Rabu, 23 September 2009

Dayak Jangkang: From Headhunter to Catholic Majority. Rekam Jejak dan Riak Politik Identitas

Jangkang berasal dari nama kayu meranti (tokamp jangkang) yang tumbuh subur di sepanjang anak Sungai Jangkang (Aik Jongkangk). Sungai Jangkang mengalir di bawah kampung ini, 200 meter dari Polumpor, kampung darurat orang Jangkang setelah pindah dari Botuh Logunt dan kemudian Songongk) bermuara ke Sungai Ence. Sungai Ence bermuara ke Sungai Mengkiang, Mengkiang ke Sungai Sekayam, Sekayam ke Sungai Kapuas yang melintas dari Sanggau menuju Pontianak, lalu muntah ke segara Natuna. Penamaan anak suku Jangkang ini sesuai dengan kelaziman Dayak pada umumnya: memberi nama diri berdasarkan nama sungai.
Polumpor, pemukiman sementara di tepi sungai Jangkang.

Sudah ada dalam peta. Jangkang (Djo) kini tidak lagi terisolasi dari dunia luar. Sudah ada dalam peta linguistik dunia. Saya salah satu kontribusi content Dayak Jangkang untuk Joshua Project.

Ada isu gawat, tanah adat (hutan Lindung) Jangkang hendak disewa-pakai oleh Pemprov Kalbar untuk dijadikan "sapi perah". Warning!!! Para LSM, tetua adat, dewan adat, serta penggiat lingkungan perlu meneliti akurasi isu ini. Jika benar, tanah adat digadaikan akan tamatlah riwayatmu, Jangkang. Dan banjir akan terkirim cepat ke Sanggau, lalu masuk aliran Kapuas, akhirnya menenggelamkan Pontianak, tempat tuan-tuan yang menyewakan hutan lindung tadi tidur nyenyak.


Peta persebaran Dayak di Borneo ujung abad 18 oleh Dr. Anton Nieuwenhuis.

Pengantar
Bingkisan dari Negeri Belanda saya terima pada 1992. Herman Josef van Hulten tercatat sebagai pengirimnya. Tulisan tangannya khas. Mantan misionaris yang menghabiskan hari tuanya di Tilburg itu menginjakkan kaki di bumi Borneo jauh sebelum Indonesia merdeka. Tujuh belas tahun lamanya ia tinggal di Jangkang. Herman * di Drunen 5 Januari 1907 dan + di Tilburg, 27 Januari 1994.

Ketika tiba di Nusantara sebagai misionaris, Herman berkarya di Sejiram pada tahun 1938. Selanjutnya, dipindahtugaskan ke Jangkang. Dialah pendiri paroki Jangkang. Tujuh belas tahun lamanya Herman hidup di antara orang Dayak. Ini yang membentuk modus vivendi-nya, sehingga kemudian ia menuangkan pengalamannya dalam dua jilid buku, Mijn Leven met de Daya’s yang, pada 1992, diterbitkan PT Grasindo dengan judul Hidupku di Antara Suku Daya. Ordo Kapusin Provinsi Kalbar mensponsori penerbitannya. Saya yang mengedit, sekaligus memberi kata pengantarnya. Kini, buku sampul kuning itu menjadi sesuatu yang langka.

Jasa Herman pada orang Dayak, khususnya Jangkang, tak terbilang. Salah satu di antaranya, mengangkat Sareb, ayah saya, sebagai anak asuh. Berkat jasanya, keluarga besar kami menjadi seperti sekarang. Karena itu, kami memanggil Herman “kakek”.

Tatkala menerima bingkisan, saya belum mafhum maksud sang kakek. Bingkisan berisi foto-foto zaman dulu. Sebagian merupakan hasil jepretannya sendiri. Namun, sebagian lagi koleksi dari Romer Museum Hildesheim dan Kon. Instituut v.d. Tropen, Amsterdam.

Waktu itu, saya belum tahu manfaatnya. Kemudian hari, saya baru menyadari betapa bingkisan itu sangat berharga. Bahkan, boleh dikatakan warisan yang tiada tara. Dokumen sejarah yang banyak bercerita. Tepat sebagaimana ungkapan, “A picture is worth a thousand words” (sebuah gambar mewakili seribu kata). Misalnya, saya jadi bisa menghubungkan peristiwa Majang Desa dengan gambar Panglima Kilat dan Panglima Daud yang diberikannya pada saya. Saya yakin, di negeri ini, hanya saya sajalah yang punya foto kedua tokoh legenda perang Dayak Jangkang itu.


Panglima Kilat dari Jangkang.

Toh harta karun itu tidak saya nikmati sendiri. Seperti yang pembaca saksikan, foto-foto jadul tersebut banyak menghiasi buku ini. Dari foto-foto itu, kita dapat menyibak kembali lembar sejarah Jangkang masa silam. Bukan hanya memotret kehidupan nenek moyang zaman dulu, tetapi juga peradaban, pola hidup komunal saling menolong, sejarah Gereja, hingga rekam jejak mereka menjadi seperti yang sekarang. Semua itu merupakan mata rantai dalam usaha dan perjuangan Dayak Jangkang membentuk identitas, sehingga diperhitungkan dalam kancah pergaulan nasional maupun internasional.

Buku sejarah yang baik adalah yang tidak sekadar memaparkan fakta masa silam. Tapi juga yang sekaligus menyertakan refleksi kritis.

Itulah yang ditemukan pembaca dalam buku ini. Bukan sekadar jejeran fakta sejarah yang lepas-lepas. Lebih dari itu, ia adalah sebuah rangkaian yang utuh. Menjadi kaca benggala yang sanggup merefeksikan perjalanan orang Jangkang dari animis menjadi mayoritas Katolik hari ini. Dari labeling sebagai suku primitif (headhunting) menjadi etnis modern yang adaptif, sekaligus mampu bersaing di kancah global sekalipun.

Toh perjalanan “menjadi” subetnis yang diperhitungkan, bukan tidak mengalami hambatan. Dari mulai secara drastis harus menyesuaikan kepercayaan asli dengan agama Katolik yang diintroduksi misionaris Ordo Kapusin, Dayak Jangkang pun mengalami guncangan budaya. Bahkan, turut larut dalam perang suku membantu mengusir pendudukan Jepang lewat mobilisasi yang diorganisir Panglima Perang mereka, Pangsuma dan Panglima Kilat. Sumbangsih Dayak Jangkang membantu melawan penjajahan Jepang ini dikenal dengan Perang Majang Desa.

Gejolak sosial masih belum juga usai mengguncang masyarakat penutur bahasa “Bokidoh” ini. Jelang Pemilu 1955, di mana pemimpin Dayak Kalbar, Oevang Oeray berhasil mendirikan Partai Daya (PD), riak-riak politik sempat memanasi Jangkang. Beberapa tokohnya dibawa paksa ke Pontianak untuk diintimidasi.

Lalu pada 1967, dalam sebuah desain besar Pemerintahan Orde Lama, dimaklumkan pekik perang Ganyang Malaysia. Dayak Jangkang, sebagaimana juga Dayak dari daerah lain di Kalbar, ambil bagian di dalamnya.

Sayang, waktu itu, orang Dayak tidak sadar mereka sedang diadu domba. Dalam sebuah strategi militer, tangan mereka dipakai untuk memukul mundur saudaranya, etnis Tionghoa. Berjatuhan ratusan korban. Etnis Tionghoa yang sebelumnya tinggal bersama mereka di ibukota kecamatan dan beberapa desa, terpaksa mengungsi ke kota.

Ganyang Malaysia ternyata berbuntut panjang, utamanya penduduk perbatasan. Mereka turut terseret arus victim-isasi. Ketika kini isu Ganyang Malaysia kembali diteriakkan, masyarakat perbatasan harus menolak tegas. "Enak aja, kami yang ngrasain langsung akibatnya!"

Menjejerkan kembali peristiwa demi peristiwa dalam rentang waktu lebih dari seabad, akan tampak sebuah rangkaian sejarah. Pertanyaannya: apa makna yang dapat dipetik dari itu semua?

Ada ungkapan, “Historia docet” (sejarah mengajari). Pahit getir pengalaman dibentur dan diadu domba, dimanfaatkan untuk memukul suku lain, dipinggirkan, dimanipulasi, hingga tanah adatnya dijarah dan harta karun dicuri di rumah sendiri; membuat Dayak Jangkang kini makin awas dan waspada. Pengalaman diprovokasi menjadikan mereka lebih arif bijaksana.

Kini, para headhunter zaman baehula yang dicitrakan serba peyoratif di masa lalu, sudah menjadi Katolik mayoritas di rumahnya sendiri. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Sanggau, jumlah mereka sungguh fantastis, 17.042 dari total 24.228 penduduk kecamatan Jangkang.

Masalah yang mereka hadapi kini bukan lagi sekadar ancaman fisik dari luar yang membuat mereka harus melindungi diri dengan perisai dan menyerang dengan mandau. Ancaman dan musuh yang mengancam atas nama pembangunan dan modernisme siap menghadang.


Perkebunan kelapa sawit milik orang Jakarta nyaris masuk wilayah Jangkang. Letaknya di Kec. Mukok, berbatasan dengan Kec.Jangkang. Inilah salah satu bentuk penjajahan baru (neoimperialisme)yang berkedok ekonomi dan pembangunan, padahal praktiknya menjarah tanah penduduk setempat karena ganti rugi yang kerap mengakali. Waspadalah terhadap neoimperialisme berkedok baik-baik ini!

Solidkah Dayak Jangkang menghadapinya? Cukup tangguhkah perisai budaya melindungi mereka dan ketajaman mandau intelektual menghadang serbuan itu?

Jawaban atas pertanyaan di atas, dibahas tuntas dan dijawab dalam buku yang merupakan hasil perpaduan riset pustaka dan riset lapangan lebih dari 20 tahun ini.

Buku ini dapat terbit atas bantuan banyak pihak. Terima kasih terutama disampaikan pada Pastor Herman (alm.), Kongregasi OFM Cap. Provinsi Kalbar, dan rekan-rekan dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jakarta, Dr. Ir. P.M. Winarno selaku Direktur LPPM dan Dr. Sugiarto sebagai Warek I UMN yang memberikan dorongan.

Rektor UMN, Prof. Yohanes Surya, Ph.D. selalu mendorong agar saya tetap, dan selalu, produktif menulis. Ia ingin, UMN dikenal luas bukan saja karena mutu akademiknya, melainkan juga karena publikasi ilmiah dan riset-risetnya. Sang pakar fisika lalu memaklumkan UMN sebagai "universitas riset" yang akan dikenal luas dan sitasi (kutipan) ilmiahnya dinantikan banyak pihak. Harapan Prof. Yo mulai jadi nyata, terbukti blog saya diunduh pengunjung 20-30 per hari.

Rosnani Nilam, Rio, dan Amanda juga banyak memberikan kontribusi dalam persiapan buku ini. Terima kasih juga disampaikan pada Penerbit dan Pemkab Sanggau atas bantuannya. Sohib saya, Sujimin Herman (sesama anak perbatasan Sarawak, Sujimin dari Noyan) banyak memberikan dukungan dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini.

Jakarta, 22 September 2009

Daftar Isi

Bab 1
Jangkang dalam Rekam Jejak Zaman Kolonial
Bab 2
Dayak Jangkang Berdasarkan Dialek dan Tempat Tinggal
Bab 3
Agama Asli Dayak Jangkang
Bab 4
Headhunting (Ngayau) dan Filosofinya
Bab 5
Misionaris Barat: Juru Selamat bagi Dayak Jangkang
Bab 6
Ritus, Upacara, dan Festival
Bab 7
Adaptasi dan Akulturasi
Bab 8
Menjadi Orang Serani
Bab 9
Menjadi Katolik Mayoritas
Bab 10
Penjarahan Tanah Adat atas Nama Pembangunan: Neoimperialisme yang Perlu Diwaspadai
Bab 11
Tantang Jawab Dayak Jangkang

Bab 1
Jangkang dalam Rekam Jejak
Zaman Kolonial


Adakah Jangkang dalam peta dunia? Terdeteksikah etnis ini dalam khasanah bahasa dan peradaban bangsa-bangsa?

Kita hampir musykil menemukan di mana posisi Jangkang sebelum merdeka dalam peta dunia. Wilayah yang mengelilingi Gunung Bengkawan itu belum terekam dalam khasanah dan pergaulan internasional.

Praktis, Jangkang hanya ada dalam satu dua wacana di masa prakemerdekaan. Yang hanya disebut sekelebat saja, ketika membahas suku-suku lain, misalnya Bidayuh, Iban, Kenyah, dan Kayan yang menjadi terkenal di mancanegara karena Sir James Brooke, “Rajah Putih Penguasa Sarawak”, yang memerintah negeri berpenduduk mayoritas Dayak itu gemar “menjual” etnis Dayak ke luar.

Lepas dari usahanya mengenalkan etnis Dayak ke luar, dan dari sana nantinya banyak etnolog dan peneliti menulis tentang Dayak, satu kelicikan Brooke patut untuk dicatat. Betapa tidak! Ia mahir menggunting dalam lipatan. Setelah membantu Sultan Brunei menumpas para pemberontak Dayak Bidayuh melawan Sultan Brunei, ia kemudian memreteli kekuasaan Sultan. Bahkan, dinobatkan menjadi raja putih bagi suku Dayak. The white king begun stealing in the Dayak’s land from here!

Pelajaran yang ditinggalkan Brooke pantas dicatat untuk kemudian disimak. Ia telah membangun dinasti di Negeri Sarawak, menerapkan nepotisme, kekuasaan dibuatnya berpusat pada satu tangan. James Brooke 27 tahun menjadi raja Sarawak (1841-1868). Ia digantikan keponakanya Charles Brooke (1868-1917), dan raja ketiga adalah Charles Vyner Brooke (1917-1941). Dengan demikian, dinasti Brooke ini berkuasa di Sarawak sampai tahun 1941.
Sir James Brooke, Si Raja Putih yang "menjajah" Negeri Dayak.

Karl Helbig, salah satu cendikiawan Barat yang jadi populer karena meneliti etnis Dayak.

Selain menempel ketenaran Dayak Bidayuh, Jangkang disebut sekilas dalam catatan Karl Helbig, seorang penjelajah dan etnologist berkebangsaan Jerman yang bernama lengkap Karl Martin Alexander Helbig. Itu pun disebut sambil lalu, tatkala Helbig mengisahkan ekspedisinya melintas Borneo dari Songkong (mestinya Sungkung)sebuah tempat tinggal Dayak Sarawak yang letaknya tidak jauh dari Jangkang.

Keraton Kerajaan Sambas, populer disebut “Alwatziqubillah”, punya hubungan historis dengan Sarawak dan Brunei. Hubungan historis ini yang menjadi latar, mengapa Dayak di Malaysia sudi membantu saudaranya di Kalimantan Indonesia waktu kerusuhan Sambas.

Tidak secara telak menyebut, namun Jangkang sempat dicatat sebagai salah satu subsuku Dayak di kerajaan Sanggau yang terkenal gagah berani dalam peperangan. Merekalah headhunting yang sesungguhnya.

Dibandingkan etnis Melayu, Dayak di wilayah kerajaan Sanggau cukup menjadi perhatian para pakar antropologi budaya dan menjadi pokok kajian (objek material) ilmiah sejak zaman kolonial. H.P.A Bakker misalnya, dalam jurnal Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde volume 29 yang terbit tahun 1884, sambil menyingung mengenai sejarah Kerajaan Sanggau, sempat menyentil tentang kepercayaan dan adat istiadat penduduk setempat.

Kemudian, M.C. Schadee, Controleur bij het Binnenlandsch Bestuur (Kontrolir Pamong Praja) mencatat kepercayaan suku Dayak di daerah Landak dan Tayan yang disebutnya sebagai shamanisme.

Karena Tayan merupakan asal nenek moyang Dayak Jangkang (Macan Luar alias Kek Gila), maka bolehlah ditarik kesimpulan bahwa pada masa sekitar awal abad 18, kepercayaan penduduk asli Tayan sama dengan yang kemudian dibawa ke Jangkang. Pendiri Jangkang, “Kek Gila” berasal dari Tayan.

Pada zaman kolonial, dan hingga masa pendudukan Jepang, Jangkang kurang menarik perhatian pemerintah jajahan. Hal ini karena luasnya kepulauan Borneo. Apalagi, waktu itu, Borneo belum menjadi wilayah kolonial sendiri. Dan baru pada tahun 1936 ditetapkan Ordonantie pembentukan Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost (Stbld. 1936/68). Borneo Barat menjadi daerah Karesidenan dan sebagai Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost yang pusat pemerintahannya adalah Banjarmasin.
Dua tahun kemudian, Gouvernementen van Borneo dibagi dua. Yakni Residente Zuideen en Oosterafdeling van Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Residente Westerafdeling dengan ibukotanya Pontianak.
Jangkang nan menawan terletak di kaki Gunung Bengkawan. Sejuk hawanya, segar udaranya, indah panorama alaminya.

Tiap-tiap Residente dikepalai seorang Resident dengan Besluit Gouverneur van Borneo tertanggal 10 Mei 1939 No.BB/A-I/3/Bijblad No. 14239 dan No.14239 a) Residensi Kalimantan Barat dibagi menjadi empat afdeling dan 13 onder afdeling.

Jarak Jangkang ke sebuah kota kecil tepi Sungai Mengkiang, Balai Sebut, yang kini menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Jangkang dan paroki Jangkang, adalah 7 km.
Hingga tahun 1980, transportasi hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, sepeda, dan sepeda motor. Praktis, kontak dengan dunia luar dan pusat pemerintahan di luar daerah itu melalui sarana transportasi air yang harus dilayari dengan perahu bermotor 18-24 jam, menginap di perjalanan, dan baru diteruskan esok harinya.
Jika tidak memungkinkan, misalnya jika musim kemarau dan perahu motor terdampar di Riam Kaboja, maka perjalanan akan lebih lama lagi. Jika keadaan tidak memungkinkan, biasanya ke Sanggau orang Jangkang akan berjalan kaki. Melintasi kampung Sekantut, Parai, Jeropet, daerah Jungur Tanjung, Entakai, hingga masuk kota Sanggau.

Meski cukup jauh dari Jangkang, Sungai Mengkiang boleh dikatakan sangat strategis karena beberapa hal.

Pertama, sungai yang juga sering disebut Moncangk itu memberikan kehidupan bagi penduduk karena ikannya berlimpah dan terkenal lezat. Lais, baong, tuman, tapah, dan seluang merupakan ikan kegemaran. Orang Jangkang sering mencari ikan di sungai ini, bersama-sama dengan orang Melayu Balai Sebut, tapi tidak pernah berkelahi soal tempat. Bahkan, ada semacam kesepakatan di antara mereka tidak boleh mengambil ikan yang masuk alat penangkap ikan berupa pukat, tajor, kail, ijap, tabent, kolabant.

Kedua, Sungai Mengkiang menjadi strategis karena posisi muaranya yang jatuh tepat di Sungai Sekayam, letaknya tidak jauh dari kota Sanggau di mana Sungai Sekayam bermuara. Sedemikian strategisnya, sehingga Muara Mengkiang bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau ketika didirikan Dara Nante yang bersuamikan Babai Cinga.

Akan tetapi, pada zaman pemerintahan Dayang Mas, kota raja dipindahkan dari Sanggau ke Nanga (Muara) Mengkiang. Lalu kembali berpusat di Sanggau lagi pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin.

Ditengarai bahwa dari Nanga Mengkiang inilah kaum Melayu berawal dan membangun pemukiman di sepanjang pesisir Sungai Mengkiang; meski pada zaman prasejarah, sebenarnya moyangnya satu dengan Dayak. Buktinya, kebanyakan kampung/desa di pesisir Sungai Mengkiang mayoritas, bahkan ada yang seluruhnya, Melayu. Sungai Mengkiang, Balai Sebut.

Perkampungan Melayu paling hulu, dan sekarang menjadi pusat ibukota kecamatan Jangkang, adalah Balai Sebut. Tahun 1970-an, 90% warganya Melayu, sisanya Dayak, dan sebagian kecil Tionghoa sebelum etnis ini ditarik ke kota sebagai buntut dari upaya penumpasan PGRS/Paraku. Kini warga Balai Sebut separuhnya Dayak. Mereka bermukim dan mendirikan rumah-rumah agak jauh dari pantai. Ini sesuai dengan kebiasaan orang Dayak pada umumnya. Karena itu, mereka disebut “Sidak Darat” (orang darat) oleh Melayu Balai Sebut.

Dan memang demikianlah kebiasaan orang Dayak. Mereka lebih suka mendirikan perkampungan dan bermukim jauh dari tepi sungai. Itu sebabnya, para pengamat dan penulis asing menyebut mereka Land Dayak, bukan riverside, tapi upperside, karena memang senang bermukim di daratan.

Ditilik dari pola pemukiman dan persebaran penduduk, penghuni Balai Sebut adalah etnis Melayu. Miskinnya sumber-sumber dan catatan tertulis tidak cukup adekwat untuk menyimpulkan kapan etnis Melayu pertama bermukim di Balai Sebut. Tahu-tahu sudah ada etnis yang oleh Dayak Jangkang disebut “Sinan” ini bermukim di pesisir Balai Sebut yang indah karena berbentuk terusan.

Akan tetapi, sumber tertulis seperti catatan seorang misionaris asal Belanda, Herman Josef van Hulten tahun 1940-an, sudah menyebut pemukiman Melayu ini. Dengan sedikit mendeskripsikan kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misonaris Belanda, Herman antara lain mencatat,

...Maar weer terug naar Jangkang –tweemaal 70 km te voet, voor niks en strakjes weer opnieuw! Na een half jaar de tweede oproep; weer die 70 km afleggen. Ik sta weer voor het gebow en weer in habijt. Tientallen mensen staan te wachten. Eindelijk hoor ik duidelijk de naam Bong, burgemeester van Balai- Sebut, dus nu moet mijn naam ook volgen. Dan reoept iemand: “Pastor Herman van Jangkang”. Aller ogen zijn op mij gericht; ik ga de trap op, waar Bong al op het bankje zit en mij de plaats naast hem wordt aangewezen. De twee rechters zijn zeer vriendelijk en wensen mij n.b. in Nederlands goedemorgen, wat ik ook vriendelijk beantwoord, terwijl zij mij de hand geven. Een van de twee rechters –ze spreken nog steeds in het Nederlands—vraagt mij eerst een eed af te legen—wat gebeurt. Daarop: “Pastor Herman, vertelt U eens wat er is gebeurt... De rechter herhaale dit in het Maleis en zei erbij van nu af de Malaise taal te gebruiken, zodat de heer Bong het ook zou kunnen volgen. Nu gaf de rechter de heer Bong de gelegenheid om er iets tegenin te brengen....” (Hulten, 1983: 248-249).

Dari deskripsi mengenai Balai Sebut dan perlakuan salah satu pemimpin Melayu di pemukiman tepi sungai Mengkiang ini dapat disimpulkan bahwa ada semacam kekurangsukaan dari pihak Melayu atas kehadiran misionaris asing di Jangkang. Tidak semua, namun hanya sebagian.

Buktinya, ketika gereja dan sekolah Jangkang pertama kali didirikan, para tukang adalah etnis Melayu Balai Sebut yang mengerjakannya. Mereka melakukan kerja bangunan yang bukan merupakan tempat ibadahnya karena keterampilan bertukang memang jagonya kaum Melayu. Keterampilan ini masih diteruskan sampai hari ini. Di sepanjang pesisir Balai Sebut dapat kita saksikan sampan, perahu motor, dan pekerjaan pembuatan kusen dan bangunan tempat tinggal yang dikuasai Melayu.

Sangat boleh jadi, kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misionaris asing didorong oleh rasa iri hati, mengapa yang dibantu misionaris justru Dayak dan bukan Melayu? Pada waktu itu, Melayu sudah memeluk agama Islam, sedangkan Dayak pada umumnya masih menganut kepercayaan nenek moyang. Maka etnis Dayak menjadi prioritas evangelisasi.
Dengan demikian, usaha para misionaris menyebarkan syiar agama Katolik kepada etnis Dayak adalah langkah tepat. Namun, cara yang dilakukan secara persuasif, tidak arogan, apalagi memaksa. Para misionaris masuk dan menjadi bagian hidup mereka. Menjadi bagian inetegral suku Dayak, berpola hidup, berperilaku, maupun berpikiran secara mereka pula. Itulah yang dilakukan misionaris asing, seperti Herman. Dalam istilah filsafat antropologi, para misionaris asing melakukan akulturasi dan adaptasi.

Menurut Bakker (1972: 48-49), akulturasi adalah usaha mentransponir ajaran, bahkan struktur-struktur Gereja dari lingkungan kebudayaan Greco-latina ke dalam alam pikiran setempat. Usaha itu merupakan perkembangan Gereja yang radikal dan menghasilkan struktur yang pluriform. Sifat pluriform mengganti sifat uniform yang nyata, lagi kokoh. Perbedaan dan differensiasi seperti sudah bukan saja tuntutan psikologis (human relation) saja seperti adaptasi, melainkan tuntutan teologis. Dalam differensiasi di antara makhluk-makhluk dinyatakan kesempurnaan Pencipta. Harta benda rahmat terlalu kaya daripada mungkin dapat dimuat dalam struktur rohani saja.

Akulturasi inilah awal proses pembribumian ajaran Katolik di antara Dayak Jangkang. Berikutnya, baru terjadi adaptasi di mana para misionaris mengomunikasikan ajaran Gereja Katolik melalui saluran-saluran kebudayaan dalam hal bahasa, sistem berpikir, pola peradaban, dan bentuk-bentuk sosial.

Corak asing semakin melemah, sedangkan kebudayaan bangsa yang didekati semakin diperkuat. Pewarta (misionaris) sekaligus ajaran yang disampaikan mengikuti kebudayaan penduduk setempat tanpa kehilangan sifat hakikinya. Inilah yang disebut adaptasi.

Option for the poor yang menjadi semangat Gereja sejak didirikan di atas Petrus, si batu karang, tetap dibawa misionaris asing ke Jangkang. Tahun 1939 umat Katolik Kobang sudah ada. Yang unik, mula-mula yang menjadi Katolik di Kobang adalah kepala kampungnya, yang digelari “Mangku”, baru kemudian diikuti rakyatnya. Mangku adalah calon temenggung yang otomatis menjalankan tugas tumenggung jika berhalangan atau bila tumenggung mangkat.

Umat Katolik Kobang tahun 1939. Pastor Ewald, “Kek Tuan” Kobang, mendirikan kapel di sini.

Sebelum nantinya berpusat di Jangkang, Ewald sebagai misionaris kerap memilih menginap di Kobang karena hawanya yang dingin, terletak di punggung bukit Bengkawan. Selain berhawa sejuk dan mirip dengan cuaca di negeri asalnya, Kobang dipilih Ewald karena kaki tangan dan tentara Jepang mengincar misionaris Kristen Barat ini. Karena lebih sering menginap di Kobang, maka Ewald digelari “Tuan Kobang”.

Di Kobang sudah berdiri rumah panjang. Ewald mendirikan kapel terpisah dari rumah panjang. Namun, beribu sayang, perpisahan umat Katolik Jangkang dengan Ewald harus terjadi karena ia diinternir Jepang ke kamp di Kuching. Umat menangis. Tiada hentinya mereka berdoa dan berharap “Kek Tuan” kembali lagi ke tengah-tengah mereka. Namun, orang yang dinantikan itu tak pernah kembali karena ia wafat di Kuching dan dimakamkan di sana.

Rumah panjang atau betang di masa-masa awal pembukaan lahan.

Mengapa misi pertama-tama memilih Kobangk, sebuah kampung Dayak di kaki bukit Bengkawan yang berpuncak setinggi 917m, dan berjarak sekitar 7 km dari Jangkang, bukan Balai Sebut sebagai pusat misi?

Pada saat misi pertama kali menginjakkan jejak di tengah Dayak Jangkang, Balai Sebut sudah mengenal agama. Lagi pula, waktu itu penduduknya mayoritas Islam.

Namun, selain Bong, banyak warga Melayu menghargai dan menghormati misionaris. Mereka menyebut “tuan pestor” (tuan pastor). Bahkan, sebelum Balai Sebut mendapat bantuan tenaga medis dari Pemerintah, sebelum tahun 1970-an, warga Melayu sering turun ke Jangkang untuk berobat pada pastor.

Biasanya, tiap-tiap hari raya keagamaan Katolik, mereka tumpah ruah ke Jangkang karena ada keramaian. Baik hiburan maupun pertandingan-pertandingan sering diadakan yang melibatkan hampir semua kampung di seluruh wilayah Paroki Jangkang.

Pada musim buah-buahan juga orang Melayu sering ke Jangkang dan Kobang. Mereka boleh memakan dan memetik buah sesuka hati. Jalinan persaudaraan Dayak-Melayu di Jangkang tetap harmonis. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada clash di antara kedua suku.
Karena itu, Tuan Jangkang tetap menjalin dan memelihara hubungan dengan Balai Sebut. Ketika ada urusan di pusat pemerintahan Sanggau, atau tatkala verloop (cuti), para misionaris memerlukan uluran tangan warga Melayu Balai Sebut.

Orang Melayu memiliki perahu motor yang bisa disewa. Atau jika tidak, mereka mahir mengemudikannya, sangat paham liku-liku dan kedalaman sungai Mengkiang, mana alur yang berbahaya dan mana yang tidak, dan sangat mengenal titik paling kritis alur pelayaran sungai yang curam berbatu seperti riam Kaboja.

Menilik kesamaan bahasa, budaya, ditambah rekam jejak alur pelayaran, Balai Sebut merupakan pengembangan dan perluasan wilayah dari kerajaan Sanggau yang sempat berpusat di Nanga Mengkiang.

Sebelum tahun 1980-an, jalur pelayaran sungai Mengkiang menjadi satu-satunya sarana tercepat perjalanan Jangkang-Sanggau-Jangkang yang menempuh jarak sekitar 70 km. Pada waktu jam istirahat makan siang dan malam, biasanya kapal motor berhenti sebentar. Jika gelap dan malam menjelang, maka akan menginap di perjalanan.
Pada saat istirahat dan menginap itulah terjadi kontak dengan penduduk pesisir. Yang jatuh hati, akan menikah dengan warga setempat. Namun, karena mayoritas penduknya Melayu dan beragama Islam maka jika Dayak kawin dengan gadis Melayu ia menjadi Islam dan dikatakan “torojunt kok aik” (mencebur ke sungai). Sebaliknya, jika gadis Melayu kawin dengan Dayak atau pria Melayu kawin dengan gadis Dayak dan mau tinggal bersama orang Dayak, ia disebut “naingk kak darat” (naik ke darat).

Terlepas dari soal kawin-mawin di antara Dayak-Melayu, di wilayah Jangkang ada satu fenomenon menarik. Kedua suku mengikatkan tali persaudaraan dan saling menghormati layaknya saudara sedarah saja. Jika mengikatkan diri sebagai saudara, maka keluarga Dayak dan Melayu menyebut masing-masing dengan dompu. Karena itu, bodompu berarti bersaudara. Mereka saling mengunjungi jika ada hajatan dan hari raya, saling menolong, dan berbagi suka duka layaknya saudara sedarah.

Yang menarik, meski pada awal mula kerajaan Sanggau didirikan oleh bangsawan Melayu dan diteruskan ahliwaris dan putra mahkota Melayu pula, namun “raja” terakhirnya justru orang Dayak. Wasiat Sultan Muhammad Jamaluddin sebelum mangkat, agar penggantinya kelak adalah putra mahkota tetap dipegang teguh.

Demikianlah, meski sempat terjadi friksi dengan Sultan Akhmad Kamaruddin, adik Sultan Muhammad Jamaluddin, dinobatkanlah Abang Taberani yang bergelar Pangeran Ratu Suryanegara menjadi raja kerajaan Sanggau.

Suksesi kerajaan terus berlangsung hingga pemangku kekuasaan kerajaan Sanggau jatuh pada Panembahan Mohammad Ali Mangku Negara (1814-1825). Lalu, jatuh lagi ke tangan Sultan Ayub Paku Negara (1825-1830) yang, pada saat pemerintahannya, mendirikan Masjid Jami di pusat kerajaan Sanggau.

Sejarah kerajaan Sanggau unik. Barangkali sulit menemukan duanya di dunia. Kerajaan yang diawali dan didirikan bangsawan Melayu sejak zaman kolonial, dan masih berlangsung hingga zaman peralihan, akhirnya ditutup oleh “raja” dari keturunan Dayak.

Sejarah kerajaan Sanggau mencatat Panembahan Gusti Ali Akbar memerintah dari 1944-1956. Sayangnya, kurang beruntung bagi Gusti Ali Akbar, sebab pada saat pemerintahannya beliau diintervensi kekuasaan asing yang ditandai dengan dikirimkannya oleh Belanda Asisten Residennya bernama Riekerk. Dengan segera, Riekerk menjalankan politik divide et impera . Tindakan pertama yang dilakukannya ialah menurunkan Gusti Ali Akbar dari tahta kerajaan. Dan pada saat bersamaan mengangkat Panembahan Gusti Mohammad Thaufig sebagai panembah yang memerintah hingga penyerahan swapraja.

Swapraja terakhir dipimpin Uray Mohamad Johan. Pada saat inilah terjadi penyerahan pemerintahan Swapraja Sanggau ke tangan M.Th. Djaman, seorang Dayak, selaku Kepala Daerah Swatantra Tk. II Sanggau pada tanggal 2 Mei 1960. Penyerahan ini, sekaligus menandai berakhirnya era kerajaan Sanggau dan nantinya ganti menjadi ibukota Kabupaten Sanggau.

Ketika buku ini ditulis, bupati dan wakil bupati Sanggau periode 2009-2015 dari etnis Melayu dan Dayak. Bahkan, pertama dalam sejarah, wakil bupati Sanggau adalah Dayak Jangkang, Paolus Adi yang pada pilkada mendulang suara terbanyak dari daerah asalnya. Tersanjungnya Paolus Adi ke tampuk Pemkab Sanggau, menandai kembalinya trah Engkarong sebagai pewaris sejati turunan Tampun Juah. Ayah Paulos Adi, Djapin, asli suku Engkarong, kakek-neneknya sedarah dengan kakek-nenek saya. Bahkan, jika dirunut, kami sama-sama turunan Mangku Gimak, Gimak anak Macan Talot lalu menurunkan Moneng, nenek saya.

Keraton kerajaan Sanggau. Permaisuri raja Sanggau pernah putri Dayak Kopa.


Bab 2
Dayak Jangkang
Berdasarkan Dialek dan Tempat Tinggal

Tahun 1988, di Pontianak, saya sempat berdiskusi dan berbincang-bincang dengan seorang peneliti linguistik dari Universitas Leiden, Nederland.

Waktu itu, ia memperkenalkan diri sebagai Sander Adelaar. Dan post factum 20 tahun kemudian, sebelum berhasil mengunduh hasil penelitiannya berjudul Salako or Badameà. Sketch grammar, texts and lexicon of a Kanayatn dialect in West Borneo saya tetap mengenalnya dengan nama ini.

Ternyata, nama lengkap peneliti yang meraih gelar tertinggi di dunia akademik, Ph.D. karena penelitiannya mengenai penggolongan dan penyelidikan bahasa Dayak Kanayant ini adalah Karl Alexander Adelaar. Tapi, sebagaimana kata Ernst Hemingway, what is a name? Yang penting, substansinya sama.

Meski objek penelitian mengenai Dayak Salako, untuk memberikan konteks, Adelaar membuat peta Dayak Kalimantan berdasarkan penggolongan bahasa. Dan Jangkang ada di dalamnya, dalam satu kesatuan dengan Land Dayak.

Sander Adelaar, pakar linguistik. Ia satu dari sekian peneliti asing tentang Dayak yang meraih gelar akademik tertinggi Ph.D. karena meneliti etnis Dayak.

Objek material maupun objek formal penelitian pria, yang menulis dengan tangan kidal itu, termasuk unik. Betapa tidak! Sander Adelaar belajar bahasa dan budaya Indonesia dan kelompok bahasa Austronesian di Universitas Leiden. Ia juga research fellow bidang Linguistik pada Australian National University dan Humboldt Fellow at Goethe University (Frankfurt) sebelum bergabung dengan University of Melbourne. Risetnya mengenai komparasi dan deskripsi linguistik dengan fokus pada variasi bahasa Melayu di Kalimantan (tempat ia melakukan riset lapangan), Madagaskar dan Taiwan. Ia juga meminati soal tradisi lisan dan sastra tulis tradisional Indonesia .

Yang penting, dan relevan dengan Jangkang, dari hasil penelitian Adelaar ialah kajian dan hasil studi bandingnya tentang Dayak, terutama bab 4 “Borneo as a Cross-Roads for Comparative Austronesian Linguistics”. Menurut Adelaar, betapa pentingnya posisi bahasa Melayu-Polinesia, terutama di Borneo, untuk memahami dan membandingkannya dengan bahasa Austronesian.

Jika tidak ada hasil penelitian seperti dilakukan Adelaar, kita tidak pernah mafhum bahwa terdapat kesamaan dari segi bahasa (juga budaya) yang menyatukan Land Dayak sebagai sebuah subkelompopk etnis Dayak. Atas dasar kesamaan linguistik inilah, Dayak Jangkang menjadi bagian kecil Land Dayak.

Sebagai penutur asing, dapat dipahami mengapa Adelaar memberikan tanda tanya pada lafal bahasa Jangkang. Sebagai catatan awal, orang Jangkang gemar memberi nama lain pada sesuatu/benda. Tidak mudah bagi orang luar Jangkang melafalkan atau memahami sinomim yang dalam banyak kasus hanya dimengerti Dayak Jangkang.

Sinomim itu bisa bentuknya lebih dari dua. Lagi pula, jika ditulis kerap bila dibaca tidak sertus persen sama dengan apa yang (semestinya) dilafalkan. Misalnya, tertulis “Jongkang” lafal yang benar Jongkangk. Jadi, rumus umum bahasa Jangkang jika ada kata berakhiran “ng” cenderung dilafalkan, atau ada kata “k” pada akhirnya.

Dengan demikian, nama-nama kampung di wilayah Kecamatan Jangkang, seperti: Kobang, Empiyang, Tangong, Lalang, dan setiap kata berakhiran “ng” seperti sabong (sabung), komong (kembung), cinong (condong), linong (lindung), dan sebagainya; cenderung dilafalkan dengan menambahkan “k” pada akhir kata.

Contoh perbandingan linguistik bahasa Land Dayak sebagai berikut:
mati, membunuh, tidur, mandi
(Land Dayak)
Bekati’ kabis ŋamis buus mamu?
Lara? kabih, [-ç] ŋamḯh buih mamǘ
Golek kobis ŋkəbis biis mamuh
Nonguh kobis ŋkɔmis bis mamǘh
Pandu kɔbis ŋɔmis biis mane?
Ribun I kobis ŋkobis bihis mandey?
Ribun II kɔbis ŋkɔmis biis mandey?
Jangkang kɔbi? kɔmI? bi? manI?
Lintang k(oɔ)bis ŋkɔmis biis manI?
Aye-aye kubəs ŋkuməs bis manḯ?
Sungkung kabəs nnabəs bə?əs mamuh
Sekayam kɔbis ŋkɔmis bis Mä́mǘh


Adelaar memberikan catatan bahwa bentukan mane?, mandey?, manI? dan man ḯ? merupakan adaptasi dari bahasa Melayu mandi atau Melayu- Dayak man(d)i?

Inilah subkelompok bahasa Kalimantan dan hubungannya dengan subkelompok ekso-Kalimantan yang lain. Dari peta persebaran penggolongan subkelompok Dayak dari segi linguistik dapat dilihat betapa etnisitas tidak dapat memisahkan antara Dayak Jangkang dan Dayak Sarawak.

Karena itu, tali persaudaraan di antara mereka terus terjalin. Bahkan, menjadi semakin erat ketika dibangunnya jalan internasional yang menghubungkan Jangkang-Kembayan-Sarawak dengan pos lintas batas Entekong . Kunjungan muhibah baik atas nama bahasa dan budaya, kekerabatan, maupun agama, sering dilakukan penduduk Sarawak ke Sanggau dan sebaliknya.

Pada zaman dahulu, orang Jangkang sering ke Sarawak menjual karet, cokelat, dan kulit trenggiling atau tenggiling. Mereka berjalan kaki melalui pintu gelap Mongkos. Beberapa tauke Tionghoa beragama Katolik sering mengirimkan makanan kaleng untuk pastor Jangkang, Herman Jozef van Hulten.


Peta persebaran pengguna bahasa di Kalimantan menurut penelitian Sander Adelaar.

Adelaar coba menyangsikan banyak teori yang menyimpulkan bahwa bahasa Melayu Riau merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Benar demikian, tapi bukan yang arkhais (yang asali). Menurut Adelaar, yang asli justru Melayu Selako yang dalam teks-teks internasional disebut Salako (a Malayic Dayak language). Tentu saja, sesuai dengan kaidah ilmu, antitesis Adelaar masih perlu diverifikasi, seperti juga dia memverifikasi temuan para pakar linguistik sebelumnya.

Sementara itu, Jangkang juga dikenal dalam penggolongan etnis-etnis dunia. Gordon Raymond G., Jr. (ed.), 2005, misalnya dalam Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas dalam “Djongkang entry” mencatat sebagai berikut,
Djongkang
A language of Indonesia (Kalimantan)
ISO 639-3: djo
Population 45,000 (1981 Wurm and Hattori).
Region Northwest, south of Balai Sebut.
Classification Austronesian, Malayo-Polynesian, Land Dayak

Populasi, atau pemakai, bahasa Djongkang menurut Gordon sebanyak 45.000. Sementara total penduduk kecamatan Jangkang, sebanyak 24.228 . Artinya, bahasa Djongkang juga ditutur oleh penduduk di luar Kecamatan Jangkang. Ini menunjukkan bahwa pengguna bahasa Djongkang cukup banyak.

Wikipedia mencatat bahwa Subetnik Dayak Bidayuh, Sarawak, Malaysia punya hubungan dengan Dayak Jongkang. Dayak Bidayuh menetap sekitar Serian seperti Tebekang, Mongkos, Tebedu hingga Tanjung Amo daerah perbatasan Kalimantan Indonesia yang berdialek Bukar-Sadong. Menilik bunyi dan asal usul katanya, Bidayuh sangat boleh jadi berasal dari “Bi Doih” yang berarti “Orang yang tinggal di darat”, atau “Orang Dayak”.

Peta tempat tinggal berbagai suku (Dayak) di Borneo hingga akhir abad 19.
Sumber: Anton W. Nieuwenhuis, 1994

Keterangan peta:
A 4 Kadayan F 5 Kajang
Punan 5 Murut Ida’an 1 Ngaju 6 Aoheng
1 Bukit 6 Berawan 2 Ot Danum
B D 3 Ma’anyan
Bajau Laut 1 Selako 4 Melawi H
G 1 Kutai
C 1 Kayan 2 Brunei
1 Rungus Dusun E 2 Kenyah 3 Banjarmasin
2 Lun Dayeh 1 Iban 3 Modang 4 Sambas
3 Kelabit 2 Ibanic 4 Maloh 4 Sambas
5 Sukadana

Subkelompok Penutur Dayak Djo dan Persebarannya
Penutur Dayak Djo, sesungguhnya, masih bisa dipilah-pilah lagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dasar pemilahan subkelompok ini adalah kesamaan dialek, pengucapan, dan tempat tinggal.
Atas dasar itu semua, kita dapat membagi Dayak Djo ke dalam 11 subkelompok sebagai berikut.
1. Suku Jangkang
2. Suku Engkarong
3. Suku Ensanong
4. Suku Hulu Tanjung
5. Suku Darok
6. Suku Sum
7. Suku Muduk
8. Suku Selayang
9. Suku Mayau
10. Suku Kopa
11. Campuran suku Jangkang, Engkarong, dan Hulu Tanjung

Subkelompok Suku Jangkang merupakan mayoritas. Umumnya mereka mendiami bagian utara Jangkang Benua, seperti Kobang, Landau, Parus, Tanggung, Engkolai, Benuang, Kawai, Sebao, Tumbuk, Pisang, Rosak, Entawa, Teriang, dan Ketori .

Subkelompok Suku Engkarong mendiami kampung Sekantot, Semombat, Lalang, Uru, Tanjung Bara, Tekorong, Emporas, Balai, dan Riban.

Subkelompok Suku Ensanong mendiami kampung Terati, Parai, Sererek, Pelanduk, Dasan, Endoya, Robia, dan Engguri.

Subkelompok Suku Hulu Tajung mendiami kampung Peruntan, Sape, Dangku Kabalau, Sebuda, Boyok, Sungai Omang, Seribot, Bengap, dan Muara Tingan.

Subkelompok Suku Kembayan mendiami seluruh bagian kecamatan Kembayan dan Noyan.

Subkelompok Suku Darok mendiami kampung Darok, Ginis, dan Bungok.

Subkelompok Suku Sum mendiami kampung Sum, Bantai, Bangau, Majel, Rondam, Muan, Monum, dan Jamu.

Subkelompok Suku Muduk mendiami kampung Mua, Empodis, Tapa, Entayan/Nibuk, dan Nala.

Subkelompok Suku Selayang mendiami kampung Sinu dan Petuo.

Subkelompok Suku Mayau mendiami kampung Kotup, Tebilai, dan sebagian kampung Engkadot.

Subkelompok Suku Kopa mendiami kampung Empiyang, Empoyu, Padek, Sebotuh, Muara Ronai, Tunggul Boyok, Kolo, Norma, Bedigung, dan sebagian kampung Engkadot.

Sedangkan sisanya merupakan campuran dari subkelompok suku Jangkang, Engkarong, dan Hulu Tanjung.

Subsuku Hulu Tanjung ini terutama bermukim di Sabang, Tebuas, Sentowa, Semukau, Jambu, Sekampet, Semirau, dan Ensibau. Asalnya dari Nyongka, atau Ansar, dekat Mualang. Ketika pindah, penduduk melabuhkan harta bendanya di sungai yang disebut Lubuk Benda. Mula-mula bermukim di Tomisek (12 kepala keluarga), lalu pindah ke Sonibongk. Kemudian pindah lagi ke Tomawangk Buntant (dekat Sebuda), lalu ke Bidei atau Nyongka. Karena itu, subsuku Jangkang Jungor Tanyongk (Hulu Tanjung) disebut juga suku Bidei. Subsuku ini bermukim di Sape, Dangkuk, Nyongka, dan Sp-4. Salah satu tokoh yang terkenal ialah Djeng.

Kekhasan dan Differensiasi Dialek
Dayak Djo yang pada awal mula berasal dari Kek Gila (Macan Luar) yang sama, kemudian menurunkan beberapa subkelompok. Perbedaan dan differensiasi paling mencolok di antara subkelompok itu adalah segi dialek.

Perbedaan itu tidak selalu positif. Malah, kerap mendatangkan ejekan yang menimbulkan salah paham. Bahkan, subkelompok tertentu, terutama Suku Sum, di-stereotype sebagai suku primitif. Asalkan ada hal yang aneh dan ganjil, atau terjadi sesuatu yang bodoh, disebut “Matut bi Sum” (pantas seperti orang Sum).
Orang asing, atau orang yang baru saja tinggal di wilayah Jangkang, tentu belum peka dan belum terbiasa untuk mengetahui idenditas siapa penutur dialek bahasa Djo. Namun, penutur bahasa Djo dan orang Jangkang sudah mafhum dari mana asal orang yang menuturkan dialek itu. Mereka dapat mengetahui daerah tempat tinggal penutur dari dialeknya.

Ternyata, salah satu permaisuri Raja Sanggau keturunan Dayak. Ini hasil wawancara saya dengan tetua adat Jangkang, putri Mangku (temenggung) Kopa, Ayang "diculik" pesuruh raja Sanggau untuk dijadikan istri. Ayahnya menyusul, dan setelah diancam ujung tombak ke pangkal paha,akhirnya raja bersumpah menjadikan anak Mangku permaisurinya. Cerita ini dalam bahasa Jangkang.

Ayang, Permaisuri Raja Sanggau, dari Kopa (Jangkang)

Natos libo nyen seh macan (temenggung) daerah Kopa. Odop neh leh onya nsalingk borodant koni “Kek Ngkuduk”. Macan Natos miah onak Kek Gila (Macan Luar), Macan dek nulong Raja Paku, Raja Sangao, ngalah Raja Moliau.

Onak Macan Natos dek bunso berodant ko Ayang. Hati-hati bi ompu ngant neh nyi odomp de saja mok leh moles. Libo tikin timongk, omang neh ngorima wak Mpanyer, utak Sungi Kolo. Pada suatu onu, omang neh pulei asi ngrimak nyak ngopingk gah onah neh borodant ko Ayang leh posuruh raja miah.

“Nan seh pomponih domanak neh?” tiji Macan Natos koni gok bala neh.

“Onu ijik seh. Asi orut oh domanak neh monik!”

Mosik miah Ayang, bala posuruh raja seh maman asi Sodua. Aik Sodua nyen ka boutak ko ayik Sokoyamp.

“Mak mo nyen maji ilump neh ko ngusol neh,” kuant Macan Natos.

Panang ngorum onu neh seh Macan Natos bosomadi. Odomp minte bantu ngan potunjuk ko ponompa nyak ngusol onak neh. Ilump onu borangkat boh odomp seh. Asi Mpiyangk motok Padek, Tunggul Boyok, Potuo, Sami, mutas Sungi Sokoyamp motok ko Mamal, lalu ko Kadak, Lanong, Ngala, Sungi Mawang, sampae Sangao. Ikah onu monik ko Sangao leh neh. Bobokal tumak (tombak) odoh sarong leh komot ngant dount podang, mak ngasi sarong tujak mak pomant nujak neh saja potik.

Panang monik ko Sangao, Macan Natos saja tokojot.

“Omoh mah Raja dek miah onak koh,” kuant neh.

“Oko moh,” kuant raja.

“Mak mok nyen, kinamp maeh neh!” kuant samel ara ngontak raja ngan tumak neh.
Tumak ngen leh nidel koni tonik kuyuk raja.

“Omo ara kobek kah ra midop?” kuant Macan Natos niji raja.

“Ngampunt ngumun maeh macan, ngampunt,” kuant raja.

“Oko mae komoek omo mak onak koh jodi permaisuri. Tapi mah onak koh jodi gundik, kinamp maeh atoh tumak nto nancap koni tonik kuyuk moh!”

“Yok!” kuant raja. “Onu nto moh oko resmikan ayang jodi permaisuri. Mulai onu nto, Ayang nyen mae Ayang agik odant neh, tapi sile koh odant neh jodi: Ayu.
Tapi tentang keturunan Ratu Ayu secara umum disembunyikan asal usul oleh raja. Walaupun disembunyikan, torunt nyen kan mae tao lapet. Tadok buh neh. Nyen tojih hubungan bi Kopa ngan kaum raja-raja erat sekali. Ompuk-ompuk bukunt cara komunikasi Sinan ngan bi Doih. Nya Sinan nyapa “Dompu” koni Bi Doih. Bi Doih secara sopan njawab Sinan nyen “Somang”.

Lain dengan bi Kopa. Mae gompangk kaum bangsawan bodompu ngan bosomang koni obi Kopa, tapi bo akak bo adik. Sampae nto.

Makam ratu Ayu arah Sungai Kantuk, wah lap koyuh tapangk. Wah ngoyen makam ratu Ayu. Bi Kopa kotaok sidik asal usul Ratu Ayu.

Bab 3
Agama Asli Dayak Jangkang

Situasi kondisi Pulau Borneo di masa lampau, turut mewarnai lahirnya perasaan religius (sensus religiosus) di kalangan etnis Dayak. Lemahnya sistem komunikasi karena sarana transportasi yang tidak memadai, turut ambil bagian membentuk pemikiran religi etnis Dayak. Keterbatasan mobilitas yang disebabkan bentuk dan kondisi geografis, mau tidak mau, melahirkan konsepsi bahwa jagad raya ini dipandang memunyai kekuatan gaib.

Liku-liku konsepsi etnis Dayak mengenai Realitas Mutlak, sejatinya dapat ditelusuri dengan mengamati sejauh manakah alam ini menguasai segi-segi tertentu kehidupan mereka. Kondisi alam pulau Borneo yang serba angker menyimpan misteri yang perlu dijawab.

Sebagai konsekuensinya, komunikasi sosio-religius-kebudayaan etnis Dayak hanya terjadi di kalangan internal mereka saja. Sedangkan ke luar, komunikasi tersebut mungkin hanya terjadi dengan komunitas lain, yang seara geografis berdekatan.

Penompa dan Lahirnya Sensus Divinitas
Ciri-ciri alamiah Borneo yang masih asli turut mewarnai keyakinan etnis Dayak. Lahan pertanian misalnya, dapat mendatangkan penghidupan jika diolah. Demikian pula, hutan yang kaya dengan flora dan fauna menyediakan bermacam ragam keperluan hidup. Namun, di pihak lain, alam ini sekaligus juga bisa mendatangkan bencana. Tersesat di hutan, sampar, banjir, penyakit, dan berbagai malapetaka menyadarkan mereka bahwa ada kekuatan lain di atas kuasa manusia. Hanya saja, bagaimana bentuknya, esa ataukah kolektif, apakah kekuasaan itu hierarkial; mereka belum menemukan jawaban yang meyakinkan.


Pastoran Jangkang tahun 1970-an. Nabi, atau penyelamat Dayak Jangkang, P. Lazarus adalah misionaris Ordo Kapusin asal Negeri Swiss, di antara umat. Pastoran ini dibangun tahun 1951, di atas tanah milik Guru Imu (Kek Jaya) yang membelinya dari Pak Basai (ayah Yosep Basai, alias Mang Santo). Inilah cikal bakal pengkatolikkan Dayak Jangkang, dari headhunter to Catholic majority. Waktu misi datang, orang Jangkang masih menganut agama asli nenek moyang.


Agama Asli Dayak Jangkang sebagai ethnic-cultural unit
Dalam konteks itu, kepercayaan Dayak Jangkang dan Dayak pada umumnya harus dimengerti. Karena persebaran yang begitu sporadis, dan saluran komunikasi yang masih primitif, interaksi sosial juga terbatas. Terjadi perbedaan penyebutan nama dewa dan juga bentuk pemujaan yang beragam. Namun, jika diteliti dengan saksama, sebenarnya ada kesamaan.

Demikian pula ritus, terdapat garis temu yang menjadi penanda bahwa kepercayaan etnis Dayak pada umumnya belum mengarah ke bentuk monoteisme mutlak. Namun, sudah ada pemikiran ke arah adanya satu sang pencipta.

Konsep ini dengan jelas dapat ditelusuri dari kosa kata Dayak Jongkang yang menyebut bahwa struktur hierarikal tertinggi dari dewa-dewa adalah “Penompa”. Artinya, penempa (besi), pembuat, pencipta, asal dari segala yang ada. Dayak Kanayant menyebutnya Jubata. Sebagaimana telah disinggung penamaan untuk Penguasa jagad raya ini berbeda suku satu dengan suku lain, sesuai dengan dialek. Namun, esensinya kurang lebih sama.

Penting dicatat, konsep Dayak Jangkang tentang Penompa, atau kerap juga disebut Ponompa, ialah bahwa Penompa bergenus maskulin. Tampak jelas adanya pandangan yang memosisikan pria di atas wanita. Ini terbukti dari sebutan “Kek Ponompa” yang menggambarkan bahwa Junjungan Yang Maha Tinggi Dayak Jangkang adalah maskulin, digambarkan sebagai sudah kakek (bijaksana), namun sekaligus juga bisa murka jika manusia tidak patuh dan tidak menaati larangan-larangannya.

Apakah perbuatan yang paling dilarang Penompa? Yang dilarang ialah perbuatan merusak alam. Juga menumpahkan darah manusia dan menghilangkan nyawa tanpa alasan yang dianggap masuk akal.

Larangan Penompa itu, kemudian dinyatakan, atau dituangkan, dalam hukum adat yang dipatuhi bersama. Pemangku adat biasanya juga menjabat imam. Mereka hafal peraturan dan adat di luar kepala, termasuk sanksi-sanksi pelanggarannya.

Kosa kata “Penompa” dapat ditelusuri dari dunia pandai besi. Dahulu kala, dan kini pun di derah pedalaman, setiap pria Dayak dewasa adalah tukang besi yang terampil. Mereka sejak dini diajarkan untuk menempa besi guna membuat parang, mandau, alat berburu, alat menangkap ikan, alat membuat perlengkapan masak, perlengkapan berladang, dan alat-alat rumah tangga yang lain.

Ada tempat khusus membuat itu semua yakni ropunt. Yang penting dalam ropunt ini adalah tersedianya arang, dibakar, ditiup dengan alat khusus terbuat dari bambu yang dilubangi dan ditarik dengan stik yang dialasi kayu ringan dan dilapisi bulu ayam, disedot ke atas ke bawah, memunculkan tiupan yang bisa diatur besar kecilnya. Tiupan itu membakar arang. Arang yang membara akan memanaskan dan memuai besi, sehingga akan mudah ditempa dan dibentuk.

Ketika menanggapi peristiwa-peristiwa alam, orang Dayak sampai pada tataran filosofis. Mereka bertanya, mengapa bencara alam harus terjadi? Mengapa penyakit sampar menimpa kampung ini, bukan kampung itu? Dari manakah datangnya penyakit epidemik yang mematikan?

Demikianlah, orang Dayak punya serentetan pertanyaan. Untuk sebagian, mereka bisa menjawabnya. Namun, sebelihnya tetaplah pertanyaan yang belum, bahkan tidak pernah, bersua jawaban. Konsepsi mereka mengenai Realitas Mutlak, Sang Penompa, sudah ada. Hanya saja, belum tertata dalam sebuah sistem pemikiran rasional yang urut seperti halnya agama-agama modern.

Agama Asli Dayak Jangkang
Tidak hendak ikut dalam teori Schadee yang memberi labeling kepercayaan Dayak Landak dan Tayan sebagai shamanisme, juga tidak turut latah menyebut animisme dan dinamisme. Agak bersetuju dengan cara Schärer dengan menyebut kepercayaan Dayak Ngaju dengan “Ngaju Religion”, maka saya cenderung menyebut kepercayaan Dayak Jangkang dengan “Agama Asli Jangkang”.

Namun, apakah yang dimaksudkan dengan “agama asli”? Agama asli ialah sistem kerohanian khas Dayak Jangkang yang masih murni dan belum dipengaruhi oleh unsur-unsur dari kebudayaan mana pun juga serta aktivitasnya hanya terjadi di kalangan suku itu sendiri (bandingkan Rachmat Subagya, Agama Asli di Indonesia, Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1981:1Agama asli sama pengertiannya dengan agama primitif. Dari kata Latin “prima” (pertama/utama).

Jadi, agama primitif ialah agama yang belum dimasuki unsur-unsur luar, masih asli yang menunjukkan bahwa pada awal mula peradaban manusia sistem dan pengungkapan kepercayaannya masih sederhana.

Apakah unsur-unsur yang khas dari agama asli dan apa kriteria keasliannya? Bakker (1972: 1) mencatat bahwa terdapat beberapa sifat dari agama asli.

Sifat yang pertama dari keaslian ialah sifat lokal, yang berasal dari daerah itu sendiri, yang sejak dahulu ada di sini dan tidak diimportir dari luar. Sifat itu disebut autotochon sebagai oposisi terhadap allochton yakni yang tidak berasal dari tempat diketemukannya. Tetapi asal mula agama otokton itu terletak dalam zaman purbakala yang tidak banyak diketahui tentangnya.

Sifat kedua dari agama asli ilah tidak didirikan oleh seorang pendiri, melainkan tumbuh secara spontan dan anomim di tengah-tengah masyarakat setempat. Agama asli menjiwai hasrat sosial dan budaya yang berkembang dalam masyarakat dan mengarah ke penyempurnaan nilai-nilai dan sifat-sifat lokal.

Sifat ketiga dari agama asli ialah adanya pelaksanaan-pelaksanaan religi (upacara/ritus) menurut kepribadian suku bangsa sepanjang sejarahnya. Pada asli terdapat keyakinan bahwa sikap terhadap Zat Tertinggi berakar dalam ikatan dengan tempat hidup di bumi. Ikatan dengan bumi termasuk dalam modus essendi (caranya berada), keaslian merupakan eksistensi bagi manusia untuk mencapai tujuannya.

Demikianlah, Dayak Djo dalam agama aslinya lalu mempribadi –seperti juga agama-agama modern yang juga mempribadi. Bahkan, dalam keotentikannya, agama asli Dayak Djo sebagai “die Treue der Existenz zum eigenen selbst” (Martin Heidegger) mencapai puncaknya dalam sikap pemeluknya (manusia) terhadap ketuhanan.

Sifat otentik menuntut agar agama asli adalah penghayatan dari eksistensi jemaat dalam situasinya sebagai ethnic-cultural unit, menuntut prasyarat-prasyarat dari ekosistem: harmoni antara aspirasi rohani dengan alam sekitar fisik (habitat) dan alam sekitar hidup (biome) sebagai background dan seed-bed.

Dalam konteks sebagai ethnic-cultural unit inilah dapat dimengerti, agama asli Dayak Djo menjadi statis, terus-menerus bergerak mencapai keseimbangan, dan berdinamika sesuai dengan habitat, biome, background dan seed-bed.

Begitu misionaris Kristen Barat mengintroduksi doktrin Gereja Katolik dengan pintu masuk adat istiadat dan budaya setempat, agama asli Dayak Djo merealisasikan diri secara progresif. Tentu saja, setelah sebelumnya mengalami proses keseimbangan dinamis. Maka perlahan-lahan Dayak Djo merasakan bahwa Agama Katolik selaras dengan identitasnya, sehingga sukar untuk dilepaskan lagi.

Begitu generasi pertama lenyap, keselarasan identitas itu menjadi kekayaan yang diwariskan turun temurun. Dan memang demikianlah faktanya. Setelah Pemerintah Orde Baru menganjurkan warga Negara Indonesia memilih salah satu agama resmi yang diakui Negara, maka penganut agama asli Dayak Djo ramai-ramai masuk Katolik.

Akselerasi pertambahan Katolik di tanah Jangkang antara tahun 1949-1977 terjadi secara persentase tahun 1950 (29,5%) dari 457 Katolik menjadi 592 tahun 1951. Namun, secara kuantitas pertambahan terjadi tahun 1977 sebanyak 1.096, sehingga umat Katolik tanah Jangkang tahun 1978 sebanyak 9.533. Dan pertambahan ini terjai karena baptisan orang dewasa. Tahun-tahun berikutnya, pertambahan umat Katolik karena baptisan bayi.

Demikianlah, agama Katolik yang tadinya asing itu menjadi otentik dalam sebuah proses menyejarah dan berdinamika di tanah Jangkang. Katolik akhirnya menjadi agama otentik di antara Dayak Djo. Persis seperti yang dinyatakan Bakker, op.cit. hal. 4.

“Djuga bila agama berasal asing, dia baru otentik djika berakar dalam agam asli. Untuk ilmu perbandingan agama, inraccnatie sematjam itu sukar dipahami, sedangkan untuk theology jang mengakui adanya rentjana ilahi dalam agama-agama asli tidak merupakan soal. Untuk karya missi inraccnatie adalah syarat mutlak dan merupakan realisasi lengkap dari agama asli…. Djustru sekarang ini dengan pergeseran dalam adjaran Vatikan II dari uniformitas ke pluralitas, dari Geredja massa ke gereja lokal, saat sekarang sedia untuk menjawab challenge tersebut.”

Sistem Religi Dayak Jangkang
Bagaimanakah sistem religi atau agama asli Dayak Jangkang? (Skripsi S-1 saya di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang tahun 1988 berjudul Sistem Religi Suku Daya Klemantan: Konsepsi Mengenai Realitas Mutlak, Alam, dan Manusia. Dengan dosen pembimbing I, Dr. F. Wignya Prasetya dan pembimbing II Drs. Lucianus Simon Rande, skripsi setebal 137 halaman ini memutuskan istilah “religi” untuk menyebut kepercayaan asli Dayak Klementan (Land ayak) di mana Dayak Djo termasuk di dalamnya. Pandangan saya waktu itu dipengaruhi oleh pemikiran dan teori Koentajaningrat yang menurut pakar kebudayaan Indonesia ini ia sendiri justru dipengaruhi oleh filsuf, sekaligus bapak sosiologi, Emile Durkheim dalam bukunya yang terkenal Les Formes Ĕlěmentaries de la Vie Rěligieuse (1912).

Akan tetapi, dua dasawarsa setelah itu, setelah membaca dan mendalami buku Agama Asli Indnesia karangan J.W.M. Bakker, S.J. (diterbitkan Bagian Publikasi Puskat, Yogyakarta, 1972), saya justru sependapat dengan Bakker. Bahwa memang benar kepercayaan Dayak Djo adalah Agama Asli, sesuai dengan pengertian agama asli itu sendiri. Yakni “ekspresi dari sensus divinitas yang terpendam dalam jiwa bangsa Indonesia.”

Sebelum menjwab pertanyaan ini, baik kiranya dipaparkan lebih dulu mengenai bentuk atau ujud-ujud ekspresi dari sensus divinitas yang terpendam dalam jiwa Dayak Djo.

Dayak Jangkang tidaklah mempunyai tempat (rumah) pemujaan yang khusus yang dipakai secara kolektif. Menyediakan persembahahandan sesajian pun secara tidak rutin Saya memungut istilah ini dari J.W.M. Bakker karena memang sangat tepat dan sanggup menjelaskan fenomena dengan telak. Namun, Bakker tidak menjelaskan apa artinya. Sensus berasal dari kata Latin yang berarti perasaan, rasa, indera (K. Prent, 1969: 781) dan divinitas berarti ke-Tuhanan (K. Prent, 1969: 261). Jadi, sensus divinitas berarti: rasa akan kehadiran atau adanya keillahian.

Karena Dayak Djo sebelum misionaris Kristen Barat memperkenalkan Agama Katolik masih etnis yang primitif, maka mereka belum mempunyai sistem teologi yang bulat dan rasional untuk menjelaskan kepercayaan mereka. Kondisi ini tentu saja bertolak belakang dengan agama-agama modern yang jauh lebih siap baik dari segi doktrin, teologi, maupun strategi karya misioner yang sistematis dan metodis.

Justru di sinilah letak “kekalahan” agama asli ketika berinteraksi dengan agama-agama modern. Sehingga di dalam interpenetrasi, yang terjadi bukan hibrida, melainkan adaptasi dan akulturasi.

Ihwal kepunahan agama asli ini memang sudah dinubuatkan jauh hari sebelumnya (ilmuwan mengatakannya diprediksi). Fallding Harold, misalnya (McGraw-Hill Ryerson Limited, 1974: 183-204) menyebut proses kepunahan itu sebagai religious evolution. Mana agama yang berkembang dan mana yang susut, akan sangat bergantung pada apakah agama-agama tersebut dapat menjawab kebutuhan dan tahan terhadap guncangan badai zaman.

Tempat-tempat pemujaan di mana saja dan kapan saja. Yang paling lazim adalah tempat yang dianggap keramat, misalnya di gua, bawah pohon keramat,tanah tinggi, lahan perladangan, gerbang kampung, tembawang, tepi sungai, lubuk tertentu, atau belakang rumah. Waktu pemujaan kapan saja, bergantung pada kebutuhan. Pemimpin upacara tidak harus pria, kerap pula wanita yang dianggap cakap dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Menurut Koentjaraningrat (1974: 137142) terdapat perbedaan antara agama, religi, dan kepercayaan. Agama adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut semua agama yang diakui secara resmi di Indonesia, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu-Dharma, dan Buddha-Dharma. Religi yang biasa dipakai jika berbicara mengenai system-sistem yang tidak atau belum diakui secara resmi, seperti Konghucu (Konghucu ketika itu memang belum diakui sebagai agama/kepercayaan yang resmi di Indonesia. Jadi, Koentajaningrat memasukkannya ke dalam sistem religi), Advent Hari Ketujuh, Gereja Pinkster, Hindu, dan segala macam gerakan kebatinan. Sedangkan kepercayaan mempunyai arti yang khas, yakni komponen kedua dalam tiap agama maupun religi.

Dunia Dewa
Relasi dengan alam menjadi titik tolak Dayak Jangkang memandang penguasa alam raya. Sebagaimana telah disinggung, Penompa punya cara untuk berelasi dengan manusia. Ia mengirimkan utusan ke dunia ini untuk hidup dan tinggal bersama manusia dan pada saat diperlukan membantu mereka secara nyata.


Bab 4
Headhunting (Ngayau) dan Filosofinya

Headhunting di kalangan etnis Dayak, khususnya Dayak Jangkang, haruslah dilihat dalam konteks. Melepaskannya dari konteks, akan keliru besar, baik dalam pemahaman maupun dalam penilaian.

Dayak bukanlah etnis terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting. Masih banyak etnis lain yang melakukannya. Secara serentak, etnis Dayak mengakhiri ngayau tahun 1894, ketika diadakan musyawarah besar adat Dayak di Tumbang Anoi yang difasilitasi kompeni.

Mewakili daerah Jangkang menghadiri musyawarah Tumbang Anoi adalah Macan Talot dari Engkarong dan Macan Natos dari Kopa. Mengapa kedua macan (temenggung) itu yang diutus, agaknya berhubungan erat dengan posisi ketemenggungan, atau pemerintahan lokal, Jangkang pada saat itu.

Ngayau zaman dulu dilakukan saat padi sedang menguning. Hasil kayauan akan dipestakan bersamaan waktunya dengan gawai (pesta panen padi). Dayak Jangkang menamakan pesta menarikan kepala musuh ini Notongk. Notongk ditarikan (sonaja) sebagai satu rangkaian dari gawai itu sendiri. Ini gambaran suasana pesta gawai di Balai Ribant tahun 1940-an, penduduk bersukaria dan berdendang di ujung kampung. Sementara di samping tempayan tuak yang siap diminum bersama dengan menggunakan siongk (bambu kecil) untuk alat penyedot.

Akhir abad 18, pemerintahan lokal Jangkang dibagi dalam tujuh ketemenggungan. Karena ketemenggungan Engkarong adalah yang paling awal –keturunan langsung atau arkais dari migran pertama dari Tampun Juah, poya tona (tanah tumpah darah) pendiri kerajaan Sanggau, Dara Nante dan Babai Cinga— maka temenggung Engkarong yang paling dituakan. Ia menjadi primus inter pares dari enam temenggung lain, yakni ketemenggungan:
1) Kopa
2) Nsanong (Ensanong)
3) Tomok
4) Ndoya (Endoya)
5) Mpurangk (Poter)
6) Soguna (Mukok)

Talot sebagai macan Engkarong bersama Natos macan Kopa ditemani controleur dari Sintang berangkat ke Tumbang Anoi. Namun, di perjalanan controleur sakit (kakinya bengkak, bagi orang Barat kaki bengkak sangat berbahaya), lalu kembali ke Sintang lagi. Dengan demikian, hanya dua macan dari Jangkang yang menghadiri musyawarah Tumbang Anoi.

Saya setuju dengan J.U. Lontaan (1975: 533-537) yang mencatat setidaknya terdapat empat motif ngayau.
Pertama, melindungi pertanian.
Kedua, mendapatkan tambahan daya (rohaniah).
Ketiga, balas dendam.
Keempat, daya tahan bagi berdirinya bangunan.

Namun, saya menambahkan satu alasan ngayau lagi.
Kelima, ngayau adalah ujud pertahanan diri melawan serangan asing. Pertahanan diri ini tidak saja pasif (menunggu), tapi juga bisa menyerang (aktif atau preventif). Jika setelah dianalisis dengan perhitungan matang suatu suku atau kelompok akan menyerang atau mengancam, sebelum didahului, maka akan mendahului.

Ke dalam lima konteks inilah ngayau harus ditempatkan.

Etimologi dan Asal Usul Ngayau
Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi.

Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis. Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei - 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.

Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.

Apakah faktor yang menyebabkan pengayauan antarDayak ini terjadi?

Saling mengayau di antara sesama Dayak, sejatinya bukanlah semata-mata mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan dan kebanggaan sebagaimana selama ini dipersepsikan banyak orang. Alasan ini terlampau sederhana! Lebih dari itu, dilatari juga oleh nafsu balas dendam dan sebagai cara mempertahankan diri: menyerang lebih dulu sebelum diserang. Ini mirip dengan pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk perang).

Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam (mata ganti mata, gigi ganti gigi) merasuk dalam hidup orang Dayak.

Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum “mata ganti mata, tulang ganti tulang” segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.

Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti “musuh”. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, “… headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe….”

Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau berarti men¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.

Bai Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata “yao” yang berarti: bayang-bayang, mengahantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).

Namun, serta merta perlu diberikan catatan pada apa yang disebutkan perbuatan dan tindak-budaya ini. Kedengarannya aneh di telinga untuk saat ini. Namun, jika menyelami keyakinan etnis Dayak lebih mendalam maka kita akan segera menjadi mafhum di balik tradisi mengayau ini.

Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.

Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.

Prinsip bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi benar-benar diterapkan. Meski mengalami penyempurnaan dan penyesuaian, sisa-sisa praktik ini “mata ganti mata, gigi ganti gigi” ini masih diteruskan di Jangkang hingga hari ini.

Pasal-pasal hukum adat Kecamatan Jangkang masih terasa kental nuansa penuntutan atas pertumpahan darah ini. Terbukti dari diaturnya secara detail pasal-pasal yang menetapkan pengadilan atas perkara dari mulai yang terkecil kasus pertumpahan darah hingga mengakibatkan kematian, yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut dengan “Adat Pati Nyawa”.

Satuan untuk menghitung ganti atas pertumpahan darah unik, disebut dengan tael. Di masa lampau, menghilangkan nyawa manusia baik sengaja (misalnya tertembak waktu berburu) maupun secara sengaja maka si pelaku akan mengalami kesulitan membayarnya. Seisi keluarga dan sanak saudara akan turut terlibat membantu. Bahkan, bukan tidak mungkin sampai seumur hidup pelaku menunaikan kewajibannya membayar Adat Pati Nyawa.

Apakah Adat Pati Nyawa? Secara harfiah, pati berarti sari atau inti. Kata “pati” kerap muncul dalam bahasa Dayak dengan inisial dan pembagian Djo (lihat Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas, “Djongkang: A language of Indonesia” (Kalimantan) ISO 639-3: djo

Jadi, pati nyawa adalah pengganti nyawa yang hilang. Tentu saja, hukum pati nyawa ini tidak berlaku dalam ngayau. Dan hanya berlaku dalam keadaan normal saja, sebab pekik ngayau haruslah datang dari aump dan merupakan hasil dari permufakatan bersama.

Demikianlah, ngayau pun harus disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal bagi komunitas Dayak dan harus melalui hasil mufakat bersama. Disebut komunitas, karena suatu kampung biasanya menempati sebuah batang atau rumah panjang. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.

Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, di balik itu semua.

Orang luar yang kurang memahami secara mendalam filosofi dan latar di balik tradisi ngayau, sehingga menarik simpulan entimema: orang Dayak biadab, sadis, pemburu kepala manusia, dan headhunting. Tentang labeling bahwa Dayak adalah pemburu kepala manusia ini, Wikimedia bahkan mencatatnya sebagai “budaya” yang semestinya harus serta merta diberikan catatan bahwa itu adalah gambaran Dayak masa lampau. Perjanjian Tumbang Anoi yang difasilitasi Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan budaya ngayau ini. Di beberapa subsuku memang masih berlangsung, namun di Kalbar tradisi mengayau sudah berakhir pada sekitar sejak tahun 1938.

Toh demikian, Wikipedia yang tidak tahu sejarahnya masih mencatat demikian, “Headhunting was an important part of Dayak culture, in particular to the Iban and Kenyah. There used to be a tradition of retaliation for old headhunts, which kept the practise alive. External interference by the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo curtailed and limited this tradition. Apart from massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or the result of chance encounters. Early Brooke Government reports describe Dayak Iban and Kenyah War parties with captured enemy heads. At various times, there have been massive coordinated raids in the interior, and throughout coastal Borneo, directed by the Raj during Brooke's reign in Sarawak. This may have given rise to the term, Sea Dayak, although, throughout the 19th Century, Sarawak Government raids and independent expeditions appeared to have been carried out as far as Brunei, Mindanao, East coast Malaya, Jawa and Celebes. Tandem diplomatic relations between the Sarawak Government (Brooke Rajah) and Britain (East India Company and the Royal Navy) acted as a pivot and a deterrence to the former's territorial ambitions, against the Dutch administration in the Kalimantan regions and client Sultanates.”

Tidak mengherankan, dalam literatur dan laporan-laporan tertulis pada zaman kolonial, Dayak dicap sebagai suku asli Borneo yang tidak berkeadaban. Meski para peneliti dan ahli antropologi tidak memasukkan Dayak sebagai suku terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting, toh stereotipe sebagai pengayau masih melekat kuat minimal hingga kerusuhan etnis terjadi di Sambas pada 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Sambas dan kemudian merambat ke Sampit pada 18 Februari 2001.

Banyak orang melihat pertalian kejadian itu, meski sebenarnya berbeda dalam hal casus belli dan eskalasi. Akan tetapi, satu yang sama: solidaritas di kalangan etnis Dayak tumbuh menghadapi bahaya dari luar. Dalam konteks mempertahankan diri dan melakukan tindakan menyerang lebih dulu sebelum diserang ini, dapat dipahami latar dan filosofi ngayau.

Alasan Ngayau dan Filosofinya
Ngayau, sebagaimana juga mangkok merah, tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus melalui mufakat. Harus ada alas an kuat dan masuk akal untuk ngayau. Dari penuturan dan kesaksian para tokoh dan pelaku ngayau yang masih hidup hingga saat ini, dapat disimpulkan terdapat empat alasan mengapa orang Dayak ngayau.

Sebenarnya, masih ada motif lain di balik ngayau –dan ini jauh lebih penting— yakni upaya mempertahankan diri. Boleh dikatakan, motof mempertrahankan diri ini jauh lebih sering mengemuka daripada motif-motif lain.

Majang Desa: Ngayau Terakhir?
Boleh jadi, antara tahun 1941-1943 merupakan pengayauan terbesar dalam sejarah etnis Dayak Jangkang khususnya dan Dayak yang masuk ke dalam administratif swapraja dan neo swapraja pada umumnya.

Maklumat ngayau oleh panglima-panglima perang Dayak, sebenarnya dipicu oleh ulah saudara tua, Jepang, yang ingin menguasai wilayah Kalimantan Barat secara paksa.

Dalam upaya mendirikan Negeri Timur Jauh, Jepang memandang Pulau Borneo sangat strategis dari sisi letaknya sehingga menjadi incaran serius. Betapa tidak, Borneo merupakan gugusan yang sambung-menyambung dari utara ke selatan, yakni kepulauan Jepang, Formosa, Borneo, dan Celebes. Dalam Perang Asia Timur Raya, ada kecenderungan Negeri Matahari Terbit hendak menyatukan gugusan pulau-pulau tersebut menjadi sebuah wilayah kekuasaannya.

Kota-kota di sepanjang pantai Laut Cina Selatan seperti Sambas, Pemangkat, Singkawang, Mempawah, Sei Pinyuh hingga Pontianak amat strategis dan menguntungkan bagi Jepang sebagai benteng pertahanan dalam perang Asia Timur Raya. Pada masa pendudukannya, Jepang telah membentuk pemerintahan di Borneo Barat dengan membentuk tiga karesidenan dengan menambah wilayah baru, Kalimantan Timur dengan Samarinda sebagai ibu kotanya.

Borneo Barat pada waktu pendudukan Jepang di bawah pemerintahan Angkatan Laut (Kaigun) yang diberi nama Borneo Minseibu Cokan yang berpusat di kota Banjarmasin.Yang menguasai Jawa adalah Angkatan Darat (Rikugun) Jepang. Meski berbeda angkatan yang menguasai, toh tampuk kekuasaan berada dalam satu tangan yang lebih tinggi lagi, yakni Saiko Shikikan. Borneo Barat masih tetap berstatus Minseibu Syuu yang dikuasai Syuu Tizi. Nantinya, pemerintahan bentukan Jepang ini berakhir tatkala pada tahun 1945 digeser oleh pemerintahan bentukan Belanda, Nica.

Untuk melancarkan usahanya menduduki dan menguasai Borneo Barat, Jepang telah mendaratkan sejumlah warganya jauh-jauh dari sebelumnya. Seperti yang dilakukan Belanda dengan pembentukan VOC, demikianlah Jepang pun membuka perusahaan-perusahaan dagang di Borneo Barat.

Fukuyama yang dikenal dengan Fuku Company masuk jalur perdagangan perkayuan dan perkeretaan. Nakahara Fuji Company fokus pada perdagangan kelonong dan barang pecah belah. Nomur Trading Co bergerak dalam usaha onderneming karet dan perusahaanbesar. Honda adalah perusahaan yang menguasai toko potret dan usaha potret memotret. Sementara Sumitomo Kabushiki Kaisyo adalah perusahaan yang menguasai sawmill di Borneo Barat dan daerah lain.

“Sungkup” yang Mengerikan Itu
Maka mulailah sungkup yang mengerikan itu dilancarkan Jepang. Seluruh kaki tangan dan karyawan di perusahaan Jepang dijadikan mata-mata yang dapat memberikan informasi penting bagi penambilan keputusan. Sedemikian rapinya, sehingga mata-mata Jepang tidak dicurigai dan tidak diketahui sama sekali.

Hideki-Tojo, algojo sungkup di Kalbar. Inilah pemicu ngayau yang melibatkan Dayak Jangkang dalam penumpasan invasi Jepang yang lebih dikenal dengan Perang Majang Desa.

Mata-mata yang paling tidak disangka-sangka ialah didatangkannya para gadis langsung dari Negeri Matahari terbit. Mereka dijadikan pelacur-pelacur yang bertugas memata-matai. Umpan-umpan menawan ini merupakan kaki tangan Jepang, sumber informasi rahasia dan sangat penting dan tidak mungkin didapat langsung oleh pemerinta kolonial.

Di kota Pontianak, tempat pelacuran gadis-gadis Jepang ini terletak di Kampung Bali. Kini tempat ini menjadi terminal angkutan kota dan di sekitarnya masih terdapat bangunan-bangunan kuno dan toko-toko semimodern. Tidak sedikit dari pelacur-pelacur Jepang ini yang diambil oleh pejabat lokal, bangsawan, dan pedagang pribumi sebagai gundik.

Sementara itu, terhadap sisa-sisa kaum pergerakan yang anti-Belanda pun didekati Jepang. Bahkan, untuk itu, disediakan dana khusus untuk menerbitkan surat kabar yang diberi nama Borneo Barat Bergerak (BBB). Tokoh dan pejabat lokal yang berhasil didekati Jepang adalah Gusti Sulung Lalanang, Haji Abdul Rais, dan Rachman.

Akhirnya, saat rasionalisasi itu pun tibalah. Di bawah pimpinan Perdana Menteri Jepang, Jendral Hideki Tojo, Jepang melancarkan peperangan yang diberi nama Perang Asia Timur Raya. Perang besar ini dilancarkan Jepang dalam upayanya menguasai dunia.

Jendral Hideki Tojo (Hideki Tojo (30 Desember 1884–23 Desember 1948) adalah jenderal Jepang dan Perdana Menteri ke-40 Jepang (18 Oktober 1941-22 Juli 1944). Ia kemudian diadili oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh sebagai penjahat perang. Ia dinyatakan bersalah atas tuduhan berganda, dan divonis mati pada 12 November 1948, dan diganjar hukuman gantung.

Di bawah otoritasnya, hampir 4 juta orang Tionghoa terbunuh dan Tojo dianggap orang yang paling bertanggung jawab) sudah berketetapan untuk mengibarkan panji-panji matahari terbit di Kalimantan Barat. Untuk itu, diperlukan tindakan revolusioner dan radikal: generasi muda usia 15 tahun ke bawah harus tetap tinggal, mereka adalah generasi yang mudah dibentuk menjadi, atau minimal mau tunduk, pada Jepang.

Jepang melihat tidak ada usaha lain yang lebih cepat untuk melaksanakan maksud itu, kecuali tindakan pembunuhan massal atas semua penduduk Kalbar usia 15 tahun ke atas. Usaha ini dimuai dengan menangkap, menculik, dan menyekap, kemudian menghabisi penduduk secara kejam.

Di Kalimantan Barat, tindakan menghabisi penduduk yang dianggap melawan dan tidak sudi tunduk pada Jepang ini dikenal dengan “sungkup”. Yakni tindakan Jepang yang mula-mula menculik, lalu menutupi kepala korban yang kemudian dimasukkan dalam karung goni untuk seterusnya dihabisi tanpa kompromi.

Lokasi yang menjadi ladang pembantaian oleh Jepang adalah Mandor. Tak terhitung korban rakyat kebanyakan, namun tokoh lokal setempat memang tercatat “hanya” 48 saja. Ini pun menurut versi Borneo Sinbun, sebuah suratkabar Pemerintah Bala Tentara Jepang. Karena itu, perlu data dan informasi pembanding agar lebih berimbang.

Partisipasi Dayak Jangkang
Dalam konteks serangan luar biasa dari luar inilah, Dayak Kalbar tergerak. Maka pada 3 Mei 1944 dimaklumkanlah Deklarasi Angkatan Perang Majang Desa. Dari bulan April hingga Agustus 1944, terjadi Perang yang dikenal dengan Perang Madjang Desa di Embuan Kunyil, Kec. Meliau Kab. Sanggau.

Partisipasi Dayak Jangkang melawan pendudukan Jepang, barangkali tidak ada yang mencatatnya. Selain bukan sebagai sesuatu yang luar biasa, juga eskalasi dan pengaruh Jepang di wilayah Jangkang pada saat itu tidak terlalu kentara dibanding di kota. Akan tetapi, peran mereka sebagai pasukan cadangan strategis dalam konteks perang suku, tidak bisa dimungkiri.

Seperti dicatat Herman Josef van Hulten, salah satu tokoh Dayak Jangkang yang turut aktif dalam perang Majang Desa Adalah Aen. Aen adalah guru saya ketika kelas I Sekolah Dasar Bersubsidi di Jangkang Benua pada tahun 1968. Ia berasal dari Kobang. Masuk akal yang bersangkutan turut aktif dalam Perang Majang Desa, sebab sangat fasih kosa kata Jepang dan fasih jika menerangkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di luar kepala.

Ada dinek (semacam epik yang dilagukan, namun bertujuan mengobarkan semangat perang) yang hingga hari ini masih saya ingat.

“Sanggau, Meliau, Tayan, dan Jangkang. Berani makan hati Jepang”. Semacam ajakan agar para Dayak Sanggau, Meliau, Tayan, hingga Jangkang bersatu padu melawan dan mengusir Jepang. Kalau perlu, memakan hatinya, sehingga semangat dan keberanian semakin bertambah. Pada masa pendudukan Jepang, Dayak Jangkang banyak dikerahkan membantu perlawanan dan berjuang atas nama Majang Desa.

Tentara Jepang melakukan sikap berpura-pura terhadap kaum pergerakan (nissinkhai). Seakan-akan hendak membantu dan mau bekerjasama. Karena info dan issue dari para mata-mata, pada akhir tahun 1943 Jepang mengundang semua kaum pergerakan untuk menghadiri suatu konperensi yang diselenggarakan di Gedung Landraadweg (Jalan Jenderal Urip sekarang). Konperensi itu dihadiri oleh 500 orang utusan kaum pergerakan terdiri atas para pemuda, alim ulama, kaum wanita, Sultan Sambas, para pangeran dan para panembahan di seluruh Kalimantan Barat.

Dalam konperensi itu, Jepang mempergunakan wanita-wanita kaum pergerakan untuk menyelenggarakan konsumsi. Suatu tindakan yang menimbulkan marah luar biasa dari pihak Jepang terhadap kaum pergerakan ialah dimasukkannya racun-racun ke dalam minuman para opsir Jepang dengan maksud untuk membunuhnya. Walaupun maksud jahat tentara Jepang itu telah direncanakan sebelumnya, tetapi perbuatan meracuni itu telah menimbulkan kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Gedung konperensi itu tiba-tiba saja dikepung dan disekap tidak seorang pun dapat melepaskan diri. Tamu-tamu kemudian diangkut dengan truk dibawa ke suatu tempat dan tidak pernah diketahui lagi nasibnya. Dari peristiwa itu penangkapan dan pembunuhan semakin mengganas dilakukan. Siapa yang dipanggil atau ditangkap oleh Jepang tidak pernah kembali lagi.

Pada 21 Desember 1943, sejumlah 23 pemimpin pergerakan ditangkap dan dihukum mati dengan jalan disembelih. Puluhan orang lainnya mati dalam tahanan karena kekejaman dan kelaparan. Sejumlah 750 orang lainnya kemudian dibantai habis. Gerakan illegal pimpinan BJ Haga, Gubernur Kalimantan, merencanakan akan melakukan pembrontakan pada bulan Juni 1943 setelah pemboman tentara sekutu. Tetapi rencana itu diketahui Jepang sehingga Jepang menangkap dan menawan 275 orang yang dicurigai kemudian dimusnahkan seluruhnya. Gubernur Haga sendiri mengalami nasib yang lebih buruk.

Tindakan kekejaman dan pembantaian besar-besaran itu sebagian besar dilakukan di Desa Mandor. Setiap hari truk-truk Jepang hilir mudik sarat penumpang yang bersungkup kepalanya. Teriakan dan pekik jerit yang histeris sangat memilukan karena mereka sadar bahwa akhir hayat yang mengerikan telah menghadangnya di ujung jalan, yaitu di Desa Mandor. Itulah Mandor, tempat pembantaian pemimpin dan tokoh-tokoh rakyat yang ingin merdeka di negrinya sendiri, sehingga peristiwanya disebut Peristiwa Mandor. Untuk mengenangnya, pemerintah daerah Kalimantan Barat telah mendirikan monumen nasional dengan nama “Makam Mandor” dan peristiwanya diperingati setiap tanggal 28 Juni.

Rakyat yang dianggap tidak berdosa, dipekerjakan sebagai romusha untuk membuat jalan antarkota, membuat lapangan udara Sungai Durian, membuat sumur-sumur rahasia di berbagai tempat. Ada pula yang dipekerjakan di pabrik-pabrik tanpa mendapatkan upah. Mereka menderita kecapaian, kelaparan, dan juga serangan penyakit sehingga sebagian besar mati kelaparn atau mati karena menderita penyakit yang tak terobati. Lubang-lubang besar kecil yang mereka gali itu untuk penguburan masal termasuk bagi pembuat lubang sendiri.

Keluarga mereka yang ditinggalkan tidak terurus nasibnya. Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit itu isteri-isteri dengan anak-anaknya harus hidup tanpa nafkah suami. Perdagangan mengalami kemacetan total, produksi dalam wilayah Kalimantan Barat sendiri sangat tidak mencukupi untuk keperluan penduduk, garam, gula, tembakau dan juga beras aulit dicari apalagi bahan pakaian. Jika bahan-bahan itu kebetulan ada, penduduk harus antri untuk mendapatkannya sekalipun hanya untuk membeli singkong.

Dalam keadaan perekonomian yang sangat sulit itu rakyat masih dibebani dengan pungutan paksa akan barang-barang berharga. Emas permata yang dimiliki oleh ibu-ibu atau para remaja putri harus diserahkan kepada Pemerintahan Bala Tentara Jepang. Kalau tidak, dapat memperoleh hukuman yang cukup berat.

Terhadap kaum remaja dan anak-anak, Jepang memberikan perhatian khusus. Remaja dan anak-anak disayangi, diajar dan disekolahkan. Mereka diajar menyanyi, taiso, baris berbaris, perang-perangan dan berbahasa Jepang. Latihan mempergunakan senjata juga diajarkan terhadap renaja. Senjata bahkan boleh dibawa pulang ke rumah remaja. Mereka ini adalah calon-calon generasi nasionalisasi Jepang, calon tentara yang akan melanjutkan perang dan pertahanan.

Sikap Jepang Terhadap Suku Dayak
Jepang berhasil melumpuhkan semangat perjuangan masyarakat kota. Kini tiba gilirannya penduduk daerah pedalaman harus dihadapi. Daerah pedalaman dihuni oleh etnis Dayak. Suku ini telah memahami batapa kejamnya tentara Jepang menyiksa dan mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat. Para sultan dan panembahan mereka telah banyak dibunuh dan disiksa secara kejam. Benih permusuhan itu telah tertanam dengan kuat.

Maka, kini gilirannya kekejaman Jepang diarahkan pada pendduk pedalaman. Mengetahui gelagat demikian, orang Dayak pun mengatur siasat. Apa siasat itu?

Terlena dalam kemenangan demi kemenangan yang diraih tanpa adanya kekuatan yang sanggup mematahkan membuat Jepang terlampau percaya diri. Pasukan Jepang dan kaki tangannya terus merangsek masuk jauh hingga ke pedalaman. Tujuannya satu: ingin menguasai Kalbar seluruhnya. Menekuklututkan semua penduduk. Lalu menguasainya.

Di tengah-tengah keterlenaan itu, Jepang tidak menyadari jika para Dayak telah mengatur siasat. Tidak ada laporan mata-mata yang masuk jika penduduk asli Kalimantan ini siap menghadapi. Dengan membiarkan Jepang masuk rumah mereka, para Dayak sebenarnya telah membuat perangkap maut.

Toh demikian, Jepang tetap waspada. Tindakan preventif dilancarkan. Senjata orang Dayak disita dan dikumpulkan. Senapan lantak, sumpit, mandau, panah, tombak (burus), parang, dan senjata tajam lainnya milik orang Dayak diminta untuk diserahkan. Sayangnya, permintaan ini sama sekali tidak diindahkan orang Dayak.

Jepang lalu marah luar biasa karena permohonan mereka ditampik Dayak. Maka Jepang mulai bertindak tegas. Barangsiapa yang tidak mengindahkan perintah, akan ditindakdengan tegas. Terutama para kepala adat akan mendapatkan hukuman yang sangat berat kalau kedapatan menyimpan senjata dan terbukti melawan.

Merasa Jepang menyerang dan masuk rumah mereka tanpa permisi, para Dayak tak setitik pun dihinggapi persaan takut. Ancaman Jepang sama sekali tidak menciutkan nyali mereka untuk menyerah kalah. Sebaliknya, semakin mengobarkan semangat persatuan untuk melawan dan segera memukul mundur mereka.

Para pemimpin adat Dayak sudah mafhum bahwa tentara Jepang sangat haus akan wanita-wanita. Kelemahan ini coba dimanfaatkan. Ketika masuk daerah pedalaman dan pemukiman orang Dayak, tentara Jepang disuguhi tuak dan arak. Yang menyuguhkan para wanita Dayak yang saat itu rata-rata masih berpakaian tradisional, bersongket dan bertelanjang dada. Namun, para wanita ini tidak asal melayani. Mereka sudah tahu tugasnya. Di tengah-tengah mabuk kepayang oleh pesta dan cinta, tentara-tentara Jepang dihabiskan para lelaki Dayak. Mereka diayau dan menemui ajalnya di tangan para headhunters.

Demikian pun, dalam perang terbuka di hutan-hutan, Jepang tak pernah sekali pun memetik kemenangan melawan pasukan Dayak. Para penglima perang Dayak yang sangat menguasai medan, dengan mudah memukul pasukan Jepang. Di waktu siang, para lelaki Dayak tidak pernah kedapatan berada di rumah. Mereka selalu mengundurkan diri ke hutan-hutan. Jepang mengira bahwa mereka sudah habis.

Manakala pasukan Jepang mengadakan patroli, orang Dayak dengan cepat menyergap. Dibantu sesama Dayak baik dari Kalimantan seluruhnya maupun dari daerah semenanjung Melayu, Tumasik dan sekitarnya, orang Dayak bersatu padu melawan Jepang.

Ajakan minta bala bantuan dengan tanda mangkok merah telah beredar dari kampung ke kampung. Pekik perang dan perlawanan sudah sampai ke seluruh penjuru. Maka, datanglah secepat kilat pasukan perang Dayak dari suku Iban, Sungkung, Seribas, Kantuk, Punan, Bukat, dan lain-lain menambah kekuatan perang.

Tentara Jepang bukan saja kocar kacir oleh orang Dayak, tapi juga dipukul telak dan tidak berkutik. Memang nama Pangsuma tercatat sebagai panglima perang Dayak pada masa pendudukan Jepang ini.

Namun, sebenarnya, masih terdapat panglima perang Dayak yang lain selain Pangsuma. Yakni Pang Dandan dan Pang Solang. Nama mereka kurang dikenal, namun jasa-jasanya jelas tak dapat dinafikan.

Sementara dari tanah Jangkang, panglima perang Dayak yang terkenal adalah Panglima Kilat. Kisah-kisah heroik dan epos Panglima Kilat hingga dekade 1970-an, masih sering dituturkan pada anak-anak. Ia dilukiskan sebagai sosok yang gagah berani, kuat, kebal, dan suka menolong. Jika ada orang Dayak yang menyerukan bantuan, secepat kilat ia datang membantu.

Usai Perang Majang Desa, Dayak Jangkang dan sekitarnya merayakan kemenangan ngayau di Bonti. Waktu ini kepala-kepala suku daerah Sanggau berkumpul, berpesta, menari (taja) di antara kelapa-kepala musuh (Jepang).

Ngayau tidaklah merupakan keputusan sesaat, harus melalui permufakatan antarpemerintahan lokal. Maklumat ngayau haruslah datang dari ketua para macan.

Paddy is a staff of life. Padi bagian dari hidup dan kehidupan Dayak Jangkang. Dayak Jangkang tengah memanen padi di ladang. Mereka mengelola hutan sangat arif dan bijaksana, tidak boleh merusak hutan. Sebuah lahan yang sama baru boleh diladangi kembali dalam siklus 15 tahun. Jadi, tidak benar kerusakan dan pembakaran hutan dilakukan penduduk asli, tapi dilakukan pengusaha perkebunan. Orang Dayak tidak akan merusak sendiri kehidupannya. Mereka tidak akan membakar lumbung penghidupannya sendiri. Dalam bab tersendiri dibahas kearifan tradisional Dayak Jangkang dan tata cara serta upacara seputar pertanian.

Catatan: Mana bab lainnya? Sengaja tidak dipublikasikan dalam blog ini, karena menyalahi etika dan hukum. Pembaca yang ingin mendapatkan content selengkapnya, dapat memesan via email: masrisareb@yahoo.com dan akan dikirim secara print on demand, harga Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)dengan mencantumkan nama pemesan dan alamat yang jelas.

Bagian buku ini boleh dikutip, asalkan sumbernya disebutkan.

26 komentar:

prof mengatakan...

ini merupakan tulisan yang sangat bermanfaat untuk melestarikan budaya bangsa, khususnya budaya dayak. kalo boleh saya juga pengen tau tentang adat istiadat dayak jangkang...

Sabung Mualang mengatakan...

Tulisannya Asik. Kakek saya: Panglima Sengkuang dari Mualang, ada ikut perang lawan jepang lho dalam pasukan Majang Desa di Kampung Kunyil. Setelah Jepang Menyerah kalah, maka 6 buah tengkorak jepang dengan samurainya ia kembalikan melalui serah terima resmi. di buku kuning perang majang desa halaman terakhir. wah asyik banget lho tulisannya untuk sejarah. dari www.sengalangburongcommunity.blogspot.com

R. Masri Sareb Putra mengatakan...

Trims atas masukannya. Inilah salah satu tujuan saya postingkan bagian ini. Akan saya masukkan (insert) dalam naskah final nanti.

postinghttps://www.blogger.com/comment.g?blogID=5007358534897191493&postID=6680798108466486819&isPopup=true

Yohansen Borneo mengatakan...

Saya sangat tertarik dengan artikel ini. saya dari Ngabang...pengelola blog http://www.ceritadayak.blogspot.com kalo boleh saya minta ijin memuat isi artikel ini di blog saya... Terima kasih.. God bless You

Suni Aso mengatakan...

Tulisannya menarik sekali dan menginspirasi. ake dari warga Dayak Kenya Pampang Kaltim. mohon ijin mencopy tulisan iko'. Tiga tawai.

R. Masri Sareb Putra mengatakan...

Silakan dikutip, asal jangan lupa menyebutkan sumbernya. Dalam waktu dekat akan menjadi buku, tolong promo ya agar semua warga Dayak tahu kisahnya. Sekarang orang Dayak harus menulis ttg dirinya, sudah banyak orang luar (terutama Barat) menjadi Ph.D. karena meneliti etnis kita....

jalan kalimantan mengatakan...

Selamat Bung Masri atas terbitnya buku ini. Tentu buku ini berkontribusi sangat signifikan untuk masyarakat Dayak. Dinantikan karya-karya selanjutnya.

Saya tertarik juga bagaimana kontribusi agama resmi terhadap eksistensi kebudayaan Dayak. Karena di banyak tempat di kalbar, budaya Dayak itu sudah hampir hilang dan digantikan agama resmi, baik Kristen maupun lainnya. Jika bung punya tulisan tentang ini, sudilah membaginya kepada saya.

salam, maju terus

Mr. J mengatakan...

salam saudaraku..

saya Dayak Iban dari daerah Sarawak. Bila ingat sejarah lama bila Indonesia mengatakan Ganyang malaysia kita yang Sama aslinya di Borneo Dayak bergaduhan sesama sendiri.

Biar aja bila pemerintah mana pun yang berperang tapi tidak sekali kita di Borneo . Sarawak , Sabah , Brunei , Kalimantan . Kerana kita adalah Satu Darah yang asli sama Dayak.

salam kunjung dari Blogger Dayak Sea. (Iban) http://www.pengeRindu.com

Surya mengatakan...

Buku Menarik, dapat dibeli dimana ?Kebtulan istri saya orang Jangkang, tapi sulit sekali untuk mencari info tentang Dayak Jangkang.

Suryakelana.blogspot.com

Anonim mengatakan...

Right after practice you can find this does get easier and right after a handful of weeks you must
have the capacity to handle the weights additional comfortably.



My homepage - bowflex weights

Anonim mengatakan...

Within the box you might look for a preacher curl attachment, squat harness, leg press plate, 5-position foot harness, and an educational schooling DVD.


Also visit my web blog - Get the facts

Anonim mengatakan...

To workout in your own home calls for the same quantity of
discipline as about to a health club or fitness center.

Have a look at my homepage - additional reading

Anonim mengatakan...

So in essence you receive a 'rest' ever other spherical.



Also visit my blog post; Learn Even more Here

Anonim mengatakan...

When you are completed using your training session, you are able
to put the dumbbells while in the closet
and away from sight.

My web-site :: Report abuse

Anonim mengatakan...

Good examples of such are lifting weights
or doing arm lifts (bowflex is great for these).

My blog ... http://www.getfitnstrong.com/bowflex-dumbbells/fit-strong-bowflex-552/ Post Article Comments Name : EmailAddress : URL : Comments : Article Categories �

Anonim mengatakan...

Dumbbells and barbells, resistance tubes and bands, and workout devices can
all be used.

my web-site: dumbbell sets

Anonim mengatakan...

A pedometer can be a product that ordinarily rests at your midsection and counts the quantity of actions you're taking.

Also visit my weblog Report abuse

Anonim mengatakan...

After thorough consideration, I made a decision to acquire the 6-week trial.


My website ... Full Statement

Anonim mengatakan...

StairMaster stair climbers underline and highlight everything very good about efficient and productive fitness
devices.

My web-site :: bowflex selecttech 552 adjustable dumbbells

Anonim mengatakan...

Versatility workouts should be performed each day.


My page :: sit up bench

Anonim mengatakan...

It is really straightforward to have on an workout
kick and splurge on this big bit of exercise equipment, then get bogged down with work or eliminate the push.


my web blog; Getfitnstrong.com

Anonim mengatakan...

Well being specialists are all in agreement that coronary
heart charge training is usually a quite impressive indicates to expertise cardio-health and to drop pounds and monitoring your heart level is often a great way
to tell whether you are working out with the suitable stage or not.


My web-site - free weights for sale

Anonim mengatakan...

However it truly is nevertheless a lot mainly because it
can be much more highly-priced to obtain just about every weight independently however it
in fact isn't that terrible when you see that getting this set singly does price tag a lot more also it is really concerning the cost of a gymnasium membership even so the dumbbells will probably be employed for a longer period than a health and fitness center membership.

my web blog: bowflex dumbbells

Anonim mengatakan...

You could by no means pass up grip and unintentionally get hurt.


my web blog :: mouse click the following website page

Ardana Kusumawanto mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ardana Kusumawanto mengatakan...

salam kenal pak masri, saya ardan mahasiswa antropologi ugm, saya sedang riset tentang gawai adat didaerah sanggau, kalbar, melihat tulisan bapak ada hal yang menarik dan berhubungan dengan riset saya, yaitu photo pesta gawai di Balai Ribant tahun 1940-an, kalau boleh tau sumber photonya darimana pak? dan bisa ndak saya masukan dalam tulisan saya jika itu dari bapak, terimakasih dan mohon bantuannya