus bertindak.

Cita rasa emosi kerap muncul dalam bentuk kaget, kekaguman, euforia, kejengkelan, benci, sayang, kebosanan (ennui), kemarahan (fury), dan sebagainya. Negatifkah semuanya itu? Ataukah justru potensi yang jika dikelola merupakan kekuatan tersendiri?

Kesehatan mental dan tubuh sangat bertautan satu sama lain. Mejaga emosi tetap seimbang sangat penting untuk menjaga diri tetap sehat. Entah emosi itu positif entah negative; semuanya memunya potensi untuk memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Manakala berhasil mengelola perasaan, Anda mulai menapak satu tangga menuju kesuksesan.

Kita perlu mengelola, sekaligus menyingkirkan, emosi negatif untuk meraih kesehatan mental dan fisik.

Tidak ada komentar: