Kamis, 29 Oktober 2009

Rumah Kontrakan (cerpen)

Kulirik Irine, istriku. Ia tidur pulas. Sementara aku setitik pun belum dihinggapi rasa kantuk.

Perlahan aku bangkit. Kusingkap daun jendela rumah. Membuat cahya rembulan malam itu sempat menjenguk.

Terdorong hasrat ingin meniru penyair Tiongkok kuna, kuambil sebatang pena dan carik kertas. Ingin kualihkan kemilau kekuningan bola awan malam itu ke dalam bahasa puisi. Tetapi tidak! Lantaran malam kian merangkak. Sedang pikiranku menerawang ke masa sepuluh tahun lalu.

Cintaku yang pertama dan terakhir pada Irine adalah keindahan sukma termurni. Walau mungkin cinta pertama itu seakan cuma suatu kebetulan saja.

Kami pertama bertemu pada sebuah sarasehan sastra di Solo. Aku datang sebagai munsyi, sedang Irine panitia pelaksana. Tak dinyana, pertemuan pertama itu berlanjut. Kami surat-suratan. Akhirnya, surat biasa berujung pada cinta. Sampai akhirnya, aku dan Irine bersanding dalam pelaminan.

Barangkali cinta telah membutakan mata hati Irine ketika itu. Gara-gara menyukai puisi dan cerpen-cerpenku, ia lebih memilih menikah denganku ketimbang Bambang, si calon dokter.
***
Aku tersentak, ketika seseorang menepuk bahuku. Aku kini tengah bertatap muka dengan kenalan lama. Dia dulu penyair terkenal kota Solo. Namun yang segera menyadari bahwa profesi sebagai penyair tak bias kaya, maka Budiman memilih jadi kontraktor.

Hampir saja aku lupa siapa dia. Dia adalah Tuan Budiman. Anaknya pernah kubantu masukkan ke SMA tempatku mengajar tiga tahun silam. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Anak itu diterima. Malahan jadi bintang pelajar sehingga dikirim memperdalam pendidikan di Kanada, dengan maksud setelah lulus akan mengajar kembali di SMA asalnya.

“Ini sekadar ungkapan terima kasih kami pada bapak.” Aku masih terngiang kata-kata Tuan Budi sambil menyodorkan selembar amplop putih berisi uang ketika mengetahui bahwa anaknya berhasil kubantu masuk SMA.

“Aha, Tuan Budiman. Ambil saja kembali. Kan semestinya orang hidup saling menolong.” Aku menolaknya secara halus.

Agak kecewa juga kulihat Budiman. Itu terpancar dari raut mukanya. Namun, ia semakin mendesakku sudi menerimanya. Kutolak dengan cara yang sama. Maka tak urung amplop tadi dimasukkannya ke dalam saku celanaku.
Percakapan tadi terjadi tiga tahun lalu. Kini Tuan Budiman benar-benar hadir di depan mataku.

“Kudengar masa kontrakan rumahmu beberapa hari lagi akan habis,” katanya.

“E… eh, benar tuan,”sahutku.

“Nah, kebetulan. Sebulan lalu aku membeli sebuah rumah baru dari hasil penjualan kebunku. Rumah itu terbilang permanenlah. Saya ingin tahu, apakah Tuan Rony sudi menempati sekalian memeliharanya? Mau bukan?”

Dihadapkan pada tawaran seperti itu, aku tidak bias segera menjawab. Dilema rasanya. Apalagi hatiku masih diliputi rasa haru atas kebaikan hati Budiman, manusia berbudi sesuai namanya.

“Lho… kok diam saja? Aku tidak minta sewa. Asalkan rumah itu dipelihara, itu sudah lebih dari cukup buat saya.” Tampak Tuan Budiman tidak sedang basa basi. Ia bersungguh.

“Aku bukannya tidak mau, tuan. Tetapi mesti menanyakan dulu pada istriku.”
Ketika kabar bahwa Tuan Budiman menawarkan rumahnya untuk ditempati kusampaikan pada Irine, betapa wajahnya tampak gembira. Sorot matanya berbinar-binar.

“Oh, Tuhan. Engkau Mahamengerti di antara yang mengerti,” ucapan syukur meluncur dari bibir Irine.

“Bang Rony Pardamean,” ujarnya kemudian kepadaku. “Kita selayaknya bersyukur pada Tuhan lantaran kita seakan-akan mendapatkan durian runtuh. Justru ketika rumah kontrakan kita sedang habis masanya. Rumah Tuan Budiman itu tentu cantik, bukan?” ia bertanya, ingin tahu.

Terbersit sepotong rasa iba dalam hatiku mendengarnya. Aku rasa jiwaku sedikit tersayat. Justru karena istriku tidak terlalu menuntut sesuatu yang tidak bisa kuberikan padanya sebagai suami.

Betapa Irine sangat mengerti diriku. Tiba-tiba aku menyadari bahwa selama ini tak pernah membahagiakan dirinya dengan materi. Aku hanya memberinya hadiah dua anak yang lucu dan manis. Padahal, kalau saja Irine mau mengejar materi ia bisa. Bukankah dulu ia pernah dilamar Bambang, mahasiswa kedokteran tingkat akhir saat aku mengenalnya?

Dengan Bambang, Irine bisa saja hidup kaya. Sebagai “nyonya dokter”, ia bisa saja hidup manja. Tetapi tidak. Irine lebih memilih hidup sebagai nyonya sastrawan daripada nyonya dokter. Meski pilihan sadar itu menuntunnya ke tubir hidup pas-pasan, Senin-Kemis. Namun, itu semua dilakukannya demi sepenggal cinta. Cinta dan setianya padaku melebihi apa pun juga. Padahal aku cuma seorang pemuda yang tak punya apa-apa, kecuali keterampilan pena. Selain menyandang predikat sebagai mahasiswa jurusan sastra sebuah universitas negeri.

Hanya itu. Selebihnya tidak ada. Irine begitu antusias aku segera menyelesaikan kuliah dan segera bekerja. Nyatanya, cita-cita itu hanya menggantung di angkasa, tidak pernah kesampaian. Aku drop out kuliah karena sibuk mencari tambahan penghasilan mengajar sebuah SMA.

Sambil sesekali menikmati honorarium dari cerpen dan puisi-puisiku dimuat koran ibukota. Kendati demikian, Irine tidak pernah mengeluh. Ini yang membuat aku semakin menyintainya. Apalagi ia sekali pun tidak pernah menyatakan penyesalannya menikah denganku. Ia pasrah menerima hidup apa adanya. Menerima adaku seperti sekarang.
***
Aku menggigil. Kutatap kaki langit sebelah barat. Angin menyeruak masuk lewat celah-celah jendela. Malam dingin. Sedingin hati yang sedang merenungi hidup ini. Dalam kamar juga dingin. Dedaunan eru didesir angin yang lalu.

Rembulan yang sejak tadi menari-nari di awan gemawan, berangsur-angsur turun. Dalam larutnya malam, pemandangan kurasa kian asri. Pepohonan eru yang membayang tampak anggun menjulang dalam temaram malam. Menjadikan alam ini sebuah gaib yang bisu. Ataukah memang begitu alam, tak pernah berkata dusta tentang realita manusia?

“Tidak, Rin, tidaaak!” rintihku. Tapi cuma cuaca yang mendengar. Aku tidak mengeluarkan suara, rintihan pilu itu hanya tersekat di kerongkongan saja. Aku takut Irine terjaga tidurnya.

Memang kemarin siang, Tuan Budi usai menawarkan untuk menempati rumahnya langsung mengajakku untuk melihat. Rumah itu memang bagus. Luas dan asri. Cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

“Kurasa, di sini kau akan lebih kondusif menghasilkan karangan,” kata Tuan Budi padaku. “Tambahaan pula, sarana menulis cukup menunjang karier kepengaranganmu. Kau lihat, bukan, di sana terhampar sawah hijau yang bisa jadi inspirasimu?” Tuan Budi meyakinkanku bahwa rumahnya layak aku tinggali. Aku tak menjawab. Tapi dalam hati aku mengiyakannya.

Segera tampak olehku sebuah rumah cukup mewah bergaya Spanyol beberapa meter di belakang. Terdorong hasrat ingin tahu pemiliknya, aku segera bertanya.

“Rumah apik itu siapa punya?” Aku beranikan bertanya, sekadar mengusir ingin tahu.

“Oh, itu rumah seorang dokter!”

“Wow, keren sekali. Rupanya, kami akan bertetangga dengan dokter. Suatu kebetulan, jika perlu bantuan medis, tidak usah jauh-jauh.”

“Ya, dokter itu sangat memasyarakat.”

“Siapa namanya?”

“Dokter Bambang.”

“Hanya itu?”

“Lengkapnya, Bambang Eka Budi Susila.”

“Bambang Eka Budi Susila?” aku seakan tak memercayai pendengaranku sendiri.

“Ya, seperti yang kau sebutkan.”

Tuan Budiman menceritakan jika Dokter Bambang Eka Budi Susila baru saja kembali dari dinas di pedalaman Kalimantan. Dan rumah yang kini ditempatinya adalah rumah bekas seorang pengusaha ekspor impor yang kini pindah ke Amerika.

“Rupanya Tuan Rony kenal baik dengan Bambang Eka Budi Susila?”
Aku seperti tersengat arus listrik. Tuan Budi melihat perubahan air mukaku. Wajah sendu membayangi diriku. Membuyarkan harapan untuk segera menempati rumah kontrakan baru.

Tidak. Tidak mungkin aku mau bertetangga dengan dokter bekas mantan pacar Irine. Ia begitu sukses. Sedangkan aku? Aku gagal total. Bukan saja gagal membahagiakan Irine, tetapi terlebih karena merasa tidak mampu untuk bersaing secara material dengan Dokter Bambang.

Aku membayangkan betapa lebur harga diriku sebagai lelaki di matanya. Lebih-lebih lagi di mata Irine, istriku. Masih bisakah ia menerimaku dalam keadaan begini? Lunturkah cintanya? Sementara di sebelah rumah mata kepalanya melihat kemewahan seseorang yang dulu lamarannya pernah ia tampik. Bambang bukanlah makaikat, pasti ia sakit hati dan membalas dendam. Bisa saja itu dilakukannya dengan pamer kekayaan. Biar Irine ngiler dan akhirnya menyesali keputusannya. Atau jika perlu menghancurkan rumah tangga yang susah payah kubangun.

Bila ingin menghindari keretakan rumah tangga, berarti aku harus mencari rumah kontrakan baru. Tapi kemungkinan ini sangat musykil. Tinggal tiga hari lagi sewa rumah kontrakan kami habis. Kami harus siap-siap angkat kaki. Dapatkah aku mengupayakan sebuah tempat perteduhan, walau bagai gubuk sekalipun? Tidak! Masalahnya, kenapa aku tak bisa mencari rumah lain sekiranya rumah yang ditawarkan Tuan Budi ternyata tidak cocok dengan seleraku atau selera istriku?
Tanpa memberikan kepastian kepada Tuan Budi, aku langsung mengajaknya pulang. Alasanku, penyakit maagku kambuh lagi.

Setibanya di rumah, Irin riang bukan alang kepalang ketika kuceritakan. Matanya berbinar penuh pengharapan. Diliputi rasa ingin tahu, ia langsung bertanya,

“Rumahnya memenuhi standar kesehatan kan bang?”

“Tidak!” jawabku ketus. “Kita tak mungkin menempatinya.”

“Lho, mengapa? Apakah terlalu buruk?”

“Bukan buruk, malah terlalu bagus. Tapi aku tak sudi tinggal di situ.”

Kusulut sebatang ji sam soe. Lalu menghirupnya dalam-dalam. Asapnya mengepul putih, bergulung-gulung. Bagai hidup ini juga layaknya. Bergulung-gulung, lalu lenyap entah ke mana.

“Apakah rumah itu dekat dengan kuburan?” Irine mendesakku sekali lagi. Aku cuma diam seribu bahasa.

“Apa ada setan di sana?” Irine semakin merengek-rengek.

“Diam!” bentakku padanya. Irine menangis. Aku menatap keluar dengan pandangan kosong. Hampa. Seingatku, selama sewindu perkawinan kami, baru kali inilah aku membentak Irine. Padahal masalahnya hanya sepele. Gara-gara Irine ingin tahu bagaimana rumah baru dan siapa yang bakal jadi tetangga kami nantinya. Harga diri sebagai laki-laki dan nafsu mau menang sendiri kutumpahkan padanya. Seharusnya itu bukan pada tempatnya. Aku bersaing dengan dokter Bambang, bukan dengan Irine, istriku.
***
Pagi itu aku bangun kesiangan. Tentu saja, lantaran semalam merenungi hidup ini. Sebenarnya, tak perlu direnungkan. Toh hidup ini nyata. Tapi tidak. Nyatanya, aku masih diombang-ambingkan perasaan. Kacau!

Dengan langkah gontai aku pergi mengajar. Beban demi beban tanggung jawabku sebagai seorang suami dan ayah semakin terasa di pundak. Bagaimanapun beratnya, toh mesti dipikul.

Begitu tiba di sekolah. Kusodorkan tugas pada ketua kelas. Sebagaimana biasa, anak-anak membuat karangan fiksi. Tapi kali ini ada tambahan. Mereka lebih dulu harus mengerjakan soal-soal ujian tahun kemarin untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sedang aku ingin tidur di kantor guru. Tentu, sebelum itu, izin pada kepala sekolah dulu.

Begitu pulang dari sekolah dan baru saja meletakkan tas di meja, Irine menyongsongku.

“Mas Rony, sebaiknya kita pindah hari ini juga.

“Hari ini?” aku terbelalak. “Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak?” Kini aku tahu, mengapa kau ngoto tak mau tinggal di rumah Pak

Budiman. Bukankah karena kita akan bertetangga dengan dokter Bambang?”

“Itu yang aku cemaskan!”

“Kau mencemaskan sesuatu yang bukan-bukan.”

“Aku takut kau tergiur harta kekayaannya!”

“Aku menikah denganmu bukan karena apa yang kau miliki, tapi karena aku mencintai dirimu.”

“Kukira kau wanita yang gampang berpaling karena harta.”

“Aku bukan tipe wanita begitu. Aku menerimamu apa adanya. Aku sudah cukup bahagia dengan hidup kita. Apalagi setelah dua buah hati kita lahir, aku merasa sudah mendapat segala-galanya.”

“Maafkan saya berpikir terlalu jauh.”

“Pepatah mengatakan, ‘you can buy a house not a home.’ Kita memang tak sanggup membeli rumah, namun hidup kita bahagia. Kita merasa krasan dan senang tinggal di rumah kontrakan.”

Tanpa terasa, sebutir air jatuh dari pelupuk mata Irine. Ia benar-benar berkata tulus.

“Tapi dari mana kamu tahu info bahwa tetangga sebelah dokter Bambang?”

“Tadi pagi aku ditemani istri Tuan Budi ke sana waktu kau sedang mengajar.”

“Bertemu dokter Bmbang di sana?

”Ya.”

“Dan kau menyesal?”

“Ya. Aku menyesal baru sekarang ini mengenalkannya padamu.”

Kurengkuh bahu Irine lebih dekat denganku. Kukecup keningnya. Lalu turun ke bibirnya yang tipis. Bau wangi rambutnya masih seperti dulu saat pertama ia kucumbu.
Irine membalas dekapanku. Ia merapatkan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Ia masih seperti dulu. Sang dewi yang tak pernah lekang kemolekannya meski temaramnya malam coba membayanginya.

Di luar, daun-daun eru berdesir bersanding dengan deru angin. Helai demi helai melambai. Yang kuning luruh, jatuh ke tanah.

Kudongakkan kepala Irine. Kusentuh dagunya yang berlipat. Berkat datang dari Tuan Budi. Saat masa kontrakan rumah kami sudah habis. ***

Jakarta, Okt. 2009. rmsp

Tidak ada komentar: