Kamis, 12 November 2009

Tips Memilih Bacaan untuk Anak

Buku cerita anak sangat berguna dan bernilai, tidak hanya sekadar hiburan. Sukses anak di sekolah, sering berawal dari bacaan dan keterampilannya membaca.

Namun, bagaimana memilih buku yang baik bagi anak?


dionsdailydeal.wordpress.com/.../


Penelitian membuktikan, anak yang gemar membaca dan yang banyak menonton televisi sangat berbeda.

Anak yang gemar membaca, kemampuan dan hasil akademisnya jauh melebihi anak-anak yang suka menonton. Mengapa? Karena di dalam membaca, mental dan otak anak aktif. Ketika membaca, pikiran dan imajinasi seseorang sama-sama aktif.

Berbeda dengan menonton tv. Otak dan imajinasi pasif, anak hanya mengikuti saja apa menu yang disajikan. Anak hanya menerima apa yang sudah dituangkan dalam skenario.
“Malang”-nya, menonton memang sudah menjadi semacam budaya bangsa kita.

Kehadiran pesawat televisi yang menjamah seluruh rumah dengan biaya murah dan acara yang serba wah sangatlah menggoda. Berapa banyak keluarga yang dipengaruhi perilaku dan kebiasaannya oleh TV. Baik oleh tayangan berbau kekerasan maupun pengaruh iklan. Iklan ditengarai menjadi salah satu pemicu masyakarat konsumtif.

Apabila ekses negatif seperti itu tidak diwaspadai, maka pengaruh TV yang merasuk anak lebih banyak negatif ketimbang positifnya. Orang tua harus mengarahkan dan membatasi anak menonton TV. Karena budaya nonton (watching culture), sesungguhnya lebih terarah pada hiburan yang dangkal (M. Nuh, 2007). Namun, budaya baca (Jacob Oetama, 2007) justru memintarkan anak.

Apa yang dikatakan oleh pakar media itu benar adanya. Studi yang dilakukan baru-baru ini mencatat, siswa yang banyak menghabiskan waktu main video game dan nonton TV anjlok nilai akademiknya.

Studi yang dilakukan terhadap 4.500 siswa sekolah menengah di Vermont and New Hampshire mencatat bahwa siswa yang selepas sekolah main video game dan nonton TV nilai rapornya hancur-hancuran.

Studi itu juga menyimpulkan, semakin banyak waktu yang dihabiskan anak untuk main game dan nonton TV, pekerjaan dan hasil belajkar mereka juga menurun. Yang menarik, studi ini dilakukan dan dicatat siswa sendiri.

Karena itu, membiasakan anak membaca sejak dini sangat penting. Namun, bagaimanakah memilih bacaan yang tepat untuk anak? Secara garis besar, untuk anak prasekolah, sebaiknya buku yang cocok ialah yang:
• Sarat dengan gambar, sedikit kata. Orang tua/ guru dapat menyuguhkan buku yang banyak kata-katanya seiring dengan usia anak.
• Mengandung rima.
• Alurnya sangat sederhana.
• Mengajarkan kebajikan (karakter baik).
• Bahasa mudah dimengerti.

Sedangkan untuk anak yang sudah masuk SD, kriteria bacaan yang sesuai:
• Sedikit, bahkan tidak ada gambar, banyak kata.
• Tingkat kesulitan bahasa dan alur sesuai dengan usia anak.
• Mengajarkan kebajikan (karakter baik).
• Tidak mengandung kekerasan dan pornografi.

Tentu saja, tidak semua bacaan cocok dan baik dibaca (dan dibacakan pada) anak-anak. Tentu, tentang ini kita semua bersepakat. Jika demikian, bagaimanakah kriteria, atau kiat memilih bacaan yang cocok untuk anak-anak?

Tentu saja, tidak semua kriteria ini bisa dijumpai dalam buku cerita anak yang terbit dan beredar di Indonesia. Menemukan yang mendekati sempurna, sudah sangat bagus. Dan itu bisa didapat dari buku-buku anak terjemahan, semisal serial karya Enid Blyton (Merpati Putih, Rumah Gula Mungil, Serbuk Bersih, Burung Muari Si Andrew, Kelinci-kelinci Kertas, Peri Sutera, Kanguru Putar, Kisah Si Tumpy, Kalau Bulan Berwarna Biru, Payung Ajaib, dan Terjebak di Atas Pohon). Atau, untuk anak balita, bacaan yang juga cocok adalah serial Walt Disney.

Lalu, untuk anak usia 4-5 tahun dapat disuguhkan bacaan berlatar petualangan, seperti: Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, Gadis Badung, Empat Sekawan, Komplotan, dan Malory Towers. Sementara dari dalam negeri, bahan bacaan yang cocok bagi anak dapat mengambil tema-tema:

Persahabatan
Religius
Sosial
Budaya
Kearifan tradisional
Pelestarian lingkungan
Tenggang rasa
Keadilan
Cinta tanah air
Kepahlawanan
Kebaikan
Murah/baik hati
Solidaritas
Ugahari, dll.

Banyak cerita dengan tema itu diangkat dalam kumpulan dongeng/ cerita rakyat nusantara. Atau juga Folklor Indonesia, yang ditulis oleh James Danandjaja serta buku lainnya yang dianggap layak. Dapat memilih yang bergambar, maupun dengan ilustrasi sederhana.

Yang jelas, setiap penerbit biasanya sudah mengkategorikan produknya berdasarkan kelompok usia. Bahkan, ada yang mencantumkan pada sampul belakang rentang usia yang cocok untuk bacaan yang bersangkutan. Misalnya,
Bacaan ini untuk anak usia:
□ 3 tahun
□ 4 tahun
□ 5 tahun
□ 7-8 tahun
□ 9-10 tahun
□ 11-12 tahun

Kalau misalnya, bacaan itu cocok untuk anak usia 3 tahun, maka petunjuknya di dalam kotak diberikan centang (√).

Akan tetapi, tips memilih bacaan yang sesuai untuk anak, agaknya sebagaimana yang dianjurkan Prof. Hiroko Hidaka, seorang pakar sastra anak dari Jepang, (Choose Story for Storytelling).

Menurutnya, karena anak belum dapat memilih bacaan yang cocok dan baik bagi dirinya, sebaiknya orang tua atau guru yang memilihkannya. Menurutnya, buku atau bahan cerita yang baik untuk mendongeng adalah cerita yang diminati anak, sesuai dengan usia anak, baik untuk mengembangkan perasaan halus anak, dan yang dapat membangkitkan imajinasi anak.

Untuk itu, ia membagi beberapa jenis cerita anak berdasarkan usia. Setiap kelompok usia anak, memunyai minat cerita yang berbeda.

Anak usia 3 Tahun
Anak-anak dalam usia ini menyukai jenis cerita yang dekat yang kehidupan sehari-hari. Buku yang disukainya adalah buku bergambar sederhana yang menceritakan kehidupan bianatang kesayangan mereka, seperti: anjing, kucing, ayam, atau merpati. Juga mengenai bunga, dan peristiwa-peristiwa yang dilihat dan dialaminya , misalnya perayaan hari-hari besar/raya di mana anak ikut terlbat di dalamnya.

Anak usia 4 Tahun
Di Jepang, hampir semua anak memasuki TK pada usia empat tahun. Yang unik, anak-anak usia ini sudah terbiasa mengunjungi perpustakaan. Rata-rata mereka sudah dapat membaca dan menikmati buku, baik atas bimbingan guru/ orang tua maupun atas inisiatif sendiri. Tidaklah mengherankan, apabila di Jepang anak usia TK sudah menjadi anggota tetap perpustakaan.

Minat dan kesukaan anak usia empat tahun berbeda dengan anak usia tiga tahun. Mereka sudah mulai menyukai bacaan penuh fantasi. Bahkan, ada di antaranya yang sudah menyenangi buku fiksi ilmiah (science fiction).

Anak usia 5 tahun
Lima tahun adalah usia terakhir seorang anak pada jenjang pendidikan prasekolah. Di usia ini, anak sudah dapat diarahkan. Daya pikir dan fantasinya sudah mulai berkembang. Anak usia ini sudah dapat menikmati bacaan tanpa harus banyak gambar.

Untuk anak balita, lazimnya disuguhkan buku dengan komposisi gambar yang banyak (picture book), berwarna, hardcover, dan kertas mengkilat (art paper). Tidak tebal, bahasa mudah dicerna, kalimat singkat.

Anak usia 6-7 tahun
Anak sudah masuk SD. Pada usia ini, anak sudah bisa memilih bacaan bagi dirinya sendiri. Orang tua tinggal mengarahkan. Bahan bacaan yang kreatif, menghibur, sekaligus berguna perlu disuguhkan padanya. ***

Tidak ada komentar: