Selasa, 29 September 2009

KETIKA CINTA BERSALIB (novel)

Pengantar
Lama saya mangkir, tidak menulis novel. Padahal, karier kepenulisan saya justru diawali dari karya fiksi. Tatkala M.Djupri, Henri Supriyanto, dan Toto Sonata, para redaktur fiksi harian Suara Indonesia tahun 1980-an, hampir setiap minggu memberi ruang di rubrik "Seni Budaya" untuk puisi-puisi saya. Lalu, Basuki Soejatmiko dari Jawa Pos dan Busos menakar cerber saya laik-muat di media yang di Jawa Timur saat itu populer, lantas sastrawan senior yang juga redaktur budaya harian Surya, Julius Sijaranamual memuat cerber-cerber saya di Surya.

Terinspirasi novelis, sekaligus ilmuwan idola saya, Umberto Eco sang profesor semiotik Universitas Bologna, Italia,yang menulis novel --kemudian jadi film terkenal-- The Name of The Rose, saya menulis novel ini berlatar sejarah Katolik Sanggau, Kalbar. Sembari menyibak lembar-lembar daun lontar sejarah masa lalu, novel ini, harus diakui, memang bernuansa sejarah. Dari 9 jenis novel, ragam novel ini ialah hibrida historical novel dan roman-fleuve.

Ada pepatah, "Mengajar dengan contoh." Mahasiswa semester III Univ. Multimedia Nusantara yang mengambil mata kuliah wajib Creative Writing di akhir kuliah saya tugaskan menulis dan menghasilkan novel yang laik-terbit. Dalam konteks tut wuri handayani itu pula, saya terlecut menulis serial trilogi novel ini.

- Ketika Cinta Bersalib adalah satu dari trilogi novel. Dua lainnya:
- Ketika Cinta Berosario (mengisahkan konflik cinta dua remaja beda agama, sang dara harus memilih: tetap menguntai rosario, ataukah ikut agama pacarnya? Ternyata, sang dara memang menikah dengan pria idaman yang semula beda agama, namun akhirnya mengikuti agama yang ia anut. Rina, dara pelaku utama novel ini, tetap bisa mendaras untaian doa rosario. Puji Tuhan!)
- Ketika Cinta Berkorban (mengisahkan pengorbanan seorang ibu dalam sebuah keluarga Katolik, ketika cinta sang ayah harus berbagi dengan wanita idaman lain/wil).

Saya akan muat secara bersambung. Mulai dengan sepenggal dulu dari babakan buku yang pertama.
rmsp

RINGKASAN CERITA
Cinta milik semua anak manusia. Tak terkecuali Atunarang Embaloh yang, sejak masuk biara, ganti nama jadi Suster Andriana. Nama belia nan rupawan ini berujung dengan “Embaloh” karena waktu lahir, Sungai Embaloh sedang meluap, memuntahkan air bah.

Tumbuh jadi gadis menawan, Atunarang memikat tiap mata yang melihat. Ibarat mawar yang baru mekar, harumnya menyebar ke segala mata angin. Menebar pesona tak ada tara.

Bodinya tinggi semampai. Berkulit kuning langsat. Berjuta sukma tertambat padanya dan ingin memujanya. Atunarang menjalani masa SMA layaknya gadis biasa. Karunia multitalenta, membuat gadis itu dikerubungi banyak pangeran. Tak menghiraukan salah satu. Atunarang hanya menikmati dan menjalani hidup ini bagai sebuah permainan. Homo ludens. Manusia makhluk yang senantiasa bermain, sesuai lakon sandiwara!

Namun, babakan sandiwara hidupnya berubah jadi air mata, ketika menjelang EBTA, gadis manis itu ikut retret dipimpin Frater pujaannya yang juga guru Agama. Usai retret, Atunarang mengutarakan niatnya pada orang tua: tamat SMA, ia tak mau kuliah, tapi mau masuk biara…. Ibu setuju. Tapi Ayah mati-matian menentang rencananya. Dengan segala cara, Ayah mencegahnya jadi gadis berkerudung dan berjubah putih.

Tapi apa hendak dikata? Lulus SMA, Ayah yang otoriter memaksanya masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Dan naas. Ketika pulang dari menjenguknya di Surabaya, pesawat Adam Air yang ditumpangi Ayah lenyap di perairan Sulawesi.

Ayah tiada! Atunarang tentu bersedih hati. Namun, Tuhan mungkin memberinya jalan, agar Atunarang bisa kembali meniti jalan panggilan suci….

Atunarang pun berhenti kuliah. Namun, selama kuliah, ia telah meninggalkan titik-titik noda di kampus Unair. Rio, temannya kuliah dan karibnya waktu SMA, menodainya.

Namun, noda hitam masa lalu tak kuasa menghambat keinginannya masuk biara. Setelah mengikrarkan kaul kekal, Andriana ditugaskan menjadi kepala SD di bumi khatulistiwa, tepatnya di kota Sanggau.

Waktu akan menyembuhkan luka, dokter hanyalah merawat. Ya, waktu yang berlalu, akan mengatup luka dan stigmata yang sempat menoreh hati dan meluruhkan bunga kesuciannya.

Bulat tekadnya mengabdikan diri pada Tuhan dan bersumpah jadi pelayan setiap insan. Ia bercita-cita jadi suster yang suci, sebagai silih dan tebusan atas dosa-dosa masa lalu yang nyaris menyeretnya ke tubir yang gulita. Ia yakin, Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya merangkul dan sedia tiap saat membuka pintu tobat bagi domba yang mengetuk pintu maaf pada-Nya.

Di SD yang dipimpinnya, Suster Andriana melihat seorang anak mirip mantan kekasihnya. Andriana tidak mengira, kalau anak itu berasal dari benih Rio, kekasihnya semasa kuliah. Tidak mungkin! Ini tentu sebuah ilusi. Obsesi yang jadi bayang-bayang dan selalu mengejarnya ke mana saja akibat karma masa silam. Bukankah jarak bermil-mil serta waktu beribu minggu telah memisahkan mereka?

Ya, beribu minggu telah berlalu. Dan kini Rio benar-benar hadir di depannya. Mereka bertemu di Sanggau. Ternyata, pengusaha kayu kaya itu sengaja menitipkan anaknya pada nenek dan kakeknya di Sanggau lantaran ditinggal mati istrinya dalam sebuah tragedi kecelakaan pesawat Garuda di Jogjakarta.

Bisakah tali cinta yang kusut antara keduanya dirajut kembali? Tetap setiakah Suster Andriana pada panggilannya? Inilah metafora cinta bersalib. Andriana yang semula bukan Katolik, lalu jadi Katolik. Bahkan, memilih panggilan hidup sebagai biarawati. Dengan jalan ini, ia yakin pengabdiannya akan total untuk Tuhan dan sesama.

Menarik ceritanya. Diupayakan juga indah gaya bahasanya. Banyak pesan dalam cerita ini perlu dipetik hikmahnya. Pengarang yang juga sarjana filsafat itu tidak hanya piawai bercerita. Ia juga menggali makna di balik setiap peristiwa. Lalu menyarinya untuk pembaca. Menjadi sebuah kisahan yang tidak saja menghibur, tapi juga berguna. Di sini menjadi genap makna susastra: indah dan berguna (dulce et utile) seperti dikatakan pujangga Romawi kuna, Horatius.

Sebuah kisahan yang unik. Karena dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta ini mengambil setting peristiwa dan menetapkan tempat novel ini akrab dengan pembaca. Dalam menulis novel ini, ia melakukan studi pustaka. Referensi zaman kolonial dibukanya. Tahulah pengarang asal usul nama Sintang dan Sanggau. Menjadi mafhumlah dia mengenai kisah kepahlawanan tokoh Sintang dan Kalbar, Apang Semangai.

Latar sejarah dan lokasi novel ini terjalin dalam bingkai kisah asmara dua anak manusia. Yang satu suster biara, sementara yang lain awam, pengusaha kayu yang kaya. Ikuti kisahnya hingga tamat.

Selamat menikmati!


(1)
SUNGAI Kapuas.
Seberapa dalam airnya? Kala kemarau tiba, cuaca mencerahkan mata memandang onggok-onggok batu yang terhampar di tengah-tengah pusaran segara. Menahan laju air mengalir dari hulu. Dan ketika hujan dari langit tak juga kunjung curah, gerah bumi khatulistiwa kian parah.

Langit bumi khatulistiwa merah merona. Meluruhkan daun-daun ketapang. Mengeringkan sawah-sawah di Mempawah. Membuat Sintang jadi senentang antara Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Sanggau tak lagi hijau dengan rimbun daun-daun sangau (semacam rambutan, konon nama Sanggau berasal dari tanaman ini karena dahulu kala banyak pohon sangau tumbuh liar di pesisir Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas).

Kemarau telah memupus segala yang baik dan indah dalam sekejap saja. Ke mana hutan Borneo yang dijuluki sebagai hutan lindung dunia?

Pengusaha telah membabat habis belantaranya. Menyulap Borneo jadi lahan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri akasia. Sementara truk-truk di tepian Kapuas berjejer, siap mengangkut pasir ke kota dari para penambang perusak lingkungan.

Debit air makin surut karena tak ada lagi penyeimbang sebagai peresap dan penahan air. Membuat sungai Kapuas jadi kian dangkal. Sedangkal akal para pengusaha dari kota yang ingin mereguk nikmat sesaat. Merusak dan mencuri di siang hari rumah penduduk dengan segenap isinya.

Ah, betapa sulit kini menebak kedalaman air sungai. Pada zaman dulu, tak masalah melayari Kapuas dengan kapal motor dan tongkang. Mengukur kedalaman airnya dengan suar bambu. Sepanjang musim, air sungai mengalir tak pernah lelah. Tak ada riam-riam. Tak ada kiham. Juga tak ada hambatan dalam perjalanan.

Kini riam-riam Sungai Kapuas mengandaskan segalanya. Perjalanan. Pelayaran. Harapan. Dan juga, mimpi-mimpi!

(2)
Isi otak Suster Andriana siang itu melingkar-lingkar, bagai kisaran air Pancur Aji. Dari susteran, di ketinggian Sungai Liku, matanya terpanah ke tepian Kapuas. Katedral tampak berdiri anggun. Samar-samar pintu utamanya seperti tangan terbuka. Seakan mempersialakan siapa saja untuk masuk ke dalamnya.

Deru mesin motor meraung-raung seperti raksasa batuk, menyeretnya ke bongkah-bongkah kenangan masa silam. Barangkali beribu minggu telah lalu, sebelum ia tiba di Sanggau, kota tempatnya ditugaskan sekarang.

Ketika kakinya pertama kali menginjak bumi Borneo setelah resmi jadi biarawati, suster yang menjemputnya di bandara Supadio, menyuruhnya minum air Sungai Kapuas. “Kualat,kalau tada diminum!” kata rekan sekomunitasnya, setengah memaksa.

Maka Suster Andriana pun menenggak air Sungai Kapuas. Saat itu, ia belum tahu apa maknanya. Baru kemudian, setelah dihadiahi seseorang sebuah kaset lagu daerah Kalbar, Andriana tahu maknanya. Syair lagu “Sungai Kapuas” dalam bahasa setempat menjelaskan banyak, mengapa setiap pendatang baru di Borneo harus minum air Sungai Kapuas.

Sungai Kapuas punye cerite
Bile kite minum aiknye
Tak kan bise melupekannye....


Siapa yang pernah minum air Sungai Kapuas, tak bisa mengelak, dan ingin selalu kembali. Ia dihantui rindu selalu menyatu dengan bumi khatulistiwa. Seperti seorang bayi yang merasa nyaman di kehangatan pelukan ibunya. Demikian tiap pendatang baru rindu direngkuh perut bumi Borneo.

Cinta bumi khatulistiwa tak pernah jemu menebar pesona. Kalau hidup manusia ibarat garis-garis panjang, bisakah sebuah noktah putus, agar pupus kenangan masa lalu? Tidak juga! Bagaimanapun, masa lalu, meski hanya setitik, adalah bagian utuh sebuah kehidupan.

Memandang garis dan tiang-tiang awan bumi khatulistiwa, Andriana terkenang masa remaja. Tatkala cinta bisa menghalang segala daya dan coba memisahkan dua anak manusia. Ketika bunga-bunga sedang kuncup di tangkai ingin dipetik untuk segera dinikmati harum dan indahnya. Segera! Darah muda yang menggelora sering tak kuasa untuk dicegah.

Ya, mereguk manisnya cinta bagai memetik sekuntum bunga. Begitu tergenggam tangan, si bunga layu karena lepas dari tangkainya. Lepas tangkai dari pokok. Menjadikan bunga kering. Tak menarik lagi. Sirna semua indah dan pesonanya karena tersedot oleh radiasi tangan si pemetik.

Meski kerudung dan jubah putih membungkus jasadnya yang halus mulus, dan salib perak kemilau memendar cahaya pada dadanya, Suster Andriana tak kuasa menanggalkan sisi-sisi manusianya. Makin berusaha ia mengekang, makin angan-angan dalam membawanya masuk rentang waktu lalu.

Ah, mengapakah sosok laki-laki itu kembali mengisi relung-relung hatinya, saat ia coba bunuh semua kenangan bersamanya? Mengapa jiwa dan pikiran bisa menembus ruang dan waktu yang fana? Tidak seperti badan yang hanya bisa mengenali waktu sekarang ini dan di sini?

Semayup lagu kondan “Pantai Engkakal” yang dinyanyikan Rafael mengalun lembut dari tape recordernya. Seperti mengantarnya kembali ke masa lalu.

Sudah lama tidak ke hulu, Pantai Engkakal
Skarang ini ke hulu lagi, Pantai Engkakal
Sudah lama tidak bertemu, Pantai Engkakal
Skarang ini kita bertemu, Pantai Engkakal


Adakah rindu menyeretnya menatap kosong ke bawah, ke aliran Sungai Liku yang terus mengalir, tak pernah lekang oleh waktu? Mengapa bongkahan masa lalu seperti mendera-dera? Menyayat lagi luka lama yang kembali menganga, setelah sekian lama pupus, hangus diberangus sang waktu? Lalu, musna bersama mengalirnya air meresap ke terjal-terjal Pantai Engkakal. Mengalir, lalu kandas pada bongkah-bongkah batu riam Kapuas.

Atau memang demikiankah garis hidup yang mesti dijalaninya? Datang, pergi, silih berganti. Bagai aliran Sungai Kapuas?

Teringat Andriana kuliah anatomi yang sempat didalaminya di Universitas Airlangga, Surabaya beberapa tahun silam. Ia termasuk salah satu mahasiswa cerdas, dengan indeks prestasi tinggi. Ujiannya selalu summa cum laude. Tapi yang harus rela drop out dari fakultas kedokteran. Karena memilih meniti jalan panggilan dan mengikuti bisikan Tuhan.

Benar kata dosen mata kuliah anatomi dulu yang kini masih terngiang di telinganya. Manusia bukan hanya seonggok daging belaka. Ia juga lubuk misteri yang tak pernah sepenuhnya dapat terselami. Semakin manusia memahami siapa dirinya, semakin ia tak mengerti. Itulah sebabnya, di kuil Apollo di Delphi, gerbang kota di Yunani,tertulis ”gnothi seauton”. Peringatan agar manusia selalu mengenali dirinya. Dua kata yang sarat makna, kini jadi motto resmi dunia kedokteran.

Dan kini Andriana sedang bergulat dengan pencarian makna perkara siapa dirinya. Semakin mencari, semakin ia bersua tanya. Tak satu pun misteri hidup ini berhasil dicatatnya dengan pena.

Maka diletakkannya pena di atas meja. Serta merta ditutupnya catatan sekolah hari itu. Kini kantor telah sepi. Para karyawan Sekolah Dasar yang dipimpinnya, sudah pulang semua.

Perlahan ia bangkit dari kursi berwarna cokelat berukir yang merupakan pasangan pada sebuah meja besar khas seorang direktris.

Ia mengayun kaki ke arah jendela. Disingkapnya korden. Lalu menyapu pandang ke luar. Setumpuk pekerjaan di hadapannya telah membuat hatinya meloncat-loncat tak menentu. Bola matanya yang biasanya cerah, terbungkus lamunan. Ah, seandainya saja Tuhan mau melenyapkan obsesi yang selama ini mengusik hati dan pikirannya?

Sembari menggeliatkan tubuhnya yang mulai terasa pegal, Andriana meneliti kembali meja tulisnya. Di tempat semula, yang bertumpukan puluhan rapor, kini tinggal beberapa. Hanya beberapa buah saja lagi yang belum diambil oleh orang tua murid.

Lonceng bubar sekolah sudah lama berdentang. Tapi Andriana tetap saja bergeming dari ruang kantornya. Ia sangat mencintai pekerjaannya. Dan merasa sudah terbiasa dengan rutinitas. Mempersembahkan diri, waktu, tenaga, dan seluruh hidupnya untuk orang lain.

Semua itu adalah cita-citanya sejak kecil. Baginya, tidak ada kasih yang lebih besar, kecuali ikut ambil bagian dalam pengorbanan dan penderitaan Kristus, Sang Guru. Buatnya, kesetiaan pada tugas dan panggilan adalah nomor satu. Adakah kebahagiaan yang lebih sempurna, kecuali bahagia mengantar orang lain jadi bahagia?

Tetapi hari ini? Sepotong keraguan diam-diam menyelinap dalam dadanya. Ia seperti tengah diterjang arus Pantai Engkakal. Haruskah ia mengingkari kaul suci yang telah diikrarkannya? Mestikah ia melepas jubah dan kerudung putihnya demi seseorang?

”Selamat siang, Suster....,” gelombang suara tiba-tiba saja menggelegar dari balik pintu kantornya yang separuh menganga, disertai dengan gedoran halus.

”Silakan masuk!” jawabnya, sekenanya, tanpa betul-betul memandang siapa yang baru saja menyapanya.

”Srrrr!” Jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan kencang, ketika bola matanya menatap sosok pria yang kini berdiri persis di depannya. Andriana mengucek-ngucek mata. Seakan tak percaya pada penglihatannya. Lidahnya jadi kelu. Hatinya beku. Syarafnya seketika berdesir.

Dengan tatapan tak percaya, Andriana hanya sanggup mematung. Benarkah apa yang dilihatnya? Bukankah ini hanya fatamorgana? Tidakkah sebuah ilusi karena ia memang tadi merindukannya? Rio Dewanto Rinding Banua. Benarkah dia sosok yang kini sedang berdiri di depannya?

”K... kau?” Andriana hanya sanggup mendesis. Benar-benar ia tak memercayai penglihatannya sendiri. Realitakah yang diinderanya? Ataukah hanya fatamorgana?

”Ya, saya,” sahut Rio. ”Tidak menyangka kita bisa bertemu kembali, setelah sekian lama dipisah oleh batas dan disekat-sekat oleh kesewenang-wenangan dunia.”

Andriana menghela napas. Seakan-akan mengeluh. Mengapa laki-laki itu muncul lagi dalam lembar catatan kehidupannya, setelah sekian lama ia hapus? Mengapa ia menguntitnya ke mari? Apa yang dicarinya?

Andriana benar-benar terkejut. Hatinya masih tak percaya. Dipandangnya lamat-lamat laki-laki yang masih terpaku di depannya.

”Mengapa kau menatapku seperti itu? Seperti singa betina yang siap menerkam mangsa? Kau masih benci padaku, Atunarang Embaloh?” kata Rio, menyapa wanita anggun berkulit putih itu.

Dulu, demikianlah nama asli wanita cantik berjubah dan berkerudung putih dari Embaloh itu. Setelah masuk biara, dan mengikrarkan kaul perdana, Atunarang ganti nama menjadi Andriana.

”Eh... mmm, tidak!” sahut Andriana. Ia membetulkan kerudung putih yang separuh tersingkap. Membuat rambutnya yang hitam lebat bergurai dihembus angin yang bertiup lewat daun-daun jendela yang terbuka....


(3)
Sebelum merdeka, ayah Andriana pernah mondok di tempat yang sekarang menjadi areal Keuskupan Sanggau. Pada mulanya, Paroki Sanggau berasal dari Sejiram. Tahun 1909, Pastor Gonsalvus yang bertugas di Sejiram tiba dan menetap sebulan di Sanggau.
Pastoran Sanggau tahun 1930, yang kini berdiri gereja Katedral dan keuskupan.

Kehadiran Pastor Gonsalvus menarik para pemuda dan gadis Sanggau dan sekitarnya untuk bersekolah ke Sejiram. Menyaksikan gejala itu, tahun 1922, Mgr. Pacifikus Bos OFM Cap dan Pastor Eugenius sengaja datang ke Sanggau khusus mencari tanah untuk rencana mendirikan pastoran.

Lokasi yang dipilih saat itu adalah areal di atas Sungai Liku. Tiga tahun kemudian, 1925, Stasi Sanggau resmi berdiri. Namun, karena belum tersedia tempat, Pastor Cassianus sementara waktu mondok di rumah umat, Mong Seng. Pada 19 Mei 1927, dapur pastoran berdiri. Dan pada 8 Juli 1928 gedung gereja Sanggau untuk pertama kalinya digunakan.

Berarti sudah 80 kali kalender berganti, sejak para padri dan bruder Kapusin mendirikan gereja Sanggau. Adakah yang berubah selama rentang masa usia manusia itu? Suster Andriana tidak tahu persis. Yang ia tahu, panorama Sanggau kini memendar cahaya kemilau. Sejak berangkat ke kantor sekolahnya tadi, pikirannya menerawang jauh ke masa silam.

Katedral.
Ya, mengapa disebut demikian? Andriana ingat kembali kuliahnya waktu novisiat. Berasal dari kata Latin ”cathedra” yang berarti: gereja besar tempat tahta keuskupan. Jadi, setiap gereja disebut katedral, pasti ada uskupnya. Maka salah kaprah jika ada gereja, yang bukan Katolik, menamakan gerejanya katedral. Sebab, katedral hanya ada dalam tradisi dan kamus Gereja Katolik.

Andriana harus mengeraskan hatinya. Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan siapa pun. Termasuk di hadapan Rio, pria satu-satunya, selain papanya, yang selalu mengisi relung-relung hatinya.

Sebenarnya, Rio juga tidak kalah terkejut. Rina memang telah sering bercerita mengenai kepala sekolahnya. Tapi sama sekali Rio tidak menyangka, kalau Atunarang Embaloh yang dimaksudkan.

Selama ini, Rina hanya bercerita kepala sekolahnya baik dan sangat sayang padanya. Ketika ditanya, siapa namanya, Rina hanya bilang bahwa kepala sekolahnya disapa Suster Andriana.

”Jadi... kau telah lama rupanya bekerja di sini?” tanya Rio. ”Ternyata bumi hanya selebar daun kelor. Buktinya, kita bertemu lagi, setelah sekian lama berpisah.”

Andriana mengerutkan kening. Di luar dugaannya. Rio telah mengamati dengan saksama gerak gerik dan tingkah lakunya. Ia tak bisa menyangkal kenyataan yang kini sedang dihadapinya. Bumi memang hanya selebar daun kelor. Nyatanya, mereka kini berjumpa lagi, setelah sekian lama dipisah jarak dan disapu waktu.

Di luar kemauan dan kesadarannya. Lelaki yang telah lama ia benam namanya ke dasar laut, kini justru hadir kembali. Nasib, ataukah takdir, kalau sesuatu tanpa dikehendaki datang begitu saja tanpa diundang?

Bagaimanapun, kenyataan harus dihadapi, bukan dihindari. Andriana coba meneguhkan hatinya. Aku harus bisa mengatasi persoalan ini. Ia bertekad dalam hati.

Tetapi gunung es mana di muka bumi ini tak kan cair dibakar sinar matahari? Seperti hati Andriana yang lama beku. Akankah sepotong hati itu cair diterpa hangatnya rona-rona cinta yang terpancar dari bola mata pria yang kini menatapnya?

Ia coba kuatkan hati menerima segala fakta. Andriana sadar. Lelaki itu tak berubah sama sekali. Sorot matanya yang tajam dan bening, masih seperti dulu.

”Kamu masih seperti Atunarang yang dulu kukenal. Sulit ditebak, tapi selalu menebar pesona yang sulit dlukiskan dengan kata,” kembali Rio menggoda wanita itu. Walau nadanya seperti melucu, kata-kata itu bagai petir menyambar di siang hari. Membuat lidah Andriana kelu, tak bisa berkata-kata.

”Hm....” Andriana mengehela napas panjang. Dengan sapu tangan, diusapnya butir-butir keringat yang mulai mengucur di dahinya yang halus mulus. Aura biara telah membuat wanita itu tampak bagai madonna. Bersih. Sebersih bunga teratai. Meski pernah tumbuh di kolam penuh lumpur dan kotor, tetaplah si bunga teratai menebar keindahan dan kesucian. Putih bersih. Indah berseri-seri.

Ya, bongkah-bongkah masa lalu Andriana persis teratai. Pertemuannya dengan Rio sebagai mahasiswa Unair, membuatnya tercemar. Tumbuh di kolam berlumpur menjadikan si teratai sempat tercemar akar dan daunnya. Bagai sebuah penjara yang mengurung jiwa manusia yang hakikatnya bebas mengelana. Dapatkah manusia menjawab teka teki semesta, jika padanya hanya diberi seonggok otak untuk memilah, mana yang baik dan buruk? Sementara yang baik dan buruk itu bisa saja berbeda di mata Sang Pencipta?

Itu mimpi buruk masa lalu. Sudah dikuburnya dalam-dalam, tenggelam bawah batu nisan buaian kedamaian biara. Tapi kalau bukan bagian dirinya, mengapa kenangan itu kini terkuak kembali?

”Kamu masih seperti dulu, Rio. Suka mempermainkan perasaan orang,” akhirnya suara lirih itu meluncur dari mulut Andriana.

”Ah, tidak juga!” sahut Rio seperti kebingungan. ”Apakah prinsipmu yang dulu pernah kau utarakan, masih berlaku sampai hari ini?”

”Prinsip mana yang kau maksud?”

”Kau menutup pintu hati bagi kehadiran lelaki mana pun. Termasuk aku?”

Mendengar pengakuan Rio, Andriana tercenung. Ditatapnya rumpun-rumpun melati. Tetap indah dan setia menebar wangi. Kutilang di ranting-ranting mahoni pun setia bernyanyi. Hati Andriana pun turut bernyanyi-nyanyi.

Sekejap, dan hanya sekejap. Desiran cinta anak manusia sempat membuatnya terkesima. Lupa pada Dia, asal segala cinta.

”Allah Yang Maharahim, aku mencintai Engkau lebih dari segala sesuatu,” seakan telinga Andriana mendengar ”Doa Cinta” yang sedang didaraskan dari kapel biara. Pukul 12.00, tengah hari. Doa Angelus. Cinta Yesus menariknya masuk jauh ke dalam prahara cinta dunia.

Dalam ketermanguannya, Andriana masih menyebut nama Bunda Maria, Madonna. Ibu dari segala ibu. Biar lara sukma. Masih ingat dia ibu Tuhan. Biarlah segala beban dan persoalan yang ia hadapi tumpah ruah di haribaan Tuhan. Sebab, besar kasih setia-Nya bagi orang yang berseru. Meski seruan itu diucap dalam lembah kekelaman.

Matahari yang diam, larut dalam gelinding bola bumi. Di ufuk barat, langit khatulistiwa merah merona. Diam-diam, ada yang terasa damai merasuk dalam jiwanya. Andriana bergetar. Kalau dawai gitar yang bergetar, ia tahu siapa pemetiknya. Tapi jika hatinya kini yang bergetar, siapatah gerangan sang pemetik?
***


Entah berapa untai doa ia lambungkan dalam dada. Berapa juta pinta ia naikkan pada Bapa. Nyatanya, Andriana hanya sanggup diam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu. Pada siapa ia mengadu? Tembakan Rio tepat sasaran yang mematikan. Bahkan, getar-getar hatinya makin terasa kuat membakar. Membuat detak-detak jantungnya berpacu lebih keras.

Makin ia menenangkan diri, makin dirasanya getar-getar kian berpendar. Menjalar dari pori-pori hingga sendi-sendi. Cintakah yang kini menggelora dalam dada? Ia tak tahu jawabnya. Andriana tak mengerti. Ia merasa hampa di antara teka teki semesta.

Ya, manusia hanyalah sebuah noktah kecil di antara berjuta rahasia semesta. Dan kebisuan di ruang kepala sekolah itu hendak menyibak satu babak rahasia cinta anak manusia. Ternyata status dan profesi, tidak serta merta membunuh perasaan manusia sebab esensi manusia sebenarnya sama.

Seberkas cahaya menyelinap merasuk hati wanitanya. Rio senyum penuh makna. Dengan tawa yang ditahan, ”Aku ke sini mengambil rapor anakku, Rina.”

Rindu yang berpacu dengan waktu, menemukan kembali senyawanya. Dan setiap pergantian detik kini menghembuskan napas-napas cinta. Raungan klakson bus Damri jurusan Pontianak-Sintang di jalan raya sama sekali tidak mengusik suasana. Dua anak manusia tenggelam dalam alam pikiran dan masa lalu.

Rio tidak langsung masuk ke inti pembicaraan, tapi Andriana coba menebak apa isi lubuk terdalam hatinya saat ini. Oh, oh. Kesewenang-wenangan nasib! Mengapa tauke besar seperti Rio harus datang sendiri mengambil rapor anaknya? Bagi pebisnis seperti dia, waktu adalah uang. Time is money.

Sederet pertanyaan seperti tak habis-habisnya mengalir dari kepala Andriana. Mengapa lelaki itu datang lagi merasuk hidupnya yang damai sejahtera dan mengusik ketentraman jiwanya? Mengapa? Ya, mengapa? Apakah ia sengaja menyiksaku dan belum puas dengan segala penderitaan yang pernah kualami?

Di dunia yang fana, mustahil menemukan jawab semua rahasia semesta. Ya, tidak setiap tanya bersua jawab. Sering di antara dua manusia yang mencinta, terbentang jembatan khayal yang sanggup memutus kebuntuan. Yang bisa merajut-rajut tali kusut yang putus oleh sekat dan masa waktu.

Mendadak Andriana merasakan denyutan keras menghunjam kepalanya. Telah berapa lamakah mereka dipisah oleh jarak dan waktu? Seribu tahun? Oh, oh, tidak! Belum selama itu.

Bukan, bukan seribu tahun mereka berpisah. Bola dunia baru menggelindingkan waktu sewindu. Delapan tahun. Dan dalam perputaran waktu itu, rupanya Rio sudah menjadi suami dan ayah. Suami dari wanita manakah Rio? Aku tah tahu jawabnya, pikir Andriana. Tapi ayah dari siapa, aku tahu, bisik hati Andriana. Rio adalah ayah Rina, muridnya.

Hadir lagi di ruang mata Andriana sosok dan wajah Rina. Rina salah satu murid kesayangannya. Anak itu manis sekali. Rambutnya yang legam, selalu terkepang dua. Ia agak pendiam, tapi jika bicara, urut benar kata yang diucapkannya. Sorot matanya menunjukkan kecerdasannya. Ia anak gadis berlesung pipi. Jika bibirnya menyungging semyum, aduhai manisnya. Tahi lalat samar-samar yang menempel di bibir tipisnya, membuatnya makin mempesona.

Dipandang sekilas, sama sekali tidak ada kemiripan antara Rina dan Rio. Oleh sebab itu, sejak semula, Andriana sama sekali tak pernah menaruh syak wasangka bahwa Rina adalah anak Rio. Sekali-sekali tidak! Tapi naluri wanitanya seperti magnit yang terus menarik-nariknya untuk selalu dekat dengan anak itu.

Kalau begitu, tentu Rina mirip dengan ibunya. Di manakah ibunya? Mengapa bukan ibu yang mengambil rapor Rina?

”Kamu ke sini hanya untuk mengambil rapor Rina, bukan?” akhirnya Andriana melepas kata-kata. Sarat dengan makna dan terasa tajam menusuk dada Rio.

”Ya..., ya!” kata Rio seperti kehilangan akal. ”Dari dulu, kau selalu memojokkanku dengan pilihan yang sulit.”

”Ya, sekarang aku kepala sekolah di SD ini.”

Suster Andriana mencoba menenangkan dirinya. Percuma belajar psikologi kalau tidak bisa membenamkan perasaan ke dasar agar tak mencuat ke permukaan. Ia berusaha menempatkan diri sebagai kepala sekolah yang berhadapan dengan orang tua murid. Bukan hubungan seperti pria-wanita. Apalagi hubungan masa lalu antara Atunarang Embaloh dan Rio Rindang Banua.

Meski telah berusaha menekan perasaannya, dengan gemetar Andriana menghampiri tumpukan rapor yang tersisa. Diambilnya sebuah. Lalu menyerahkannya pada Rio. ”Rapor anakmu!”

Rio membolak-balik rapor Rina. Dengan saksama diamatinya angka-angka. Semuanya di atas rata-rata. Berarti, standar kompetensi sekolah jauh dilampaui Rina. Benar kata Suster di depannya, Rina adalah anak cerdas.

”Kata-kata Suster sungguh benar. Nilai Rina bagus-bagus. Terima kasih atas bimbingannya selama ini!”

„Kami tidak mengajar, hanya menggali potensi. Dari asalnya, anak itu sudah cerdas.”

”Ah, Suster terlalu memuji. ”

”Bukan memuji, nyatanya begitu.”

Haru biru mengisi ruangan kepala SD yang terletak di Jalan Sudirman Sanggau itu. Pohon-pohon cemara yang berjajar di sepanjang jalan meluruhkan ranting dan daun-daun kering. Burung-burung gereja melayang-layang di naungan gemawan. Lalu menukik ke bawah dan bersembunyi di bilik-bilik atap Gereja Katedral.

Khawatirkah Andriana pada masa depan? Tidak! Ia sama sekali tak ngeri menghadapi masa datang. Ia justru takut pada masa lalu. Takut pada bayangannya sendiri. Andriana memang berlari ke muka, namun matahari khatulistiwa selalu mengejar dan membayanginya. Dan bayangan itu adalah Rio!

Klakson dari arah Jalan Sudirman kembali meraung-raung. Kali ini bukan berasal dari bus Damri. Tapi dari sebuah mobil mercy yang telah lama parkir di luar. Menunggu Rio mengambil rapor anaknya.

Belum sempat Rio bercerita mengenai ibu Rina. Dan belum sempat meluncur pertanyaan dari mulut Andriana mengenai siapa wanita tambatan cinta terakhir Rio, waktu yang iri telah berlalu.

Waktu, demikian penyair Romawi kuna, Horatius, tak ubahnya bagai wanita yang cemburu. Seperti wanita yang cemburu, waktu selalu memisahkan dua manusia yang saling menyinta. ”Carpe diem!”, kata Horatius dalam bukunya Odes yang terbit pada tahun 23 sM.

Dan kini waktu yang cemburu memisahkan Rio dan Andriana lagi. ”Saya buru-buru, telah ditunggu rombongan.”

”K...ke...?” suara Andriana terbata-bata.

”Ke Sintang, studi kelayakan. Perusahaan kami hendak membuka lahan baru bagi perkebunan kelapa sawit. Di Ketapang, kami sudah buka usaha kayu. Mau diversifikasi.”

”Kamu jadi pengusaha tampaknya,” cetus Andriana.

”Kecil-kecilan,” jawab Rio. Sekejap tubuh pria tampan itu lenyap bagai bayangan. Oh, matahari khatulistiwa! Oh hati yang lama mendamba!

”Aku nanti sering lewat jalan ini dan pasti selalu mampir ke sekolah Rina. Rina tinggal sama nenek dan kakeknya. Aku sendiri sering bolak balik Jakarta-Surabaya-Pontianak. Dan bisa jadi, suatu saat benar-benar menetap bila jatuh dalam pelukan cinta bumi khatulistiwa.”

Hm, Rio, pikir Andriana. Dari dulu selalu mengumbar kata cinta. Tapi bagaimana tentang ibu Rina?

”Sampai lain waktu, saya sudah ditunggu. Kami menguber waktu, agar tak sampai gelap tiba di Sintang. ”

”Baiklah,” jawab Andriana sambil matanya tak putus memandang lelaki itu sampai masuk ke dalam mobilnya.

”Tolong jaga dan perhatikan Rina!” pinta Rio sebelum menutup pintu mobil.

Andriana hanya mengangguk. Dalam bayang-bayang matahari khatulistiwa, matanya tak lekang menatap rumah berjalan yang membawa masa lalunya itu menyusuri tepian Kapuas setelah berlabuh sejenak di Pantai Engkakal. Bola matanya terus membayang-bayangi masa lalunya yang pergi, setelah sejenak menambatkan hati.
***

DI kapel biara.
Sore itu, lagu Magnificat seperti menggetarkan hati Suster Andriana. ”Magnificat anima mea Dominum....” Jiwaku memuliakan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, Penyelamatku. Sebab Ia memerhatikan hamba-Nya yang dina ini....

Lagu pujian Bunda Maria, tatkala rumahnya dikunjungi Elisabeth ibu Yohanes Pembaptis, yang selama ini selalu menentramkan hatinya di kala lara, bagai menguap begitu saja. Sirna disapu oleh deburan sungai Kapuas. Lalu bersatu padu jadi abu, tatkala Sungai Liku bersekutu dengan Sungai Kapuas. Dan segalanya jadi api, tatkala solar dibakar mesin motor yang melintas di ruas-ruas jalan menyusuri Sungai Kapuas.

Sayup-sayup bunyi mesin motor sembilan PK dari Pancur Aji berpacu dengan deru mobil yang melintas di bawah. Andriana khusuk dalam ibadat vespere (doa sore rutin bagi para biarawan-wati).

”Jaga dan perhatikan Rina!” terngiang-ngiang di telinganya kata-kata Rio. Tadi siang, sebelum lelaki itu pamit, kata-kata itu berkali-kali diucapkannya.

”Kenapa saya mesti menjaga Rina? Mengapa bukan ibunya? Ke mana ibu Rina?” seuntai tanya yang belum bersua jawaban kembali menyelinap.

Andriana menggenggam rosario erat-erat, kendati ibadat sore suster-suster sekomunitas telah selesai. Dinaikkannya doa ke surga, semoga ia selalu setia menapaki dan tetap setia jalannya.

Lampu kekal yang memancar dari tabernakel seperti menyendandungkan keabadian. Sinarnya menembus sekat ruang dan waktu. Dan di atas tabernakel, corpus Christi yang tersalib merentangkan kedua tangan-Nya yang terpaku. Namun, mata Andriana seakan melihat Yesus yang tersalib itu justru sedang mengulurkan tangan-Nya.

”Aku perlu tanganmu untuk menolong dan meneruskan berkat. Aku butuh kakimu untuk memberitakan kabar sukacita. Aku juga butuh hatimu untuk menyinta!" seakan begitu Yesus menyapanya.

(4)
Dan seketika roda waktu merengkuhnya kembali ke masa lalu. Hidup lagi penggalan film masa lalu. Ketika benih panggilan yang hanya sebesar biji sesawi itu semayam tumbuh di hatinya. Bibit panggilan yang mulai bersemi ketika SMA, saat ia ikut retret yang dibimbing Frater pujaannya.

Ia ingat masa SMA yang penuh pesona. Gita cinta yang kini kembali menganga. Dan setelah retret, Andriana mengutarakan niatnya pada orang tua. Ibu setuju. Tapi ayah sangat menentang rencananya masuk biara.

”Selama ayah masih hidup,” kata ayahnya berkali-kali. ”Ayah tidak setuju kamu masuk biara!”

”Kenapa?” tanya Andriana.

Percuma mendapatkan jawaban dari ayah. Sebab ternyata ayah tak pernah sudi menjelaskan keberatan-keberatannya.

Sejak itulah hubungan antara Andriana dan ayah mulai renggang. Dengan terpaksa Atunarang Embaloh, namanya waktu itu, menuruti kemauan ayah masuk fakultas kedokteran setamat SMA. Demi ayah yang ia cintai, Atunarang terpaksa melepas keinginannya masuk biara.

Yang ia terus ingat, ”Selama ayah masih hidup, kamu tak boleh masuk biara.” Jadi, kalau begitu, bukankah masih ada celah baginya masuk biara? Yakni kalau ayahnya….?”

Ah, ah! Andriana segera menghapus bayangan buruk itu. Dilema baginya. Ia tak mau ayah lekas-lekas meninggalkan dunia fana di satu pihak. Tapi ia juga ingin segera masuk biara di pihak lain.

”Tetap saja fokus pada ujian SMA dan pada keinginan ayah agar kau jadi dokter,” begitu ayah selalu mengulang kata-katanya.

Dan kini betapa lekasnya waktu berlalu. Merampas masa remajaku, bisik hati Atunarang. Senyampang masih remaja, aku puas-puaskan hari-hariku. Dan demi ayah yang otoriter, akan kutunjukkan bahwa aku juga punya pendirian, tekadnya.

Sejak itu, Andriana seakan punya kepribadian ganda. Di satu pihak, ia penurut dan lemah lembut. Tapi di pihak lain, ia tegar dan keras kepala.
***


(5)
DELAPAN tahun lalu.
Di kota Khatulistiwa, Pontianak. Rio dan Atunarang Embaloh biasa berkeliling kota dengan sepeda motor. Pesiar ke Pasir Panjang, sembari menikmati indahnya desir angin Laut Cina Selatan.

Pemandangan paling indah di kala senja. Waktu lautan hendak menelan rona kemerah-merahan bola matahari. Manakala sang surya hendak menyentuh titik horizon, segalanya tampak bagai zamrut merah merona di atas bumi khatulistiwa.

Sinarnya yang mulia memendar ke mana-mana. Memantulkan lewat permukaan air laut kemilau cahaya Sang Maha Indah. Adakah cinta anak manusia seluas samudera? Yang tetap membuka hati bagi datangnya segala asa lewat tampungan muara sungai segala lara?

Segalanya bagai surga bagi hati yang sudi membuka kisi-kisi cinta. Ketika surya memantulkan nyala ke titik nadirnya kembali, seakan tersirat di sana janji pasti untuk terbit lagi esok hari. Siapa manusia bisa setia seperti matahari? Matahari tak pernah berjanji, tapi selalu muncul tiap pagi?

Dan pantai Pasir Panjang tetaplah misteri. Sebuah buku berisi lembaran-lembaran kosong yang harus diisi catatan anak manusia. Bagai legenda tua yang terus meningatkan, betapa kekuatan cinta tak pernah surut oleh sang waktu. Tak pernah mati, meski jarak dan waktu coba memisahkan. Oleh hereditas dan pilihan profesi.

Bukit-bukit kelapa membiru. Pepohonan cemara meriap-riap. Dan mengalir sungai-sungai, lalu bermuara pada samudera.

Semua serasi, menyenandungkan nyanyi semesta. Untuk semesta, ya untuk semesta ini manusia ada. "Aku akan penuhi isi dunia ini dengan sepasang anak manusia. Biarlah menguasainya. Dan jadi hiasan dan menguasai segala makhluk di muka bumi." Demikian seperti tertulis dalam Kitab Kejadian.

Selalu saja kata itu tak pernah lekang oleh sang waktu, meski sudah beribu, bahkan berjuta tahun lalu difirmankan. Bukankah setiap pasang anak manusia yang kasmaran merasa bahwa hanya mereka yang memiliki dan menguasai dunia ini? Seperti Rio dan Atunarang Embaloh kini. Dua sejoli yang sedang bermain-main di antara gemuruh ombak samudera cinta. Seakan tak peduli pada dunia yang terus berputar mengelilingi peredaran waktu.

Benarlah kata penginjil. Pada awal mula adalah sabda. Sabda itu bersama-sama dengan Allah dan sabda itu adalah Allah. Pada permulaan ada cinta. Cinta itu datangnya dari Allah. Dan cinta itu karunia Allah.

Akan tetapi, cinta pula yang menjerumuskan manusia ke tubir dosa. Hawa cinta pada bujukan ular yang menggodanya. Lupa bahwa cinta telah mengingkari cinta sejatinya pada Allah. Segala kesenangan dan kenikmatan duniawi telah menyeretnya ke alam fana. Akan halnya Adam yang tak berdosa pun, karena cintanya pada tulang rusuknya sendiri, akirnya turut larut dalam tubir dosa.

Itu hakikat dosa yang sebenarnya: menampik cinta Allah. Menduakan cinta-Nya, dan berpaling pada cinta lain yang penuh kepalsuan dan kefanaan.

Maka, dosa sesungguhnya ialah melawan cinta. Dan kini kedua anak manusia itu tengah mereguk titik nikmat indah cinta Allah yang dihembuskan lewat tarikan napas kehidupan. Hanya sehirup. Tapi cukup buat memindahkan isi dunia ini, kecuali mereka berdua.

Pohon-pohon pinus yang berdiri berjajar dan angkuh, seakan turut merasakan getar-getar kebadian bernama cinta. Betapa batu karang pun rela dihempas deburan ombak yang tak jemu-jemunya bergulung. Buihnya yang putih menyapu bibir pantai. Lalu kembali ke tengah, setelah mengangkut sampah-sampah yang menumpuk di tepi pantai.

Dan kini siklus itu berputar ke titik nadir kembali. Tak mungkin untuk melupakan begitu saja jejak-jejak masa lalu, meski waktu mencoba menghapus segalanya. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka. Percuma mengobatinya. Namun, nyatanya, Andriana sempat terseret ke potongan garis waktu masa lalu.

”Kamu datang lagi?” tanya Andriana pada lelaki di depannya. Baru tiga hari lalu pria itu datang ke kantornya mengambil rapor anaknya dengan tergesa-gesa.

”Ya, ini menyangkut masa depan anak itu,” sahut Rio.

”Masa depan? Masa depan bagaimana?”

“Aku mendapat telepon dari nenaknya yang mengabarkan hari-hari ini anak itu selalu murung.”

“Murung?” hanya sepatah kata yang sanggup meluncur dari mulut Andriana. Kali ini cuaca mendung. Langit kelabu. Di luar, angin bulan Desember mulai berembus kencang. Meluruhkan daun-daun kering pohon ketapang lalu jatuh ke tanah kembali.

“Ya, begitulah nasib yang harus diterima anak itu.”

“Murung, tapi jika kena, semangatnya bisa dinyalakan dengan bara. Bersamaku, ia selalu tersenyum. Alangkah cantiknya Rina kalau tersenyum. Saya bisa membayangkan, betapa cantik ibunya. Hanya sayang, sorot matanya tampak menyimpan sesuatu!”

“Menyimpan sesuatu? Apa maksudmu?”

“Seakan merindukan seseorang.”

“Ya, ia merindukan sosok seorang ibu!”

Seorang ibu? Tak jelas benar bagi Andriana arah pembicaraan Rio. Logikanya, bukankah kalau ada anak, ada juga ibu? Ke mana ibu Rina? Dan mengapa yang datang dan mengambil rapor ayahnya, bukan ibunya?

Belum sempat meneruskan pertanyaan lain di otaknya, Rio yang membaca pikiran Atunarang memotong. “Tapi anak saya masih ada harapan untuk ceria kembali kan Suster…?”

Dipanggil dengan sebutan “suster” oleh Rio, serasa bagai petir menyambar telinga Andriana. Sadarlah ia kini, bahwa hubungannya dengan pria itu hubungan antara biarawati dengan awam. Bukan hubungan antara pria-wanita biasa.

“Ehm…., ya… bisa, bisa. Rina bisa pulih kembali. Dengan bawaannya yang kurang periang saja ia bisa masuk ranking sepuluh besar, apalagi jika….”

“Jika ada ibunya?”

“Maksud saya, jika Rina didampingi orang tuanya belajar dan diberikan semangat agar kembali menemukan kegembiraan dalam hidupnya.”

“Oh, oh….” hanya anggukan kecil yang bisa diberikan Rio. Sukar dia menemukan kata-kata yang tepat utuk menyahut suster di depannya.

Melihat sikap Rio, hati Suster Andriana jadi trenyuh. Terbayang olehnya sosok dan perangai Rina. Cantik tapi selalu murung. Rasa kasihan tiba-tiba menyelinap dalam sanubarinya. Tapi benarkah demikian gambaran sesungguhnya perasaannya? Siapakah yang sebenarnya pantas untuk dikasihani, Rina ataukah dirinya?

“Ya, kekurangceriaannya itu, suster. Saya harap, tidak mempengaruhi perkembangan jiwanya.”

Kali ini Andriana tidak akan menyia-nyiakan kesepatan. Ia ingin tahu siapa dan di mana ibu Rina.

”Ke mana ibunya?” Andriana tak kuasa lagi menyimpan pertanyaan yang selama ini mengusik pikirannya. Lelaki di depannya tak menjawab. Sebentar-sebentar tampak ia menggigit bibir mencoba menahan perasaan.

”Hilang bersama pesawat Adam Air ketika akan mengikuti seminar di Makassar,” suara Rio lemah.

Mafhumlah kini Andriana, mengapa pada pertemuan pertama Rio menitip Rina padanya untuk dijaga dan dipelihara.

Oh, kejamnya dunia! Seandainya ibu Rina tak transit dulu di Surabaya dan langsung terbang ke Makassar dari Jakarta? Seandainya juga dia tak terikat oleh kaul dan janji presetia mulia? Ya... seandainya? Seandainya?
***

Di biara, di kamarnya yang jauh dari gaba-gaba.
Purnama telah lama sirna. Penguasa malam tenggelam bersama mimpi-mimpi. Memupus segala bayang. Menghilang semua angan.

Cuaca dingin di luar sampai juga di kamarnya. Menembus tembok biara, dingin menusuk badan. Jarum jam terus berpacu melawan sang waktu. Kini waktu yang iri telah menunjukkan angka dua lepas tengah malam.

Tapi tak stitik pun Andriana dihinggapi kantuk. Ia sama sekali tak sanggup memejamkan mata.

Pikirannya melayang ke masa silam. Mengembara bersama derai-derai cemara yang bersiuran ditiup angin malam, di halaman biara tua.

Ditingkah gerisikan suara jangkrik dan burung-burung malam, tak putus-putusnya ia menguntai doa. Menghitung biji-biji rosario di tangannya. Sembari menyimpan harap: esok pagi, kala membuka mata, segalanya jadi baru.

Maka ia pun bisa mulai menyibak lembar baru babakan kehidupan selanjutnya....
***


(6)
DENTANG lonceng biara yang didengarnya subuh itu semayup seperti suara angin. Mendesir-desir membelai tubuhnya yang halus mulus. Ah, kecantikan yang abadi. Tak pernah sirna oleh waktu yang iri. Keperawanan hati memancarkan cinta murni.

Dan bagi Andriana, keperawanan bukan semata-mata terjaganya selaput anak dara yang bisa saja robek oleh kesewenang-wenangan dunia.

Tapi keperawanan pertama-tama adalah soal hati, soal niat yang suci. Keperawanan ialah robeknya selaput yang menghalangi mata hati manusia melihat Allah dalam segala peristiwa dan fenomena.

”Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah” kata Yesus dalam salah satu Sabda Bahagia. Ya, bagi Suster Andriana, keperawan diartikannya sebagai setiap upaya melihat Allah di balik setiap peristiwa. Dan mencoba menangkap makna di balik gejala dari sebuah misteri yang disebut cinta.

Dan masa-masa SMA adalah saat Andriana tercelik matanya. Bahwa Tuhan yang turun dari surga masuk dunia mengenakan pakaian manusia, kini berkarya nyata lewat manusia juga.

Lonceng biara yang berdentang tengah malam itu, bagi Andriana seperti bunyi lonceng sekolahnya waktu SMA. Rohnya memang kuat berjaga, tapi tubuh manusianya lemah. Setelah lelah seharian bekerja di sekolah, pikirannya juga sedang kacau. Malas ia bangun berdoa tengah malam seperti biasa.

Lonceng biara yang berdentang terus memanggil-manggil. Persetan! Kali ini bunyi lonceng benar-benar tak diindahkannya.

Dibuai alam bawah sadarnya, Andriana terlelap dalam tidur.

Kenangan masa lalu menghiasi tidur malamnya. Dan bongkah-bongkah kenangan itu pun kembali menyeruak. Muncul satu demi satu bersama mengalirnya air Sungai Liku....

BUKU akan terbit (ke-52, 53, dan 54): Literary Journalism, Dayak Djongkang, dan Mengenal & Mencintai Kardinal, The Prince of Roman Catholic Church

Jurnalis era the new media dituntut menjadi knowledge worker, sebagaimana tuntutan pada dunia industri maju lain. Dengan demikian, posisi tawarnya makin tinggi dan profesi yang digelutinya menjanjikan ditilik dari status sosial dan segi finansial.

Namun, bagaimana “menghasilkan” jurnalis masa depan yang bukan saja terampil menulis (word smart), tetapi juga cerdas dalam berpikir (logic smart)? Bagaimana mengemas isi (content) media cetak, sehingga dapat bersaing dengan media elektronika yang jauh lebih cepat dan massif dari segi penyampaian?

Di Amerika Serikat, awal 1970-an, ketika tayangan TV dan media elektronika gencar menyerang keberadaan media cetak, tantangan dijawab Tom Wolfe. Wolfe mengenalkan genre baru penulisan media cetak saat itu yang kemudian populer dengan dengan nama “New Journalism”. Yakni fakta, data, informasi, dan wawancara yang dikumpulkan dan ditulis menggunakan elemen-elemen dan kaidah-kaidah sastra.

Menurut Connery, jurnalistik sastrawi ialah reportase yang dikemas dengan storytelling. ”Whether it’s called ”narrative journalism”, new journalism”, ”literary journalism”, or ”journalistic narrative”, the type of writing definied by these terms is blend of reporting and storytelling. ...narrative journalism upholds integrity and profesionalism, as its writers, astute to human experience, paint pictures and emotions with words. The narrative journalist is necessarily wrapped up in social realism, and is ”in fact, a Romantic Reporter, who assumes that reality is to be found by focusing on internal, rahter than external, human processes and movements; that feelings and emotions are more essential to understanding human life than idea”.

Di Indonesia, jurnalistik sastrawi dikenalkan dan dipraktikkan majalah Tempo tahun 1970-an. Meski sudah lewat empat dekade, aliran jurnalistik itu belakangan ini baru booming di negeri kita. Belum ada buku khusus yang mengupasnya. Inilah buku pertama yang secara akademik membahas jurnalistik sastra, menggabungkan word smart dan logic smart. Memenuhi bukan saja kebutuhan akademis, melainkan juga praktisi dan pekerja media.
ISBN 978-602-95532-1-5
Buku ke-52, diterbitkan Penerbit Salemba bekerja sama dengan UMN Press.

Daftar Isi
BAGIAN I
KECERDASAN OLAH KATA, KOMPETENSI MAHASISWA, SEJARAH, DAN PERTEMUAN JURNALISTIK-SASTRA

Bab 1
Kecerdasan Olah Kata (Word smart) dan Peluang Karier
1.1 Redefinisi Kecerdasan: Bukan Hanya IQ
1.2 Multikecerdasan
1.3 Peluang Karier
1.4 Writing Process

Bab 2
Tuntutan Kompetensi dan Pendidikan Jurnalistik di Perguruan Tinggi
2.1 Tuntutan Kompetensi dan Pendidikan Jurnalistik di Perguruan Tinggi
2.2 Membaca Menemukan Gaya
2.3 Pokok Bahasan dan Waktu yang Dibutuhkan

Bab 3
Jurnalistik dan Sastra dalam Lintasan Sejarah
3.1 Jurnalistik Zaman Romawi Kuno
3.2 Gutenberg dan Revolusi Pers
3.3 Sekelebat Sejarah Sastra

Bab 4
Jurnalistik Sastrawi sebagai Jurnalisme Baru
4.1 Ruang Lingkup Jurnalistik dan Sastra
4.2 Nama Lain Literary Journalism
4.3 Elemen Jurnalistik Konvensional
4.3 Sepuluh Elemen Sastra
4.4 Meramu Elemen Sastra
4.5 Karakterisasi
4.6 Point of View (sudut pandang)
4.7 Gaya Bahasa
4.8 Tema
4.9 Jurnalistik Sastrawi: Faksi
4.10 Jurnalistik Sastrawi menurut Para Pakar
4.11 Jurnalistik Sastra dan Perkembangannya di Indonesia
4.12 Sastra, Jurnalistik, dan Masyarakat
Bab 5
Logika sebagai Jalan Nalar Membuktikan dan Merangkaikan Fakta
5.1 Profesi Jurnalis dan Pertanyaan Filsafat
5.2 Logika sebagai Rangkaian Fakta dan Jalan Nalar Pembuktian
5.2.1 Asal Usul Logika
5.2.2 Alam dan kebudayaan Yunani
5.3 Apakah Logika Itu?
5.4 Induksi dan Deduksi: Jalan Menghasilkan PengetahuanBaru
Bab 6
Sillogisme: Jalan Mempraktikkan Deduksi
6.1 Sillogisme Kategoris
6.2 Bentuk-Bentuk Deduksi
6.3 Metateorikal Hasil
6.4 Taksonomi Logika
6.4.1 Logika Aristoteles
6.3.2 Logika Abad Pertengahan
6.3.3 Logika Modern
6.4 Logika dan Komunikasi Sehari-hari
Bab 7
Setiap Wacana Berawal dari Sepatah Kata
7.1 Struktur Bahasa
7.2 Kategori Kalimat
7.3 Argumen
7.4 Kapan Suatu Argumen Dapat Diterima?
7.5 Logika sebagai Cabang Filsafat Ilmu Pengetahuan

Bab 8
Merangkai Term sebagai Unsur Penalaran dengan Gaya Sastra
8.1 Term dan Kata
8.2 Isi dan Luas Term
8.3 Pembagian Term
8.3.1 Term menurut komprehensi
8.3.2 Term menurut ekstensi
8.3.3 Term menurut predikabilia
8.3.4 Term menurut kategori
8.4 Term sebagai Unsur Penalaran
8.5 Cerdas Merangkai Factum Menggunakan Term

Bab 9
Menulis dengan Hati, bukan Opini
9.1 Kode Etik Jurnalistik
9.2 Definisi dan Pengertian Kebenaran
9.3 Menulis Berdasarkan Fakta
9.4 Wacana sebagai Rangkaian Fakta, Bukan Opini
9.5 Jurnalistik Sastrawi: Menulis dengan Hati

Bab 10 Gaya Publikasi Jurnalistik Sastrawi
10.1 Gaya Publikasi
10..2 Unsur dan kaidah Sastrawi dalam Tulisan Kreatif Non-fiksi
10.2.1 Memoir
10.2.2 Biografi
10.2.3 Esai Personal
10.2. 4 Esai sastrawi
10.2.5 Artikel feature
10.2.6 Non-fiksi naratif

Bab 11
Literary Journalism: Paparkan, Jangan Katakan (Show, Don’t Tell)
11.1 Show, Don’t Tell
11.2 Persamaan antara Literary Journalism, Cerpen/Novelet/novel

Bab 12
Lead yang Mengail Minat Pembaca
12.1 Definisi Lead
12.2 Ragam Lead
12.1 Teras Ringkasan (Summary Lead)
12.2 Teras Paparan (Narrative Lead)
12.3 Teras deskripsi (Descriptive Lead)
12.4 Teras Tanya (Question Lead)
12.5 Teras Kutipan Langsung (Quotation Lead)
12.6 Teras Berkomunikasi Langsung (Direct Adress Lead)
12.7 Teras Berifat Teka Teki (Teser Lead)
12.8 Teras Imajinatif (Imaginative Lead)
12.9 Teras Kombinasi (Combination Lead)

Bab 13
Judul yang Memancing Minat Pemvaca
13. 1 Teknik Membuat Judul
13.1.1 Mengambil bulat-bulat nama tokoh utama
13.1.2 Menggabungkan tokoh utama dengan predikat
13.1.3 Simbolis
13.1.4 Alias
13.1.5 Intisari cerita
13.1.6 Persamaan dan Keindahan Bunyi (Eulogi)
13.1.7 Ha sil Akhir
13.2 Kalimat (dan Alinea) Pertama

BAGIAN III
LITERARY JOURNALISM DALAM PRAKTIK

Bab 14 Proximity, Clarity, Accucary, dan Readability
14.1 Empat Kunci Sukses
14.2 Fog Index dan Manfaatnya
14.3 Menerapkan Check Ability

Bab 15
Membaca Menemukan Gaya
15.1 Mencari dan Menempatkan Gagasan Pokok
15.2 Latihan

Gambaran orang Dayak bertelinga panjang berjuntai anting, bercawat, bersongket, makan sirih, tinggal di rumah panjang, pemburu kepala manusia (headhunter); hanyalah kenangan masa lalu. Labeling sebagai suku bangsa primitif dan sejumlah stereotype miring lain, tinggal cerita.

Kini, seiring modernisasi dan pembangunan, etnis Dayak masuk dalam peradaban baru. Tua muda, lelaki maupun perempuan, anak-anak hingga dewasa; semua berperilaku dan ber-modus vivendi seperti layaknya manusia modern. Telepon seluler, antena parabola, kulkas, televisi berwarna sudah jadi hal yang biasa bagi orang Dayak. Mobil dan motor pun bukan barang yang asing bagi mereka. Pendeknya, teknologi canggih dan informasi terkini dari penjuru dunia sudah merasuk bahkan memengaruhi peraaban dan cara hidup mereka.

Semua itu keniscayaan yang membuktikan bahwa etnis Dayak pun punya kemampuan adaptif untuk menghadapi perubahan zaman yang turbulen.

Buku ini merupakan kajian historis Dayak Jangkang, salah satu Land Dayak yang menurut para pakar lingustik dunia menuturkan bahasa Bokidoh. Ditutur lebih dari 45.000 penduduk, bahasa dengan sandi “Djo” di kancah dunia ini masih dan akan tetap eksis.

Diimbuhi sejumlah gambar kuno zaman kolonial yang didapat dari Herman Jozef van Hulten, misionaris Belanda yang menginjakkan kaki di bumi Borneo tahun 1938, foto koleksi Kon.Instituut v.d. Tropen Amsterdam, Romer Museum Hildesheim, dan koleksi pribadi. Menjadikan buku ini bukan saja bernilai historis, tapi juga sebuah studi komprehensif yang membahas kearifan lokal Dayak Jangkang hingga partisipasi politik meeka dalam Perang Majang Desa, filosofi di balik “ngayau” dan tradisi “mangkok merah”, Perjanjian “Tumbang Anoi” antarDayak Borneo 22 Mei - 24 Juli 1894 di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah yang belum banyak diketahui publik, riak-riak politik Dayak dalam Pemilu 1955 serta akar dan sumber konflik etnik di Kalimantan Barat.
Buku ke-53

Saya hanya memuat hingga 2 bab saja dari buku ini. Paus Benedictus XVI kini hampir berusia 80 tahun. Kita tidak tahu, hingga kapan beliau memimpin Gereja Katolik yang jumlah penganutnya di dunia 1,2 miliar itu.

Jelang Konklav, biasanya orang miskin informasi dan pengetahuan tentang Dewan Kardinal, kardinal elektor, termasuk sejarah dan kiprahnya dalam Gereja Katolik. Saya menggali semua data dan informasi itu sejak dua ribu tahun lalu...., menyiapkan naskah ini 3 tahun lamanya, hingga tidur saya sehari antara 4-6 jam saja. Jadi,, buku ini bukan sekadar directory APA dan SIAPA KARDINAL SEDUNIA.

Puji Tuhan, kini naskah telah rampung 90%. Dan dengan sukacita, saya sajikan appetizer ini buat Anda, pembaca.

BAB 1
KARDINAL
DALAM KESATUAN DENGAN PAUS
DAN GEREJA KRISTUS


GEREJA Katolik Roma, juga disebut Gereja Katolik, adalah Gereja Kristus dalam satu kesatuan dengan Paus, yang saat ini dipimpin Paus Benedictus XVI. Gereja Katolik didirikan oleh Yesus sebagai komunitas Kristiani yang tak terbagi, sesuai dengan tradisi. Diletakkan dasarnya oleh Dua Belas Rasul. Gereja Kristus itu sepanjang masa diteruskan oleh Suksesi Apostolik.

Gereja Katolik hari ini tidak hanya Gereja Kristus terbesar, akan tetapi juga organizasi terbesar keagamaan seantero dunia. Menurut Statistical Yearbook of the Church, tdi seantero dunia (akhir 2004) tercatat 1.098.366.000, atau satu dari 6 populasi penduduk sedunia.

Sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik, anggota Gereja Katolik yang tercatat itu ialah mereka yang sudah menerima Sakramen Pembaptisan, atau sudah diterima masuk ke dalam Gereja Katolik, dengan mengucapkan pengakuan iman. Jika tidak, mereka tidak diakui sebagai anggota Gereja.

Dalam kehidupan menggereja, Tahta Suci adalah pusat kehidupan Gereja di seluruh dunia yan disebut sebagai Ritus Barat. Sementara itu, dikenal juga 22 Gereja Partikular yang disebut Ritus Timur.

Gereja Katolik dibagi ke dalam wilayah yurisdiksional, yang didasarkan atas territorial tertentu. Standar teritorial unit itu disebut juga, dalam Ritus Latin, diosesan, dan dalam Ritus Timur disebut eparchy, yang dipimpin oleh seorang uskup. Pada pengujung tahun 2004, total jumlah wilayah yurisdiksi, atau see, 2. 755. (Annuario Pontificio 2005).

Arti Kata „kardinal“
Kardinal.
Kita tentu akrab dengan istiah ini. Namun, banyak dari kita belum tahu ihwal seputar arti kata, asal usul, tugas, macam, serta kiprahnya dalam hubungannya dengan Kuria Roma. Apalagi mengenal profil mereka secara lebih dekat dan detail.

Hampir sepuluh abad pertama sejak Petrus diangkat Yesus sebagai kepala Gereja kudus, pengangkatan Paus tidak hanya dipilih oleh kardinal terpilih (cardinal electors) seperti sekarang. Semula Paus, yang juga Uskup Roma, dipilih warga Roma dan keuskupan sekitarnya secara aklamasi. Waktu itu, belum ada tata cara pemilihan yang baku. Namun, dalam pemilihan itu umat memberikan suara.

Pada tahun 769, warga Roma tidak bisa lagi memberikan suara. Seabad berikutnya, peraturan diubah. Kaum bangsawan masih diperkenankan memilih, namun rakyat jelata tidak.

Baru pada 1059 diputuskan bahwa Paus hanya dipilih oleh kardinal. Kini peraturan menetapkan, kardinal yang berusia 80 ke bawah saja yang dapat memberikan suara bagi pemilihan Paus.

Pada zaman pencerahan, kadang kardinal menjadi kepala kabinet sebuah negara. Misalnya, Richeliu yang mengendalikan pemerintahan Prancis saat Louis XIII berkuasa. Hal ini diceritakan dalam novel Three Muskeeters oleh Alexander Dumas.

Secara harfiah, kardinal berarti:
 Pejabat tinggi Vatikan yang diangkat oleh Paus (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:508).
 Roman Catholic clergy-man ranking below the Pope --Klerus Gereja Katolik Roma di bawah Paus (Dictionary of American English, 2002: 197).
 A priest of very high rank in Roman Catholic Church: Cardinals elect and advise pope –Imam yang tinggi derajatnya dalam Gereja Katolik: Para kardinal memilih dan memberikan nasihat kepada paus (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, 2003: 177).



Para kardinal in uniform. Inilah pakaian lengkap kardinal, ketika mengikuti konklaf, sesi pemilihan paus.


Pakaian kardinal

Biasanya, pakaian kardinal mirip dengan uskup. Hanya bedanya, jubah resminya berwarna merah, dengan peci warna merah menyala pula.

Karena mengenakan pakaian serba merah, sinonim kardinal ialah burung berkicau dari Amerika Utara.


Burung kardinal: serba merah, dengan biretta yang juga merah mirip pakaian kardinal. Karena itu, dinamakan demikian.

Tugas kardinal
Apa tugas kardinal?

Tugas kardinal yang kasat mata dan yang paling menonjol ialah memilih paus baru, begitu paus terdahulu mangkat. Hal ini tidak bisa dipungkiri, sebab demikianlah kenyataannya karena sesuai dengan Konstitusi Aopostolik „Universi Dominici Gregis“ (selengkapnya lihat lampiran) yang menyebutkan, „Konklaf (pemilihan paus baru oleh kardinal) diadakan antara 15-20 hari setelah paus wafat.

Kardinal diangkat dan ditunjuk oleh Paus untuk memangku tugas-tugas Gerejani, atau untuk memelihara jiwa-jiwa yang ada dalam ancaman. Untuk itulah, dikenal tiga macam kardinal.
 Uskup Kardinal,
 Imam Kardinal, dan
 Diakon Kardinal

Identitas ketiga ranking kardinal ini sangat jelas-tegas. Selain prelat di dalam Gereja, mereka juga para diplomat yang melayani Gereja di Kuria Roma.

Pada saat-saat terakhir kehidupan Paus Yohanes Paulus II, kita dikenalkan adanya terminologi baru lagi mengenai kardinal, yakni in pectore (in = di dalam, pectore = hati). Jadi, kardinal yang nama dan identitasnya hanya Pauslah yang tahu, orang lain tidak tahu. Beredar kabar, di kalangan pers saat itu, kardinal yang dimaksudkan ialah sekretaris pribadi Paus Yohanes Paulus II.

Berapa banyak kardinal?
Total kardinal di seantero dunia 193, tidak termasuk kardinal in pectora. Pada pemilihan Paus Benedictus XVI, terdapat cardinal electors. Tapi, yang mengikuti konklaf kardinal. Artinya, kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak untuk dipilih (papabilis) dan memilih (electors).

Kardinal dari Indonesia
Adakah kardinal di Indonesia? Ada. Nama lengkapnya Julius Ryadi Darmaatmadja. Kardinal yang lahir di Muntilan pada 20 Desember 1934 ini adalah juga Uskup Agung Jakarta --sebelumnya Uskup Semarang.

Pada September 1957 Darmaatmadja masuk novisiat Jesuit di Girisonta. Ia mengikrarkan kaul pada September 1959. Tahun 1964 beliau memeroleh gelar licentiat filsafat di e Nobili College di Poona, India. Pada Desember 1964, ia ditahbiskan imam (selengkapnya lihat biografi, entry D).


BAB 2
KARDINAL
DALAM LINTASAN SEJARAH



Dewan Kardinal, pengangkatannya, jumlah, serta kiprahnya senantiasa mengalami kontekstualisasi atau penyesuaian dari zaman ke zaman. Pada masa Perjanjian Lama, Allah meminta Nabi Musa membujuk 70 tua-tua Israel untuk berkumpul dan membawa mereka ke hadapan wajah Yahwe di Kemah Pertemuan” (Bilangan 11:16).

Itulah dasar biblis, mengapa hingga hari ini Paus mengangkat dan memanggil para kardinal dalam sebuah consistory.

Dekrit Para Paus

Pada Sinode Lateran, 13 April 1059, Nicholas II mengeluarkan dekrit In Nomine Domini (Dalam Nama Tuhan) yang menyatakan bahwa paus harus dipilih oleh enam uskup kardinal.

Pemilihan Innosensius III pada 1130 menjadi praktik yang pertama, di mana tiga golongan cardinal ambil bagian di dalamnya.

Pada 1179, Konsili Lateran III (Konsili Umum Ke-11) menetapkan mengenai pemilihan paus yang memerlukan dua pertiga suara mayoritas. Selama Konsili Lateran III, ALEXANDER III (Licet de Vitanda) menegaskan kembali bahwa pemilihan paus harus diikuti tiga golongan kardinal.

Pada 1274, GREGORIUS X dalam Konstitusi Ubi Periculum menyatakan bahwa kardinal haruslah berkumpul pada konklaf, tidak lebih dari sepuluh hari setelah paus wafat di tempat dia meninggal untuk memilih penggantinya. Paus PAULUS VI mengeluarkan dekrit bahwa konklaf haruslah dimulai tidak kurang dari 15 hari dan tidak lebih dari 20 hari sesudah paus wafat.

GREGORIUS X juga menyatakan bahwa di dalam konklaf, para kardinal haruslah tidur dalam rumah komunal. Pada 1345, CLEMENT X mengizinkzn pemakaian tempat tidur bagi setiap kardinal yang dipisahkan oleh tirai atau tembok. Selanjutnya, LEO XIII mengizinkan setiap kardinal memiliki ruangan sendiri.

Sejak BONOFASIUS VIII (1294-1303), kardinal mengenakan jubah warna merah tua. Topi merah sebelumnya diperkenalkan INNOCENTIUS IV (1243-1254); pada November 1246, ketika bertemu dengan Raja Prancis di Cluny, INNOCENTIUS IV bahkan menganugerahkan topi merah kepada para kardinalnya. Pada 1464, PAULUS II (1464-1471) memutuskan bahwa kardinal harus mengenakan topi merah selama upacara kudus untuk membedakan mereka dari prelate yang lain.

Konstitusi Ubi Periculum dipertegas dekrit Ne Romani yang mengacu hasil Konsili Vienna pada 1311; melarang kardinal, selama Tahta Suci lowong, mengadakan kontak menggunakan apa pun dengan siapa pun selama pemilihan paus berlangsung.
Pada 1492, Lorenzo yang Agung menulis kepada putranya yang paling bungsu, Giovanni dei Medici, diakon cardinal pada usia tiga belas tahun (dia tidak tinggal di Roma hingga usia tujuh belas tahun), dan yang kemudian dikenal dengan Leo X (1513-1521):

Dalam dirimu, saya menaruh harapan, biarlah kasih karunia Tuhan melimpah atas keluarga, dan rasa syukur yang tak terhingga atas usiamu…
Jangan pernah alpa untuk selalau waspada bahwa ini semua bukan karena usahamu, bukan kebijaksanaanmu, bukan pula kehendakmu, yang telah menjadikan engkau seperti sekarang ini. Ini semata-mata karena Tuhan; Dia sendirilah yang memilih engkau sebagai kardinal. Karena itu, engkau harus menunjukkannya dengan hidup suci, senantiasa memberikan contoh dan menghargai kehidupan…
Saya memaklumi bahwa jika tinggal di Roma, yang merupakan sarang dari semua kejahatan, kamu akan menemui kesulitan besar di dalam menjalankan nasihat saya. Ini karena contoh itu gampang menyebar, dan juga lantaran kamu akan menemukan godaan, sehingga lupa akan nasihat ini.


JULIUS II(1503-1513) terpilih sebagai paus dengan suara bulat berkat uang suap serta janji-janji berlebihan pada konklaf yang diadakan haya sehari. Pada 14 Januari 1505, ia menerbitkan bulla yang mendeklarasikan bahwa pemilihan paus sama sekali bebas dari praktik suap-menyuap.

PIUS IV (1559-1565) dengan konstitusi In Eligendis menerbitkan “congregation particularis” yang menyatakan bahwa tiga kardinal, masing-masing dari setiap golongan, bersama dengan Camerlengo mengambil alih kepemimpinan Gereja selama konklaf berlangsung. Pada akhir tiga hari berikutnya, tiga kardinal senior akan mengangkat kongregasi ini.

Pada 3 Desember 1586, dalam bulla Postquam Verus, SIXTUS V menetapkan jumlah maksimum kardinal pada angka 70 (6 Ukup Kardinal, 50 Imam Kardinal, dan 14 Diakon Kardinal).

Kardinal dan Pemilihan Paus
Pada 21 Maret 1591, GREGORIUS XIV mengubah semua peraturan pemilihan paus, termasuk lamanya masa pontifikasi atau tata cara pengangkatan kardinal.
Pada 12 Maret 1622, GREGORIUS XV (Decet Romanum Pontificem) mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa pemilihan harus dilakukan dengan surat suara rahasia (ballot). Ia mengizinkan kardinal untuk mengikuti salah satu dari tiga bentuk pemilihan:

 Scrutinium (pemungutan suara)
 Compromissum (kompromi), atau
 Quasi-inspiratio (sebagai-bisikan hati)

Selain itu, ditegaskan bahwa tidak seorang pun dari kardinal dapat memilih dirinya sendiri. Paus Gregorius XIV juga menetapkan untuk menghitung suara berdasarkan ballot yang harus segera dibakar sesudah perhitungan selesai dilakukan.

Di bawah judul Eminentissimus, (Terkemuka) yang merupakan julukan dari imperium Byzantium dan berlangsung hingga Imperium Suci Roma hingga dari sanalah nanti orang terkemuka masuk ke dalam bilangan para orang terkemuka yang memilih paus. Sesuai dengan saran Richelieu, URBANUS VIII pada 10 Juni 1630 membatasi para pemilih paus hanya para kardinal, yang kemudian disebut sebagai ‘paling termashur’ dan ‘paling mulia’.

Julukan itu dikenakan juga pada Pemilih Gerejani dari Imperium Suci Roma, dan pada Grand Master of the Knights of Malta, yang menyandang gelar itu hari ini, sebagai satu-satunya awam yang begitu dimuliakan.

Pada 24 Mei 1882, LEO XIII mengeluarkan dekrit (Praedecessores Nostri) yang menyatakan bahwa pemilihan dapat diadakan di Roma jika paus wafat ketika sedang jauh dari tahtanya.

Pada 20 Januari 1904, PIUS X dalam bulla Commissum Nobis melarang hak pemerintahan secular untuk memberikan veto selama konklaf. Pada 25 Desember 1904, Paus yang sama menerbitkan Vacante sede Apostolico yang mengkodifikasi legislasi utama yang berkaitan dengan pemilihan paus. PIUS X, Apostolicae Romanorum, AAs, II (1910) 277 menegaskan bahwa oleh karena pekerjaan mereka di Kuria, maka uskup kardinal harus mempunyai uskup Bantu yang akan secara nyata bertempat tinggal di tahta suburbicarian. Namun, BENEDICTUS XV, Ex Actis Tempore AAs VII (1915) 229 mencabut dekrit Pius X.

PIUS XI, dengan Motu proprio, Cum Proxime, pada 1 Maret 1922 memperluas waktu antara paus wafat sampai pada pembukaan konklaf dari 10 menjadi 15 hari; ia memberikan pada para kardinal kekuasaan untuk memperluas rentang waktu sampai maksimum 18 hari.

Pada 8 Desember 1945, PIUS XII, dalam konstitusi Apostolik Vacantis Apostolicae Sedis, mendekritkan bahwa pemilihan harus dihadiri oleh dua pertiga tambah satu untuk menghidari suara pemilih yang memilih dirinya sendiri. Konstitusi yang sama menyatakan bahwa prodiakon kardinal mempunyai privelese melimpahkan pallium atas metropolitan dan hak untuk mengumumkan nama paus baru, setelah terpilih.

Pada Consistory 15 Desember 1958, JOHANES XXIII keluar dari tradisi dengan mengangkat lebih dari 70 kardinal.

Dalam Motu proprio Cum Garavissima pada 15 April 1962, YOHANES XXIII mendekritkan bahwa semua kardinal diangkat ke dalam martabat Episcopal dalam pemilihan.

Dalam Motu proprio Ad Purpuratorum Patrum 11 Februari 1965, PAULUS VI menambahkan Partiark Timur masuk ke dalam bilangan dewan kardinal.

Dalam Motu proprio Ingravescentem Aetatem 21 November 1970, PAULUS VI mendekritkan bahwa kardinal yang berusia 80 tahun:

 Berhenti menjadi anggota kuria dan bebas dari semua organisasi permanen Tahta Suci dan pejabat Negara Vatikan;
 Kehilangan hak untuk memilih paus, dan karena itu, otomatis tidak bias menghadiri konklaf.


Pada Consistory 5 Maret 1973, PAULUS VI menetapkan jumlah maksimum yang mempunyai hak memilih paus sebanyak 120 kardinal.


Pembagian Dewan Kardinal
Dewan kardinal dibagi ke dalam tiga golongan:
 Uskup Kardinal
 Imam Kardinal
 Diakon Kardinal

Uskup kardinal termasuk uskup titular dari tahta suburbicarian Roma, yakni (Ostia Palestrina, Porto dan Santa Rufina, Albano, Vellerti-Segni, Frascati, Sabina-Poggio Mireteto) serta para patriark Gereja Timur.

Tingkatan Episcopal terdiri atas para kardinal yang diberikan oleh paus gelar sebagai gereja suburbicarian. Seorang kardinal tidak dapat mengubah golongan ke Uskup Kardinal; ia haruslah diangkat oleh paus.

Ketua dewan kardinal menyandang tahta Ostia, seperti halnya tahta suburbicarian lain. Ketua dewan kardinal dan wakilnya dipilih oleh Kardinal Uskup dari golongan mereka juga. Uskup cardinal mengbdi purna waktu di Kuria Roma. Tatkala tahta suci mengalami kekosongan, Ketua Dewan Kardinal:

 Mengirimkan undangan kepada para kardinal supaya supaya datang menghadiri konklaf;
 Memanggil para kardinal menghadiri pertemuan, terutama untuk konklaf;
 Jika usianya di bawah 80, ia otomatis sebagai ketua konklaf;
 Jika Ketua Dewan Kardinal menghadiri konklaf, ia mempunyai hak untuk memimpin upacara kudus pemilihan paus baru seandainya paus terpilih belum ditahbiskan uskup.

Imam kardinal adalah uskup di luar kota Roma. Hal ini sesuai dengan hasil Konsili Trente, yang selanjutnya oleh Paus Urbanus VIII pada 1643 dinyatakan bahwa uskup, termasuk kardinal, haruslah tinggal di keuskupan mereka masing-masing.

Kardinal diakon ialah uskup tituler yang secara purna waktu mengabdi Kuria Roma. Sesudah menjadi Diakon Kardinal selama sepuluh tahun, Kardinal Diakon dapat naik kasta ke golongan Imam Kardinal. Sekretaris Tahta Suci masuk ke dalam bilangan Imam Kardinal yang masuk wilayah gerejani Keuskupan Roma dan sekaligus menjadi Imam Agung Basilika Lateran.

Sementara Imam Agung dua basilica patriarchal Roma (St. Petrus Vatikan dan St. Maria Majore) adalah juga kardinal namun biasanya diakon kardinal.

Diakon Kardinal Pertama (proto-deacon) mempunyai hak mengumumkan nama paus baru yang terpilih.

Kardinal mempunyai hak untuk mendengarkan pengakuan dosa dimana-mana di seantreo dunia tanpa tanpa hambatan dan bebas dari yurisdiksi uskup setempat.

Sabtu, 26 September 2009

Aneka Buah Tropis Jangkang


Saya juga punya onderneming (perkebunan) karet di Jangkang. Tidak besar, cuma 4,5 hektar. Latar belakang pondok saya dan saya sedang membelakangi perkebunan.


Jangkang tak hanya kaya budaya dan kearifan tradisional. Wilayah yang penduduknya menuturkan bahasa "Bokidoh" ini juga kaya aneka buah tropis.

Libur Agustus lalu, pas musim buah tropis. Saya sangat menikmati buah yang sangat tidak pernah ditemukan di Jakarta dan tempat lain. Ada kawai, mentawa, sibo, tasam yang bukan saja lezat tapi juga semerbak harum wanginya.

Pernah lihat buah kayu besi? Ternyata, besar-besar. Saya sempat menjepretnya, sekalian dengan daun dan batang pohonnya.

Inilah beberapa di antaranya.






Mentawa nama buah ini. Aduh, nikmatnya. Mana bijinya enak jadi lauk, apalagi jika dicampur tempoyak. Kawai nama buah tropis ini, mirip durian daunnya tapi lebih lebar. Hanya saja, enak kalau dimakan mentah, renyah, ketimbang ketika sudah matang. Inilah buah kayu besi. Ternyata, besar ya? Sebesar lengan orang dewasa.

Adenium is My Hobby

Adenium adalah hobiku, selain membaca, menulis, dan bulutangkis. Hobi yang mendatangkan manfaat.

Berawal dari pemberian saudara iparku (Ko Ahai) satu bonggol dan dua stek, kini pekarangan rumah saya telah dihiasi lebih dari 150 pot adenium, berbagai ukuran, berpuspa warna.

Belajar grafting, menyemai benih, lalu akhirnya saya jadi seorang florist kecil-kecilan. Pernah dua kali dibeli dalam jumlah lumayan besar 2 pick up hasilnya lumayan juga.

Ketika lagi bete menulis, atau sedang mengalami writers's block, saya ke kebun adenium yang selain ada di halaman rumah, juga ditata di atas atap rumah, tingkat dua. Namun, kalau ide datang, buru-buru saya kembali ke tuts komputer lagi.

Inilah beberapa koleksi adenium saya.






















Rabu, 23 September 2009

Dayak Jangkang: From Headhunter to Catholic Majority. Rekam Jejak dan Riak Politik Identitas

Jangkang berasal dari nama kayu meranti (tokamp jangkang) yang tumbuh subur di sepanjang anak Sungai Jangkang (Aik Jongkangk). Sungai Jangkang mengalir di bawah kampung ini, 200 meter dari Polumpor, kampung darurat orang Jangkang setelah pindah dari Botuh Logunt dan kemudian Songongk) bermuara ke Sungai Ence. Sungai Ence bermuara ke Sungai Mengkiang, Mengkiang ke Sungai Sekayam, Sekayam ke Sungai Kapuas yang melintas dari Sanggau menuju Pontianak, lalu muntah ke segara Natuna. Penamaan anak suku Jangkang ini sesuai dengan kelaziman Dayak pada umumnya: memberi nama diri berdasarkan nama sungai.
Polumpor, pemukiman sementara di tepi sungai Jangkang.

Sudah ada dalam peta. Jangkang (Djo) kini tidak lagi terisolasi dari dunia luar. Sudah ada dalam peta linguistik dunia. Saya salah satu kontribusi content Dayak Jangkang untuk Joshua Project.

Ada isu gawat, tanah adat (hutan Lindung) Jangkang hendak disewa-pakai oleh Pemprov Kalbar untuk dijadikan "sapi perah". Warning!!! Para LSM, tetua adat, dewan adat, serta penggiat lingkungan perlu meneliti akurasi isu ini. Jika benar, tanah adat digadaikan akan tamatlah riwayatmu, Jangkang. Dan banjir akan terkirim cepat ke Sanggau, lalu masuk aliran Kapuas, akhirnya menenggelamkan Pontianak, tempat tuan-tuan yang menyewakan hutan lindung tadi tidur nyenyak.


Peta persebaran Dayak di Borneo ujung abad 18 oleh Dr. Anton Nieuwenhuis.

Pengantar
Bingkisan dari Negeri Belanda saya terima pada 1992. Herman Josef van Hulten tercatat sebagai pengirimnya. Tulisan tangannya khas. Mantan misionaris yang menghabiskan hari tuanya di Tilburg itu menginjakkan kaki di bumi Borneo jauh sebelum Indonesia merdeka. Tujuh belas tahun lamanya ia tinggal di Jangkang. Herman * di Drunen 5 Januari 1907 dan + di Tilburg, 27 Januari 1994.

Ketika tiba di Nusantara sebagai misionaris, Herman berkarya di Sejiram pada tahun 1938. Selanjutnya, dipindahtugaskan ke Jangkang. Dialah pendiri paroki Jangkang. Tujuh belas tahun lamanya Herman hidup di antara orang Dayak. Ini yang membentuk modus vivendi-nya, sehingga kemudian ia menuangkan pengalamannya dalam dua jilid buku, Mijn Leven met de Daya’s yang, pada 1992, diterbitkan PT Grasindo dengan judul Hidupku di Antara Suku Daya. Ordo Kapusin Provinsi Kalbar mensponsori penerbitannya. Saya yang mengedit, sekaligus memberi kata pengantarnya. Kini, buku sampul kuning itu menjadi sesuatu yang langka.

Jasa Herman pada orang Dayak, khususnya Jangkang, tak terbilang. Salah satu di antaranya, mengangkat Sareb, ayah saya, sebagai anak asuh. Berkat jasanya, keluarga besar kami menjadi seperti sekarang. Karena itu, kami memanggil Herman “kakek”.

Tatkala menerima bingkisan, saya belum mafhum maksud sang kakek. Bingkisan berisi foto-foto zaman dulu. Sebagian merupakan hasil jepretannya sendiri. Namun, sebagian lagi koleksi dari Romer Museum Hildesheim dan Kon. Instituut v.d. Tropen, Amsterdam.

Waktu itu, saya belum tahu manfaatnya. Kemudian hari, saya baru menyadari betapa bingkisan itu sangat berharga. Bahkan, boleh dikatakan warisan yang tiada tara. Dokumen sejarah yang banyak bercerita. Tepat sebagaimana ungkapan, “A picture is worth a thousand words” (sebuah gambar mewakili seribu kata). Misalnya, saya jadi bisa menghubungkan peristiwa Majang Desa dengan gambar Panglima Kilat dan Panglima Daud yang diberikannya pada saya. Saya yakin, di negeri ini, hanya saya sajalah yang punya foto kedua tokoh legenda perang Dayak Jangkang itu.


Panglima Kilat dari Jangkang.

Toh harta karun itu tidak saya nikmati sendiri. Seperti yang pembaca saksikan, foto-foto jadul tersebut banyak menghiasi buku ini. Dari foto-foto itu, kita dapat menyibak kembali lembar sejarah Jangkang masa silam. Bukan hanya memotret kehidupan nenek moyang zaman dulu, tetapi juga peradaban, pola hidup komunal saling menolong, sejarah Gereja, hingga rekam jejak mereka menjadi seperti yang sekarang. Semua itu merupakan mata rantai dalam usaha dan perjuangan Dayak Jangkang membentuk identitas, sehingga diperhitungkan dalam kancah pergaulan nasional maupun internasional.

Buku sejarah yang baik adalah yang tidak sekadar memaparkan fakta masa silam. Tapi juga yang sekaligus menyertakan refleksi kritis.

Itulah yang ditemukan pembaca dalam buku ini. Bukan sekadar jejeran fakta sejarah yang lepas-lepas. Lebih dari itu, ia adalah sebuah rangkaian yang utuh. Menjadi kaca benggala yang sanggup merefeksikan perjalanan orang Jangkang dari animis menjadi mayoritas Katolik hari ini. Dari labeling sebagai suku primitif (headhunting) menjadi etnis modern yang adaptif, sekaligus mampu bersaing di kancah global sekalipun.

Toh perjalanan “menjadi” subetnis yang diperhitungkan, bukan tidak mengalami hambatan. Dari mulai secara drastis harus menyesuaikan kepercayaan asli dengan agama Katolik yang diintroduksi misionaris Ordo Kapusin, Dayak Jangkang pun mengalami guncangan budaya. Bahkan, turut larut dalam perang suku membantu mengusir pendudukan Jepang lewat mobilisasi yang diorganisir Panglima Perang mereka, Pangsuma dan Panglima Kilat. Sumbangsih Dayak Jangkang membantu melawan penjajahan Jepang ini dikenal dengan Perang Majang Desa.

Gejolak sosial masih belum juga usai mengguncang masyarakat penutur bahasa “Bokidoh” ini. Jelang Pemilu 1955, di mana pemimpin Dayak Kalbar, Oevang Oeray berhasil mendirikan Partai Daya (PD), riak-riak politik sempat memanasi Jangkang. Beberapa tokohnya dibawa paksa ke Pontianak untuk diintimidasi.

Lalu pada 1967, dalam sebuah desain besar Pemerintahan Orde Lama, dimaklumkan pekik perang Ganyang Malaysia. Dayak Jangkang, sebagaimana juga Dayak dari daerah lain di Kalbar, ambil bagian di dalamnya.

Sayang, waktu itu, orang Dayak tidak sadar mereka sedang diadu domba. Dalam sebuah strategi militer, tangan mereka dipakai untuk memukul mundur saudaranya, etnis Tionghoa. Berjatuhan ratusan korban. Etnis Tionghoa yang sebelumnya tinggal bersama mereka di ibukota kecamatan dan beberapa desa, terpaksa mengungsi ke kota.

Ganyang Malaysia ternyata berbuntut panjang, utamanya penduduk perbatasan. Mereka turut terseret arus victim-isasi. Ketika kini isu Ganyang Malaysia kembali diteriakkan, masyarakat perbatasan harus menolak tegas. "Enak aja, kami yang ngrasain langsung akibatnya!"

Menjejerkan kembali peristiwa demi peristiwa dalam rentang waktu lebih dari seabad, akan tampak sebuah rangkaian sejarah. Pertanyaannya: apa makna yang dapat dipetik dari itu semua?

Ada ungkapan, “Historia docet” (sejarah mengajari). Pahit getir pengalaman dibentur dan diadu domba, dimanfaatkan untuk memukul suku lain, dipinggirkan, dimanipulasi, hingga tanah adatnya dijarah dan harta karun dicuri di rumah sendiri; membuat Dayak Jangkang kini makin awas dan waspada. Pengalaman diprovokasi menjadikan mereka lebih arif bijaksana.

Kini, para headhunter zaman baehula yang dicitrakan serba peyoratif di masa lalu, sudah menjadi Katolik mayoritas di rumahnya sendiri. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Sanggau, jumlah mereka sungguh fantastis, 17.042 dari total 24.228 penduduk kecamatan Jangkang.

Masalah yang mereka hadapi kini bukan lagi sekadar ancaman fisik dari luar yang membuat mereka harus melindungi diri dengan perisai dan menyerang dengan mandau. Ancaman dan musuh yang mengancam atas nama pembangunan dan modernisme siap menghadang.


Perkebunan kelapa sawit milik orang Jakarta nyaris masuk wilayah Jangkang. Letaknya di Kec. Mukok, berbatasan dengan Kec.Jangkang. Inilah salah satu bentuk penjajahan baru (neoimperialisme)yang berkedok ekonomi dan pembangunan, padahal praktiknya menjarah tanah penduduk setempat karena ganti rugi yang kerap mengakali. Waspadalah terhadap neoimperialisme berkedok baik-baik ini!

Solidkah Dayak Jangkang menghadapinya? Cukup tangguhkah perisai budaya melindungi mereka dan ketajaman mandau intelektual menghadang serbuan itu?

Jawaban atas pertanyaan di atas, dibahas tuntas dan dijawab dalam buku yang merupakan hasil perpaduan riset pustaka dan riset lapangan lebih dari 20 tahun ini.

Buku ini dapat terbit atas bantuan banyak pihak. Terima kasih terutama disampaikan pada Pastor Herman (alm.), Kongregasi OFM Cap. Provinsi Kalbar, dan rekan-rekan dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jakarta, Dr. Ir. P.M. Winarno selaku Direktur LPPM dan Dr. Sugiarto sebagai Warek I UMN yang memberikan dorongan.

Rektor UMN, Prof. Yohanes Surya, Ph.D. selalu mendorong agar saya tetap, dan selalu, produktif menulis. Ia ingin, UMN dikenal luas bukan saja karena mutu akademiknya, melainkan juga karena publikasi ilmiah dan riset-risetnya. Sang pakar fisika lalu memaklumkan UMN sebagai "universitas riset" yang akan dikenal luas dan sitasi (kutipan) ilmiahnya dinantikan banyak pihak. Harapan Prof. Yo mulai jadi nyata, terbukti blog saya diunduh pengunjung 20-30 per hari.

Rosnani Nilam, Rio, dan Amanda juga banyak memberikan kontribusi dalam persiapan buku ini. Terima kasih juga disampaikan pada Penerbit dan Pemkab Sanggau atas bantuannya. Sohib saya, Sujimin Herman (sesama anak perbatasan Sarawak, Sujimin dari Noyan) banyak memberikan dukungan dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini.

Jakarta, 22 September 2009

Daftar Isi

Bab 1
Jangkang dalam Rekam Jejak Zaman Kolonial
Bab 2
Dayak Jangkang Berdasarkan Dialek dan Tempat Tinggal
Bab 3
Agama Asli Dayak Jangkang
Bab 4
Headhunting (Ngayau) dan Filosofinya
Bab 5
Misionaris Barat: Juru Selamat bagi Dayak Jangkang
Bab 6
Ritus, Upacara, dan Festival
Bab 7
Adaptasi dan Akulturasi
Bab 8
Menjadi Orang Serani
Bab 9
Menjadi Katolik Mayoritas
Bab 10
Penjarahan Tanah Adat atas Nama Pembangunan: Neoimperialisme yang Perlu Diwaspadai
Bab 11
Tantang Jawab Dayak Jangkang

Bab 1
Jangkang dalam Rekam Jejak
Zaman Kolonial


Adakah Jangkang dalam peta dunia? Terdeteksikah etnis ini dalam khasanah bahasa dan peradaban bangsa-bangsa?

Kita hampir musykil menemukan di mana posisi Jangkang sebelum merdeka dalam peta dunia. Wilayah yang mengelilingi Gunung Bengkawan itu belum terekam dalam khasanah dan pergaulan internasional.

Praktis, Jangkang hanya ada dalam satu dua wacana di masa prakemerdekaan. Yang hanya disebut sekelebat saja, ketika membahas suku-suku lain, misalnya Bidayuh, Iban, Kenyah, dan Kayan yang menjadi terkenal di mancanegara karena Sir James Brooke, “Rajah Putih Penguasa Sarawak”, yang memerintah negeri berpenduduk mayoritas Dayak itu gemar “menjual” etnis Dayak ke luar.

Lepas dari usahanya mengenalkan etnis Dayak ke luar, dan dari sana nantinya banyak etnolog dan peneliti menulis tentang Dayak, satu kelicikan Brooke patut untuk dicatat. Betapa tidak! Ia mahir menggunting dalam lipatan. Setelah membantu Sultan Brunei menumpas para pemberontak Dayak Bidayuh melawan Sultan Brunei, ia kemudian memreteli kekuasaan Sultan. Bahkan, dinobatkan menjadi raja putih bagi suku Dayak. The white king begun stealing in the Dayak’s land from here!

Pelajaran yang ditinggalkan Brooke pantas dicatat untuk kemudian disimak. Ia telah membangun dinasti di Negeri Sarawak, menerapkan nepotisme, kekuasaan dibuatnya berpusat pada satu tangan. James Brooke 27 tahun menjadi raja Sarawak (1841-1868). Ia digantikan keponakanya Charles Brooke (1868-1917), dan raja ketiga adalah Charles Vyner Brooke (1917-1941). Dengan demikian, dinasti Brooke ini berkuasa di Sarawak sampai tahun 1941.
Sir James Brooke, Si Raja Putih yang "menjajah" Negeri Dayak.

Karl Helbig, salah satu cendikiawan Barat yang jadi populer karena meneliti etnis Dayak.

Selain menempel ketenaran Dayak Bidayuh, Jangkang disebut sekilas dalam catatan Karl Helbig, seorang penjelajah dan etnologist berkebangsaan Jerman yang bernama lengkap Karl Martin Alexander Helbig. Itu pun disebut sambil lalu, tatkala Helbig mengisahkan ekspedisinya melintas Borneo dari Songkong (mestinya Sungkung)sebuah tempat tinggal Dayak Sarawak yang letaknya tidak jauh dari Jangkang.

Keraton Kerajaan Sambas, populer disebut “Alwatziqubillah”, punya hubungan historis dengan Sarawak dan Brunei. Hubungan historis ini yang menjadi latar, mengapa Dayak di Malaysia sudi membantu saudaranya di Kalimantan Indonesia waktu kerusuhan Sambas.

Tidak secara telak menyebut, namun Jangkang sempat dicatat sebagai salah satu subsuku Dayak di kerajaan Sanggau yang terkenal gagah berani dalam peperangan. Merekalah headhunting yang sesungguhnya.

Dibandingkan etnis Melayu, Dayak di wilayah kerajaan Sanggau cukup menjadi perhatian para pakar antropologi budaya dan menjadi pokok kajian (objek material) ilmiah sejak zaman kolonial. H.P.A Bakker misalnya, dalam jurnal Tijdschrift voor Indische Taal Land en Volkenkunde volume 29 yang terbit tahun 1884, sambil menyingung mengenai sejarah Kerajaan Sanggau, sempat menyentil tentang kepercayaan dan adat istiadat penduduk setempat.

Kemudian, M.C. Schadee, Controleur bij het Binnenlandsch Bestuur (Kontrolir Pamong Praja) mencatat kepercayaan suku Dayak di daerah Landak dan Tayan yang disebutnya sebagai shamanisme.

Karena Tayan merupakan asal nenek moyang Dayak Jangkang (Macan Luar alias Kek Gila), maka bolehlah ditarik kesimpulan bahwa pada masa sekitar awal abad 18, kepercayaan penduduk asli Tayan sama dengan yang kemudian dibawa ke Jangkang. Pendiri Jangkang, “Kek Gila” berasal dari Tayan.

Pada zaman kolonial, dan hingga masa pendudukan Jepang, Jangkang kurang menarik perhatian pemerintah jajahan. Hal ini karena luasnya kepulauan Borneo. Apalagi, waktu itu, Borneo belum menjadi wilayah kolonial sendiri. Dan baru pada tahun 1936 ditetapkan Ordonantie pembentukan Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost (Stbld. 1936/68). Borneo Barat menjadi daerah Karesidenan dan sebagai Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost yang pusat pemerintahannya adalah Banjarmasin.
Dua tahun kemudian, Gouvernementen van Borneo dibagi dua. Yakni Residente Zuideen en Oosterafdeling van Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Residente Westerafdeling dengan ibukotanya Pontianak.
Jangkang nan menawan terletak di kaki Gunung Bengkawan. Sejuk hawanya, segar udaranya, indah panorama alaminya.

Tiap-tiap Residente dikepalai seorang Resident dengan Besluit Gouverneur van Borneo tertanggal 10 Mei 1939 No.BB/A-I/3/Bijblad No. 14239 dan No.14239 a) Residensi Kalimantan Barat dibagi menjadi empat afdeling dan 13 onder afdeling.

Jarak Jangkang ke sebuah kota kecil tepi Sungai Mengkiang, Balai Sebut, yang kini menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Jangkang dan paroki Jangkang, adalah 7 km.
Hingga tahun 1980, transportasi hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, sepeda, dan sepeda motor. Praktis, kontak dengan dunia luar dan pusat pemerintahan di luar daerah itu melalui sarana transportasi air yang harus dilayari dengan perahu bermotor 18-24 jam, menginap di perjalanan, dan baru diteruskan esok harinya.
Jika tidak memungkinkan, misalnya jika musim kemarau dan perahu motor terdampar di Riam Kaboja, maka perjalanan akan lebih lama lagi. Jika keadaan tidak memungkinkan, biasanya ke Sanggau orang Jangkang akan berjalan kaki. Melintasi kampung Sekantut, Parai, Jeropet, daerah Jungur Tanjung, Entakai, hingga masuk kota Sanggau.

Meski cukup jauh dari Jangkang, Sungai Mengkiang boleh dikatakan sangat strategis karena beberapa hal.

Pertama, sungai yang juga sering disebut Moncangk itu memberikan kehidupan bagi penduduk karena ikannya berlimpah dan terkenal lezat. Lais, baong, tuman, tapah, dan seluang merupakan ikan kegemaran. Orang Jangkang sering mencari ikan di sungai ini, bersama-sama dengan orang Melayu Balai Sebut, tapi tidak pernah berkelahi soal tempat. Bahkan, ada semacam kesepakatan di antara mereka tidak boleh mengambil ikan yang masuk alat penangkap ikan berupa pukat, tajor, kail, ijap, tabent, kolabant.

Kedua, Sungai Mengkiang menjadi strategis karena posisi muaranya yang jatuh tepat di Sungai Sekayam, letaknya tidak jauh dari kota Sanggau di mana Sungai Sekayam bermuara. Sedemikian strategisnya, sehingga Muara Mengkiang bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sanggau ketika didirikan Dara Nante yang bersuamikan Babai Cinga.

Akan tetapi, pada zaman pemerintahan Dayang Mas, kota raja dipindahkan dari Sanggau ke Nanga (Muara) Mengkiang. Lalu kembali berpusat di Sanggau lagi pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin.

Ditengarai bahwa dari Nanga Mengkiang inilah kaum Melayu berawal dan membangun pemukiman di sepanjang pesisir Sungai Mengkiang; meski pada zaman prasejarah, sebenarnya moyangnya satu dengan Dayak. Buktinya, kebanyakan kampung/desa di pesisir Sungai Mengkiang mayoritas, bahkan ada yang seluruhnya, Melayu. Sungai Mengkiang, Balai Sebut.

Perkampungan Melayu paling hulu, dan sekarang menjadi pusat ibukota kecamatan Jangkang, adalah Balai Sebut. Tahun 1970-an, 90% warganya Melayu, sisanya Dayak, dan sebagian kecil Tionghoa sebelum etnis ini ditarik ke kota sebagai buntut dari upaya penumpasan PGRS/Paraku. Kini warga Balai Sebut separuhnya Dayak. Mereka bermukim dan mendirikan rumah-rumah agak jauh dari pantai. Ini sesuai dengan kebiasaan orang Dayak pada umumnya. Karena itu, mereka disebut “Sidak Darat” (orang darat) oleh Melayu Balai Sebut.

Dan memang demikianlah kebiasaan orang Dayak. Mereka lebih suka mendirikan perkampungan dan bermukim jauh dari tepi sungai. Itu sebabnya, para pengamat dan penulis asing menyebut mereka Land Dayak, bukan riverside, tapi upperside, karena memang senang bermukim di daratan.

Ditilik dari pola pemukiman dan persebaran penduduk, penghuni Balai Sebut adalah etnis Melayu. Miskinnya sumber-sumber dan catatan tertulis tidak cukup adekwat untuk menyimpulkan kapan etnis Melayu pertama bermukim di Balai Sebut. Tahu-tahu sudah ada etnis yang oleh Dayak Jangkang disebut “Sinan” ini bermukim di pesisir Balai Sebut yang indah karena berbentuk terusan.

Akan tetapi, sumber tertulis seperti catatan seorang misionaris asal Belanda, Herman Josef van Hulten tahun 1940-an, sudah menyebut pemukiman Melayu ini. Dengan sedikit mendeskripsikan kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misonaris Belanda, Herman antara lain mencatat,

...Maar weer terug naar Jangkang –tweemaal 70 km te voet, voor niks en strakjes weer opnieuw! Na een half jaar de tweede oproep; weer die 70 km afleggen. Ik sta weer voor het gebow en weer in habijt. Tientallen mensen staan te wachten. Eindelijk hoor ik duidelijk de naam Bong, burgemeester van Balai- Sebut, dus nu moet mijn naam ook volgen. Dan reoept iemand: “Pastor Herman van Jangkang”. Aller ogen zijn op mij gericht; ik ga de trap op, waar Bong al op het bankje zit en mij de plaats naast hem wordt aangewezen. De twee rechters zijn zeer vriendelijk en wensen mij n.b. in Nederlands goedemorgen, wat ik ook vriendelijk beantwoord, terwijl zij mij de hand geven. Een van de twee rechters –ze spreken nog steeds in het Nederlands—vraagt mij eerst een eed af te legen—wat gebeurt. Daarop: “Pastor Herman, vertelt U eens wat er is gebeurt... De rechter herhaale dit in het Maleis en zei erbij van nu af de Malaise taal te gebruiken, zodat de heer Bong het ook zou kunnen volgen. Nu gaf de rechter de heer Bong de gelegenheid om er iets tegenin te brengen....” (Hulten, 1983: 248-249).

Dari deskripsi mengenai Balai Sebut dan perlakuan salah satu pemimpin Melayu di pemukiman tepi sungai Mengkiang ini dapat disimpulkan bahwa ada semacam kekurangsukaan dari pihak Melayu atas kehadiran misionaris asing di Jangkang. Tidak semua, namun hanya sebagian.

Buktinya, ketika gereja dan sekolah Jangkang pertama kali didirikan, para tukang adalah etnis Melayu Balai Sebut yang mengerjakannya. Mereka melakukan kerja bangunan yang bukan merupakan tempat ibadahnya karena keterampilan bertukang memang jagonya kaum Melayu. Keterampilan ini masih diteruskan sampai hari ini. Di sepanjang pesisir Balai Sebut dapat kita saksikan sampan, perahu motor, dan pekerjaan pembuatan kusen dan bangunan tempat tinggal yang dikuasai Melayu.

Sangat boleh jadi, kekurangsenangan pemimpin Melayu pada misionaris asing didorong oleh rasa iri hati, mengapa yang dibantu misionaris justru Dayak dan bukan Melayu? Pada waktu itu, Melayu sudah memeluk agama Islam, sedangkan Dayak pada umumnya masih menganut kepercayaan nenek moyang. Maka etnis Dayak menjadi prioritas evangelisasi.
Dengan demikian, usaha para misionaris menyebarkan syiar agama Katolik kepada etnis Dayak adalah langkah tepat. Namun, cara yang dilakukan secara persuasif, tidak arogan, apalagi memaksa. Para misionaris masuk dan menjadi bagian hidup mereka. Menjadi bagian inetegral suku Dayak, berpola hidup, berperilaku, maupun berpikiran secara mereka pula. Itulah yang dilakukan misionaris asing, seperti Herman. Dalam istilah filsafat antropologi, para misionaris asing melakukan akulturasi dan adaptasi.

Menurut Bakker (1972: 48-49), akulturasi adalah usaha mentransponir ajaran, bahkan struktur-struktur Gereja dari lingkungan kebudayaan Greco-latina ke dalam alam pikiran setempat. Usaha itu merupakan perkembangan Gereja yang radikal dan menghasilkan struktur yang pluriform. Sifat pluriform mengganti sifat uniform yang nyata, lagi kokoh. Perbedaan dan differensiasi seperti sudah bukan saja tuntutan psikologis (human relation) saja seperti adaptasi, melainkan tuntutan teologis. Dalam differensiasi di antara makhluk-makhluk dinyatakan kesempurnaan Pencipta. Harta benda rahmat terlalu kaya daripada mungkin dapat dimuat dalam struktur rohani saja.

Akulturasi inilah awal proses pembribumian ajaran Katolik di antara Dayak Jangkang. Berikutnya, baru terjadi adaptasi di mana para misionaris mengomunikasikan ajaran Gereja Katolik melalui saluran-saluran kebudayaan dalam hal bahasa, sistem berpikir, pola peradaban, dan bentuk-bentuk sosial.

Corak asing semakin melemah, sedangkan kebudayaan bangsa yang didekati semakin diperkuat. Pewarta (misionaris) sekaligus ajaran yang disampaikan mengikuti kebudayaan penduduk setempat tanpa kehilangan sifat hakikinya. Inilah yang disebut adaptasi.

Option for the poor yang menjadi semangat Gereja sejak didirikan di atas Petrus, si batu karang, tetap dibawa misionaris asing ke Jangkang. Tahun 1939 umat Katolik Kobang sudah ada. Yang unik, mula-mula yang menjadi Katolik di Kobang adalah kepala kampungnya, yang digelari “Mangku”, baru kemudian diikuti rakyatnya. Mangku adalah calon temenggung yang otomatis menjalankan tugas tumenggung jika berhalangan atau bila tumenggung mangkat.

Umat Katolik Kobang tahun 1939. Pastor Ewald, “Kek Tuan” Kobang, mendirikan kapel di sini.

Sebelum nantinya berpusat di Jangkang, Ewald sebagai misionaris kerap memilih menginap di Kobang karena hawanya yang dingin, terletak di punggung bukit Bengkawan. Selain berhawa sejuk dan mirip dengan cuaca di negeri asalnya, Kobang dipilih Ewald karena kaki tangan dan tentara Jepang mengincar misionaris Kristen Barat ini. Karena lebih sering menginap di Kobang, maka Ewald digelari “Tuan Kobang”.

Di Kobang sudah berdiri rumah panjang. Ewald mendirikan kapel terpisah dari rumah panjang. Namun, beribu sayang, perpisahan umat Katolik Jangkang dengan Ewald harus terjadi karena ia diinternir Jepang ke kamp di Kuching. Umat menangis. Tiada hentinya mereka berdoa dan berharap “Kek Tuan” kembali lagi ke tengah-tengah mereka. Namun, orang yang dinantikan itu tak pernah kembali karena ia wafat di Kuching dan dimakamkan di sana.

Rumah panjang atau betang di masa-masa awal pembukaan lahan.

Mengapa misi pertama-tama memilih Kobangk, sebuah kampung Dayak di kaki bukit Bengkawan yang berpuncak setinggi 917m, dan berjarak sekitar 7 km dari Jangkang, bukan Balai Sebut sebagai pusat misi?

Pada saat misi pertama kali menginjakkan jejak di tengah Dayak Jangkang, Balai Sebut sudah mengenal agama. Lagi pula, waktu itu penduduknya mayoritas Islam.

Namun, selain Bong, banyak warga Melayu menghargai dan menghormati misionaris. Mereka menyebut “tuan pestor” (tuan pastor). Bahkan, sebelum Balai Sebut mendapat bantuan tenaga medis dari Pemerintah, sebelum tahun 1970-an, warga Melayu sering turun ke Jangkang untuk berobat pada pastor.

Biasanya, tiap-tiap hari raya keagamaan Katolik, mereka tumpah ruah ke Jangkang karena ada keramaian. Baik hiburan maupun pertandingan-pertandingan sering diadakan yang melibatkan hampir semua kampung di seluruh wilayah Paroki Jangkang.

Pada musim buah-buahan juga orang Melayu sering ke Jangkang dan Kobang. Mereka boleh memakan dan memetik buah sesuka hati. Jalinan persaudaraan Dayak-Melayu di Jangkang tetap harmonis. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada clash di antara kedua suku.
Karena itu, Tuan Jangkang tetap menjalin dan memelihara hubungan dengan Balai Sebut. Ketika ada urusan di pusat pemerintahan Sanggau, atau tatkala verloop (cuti), para misionaris memerlukan uluran tangan warga Melayu Balai Sebut.

Orang Melayu memiliki perahu motor yang bisa disewa. Atau jika tidak, mereka mahir mengemudikannya, sangat paham liku-liku dan kedalaman sungai Mengkiang, mana alur yang berbahaya dan mana yang tidak, dan sangat mengenal titik paling kritis alur pelayaran sungai yang curam berbatu seperti riam Kaboja.

Menilik kesamaan bahasa, budaya, ditambah rekam jejak alur pelayaran, Balai Sebut merupakan pengembangan dan perluasan wilayah dari kerajaan Sanggau yang sempat berpusat di Nanga Mengkiang.

Sebelum tahun 1980-an, jalur pelayaran sungai Mengkiang menjadi satu-satunya sarana tercepat perjalanan Jangkang-Sanggau-Jangkang yang menempuh jarak sekitar 70 km. Pada waktu jam istirahat makan siang dan malam, biasanya kapal motor berhenti sebentar. Jika gelap dan malam menjelang, maka akan menginap di perjalanan.
Pada saat istirahat dan menginap itulah terjadi kontak dengan penduduk pesisir. Yang jatuh hati, akan menikah dengan warga setempat. Namun, karena mayoritas penduknya Melayu dan beragama Islam maka jika Dayak kawin dengan gadis Melayu ia menjadi Islam dan dikatakan “torojunt kok aik” (mencebur ke sungai). Sebaliknya, jika gadis Melayu kawin dengan Dayak atau pria Melayu kawin dengan gadis Dayak dan mau tinggal bersama orang Dayak, ia disebut “naingk kak darat” (naik ke darat).

Terlepas dari soal kawin-mawin di antara Dayak-Melayu, di wilayah Jangkang ada satu fenomenon menarik. Kedua suku mengikatkan tali persaudaraan dan saling menghormati layaknya saudara sedarah saja. Jika mengikatkan diri sebagai saudara, maka keluarga Dayak dan Melayu menyebut masing-masing dengan dompu. Karena itu, bodompu berarti bersaudara. Mereka saling mengunjungi jika ada hajatan dan hari raya, saling menolong, dan berbagi suka duka layaknya saudara sedarah.

Yang menarik, meski pada awal mula kerajaan Sanggau didirikan oleh bangsawan Melayu dan diteruskan ahliwaris dan putra mahkota Melayu pula, namun “raja” terakhirnya justru orang Dayak. Wasiat Sultan Muhammad Jamaluddin sebelum mangkat, agar penggantinya kelak adalah putra mahkota tetap dipegang teguh.

Demikianlah, meski sempat terjadi friksi dengan Sultan Akhmad Kamaruddin, adik Sultan Muhammad Jamaluddin, dinobatkanlah Abang Taberani yang bergelar Pangeran Ratu Suryanegara menjadi raja kerajaan Sanggau.

Suksesi kerajaan terus berlangsung hingga pemangku kekuasaan kerajaan Sanggau jatuh pada Panembahan Mohammad Ali Mangku Negara (1814-1825). Lalu, jatuh lagi ke tangan Sultan Ayub Paku Negara (1825-1830) yang, pada saat pemerintahannya, mendirikan Masjid Jami di pusat kerajaan Sanggau.

Sejarah kerajaan Sanggau unik. Barangkali sulit menemukan duanya di dunia. Kerajaan yang diawali dan didirikan bangsawan Melayu sejak zaman kolonial, dan masih berlangsung hingga zaman peralihan, akhirnya ditutup oleh “raja” dari keturunan Dayak.

Sejarah kerajaan Sanggau mencatat Panembahan Gusti Ali Akbar memerintah dari 1944-1956. Sayangnya, kurang beruntung bagi Gusti Ali Akbar, sebab pada saat pemerintahannya beliau diintervensi kekuasaan asing yang ditandai dengan dikirimkannya oleh Belanda Asisten Residennya bernama Riekerk. Dengan segera, Riekerk menjalankan politik divide et impera . Tindakan pertama yang dilakukannya ialah menurunkan Gusti Ali Akbar dari tahta kerajaan. Dan pada saat bersamaan mengangkat Panembahan Gusti Mohammad Thaufig sebagai panembah yang memerintah hingga penyerahan swapraja.

Swapraja terakhir dipimpin Uray Mohamad Johan. Pada saat inilah terjadi penyerahan pemerintahan Swapraja Sanggau ke tangan M.Th. Djaman, seorang Dayak, selaku Kepala Daerah Swatantra Tk. II Sanggau pada tanggal 2 Mei 1960. Penyerahan ini, sekaligus menandai berakhirnya era kerajaan Sanggau dan nantinya ganti menjadi ibukota Kabupaten Sanggau.

Ketika buku ini ditulis, bupati dan wakil bupati Sanggau periode 2009-2015 dari etnis Melayu dan Dayak. Bahkan, pertama dalam sejarah, wakil bupati Sanggau adalah Dayak Jangkang, Paolus Adi yang pada pilkada mendulang suara terbanyak dari daerah asalnya. Tersanjungnya Paolus Adi ke tampuk Pemkab Sanggau, menandai kembalinya trah Engkarong sebagai pewaris sejati turunan Tampun Juah. Ayah Paulos Adi, Djapin, asli suku Engkarong, kakek-neneknya sedarah dengan kakek-nenek saya. Bahkan, jika dirunut, kami sama-sama turunan Mangku Gimak, Gimak anak Macan Talot lalu menurunkan Moneng, nenek saya.

Keraton kerajaan Sanggau. Permaisuri raja Sanggau pernah putri Dayak Kopa.


Bab 2
Dayak Jangkang
Berdasarkan Dialek dan Tempat Tinggal

Tahun 1988, di Pontianak, saya sempat berdiskusi dan berbincang-bincang dengan seorang peneliti linguistik dari Universitas Leiden, Nederland.

Waktu itu, ia memperkenalkan diri sebagai Sander Adelaar. Dan post factum 20 tahun kemudian, sebelum berhasil mengunduh hasil penelitiannya berjudul Salako or Badameà. Sketch grammar, texts and lexicon of a Kanayatn dialect in West Borneo saya tetap mengenalnya dengan nama ini.

Ternyata, nama lengkap peneliti yang meraih gelar tertinggi di dunia akademik, Ph.D. karena penelitiannya mengenai penggolongan dan penyelidikan bahasa Dayak Kanayant ini adalah Karl Alexander Adelaar. Tapi, sebagaimana kata Ernst Hemingway, what is a name? Yang penting, substansinya sama.

Meski objek penelitian mengenai Dayak Salako, untuk memberikan konteks, Adelaar membuat peta Dayak Kalimantan berdasarkan penggolongan bahasa. Dan Jangkang ada di dalamnya, dalam satu kesatuan dengan Land Dayak.

Sander Adelaar, pakar linguistik. Ia satu dari sekian peneliti asing tentang Dayak yang meraih gelar akademik tertinggi Ph.D. karena meneliti etnis Dayak.

Objek material maupun objek formal penelitian pria, yang menulis dengan tangan kidal itu, termasuk unik. Betapa tidak! Sander Adelaar belajar bahasa dan budaya Indonesia dan kelompok bahasa Austronesian di Universitas Leiden. Ia juga research fellow bidang Linguistik pada Australian National University dan Humboldt Fellow at Goethe University (Frankfurt) sebelum bergabung dengan University of Melbourne. Risetnya mengenai komparasi dan deskripsi linguistik dengan fokus pada variasi bahasa Melayu di Kalimantan (tempat ia melakukan riset lapangan), Madagaskar dan Taiwan. Ia juga meminati soal tradisi lisan dan sastra tulis tradisional Indonesia .

Yang penting, dan relevan dengan Jangkang, dari hasil penelitian Adelaar ialah kajian dan hasil studi bandingnya tentang Dayak, terutama bab 4 “Borneo as a Cross-Roads for Comparative Austronesian Linguistics”. Menurut Adelaar, betapa pentingnya posisi bahasa Melayu-Polinesia, terutama di Borneo, untuk memahami dan membandingkannya dengan bahasa Austronesian.

Jika tidak ada hasil penelitian seperti dilakukan Adelaar, kita tidak pernah mafhum bahwa terdapat kesamaan dari segi bahasa (juga budaya) yang menyatukan Land Dayak sebagai sebuah subkelompopk etnis Dayak. Atas dasar kesamaan linguistik inilah, Dayak Jangkang menjadi bagian kecil Land Dayak.

Sebagai penutur asing, dapat dipahami mengapa Adelaar memberikan tanda tanya pada lafal bahasa Jangkang. Sebagai catatan awal, orang Jangkang gemar memberi nama lain pada sesuatu/benda. Tidak mudah bagi orang luar Jangkang melafalkan atau memahami sinomim yang dalam banyak kasus hanya dimengerti Dayak Jangkang.

Sinomim itu bisa bentuknya lebih dari dua. Lagi pula, jika ditulis kerap bila dibaca tidak sertus persen sama dengan apa yang (semestinya) dilafalkan. Misalnya, tertulis “Jongkang” lafal yang benar Jongkangk. Jadi, rumus umum bahasa Jangkang jika ada kata berakhiran “ng” cenderung dilafalkan, atau ada kata “k” pada akhirnya.

Dengan demikian, nama-nama kampung di wilayah Kecamatan Jangkang, seperti: Kobang, Empiyang, Tangong, Lalang, dan setiap kata berakhiran “ng” seperti sabong (sabung), komong (kembung), cinong (condong), linong (lindung), dan sebagainya; cenderung dilafalkan dengan menambahkan “k” pada akhir kata.

Contoh perbandingan linguistik bahasa Land Dayak sebagai berikut:
mati, membunuh, tidur, mandi
(Land Dayak)
Bekati’ kabis ŋamis buus mamu?
Lara? kabih, [-ç] ŋamḯh buih mamǘ
Golek kobis ŋkəbis biis mamuh
Nonguh kobis ŋkɔmis bis mamǘh
Pandu kɔbis ŋɔmis biis mane?
Ribun I kobis ŋkobis bihis mandey?
Ribun II kɔbis ŋkɔmis biis mandey?
Jangkang kɔbi? kɔmI? bi? manI?
Lintang k(oɔ)bis ŋkɔmis biis manI?
Aye-aye kubəs ŋkuməs bis manḯ?
Sungkung kabəs nnabəs bə?əs mamuh
Sekayam kɔbis ŋkɔmis bis Mä́mǘh


Adelaar memberikan catatan bahwa bentukan mane?, mandey?, manI? dan man ḯ? merupakan adaptasi dari bahasa Melayu mandi atau Melayu- Dayak man(d)i?

Inilah subkelompok bahasa Kalimantan dan hubungannya dengan subkelompok ekso-Kalimantan yang lain. Dari peta persebaran penggolongan subkelompok Dayak dari segi linguistik dapat dilihat betapa etnisitas tidak dapat memisahkan antara Dayak Jangkang dan Dayak Sarawak.

Karena itu, tali persaudaraan di antara mereka terus terjalin. Bahkan, menjadi semakin erat ketika dibangunnya jalan internasional yang menghubungkan Jangkang-Kembayan-Sarawak dengan pos lintas batas Entekong . Kunjungan muhibah baik atas nama bahasa dan budaya, kekerabatan, maupun agama, sering dilakukan penduduk Sarawak ke Sanggau dan sebaliknya.

Pada zaman dahulu, orang Jangkang sering ke Sarawak menjual karet, cokelat, dan kulit trenggiling atau tenggiling. Mereka berjalan kaki melalui pintu gelap Mongkos. Beberapa tauke Tionghoa beragama Katolik sering mengirimkan makanan kaleng untuk pastor Jangkang, Herman Jozef van Hulten.


Peta persebaran pengguna bahasa di Kalimantan menurut penelitian Sander Adelaar.

Adelaar coba menyangsikan banyak teori yang menyimpulkan bahwa bahasa Melayu Riau merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Benar demikian, tapi bukan yang arkhais (yang asali). Menurut Adelaar, yang asli justru Melayu Selako yang dalam teks-teks internasional disebut Salako (a Malayic Dayak language). Tentu saja, sesuai dengan kaidah ilmu, antitesis Adelaar masih perlu diverifikasi, seperti juga dia memverifikasi temuan para pakar linguistik sebelumnya.

Sementara itu, Jangkang juga dikenal dalam penggolongan etnis-etnis dunia. Gordon Raymond G., Jr. (ed.), 2005, misalnya dalam Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas dalam “Djongkang entry” mencatat sebagai berikut,
Djongkang
A language of Indonesia (Kalimantan)
ISO 639-3: djo
Population 45,000 (1981 Wurm and Hattori).
Region Northwest, south of Balai Sebut.
Classification Austronesian, Malayo-Polynesian, Land Dayak

Populasi, atau pemakai, bahasa Djongkang menurut Gordon sebanyak 45.000. Sementara total penduduk kecamatan Jangkang, sebanyak 24.228 . Artinya, bahasa Djongkang juga ditutur oleh penduduk di luar Kecamatan Jangkang. Ini menunjukkan bahwa pengguna bahasa Djongkang cukup banyak.

Wikipedia mencatat bahwa Subetnik Dayak Bidayuh, Sarawak, Malaysia punya hubungan dengan Dayak Jongkang. Dayak Bidayuh menetap sekitar Serian seperti Tebekang, Mongkos, Tebedu hingga Tanjung Amo daerah perbatasan Kalimantan Indonesia yang berdialek Bukar-Sadong. Menilik bunyi dan asal usul katanya, Bidayuh sangat boleh jadi berasal dari “Bi Doih” yang berarti “Orang yang tinggal di darat”, atau “Orang Dayak”.

Peta tempat tinggal berbagai suku (Dayak) di Borneo hingga akhir abad 19.
Sumber: Anton W. Nieuwenhuis, 1994

Keterangan peta:
A 4 Kadayan F 5 Kajang
Punan 5 Murut Ida’an 1 Ngaju 6 Aoheng
1 Bukit 6 Berawan 2 Ot Danum
B D 3 Ma’anyan
Bajau Laut 1 Selako 4 Melawi H
G 1 Kutai
C 1 Kayan 2 Brunei
1 Rungus Dusun E 2 Kenyah 3 Banjarmasin
2 Lun Dayeh 1 Iban 3 Modang 4 Sambas
3 Kelabit 2 Ibanic 4 Maloh 4 Sambas
5 Sukadana

Subkelompok Penutur Dayak Djo dan Persebarannya
Penutur Dayak Djo, sesungguhnya, masih bisa dipilah-pilah lagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dasar pemilahan subkelompok ini adalah kesamaan dialek, pengucapan, dan tempat tinggal.
Atas dasar itu semua, kita dapat membagi Dayak Djo ke dalam 11 subkelompok sebagai berikut.
1. Suku Jangkang
2. Suku Engkarong
3. Suku Ensanong
4. Suku Hulu Tanjung
5. Suku Darok
6. Suku Sum
7. Suku Muduk
8. Suku Selayang
9. Suku Mayau
10. Suku Kopa
11. Campuran suku Jangkang, Engkarong, dan Hulu Tanjung

Subkelompok Suku Jangkang merupakan mayoritas. Umumnya mereka mendiami bagian utara Jangkang Benua, seperti Kobang, Landau, Parus, Tanggung, Engkolai, Benuang, Kawai, Sebao, Tumbuk, Pisang, Rosak, Entawa, Teriang, dan Ketori .

Subkelompok Suku Engkarong mendiami kampung Sekantot, Semombat, Lalang, Uru, Tanjung Bara, Tekorong, Emporas, Balai, dan Riban.

Subkelompok Suku Ensanong mendiami kampung Terati, Parai, Sererek, Pelanduk, Dasan, Endoya, Robia, dan Engguri.

Subkelompok Suku Hulu Tajung mendiami kampung Peruntan, Sape, Dangku Kabalau, Sebuda, Boyok, Sungai Omang, Seribot, Bengap, dan Muara Tingan.

Subkelompok Suku Kembayan mendiami seluruh bagian kecamatan Kembayan dan Noyan.

Subkelompok Suku Darok mendiami kampung Darok, Ginis, dan Bungok.

Subkelompok Suku Sum mendiami kampung Sum, Bantai, Bangau, Majel, Rondam, Muan, Monum, dan Jamu.

Subkelompok Suku Muduk mendiami kampung Mua, Empodis, Tapa, Entayan/Nibuk, dan Nala.

Subkelompok Suku Selayang mendiami kampung Sinu dan Petuo.

Subkelompok Suku Mayau mendiami kampung Kotup, Tebilai, dan sebagian kampung Engkadot.

Subkelompok Suku Kopa mendiami kampung Empiyang, Empoyu, Padek, Sebotuh, Muara Ronai, Tunggul Boyok, Kolo, Norma, Bedigung, dan sebagian kampung Engkadot.

Sedangkan sisanya merupakan campuran dari subkelompok suku Jangkang, Engkarong, dan Hulu Tanjung.

Subsuku Hulu Tanjung ini terutama bermukim di Sabang, Tebuas, Sentowa, Semukau, Jambu, Sekampet, Semirau, dan Ensibau. Asalnya dari Nyongka, atau Ansar, dekat Mualang. Ketika pindah, penduduk melabuhkan harta bendanya di sungai yang disebut Lubuk Benda. Mula-mula bermukim di Tomisek (12 kepala keluarga), lalu pindah ke Sonibongk. Kemudian pindah lagi ke Tomawangk Buntant (dekat Sebuda), lalu ke Bidei atau Nyongka. Karena itu, subsuku Jangkang Jungor Tanyongk (Hulu Tanjung) disebut juga suku Bidei. Subsuku ini bermukim di Sape, Dangkuk, Nyongka, dan Sp-4. Salah satu tokoh yang terkenal ialah Djeng.

Kekhasan dan Differensiasi Dialek
Dayak Djo yang pada awal mula berasal dari Kek Gila (Macan Luar) yang sama, kemudian menurunkan beberapa subkelompok. Perbedaan dan differensiasi paling mencolok di antara subkelompok itu adalah segi dialek.

Perbedaan itu tidak selalu positif. Malah, kerap mendatangkan ejekan yang menimbulkan salah paham. Bahkan, subkelompok tertentu, terutama Suku Sum, di-stereotype sebagai suku primitif. Asalkan ada hal yang aneh dan ganjil, atau terjadi sesuatu yang bodoh, disebut “Matut bi Sum” (pantas seperti orang Sum).
Orang asing, atau orang yang baru saja tinggal di wilayah Jangkang, tentu belum peka dan belum terbiasa untuk mengetahui idenditas siapa penutur dialek bahasa Djo. Namun, penutur bahasa Djo dan orang Jangkang sudah mafhum dari mana asal orang yang menuturkan dialek itu. Mereka dapat mengetahui daerah tempat tinggal penutur dari dialeknya.

Ternyata, salah satu permaisuri Raja Sanggau keturunan Dayak. Ini hasil wawancara saya dengan tetua adat Jangkang, putri Mangku (temenggung) Kopa, Ayang "diculik" pesuruh raja Sanggau untuk dijadikan istri. Ayahnya menyusul, dan setelah diancam ujung tombak ke pangkal paha,akhirnya raja bersumpah menjadikan anak Mangku permaisurinya. Cerita ini dalam bahasa Jangkang.

Ayang, Permaisuri Raja Sanggau, dari Kopa (Jangkang)

Natos libo nyen seh macan (temenggung) daerah Kopa. Odop neh leh onya nsalingk borodant koni “Kek Ngkuduk”. Macan Natos miah onak Kek Gila (Macan Luar), Macan dek nulong Raja Paku, Raja Sangao, ngalah Raja Moliau.

Onak Macan Natos dek bunso berodant ko Ayang. Hati-hati bi ompu ngant neh nyi odomp de saja mok leh moles. Libo tikin timongk, omang neh ngorima wak Mpanyer, utak Sungi Kolo. Pada suatu onu, omang neh pulei asi ngrimak nyak ngopingk gah onah neh borodant ko Ayang leh posuruh raja miah.

“Nan seh pomponih domanak neh?” tiji Macan Natos koni gok bala neh.

“Onu ijik seh. Asi orut oh domanak neh monik!”

Mosik miah Ayang, bala posuruh raja seh maman asi Sodua. Aik Sodua nyen ka boutak ko ayik Sokoyamp.

“Mak mo nyen maji ilump neh ko ngusol neh,” kuant Macan Natos.

Panang ngorum onu neh seh Macan Natos bosomadi. Odomp minte bantu ngan potunjuk ko ponompa nyak ngusol onak neh. Ilump onu borangkat boh odomp seh. Asi Mpiyangk motok Padek, Tunggul Boyok, Potuo, Sami, mutas Sungi Sokoyamp motok ko Mamal, lalu ko Kadak, Lanong, Ngala, Sungi Mawang, sampae Sangao. Ikah onu monik ko Sangao leh neh. Bobokal tumak (tombak) odoh sarong leh komot ngant dount podang, mak ngasi sarong tujak mak pomant nujak neh saja potik.

Panang monik ko Sangao, Macan Natos saja tokojot.

“Omoh mah Raja dek miah onak koh,” kuant neh.

“Oko moh,” kuant raja.

“Mak mok nyen, kinamp maeh neh!” kuant samel ara ngontak raja ngan tumak neh.
Tumak ngen leh nidel koni tonik kuyuk raja.

“Omo ara kobek kah ra midop?” kuant Macan Natos niji raja.

“Ngampunt ngumun maeh macan, ngampunt,” kuant raja.

“Oko mae komoek omo mak onak koh jodi permaisuri. Tapi mah onak koh jodi gundik, kinamp maeh atoh tumak nto nancap koni tonik kuyuk moh!”

“Yok!” kuant raja. “Onu nto moh oko resmikan ayang jodi permaisuri. Mulai onu nto, Ayang nyen mae Ayang agik odant neh, tapi sile koh odant neh jodi: Ayu.
Tapi tentang keturunan Ratu Ayu secara umum disembunyikan asal usul oleh raja. Walaupun disembunyikan, torunt nyen kan mae tao lapet. Tadok buh neh. Nyen tojih hubungan bi Kopa ngan kaum raja-raja erat sekali. Ompuk-ompuk bukunt cara komunikasi Sinan ngan bi Doih. Nya Sinan nyapa “Dompu” koni Bi Doih. Bi Doih secara sopan njawab Sinan nyen “Somang”.

Lain dengan bi Kopa. Mae gompangk kaum bangsawan bodompu ngan bosomang koni obi Kopa, tapi bo akak bo adik. Sampae nto.

Makam ratu Ayu arah Sungai Kantuk, wah lap koyuh tapangk. Wah ngoyen makam ratu Ayu. Bi Kopa kotaok sidik asal usul Ratu Ayu.

Bab 3
Agama Asli Dayak Jangkang

Situasi kondisi Pulau Borneo di masa lampau, turut mewarnai lahirnya perasaan religius (sensus religiosus) di kalangan etnis Dayak. Lemahnya sistem komunikasi karena sarana transportasi yang tidak memadai, turut ambil bagian membentuk pemikiran religi etnis Dayak. Keterbatasan mobilitas yang disebabkan bentuk dan kondisi geografis, mau tidak mau, melahirkan konsepsi bahwa jagad raya ini dipandang memunyai kekuatan gaib.

Liku-liku konsepsi etnis Dayak mengenai Realitas Mutlak, sejatinya dapat ditelusuri dengan mengamati sejauh manakah alam ini menguasai segi-segi tertentu kehidupan mereka. Kondisi alam pulau Borneo yang serba angker menyimpan misteri yang perlu dijawab.

Sebagai konsekuensinya, komunikasi sosio-religius-kebudayaan etnis Dayak hanya terjadi di kalangan internal mereka saja. Sedangkan ke luar, komunikasi tersebut mungkin hanya terjadi dengan komunitas lain, yang seara geografis berdekatan.

Penompa dan Lahirnya Sensus Divinitas
Ciri-ciri alamiah Borneo yang masih asli turut mewarnai keyakinan etnis Dayak. Lahan pertanian misalnya, dapat mendatangkan penghidupan jika diolah. Demikian pula, hutan yang kaya dengan flora dan fauna menyediakan bermacam ragam keperluan hidup. Namun, di pihak lain, alam ini sekaligus juga bisa mendatangkan bencana. Tersesat di hutan, sampar, banjir, penyakit, dan berbagai malapetaka menyadarkan mereka bahwa ada kekuatan lain di atas kuasa manusia. Hanya saja, bagaimana bentuknya, esa ataukah kolektif, apakah kekuasaan itu hierarkial; mereka belum menemukan jawaban yang meyakinkan.


Pastoran Jangkang tahun 1970-an. Nabi, atau penyelamat Dayak Jangkang, P. Lazarus adalah misionaris Ordo Kapusin asal Negeri Swiss, di antara umat. Pastoran ini dibangun tahun 1951, di atas tanah milik Guru Imu (Kek Jaya) yang membelinya dari Pak Basai (ayah Yosep Basai, alias Mang Santo). Inilah cikal bakal pengkatolikkan Dayak Jangkang, dari headhunter to Catholic majority. Waktu misi datang, orang Jangkang masih menganut agama asli nenek moyang.


Agama Asli Dayak Jangkang sebagai ethnic-cultural unit
Dalam konteks itu, kepercayaan Dayak Jangkang dan Dayak pada umumnya harus dimengerti. Karena persebaran yang begitu sporadis, dan saluran komunikasi yang masih primitif, interaksi sosial juga terbatas. Terjadi perbedaan penyebutan nama dewa dan juga bentuk pemujaan yang beragam. Namun, jika diteliti dengan saksama, sebenarnya ada kesamaan.

Demikian pula ritus, terdapat garis temu yang menjadi penanda bahwa kepercayaan etnis Dayak pada umumnya belum mengarah ke bentuk monoteisme mutlak. Namun, sudah ada pemikiran ke arah adanya satu sang pencipta.

Konsep ini dengan jelas dapat ditelusuri dari kosa kata Dayak Jongkang yang menyebut bahwa struktur hierarikal tertinggi dari dewa-dewa adalah “Penompa”. Artinya, penempa (besi), pembuat, pencipta, asal dari segala yang ada. Dayak Kanayant menyebutnya Jubata. Sebagaimana telah disinggung penamaan untuk Penguasa jagad raya ini berbeda suku satu dengan suku lain, sesuai dengan dialek. Namun, esensinya kurang lebih sama.

Penting dicatat, konsep Dayak Jangkang tentang Penompa, atau kerap juga disebut Ponompa, ialah bahwa Penompa bergenus maskulin. Tampak jelas adanya pandangan yang memosisikan pria di atas wanita. Ini terbukti dari sebutan “Kek Ponompa” yang menggambarkan bahwa Junjungan Yang Maha Tinggi Dayak Jangkang adalah maskulin, digambarkan sebagai sudah kakek (bijaksana), namun sekaligus juga bisa murka jika manusia tidak patuh dan tidak menaati larangan-larangannya.

Apakah perbuatan yang paling dilarang Penompa? Yang dilarang ialah perbuatan merusak alam. Juga menumpahkan darah manusia dan menghilangkan nyawa tanpa alasan yang dianggap masuk akal.

Larangan Penompa itu, kemudian dinyatakan, atau dituangkan, dalam hukum adat yang dipatuhi bersama. Pemangku adat biasanya juga menjabat imam. Mereka hafal peraturan dan adat di luar kepala, termasuk sanksi-sanksi pelanggarannya.

Kosa kata “Penompa” dapat ditelusuri dari dunia pandai besi. Dahulu kala, dan kini pun di derah pedalaman, setiap pria Dayak dewasa adalah tukang besi yang terampil. Mereka sejak dini diajarkan untuk menempa besi guna membuat parang, mandau, alat berburu, alat menangkap ikan, alat membuat perlengkapan masak, perlengkapan berladang, dan alat-alat rumah tangga yang lain.

Ada tempat khusus membuat itu semua yakni ropunt. Yang penting dalam ropunt ini adalah tersedianya arang, dibakar, ditiup dengan alat khusus terbuat dari bambu yang dilubangi dan ditarik dengan stik yang dialasi kayu ringan dan dilapisi bulu ayam, disedot ke atas ke bawah, memunculkan tiupan yang bisa diatur besar kecilnya. Tiupan itu membakar arang. Arang yang membara akan memanaskan dan memuai besi, sehingga akan mudah ditempa dan dibentuk.

Ketika menanggapi peristiwa-peristiwa alam, orang Dayak sampai pada tataran filosofis. Mereka bertanya, mengapa bencara alam harus terjadi? Mengapa penyakit sampar menimpa kampung ini, bukan kampung itu? Dari manakah datangnya penyakit epidemik yang mematikan?

Demikianlah, orang Dayak punya serentetan pertanyaan. Untuk sebagian, mereka bisa menjawabnya. Namun, sebelihnya tetaplah pertanyaan yang belum, bahkan tidak pernah, bersua jawaban. Konsepsi mereka mengenai Realitas Mutlak, Sang Penompa, sudah ada. Hanya saja, belum tertata dalam sebuah sistem pemikiran rasional yang urut seperti halnya agama-agama modern.

Agama Asli Dayak Jangkang
Tidak hendak ikut dalam teori Schadee yang memberi labeling kepercayaan Dayak Landak dan Tayan sebagai shamanisme, juga tidak turut latah menyebut animisme dan dinamisme. Agak bersetuju dengan cara Schärer dengan menyebut kepercayaan Dayak Ngaju dengan “Ngaju Religion”, maka saya cenderung menyebut kepercayaan Dayak Jangkang dengan “Agama Asli Jangkang”.

Namun, apakah yang dimaksudkan dengan “agama asli”? Agama asli ialah sistem kerohanian khas Dayak Jangkang yang masih murni dan belum dipengaruhi oleh unsur-unsur dari kebudayaan mana pun juga serta aktivitasnya hanya terjadi di kalangan suku itu sendiri (bandingkan Rachmat Subagya, Agama Asli di Indonesia, Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1981:1Agama asli sama pengertiannya dengan agama primitif. Dari kata Latin “prima” (pertama/utama).

Jadi, agama primitif ialah agama yang belum dimasuki unsur-unsur luar, masih asli yang menunjukkan bahwa pada awal mula peradaban manusia sistem dan pengungkapan kepercayaannya masih sederhana.

Apakah unsur-unsur yang khas dari agama asli dan apa kriteria keasliannya? Bakker (1972: 1) mencatat bahwa terdapat beberapa sifat dari agama asli.

Sifat yang pertama dari keaslian ialah sifat lokal, yang berasal dari daerah itu sendiri, yang sejak dahulu ada di sini dan tidak diimportir dari luar. Sifat itu disebut autotochon sebagai oposisi terhadap allochton yakni yang tidak berasal dari tempat diketemukannya. Tetapi asal mula agama otokton itu terletak dalam zaman purbakala yang tidak banyak diketahui tentangnya.

Sifat kedua dari agama asli ilah tidak didirikan oleh seorang pendiri, melainkan tumbuh secara spontan dan anomim di tengah-tengah masyarakat setempat. Agama asli menjiwai hasrat sosial dan budaya yang berkembang dalam masyarakat dan mengarah ke penyempurnaan nilai-nilai dan sifat-sifat lokal.

Sifat ketiga dari agama asli ialah adanya pelaksanaan-pelaksanaan religi (upacara/ritus) menurut kepribadian suku bangsa sepanjang sejarahnya. Pada asli terdapat keyakinan bahwa sikap terhadap Zat Tertinggi berakar dalam ikatan dengan tempat hidup di bumi. Ikatan dengan bumi termasuk dalam modus essendi (caranya berada), keaslian merupakan eksistensi bagi manusia untuk mencapai tujuannya.

Demikianlah, Dayak Djo dalam agama aslinya lalu mempribadi –seperti juga agama-agama modern yang juga mempribadi. Bahkan, dalam keotentikannya, agama asli Dayak Djo sebagai “die Treue der Existenz zum eigenen selbst” (Martin Heidegger) mencapai puncaknya dalam sikap pemeluknya (manusia) terhadap ketuhanan.

Sifat otentik menuntut agar agama asli adalah penghayatan dari eksistensi jemaat dalam situasinya sebagai ethnic-cultural unit, menuntut prasyarat-prasyarat dari ekosistem: harmoni antara aspirasi rohani dengan alam sekitar fisik (habitat) dan alam sekitar hidup (biome) sebagai background dan seed-bed.

Dalam konteks sebagai ethnic-cultural unit inilah dapat dimengerti, agama asli Dayak Djo menjadi statis, terus-menerus bergerak mencapai keseimbangan, dan berdinamika sesuai dengan habitat, biome, background dan seed-bed.

Begitu misionaris Kristen Barat mengintroduksi doktrin Gereja Katolik dengan pintu masuk adat istiadat dan budaya setempat, agama asli Dayak Djo merealisasikan diri secara progresif. Tentu saja, setelah sebelumnya mengalami proses keseimbangan dinamis. Maka perlahan-lahan Dayak Djo merasakan bahwa Agama Katolik selaras dengan identitasnya, sehingga sukar untuk dilepaskan lagi.

Begitu generasi pertama lenyap, keselarasan identitas itu menjadi kekayaan yang diwariskan turun temurun. Dan memang demikianlah faktanya. Setelah Pemerintah Orde Baru menganjurkan warga Negara Indonesia memilih salah satu agama resmi yang diakui Negara, maka penganut agama asli Dayak Djo ramai-ramai masuk Katolik.

Akselerasi pertambahan Katolik di tanah Jangkang antara tahun 1949-1977 terjadi secara persentase tahun 1950 (29,5%) dari 457 Katolik menjadi 592 tahun 1951. Namun, secara kuantitas pertambahan terjadi tahun 1977 sebanyak 1.096, sehingga umat Katolik tanah Jangkang tahun 1978 sebanyak 9.533. Dan pertambahan ini terjai karena baptisan orang dewasa. Tahun-tahun berikutnya, pertambahan umat Katolik karena baptisan bayi.

Demikianlah, agama Katolik yang tadinya asing itu menjadi otentik dalam sebuah proses menyejarah dan berdinamika di tanah Jangkang. Katolik akhirnya menjadi agama otentik di antara Dayak Djo. Persis seperti yang dinyatakan Bakker, op.cit. hal. 4.

“Djuga bila agama berasal asing, dia baru otentik djika berakar dalam agam asli. Untuk ilmu perbandingan agama, inraccnatie sematjam itu sukar dipahami, sedangkan untuk theology jang mengakui adanya rentjana ilahi dalam agama-agama asli tidak merupakan soal. Untuk karya missi inraccnatie adalah syarat mutlak dan merupakan realisasi lengkap dari agama asli…. Djustru sekarang ini dengan pergeseran dalam adjaran Vatikan II dari uniformitas ke pluralitas, dari Geredja massa ke gereja lokal, saat sekarang sedia untuk menjawab challenge tersebut.”

Sistem Religi Dayak Jangkang
Bagaimanakah sistem religi atau agama asli Dayak Jangkang? (Skripsi S-1 saya di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang tahun 1988 berjudul Sistem Religi Suku Daya Klemantan: Konsepsi Mengenai Realitas Mutlak, Alam, dan Manusia. Dengan dosen pembimbing I, Dr. F. Wignya Prasetya dan pembimbing II Drs. Lucianus Simon Rande, skripsi setebal 137 halaman ini memutuskan istilah “religi” untuk menyebut kepercayaan asli Dayak Klementan (Land ayak) di mana Dayak Djo termasuk di dalamnya. Pandangan saya waktu itu dipengaruhi oleh pemikiran dan teori Koentajaningrat yang menurut pakar kebudayaan Indonesia ini ia sendiri justru dipengaruhi oleh filsuf, sekaligus bapak sosiologi, Emile Durkheim dalam bukunya yang terkenal Les Formes Ĕlěmentaries de la Vie Rěligieuse (1912).

Akan tetapi, dua dasawarsa setelah itu, setelah membaca dan mendalami buku Agama Asli Indnesia karangan J.W.M. Bakker, S.J. (diterbitkan Bagian Publikasi Puskat, Yogyakarta, 1972), saya justru sependapat dengan Bakker. Bahwa memang benar kepercayaan Dayak Djo adalah Agama Asli, sesuai dengan pengertian agama asli itu sendiri. Yakni “ekspresi dari sensus divinitas yang terpendam dalam jiwa bangsa Indonesia.”

Sebelum menjwab pertanyaan ini, baik kiranya dipaparkan lebih dulu mengenai bentuk atau ujud-ujud ekspresi dari sensus divinitas yang terpendam dalam jiwa Dayak Djo.

Dayak Jangkang tidaklah mempunyai tempat (rumah) pemujaan yang khusus yang dipakai secara kolektif. Menyediakan persembahahandan sesajian pun secara tidak rutin Saya memungut istilah ini dari J.W.M. Bakker karena memang sangat tepat dan sanggup menjelaskan fenomena dengan telak. Namun, Bakker tidak menjelaskan apa artinya. Sensus berasal dari kata Latin yang berarti perasaan, rasa, indera (K. Prent, 1969: 781) dan divinitas berarti ke-Tuhanan (K. Prent, 1969: 261). Jadi, sensus divinitas berarti: rasa akan kehadiran atau adanya keillahian.

Karena Dayak Djo sebelum misionaris Kristen Barat memperkenalkan Agama Katolik masih etnis yang primitif, maka mereka belum mempunyai sistem teologi yang bulat dan rasional untuk menjelaskan kepercayaan mereka. Kondisi ini tentu saja bertolak belakang dengan agama-agama modern yang jauh lebih siap baik dari segi doktrin, teologi, maupun strategi karya misioner yang sistematis dan metodis.

Justru di sinilah letak “kekalahan” agama asli ketika berinteraksi dengan agama-agama modern. Sehingga di dalam interpenetrasi, yang terjadi bukan hibrida, melainkan adaptasi dan akulturasi.

Ihwal kepunahan agama asli ini memang sudah dinubuatkan jauh hari sebelumnya (ilmuwan mengatakannya diprediksi). Fallding Harold, misalnya (McGraw-Hill Ryerson Limited, 1974: 183-204) menyebut proses kepunahan itu sebagai religious evolution. Mana agama yang berkembang dan mana yang susut, akan sangat bergantung pada apakah agama-agama tersebut dapat menjawab kebutuhan dan tahan terhadap guncangan badai zaman.

Tempat-tempat pemujaan di mana saja dan kapan saja. Yang paling lazim adalah tempat yang dianggap keramat, misalnya di gua, bawah pohon keramat,tanah tinggi, lahan perladangan, gerbang kampung, tembawang, tepi sungai, lubuk tertentu, atau belakang rumah. Waktu pemujaan kapan saja, bergantung pada kebutuhan. Pemimpin upacara tidak harus pria, kerap pula wanita yang dianggap cakap dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Menurut Koentjaraningrat (1974: 137142) terdapat perbedaan antara agama, religi, dan kepercayaan. Agama adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut semua agama yang diakui secara resmi di Indonesia, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu-Dharma, dan Buddha-Dharma. Religi yang biasa dipakai jika berbicara mengenai system-sistem yang tidak atau belum diakui secara resmi, seperti Konghucu (Konghucu ketika itu memang belum diakui sebagai agama/kepercayaan yang resmi di Indonesia. Jadi, Koentajaningrat memasukkannya ke dalam sistem religi), Advent Hari Ketujuh, Gereja Pinkster, Hindu, dan segala macam gerakan kebatinan. Sedangkan kepercayaan mempunyai arti yang khas, yakni komponen kedua dalam tiap agama maupun religi.

Dunia Dewa
Relasi dengan alam menjadi titik tolak Dayak Jangkang memandang penguasa alam raya. Sebagaimana telah disinggung, Penompa punya cara untuk berelasi dengan manusia. Ia mengirimkan utusan ke dunia ini untuk hidup dan tinggal bersama manusia dan pada saat diperlukan membantu mereka secara nyata.


Bab 4
Headhunting (Ngayau) dan Filosofinya

Headhunting di kalangan etnis Dayak, khususnya Dayak Jangkang, haruslah dilihat dalam konteks. Melepaskannya dari konteks, akan keliru besar, baik dalam pemahaman maupun dalam penilaian.

Dayak bukanlah etnis terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting. Masih banyak etnis lain yang melakukannya. Secara serentak, etnis Dayak mengakhiri ngayau tahun 1894, ketika diadakan musyawarah besar adat Dayak di Tumbang Anoi yang difasilitasi kompeni.

Mewakili daerah Jangkang menghadiri musyawarah Tumbang Anoi adalah Macan Talot dari Engkarong dan Macan Natos dari Kopa. Mengapa kedua macan (temenggung) itu yang diutus, agaknya berhubungan erat dengan posisi ketemenggungan, atau pemerintahan lokal, Jangkang pada saat itu.

Ngayau zaman dulu dilakukan saat padi sedang menguning. Hasil kayauan akan dipestakan bersamaan waktunya dengan gawai (pesta panen padi). Dayak Jangkang menamakan pesta menarikan kepala musuh ini Notongk. Notongk ditarikan (sonaja) sebagai satu rangkaian dari gawai itu sendiri. Ini gambaran suasana pesta gawai di Balai Ribant tahun 1940-an, penduduk bersukaria dan berdendang di ujung kampung. Sementara di samping tempayan tuak yang siap diminum bersama dengan menggunakan siongk (bambu kecil) untuk alat penyedot.

Akhir abad 18, pemerintahan lokal Jangkang dibagi dalam tujuh ketemenggungan. Karena ketemenggungan Engkarong adalah yang paling awal –keturunan langsung atau arkais dari migran pertama dari Tampun Juah, poya tona (tanah tumpah darah) pendiri kerajaan Sanggau, Dara Nante dan Babai Cinga— maka temenggung Engkarong yang paling dituakan. Ia menjadi primus inter pares dari enam temenggung lain, yakni ketemenggungan:
1) Kopa
2) Nsanong (Ensanong)
3) Tomok
4) Ndoya (Endoya)
5) Mpurangk (Poter)
6) Soguna (Mukok)

Talot sebagai macan Engkarong bersama Natos macan Kopa ditemani controleur dari Sintang berangkat ke Tumbang Anoi. Namun, di perjalanan controleur sakit (kakinya bengkak, bagi orang Barat kaki bengkak sangat berbahaya), lalu kembali ke Sintang lagi. Dengan demikian, hanya dua macan dari Jangkang yang menghadiri musyawarah Tumbang Anoi.

Saya setuju dengan J.U. Lontaan (1975: 533-537) yang mencatat setidaknya terdapat empat motif ngayau.
Pertama, melindungi pertanian.
Kedua, mendapatkan tambahan daya (rohaniah).
Ketiga, balas dendam.
Keempat, daya tahan bagi berdirinya bangunan.

Namun, saya menambahkan satu alasan ngayau lagi.
Kelima, ngayau adalah ujud pertahanan diri melawan serangan asing. Pertahanan diri ini tidak saja pasif (menunggu), tapi juga bisa menyerang (aktif atau preventif). Jika setelah dianalisis dengan perhitungan matang suatu suku atau kelompok akan menyerang atau mengancam, sebelum didahului, maka akan mendahului.

Ke dalam lima konteks inilah ngayau harus ditempatkan.

Etimologi dan Asal Usul Ngayau
Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi.

Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis. Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei - 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.

Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.

Apakah faktor yang menyebabkan pengayauan antarDayak ini terjadi?

Saling mengayau di antara sesama Dayak, sejatinya bukanlah semata-mata mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan dan kebanggaan sebagaimana selama ini dipersepsikan banyak orang. Alasan ini terlampau sederhana! Lebih dari itu, dilatari juga oleh nafsu balas dendam dan sebagai cara mempertahankan diri: menyerang lebih dulu sebelum diserang. Ini mirip dengan pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk perang).

Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam (mata ganti mata, gigi ganti gigi) merasuk dalam hidup orang Dayak.

Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum “mata ganti mata, tulang ganti tulang” segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.

Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti “musuh”. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, “… headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe….”

Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau berarti men¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.

Bai Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata “yao” yang berarti: bayang-bayang, mengahantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).

Namun, serta merta perlu diberikan catatan pada apa yang disebutkan perbuatan dan tindak-budaya ini. Kedengarannya aneh di telinga untuk saat ini. Namun, jika menyelami keyakinan etnis Dayak lebih mendalam maka kita akan segera menjadi mafhum di balik tradisi mengayau ini.

Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.

Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.

Prinsip bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi benar-benar diterapkan. Meski mengalami penyempurnaan dan penyesuaian, sisa-sisa praktik ini “mata ganti mata, gigi ganti gigi” ini masih diteruskan di Jangkang hingga hari ini.

Pasal-pasal hukum adat Kecamatan Jangkang masih terasa kental nuansa penuntutan atas pertumpahan darah ini. Terbukti dari diaturnya secara detail pasal-pasal yang menetapkan pengadilan atas perkara dari mulai yang terkecil kasus pertumpahan darah hingga mengakibatkan kematian, yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut dengan “Adat Pati Nyawa”.

Satuan untuk menghitung ganti atas pertumpahan darah unik, disebut dengan tael. Di masa lampau, menghilangkan nyawa manusia baik sengaja (misalnya tertembak waktu berburu) maupun secara sengaja maka si pelaku akan mengalami kesulitan membayarnya. Seisi keluarga dan sanak saudara akan turut terlibat membantu. Bahkan, bukan tidak mungkin sampai seumur hidup pelaku menunaikan kewajibannya membayar Adat Pati Nyawa.

Apakah Adat Pati Nyawa? Secara harfiah, pati berarti sari atau inti. Kata “pati” kerap muncul dalam bahasa Dayak dengan inisial dan pembagian Djo (lihat Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas, “Djongkang: A language of Indonesia” (Kalimantan) ISO 639-3: djo

Jadi, pati nyawa adalah pengganti nyawa yang hilang. Tentu saja, hukum pati nyawa ini tidak berlaku dalam ngayau. Dan hanya berlaku dalam keadaan normal saja, sebab pekik ngayau haruslah datang dari aump dan merupakan hasil dari permufakatan bersama.

Demikianlah, ngayau pun harus disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal bagi komunitas Dayak dan harus melalui hasil mufakat bersama. Disebut komunitas, karena suatu kampung biasanya menempati sebuah batang atau rumah panjang. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.

Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, di balik itu semua.

Orang luar yang kurang memahami secara mendalam filosofi dan latar di balik tradisi ngayau, sehingga menarik simpulan entimema: orang Dayak biadab, sadis, pemburu kepala manusia, dan headhunting. Tentang labeling bahwa Dayak adalah pemburu kepala manusia ini, Wikimedia bahkan mencatatnya sebagai “budaya” yang semestinya harus serta merta diberikan catatan bahwa itu adalah gambaran Dayak masa lampau. Perjanjian Tumbang Anoi yang difasilitasi Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan budaya ngayau ini. Di beberapa subsuku memang masih berlangsung, namun di Kalbar tradisi mengayau sudah berakhir pada sekitar sejak tahun 1938.

Toh demikian, Wikipedia yang tidak tahu sejarahnya masih mencatat demikian, “Headhunting was an important part of Dayak culture, in particular to the Iban and Kenyah. There used to be a tradition of retaliation for old headhunts, which kept the practise alive. External interference by the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo curtailed and limited this tradition. Apart from massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or the result of chance encounters. Early Brooke Government reports describe Dayak Iban and Kenyah War parties with captured enemy heads. At various times, there have been massive coordinated raids in the interior, and throughout coastal Borneo, directed by the Raj during Brooke's reign in Sarawak. This may have given rise to the term, Sea Dayak, although, throughout the 19th Century, Sarawak Government raids and independent expeditions appeared to have been carried out as far as Brunei, Mindanao, East coast Malaya, Jawa and Celebes. Tandem diplomatic relations between the Sarawak Government (Brooke Rajah) and Britain (East India Company and the Royal Navy) acted as a pivot and a deterrence to the former's territorial ambitions, against the Dutch administration in the Kalimantan regions and client Sultanates.”

Tidak mengherankan, dalam literatur dan laporan-laporan tertulis pada zaman kolonial, Dayak dicap sebagai suku asli Borneo yang tidak berkeadaban. Meski para peneliti dan ahli antropologi tidak memasukkan Dayak sebagai suku terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting, toh stereotipe sebagai pengayau masih melekat kuat minimal hingga kerusuhan etnis terjadi di Sambas pada 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Sambas dan kemudian merambat ke Sampit pada 18 Februari 2001.

Banyak orang melihat pertalian kejadian itu, meski sebenarnya berbeda dalam hal casus belli dan eskalasi. Akan tetapi, satu yang sama: solidaritas di kalangan etnis Dayak tumbuh menghadapi bahaya dari luar. Dalam konteks mempertahankan diri dan melakukan tindakan menyerang lebih dulu sebelum diserang ini, dapat dipahami latar dan filosofi ngayau.

Alasan Ngayau dan Filosofinya
Ngayau, sebagaimana juga mangkok merah, tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus melalui mufakat. Harus ada alas an kuat dan masuk akal untuk ngayau. Dari penuturan dan kesaksian para tokoh dan pelaku ngayau yang masih hidup hingga saat ini, dapat disimpulkan terdapat empat alasan mengapa orang Dayak ngayau.

Sebenarnya, masih ada motif lain di balik ngayau –dan ini jauh lebih penting— yakni upaya mempertahankan diri. Boleh dikatakan, motof mempertrahankan diri ini jauh lebih sering mengemuka daripada motif-motif lain.

Majang Desa: Ngayau Terakhir?
Boleh jadi, antara tahun 1941-1943 merupakan pengayauan terbesar dalam sejarah etnis Dayak Jangkang khususnya dan Dayak yang masuk ke dalam administratif swapraja dan neo swapraja pada umumnya.

Maklumat ngayau oleh panglima-panglima perang Dayak, sebenarnya dipicu oleh ulah saudara tua, Jepang, yang ingin menguasai wilayah Kalimantan Barat secara paksa.

Dalam upaya mendirikan Negeri Timur Jauh, Jepang memandang Pulau Borneo sangat strategis dari sisi letaknya sehingga menjadi incaran serius. Betapa tidak, Borneo merupakan gugusan yang sambung-menyambung dari utara ke selatan, yakni kepulauan Jepang, Formosa, Borneo, dan Celebes. Dalam Perang Asia Timur Raya, ada kecenderungan Negeri Matahari Terbit hendak menyatukan gugusan pulau-pulau tersebut menjadi sebuah wilayah kekuasaannya.

Kota-kota di sepanjang pantai Laut Cina Selatan seperti Sambas, Pemangkat, Singkawang, Mempawah, Sei Pinyuh hingga Pontianak amat strategis dan menguntungkan bagi Jepang sebagai benteng pertahanan dalam perang Asia Timur Raya. Pada masa pendudukannya, Jepang telah membentuk pemerintahan di Borneo Barat dengan membentuk tiga karesidenan dengan menambah wilayah baru, Kalimantan Timur dengan Samarinda sebagai ibu kotanya.

Borneo Barat pada waktu pendudukan Jepang di bawah pemerintahan Angkatan Laut (Kaigun) yang diberi nama Borneo Minseibu Cokan yang berpusat di kota Banjarmasin.Yang menguasai Jawa adalah Angkatan Darat (Rikugun) Jepang. Meski berbeda angkatan yang menguasai, toh tampuk kekuasaan berada dalam satu tangan yang lebih tinggi lagi, yakni Saiko Shikikan. Borneo Barat masih tetap berstatus Minseibu Syuu yang dikuasai Syuu Tizi. Nantinya, pemerintahan bentukan Jepang ini berakhir tatkala pada tahun 1945 digeser oleh pemerintahan bentukan Belanda, Nica.

Untuk melancarkan usahanya menduduki dan menguasai Borneo Barat, Jepang telah mendaratkan sejumlah warganya jauh-jauh dari sebelumnya. Seperti yang dilakukan Belanda dengan pembentukan VOC, demikianlah Jepang pun membuka perusahaan-perusahaan dagang di Borneo Barat.

Fukuyama yang dikenal dengan Fuku Company masuk jalur perdagangan perkayuan dan perkeretaan. Nakahara Fuji Company fokus pada perdagangan kelonong dan barang pecah belah. Nomur Trading Co bergerak dalam usaha onderneming karet dan perusahaanbesar. Honda adalah perusahaan yang menguasai toko potret dan usaha potret memotret. Sementara Sumitomo Kabushiki Kaisyo adalah perusahaan yang menguasai sawmill di Borneo Barat dan daerah lain.

“Sungkup” yang Mengerikan Itu
Maka mulailah sungkup yang mengerikan itu dilancarkan Jepang. Seluruh kaki tangan dan karyawan di perusahaan Jepang dijadikan mata-mata yang dapat memberikan informasi penting bagi penambilan keputusan. Sedemikian rapinya, sehingga mata-mata Jepang tidak dicurigai dan tidak diketahui sama sekali.

Hideki-Tojo, algojo sungkup di Kalbar. Inilah pemicu ngayau yang melibatkan Dayak Jangkang dalam penumpasan invasi Jepang yang lebih dikenal dengan Perang Majang Desa.

Mata-mata yang paling tidak disangka-sangka ialah didatangkannya para gadis langsung dari Negeri Matahari terbit. Mereka dijadikan pelacur-pelacur yang bertugas memata-matai. Umpan-umpan menawan ini merupakan kaki tangan Jepang, sumber informasi rahasia dan sangat penting dan tidak mungkin didapat langsung oleh pemerinta kolonial.

Di kota Pontianak, tempat pelacuran gadis-gadis Jepang ini terletak di Kampung Bali. Kini tempat ini menjadi terminal angkutan kota dan di sekitarnya masih terdapat bangunan-bangunan kuno dan toko-toko semimodern. Tidak sedikit dari pelacur-pelacur Jepang ini yang diambil oleh pejabat lokal, bangsawan, dan pedagang pribumi sebagai gundik.

Sementara itu, terhadap sisa-sisa kaum pergerakan yang anti-Belanda pun didekati Jepang. Bahkan, untuk itu, disediakan dana khusus untuk menerbitkan surat kabar yang diberi nama Borneo Barat Bergerak (BBB). Tokoh dan pejabat lokal yang berhasil didekati Jepang adalah Gusti Sulung Lalanang, Haji Abdul Rais, dan Rachman.

Akhirnya, saat rasionalisasi itu pun tibalah. Di bawah pimpinan Perdana Menteri Jepang, Jendral Hideki Tojo, Jepang melancarkan peperangan yang diberi nama Perang Asia Timur Raya. Perang besar ini dilancarkan Jepang dalam upayanya menguasai dunia.

Jendral Hideki Tojo (Hideki Tojo (30 Desember 1884–23 Desember 1948) adalah jenderal Jepang dan Perdana Menteri ke-40 Jepang (18 Oktober 1941-22 Juli 1944). Ia kemudian diadili oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh sebagai penjahat perang. Ia dinyatakan bersalah atas tuduhan berganda, dan divonis mati pada 12 November 1948, dan diganjar hukuman gantung.

Di bawah otoritasnya, hampir 4 juta orang Tionghoa terbunuh dan Tojo dianggap orang yang paling bertanggung jawab) sudah berketetapan untuk mengibarkan panji-panji matahari terbit di Kalimantan Barat. Untuk itu, diperlukan tindakan revolusioner dan radikal: generasi muda usia 15 tahun ke bawah harus tetap tinggal, mereka adalah generasi yang mudah dibentuk menjadi, atau minimal mau tunduk, pada Jepang.

Jepang melihat tidak ada usaha lain yang lebih cepat untuk melaksanakan maksud itu, kecuali tindakan pembunuhan massal atas semua penduduk Kalbar usia 15 tahun ke atas. Usaha ini dimuai dengan menangkap, menculik, dan menyekap, kemudian menghabisi penduduk secara kejam.

Di Kalimantan Barat, tindakan menghabisi penduduk yang dianggap melawan dan tidak sudi tunduk pada Jepang ini dikenal dengan “sungkup”. Yakni tindakan Jepang yang mula-mula menculik, lalu menutupi kepala korban yang kemudian dimasukkan dalam karung goni untuk seterusnya dihabisi tanpa kompromi.

Lokasi yang menjadi ladang pembantaian oleh Jepang adalah Mandor. Tak terhitung korban rakyat kebanyakan, namun tokoh lokal setempat memang tercatat “hanya” 48 saja. Ini pun menurut versi Borneo Sinbun, sebuah suratkabar Pemerintah Bala Tentara Jepang. Karena itu, perlu data dan informasi pembanding agar lebih berimbang.

Partisipasi Dayak Jangkang
Dalam konteks serangan luar biasa dari luar inilah, Dayak Kalbar tergerak. Maka pada 3 Mei 1944 dimaklumkanlah Deklarasi Angkatan Perang Majang Desa. Dari bulan April hingga Agustus 1944, terjadi Perang yang dikenal dengan Perang Madjang Desa di Embuan Kunyil, Kec. Meliau Kab. Sanggau.

Partisipasi Dayak Jangkang melawan pendudukan Jepang, barangkali tidak ada yang mencatatnya. Selain bukan sebagai sesuatu yang luar biasa, juga eskalasi dan pengaruh Jepang di wilayah Jangkang pada saat itu tidak terlalu kentara dibanding di kota. Akan tetapi, peran mereka sebagai pasukan cadangan strategis dalam konteks perang suku, tidak bisa dimungkiri.

Seperti dicatat Herman Josef van Hulten, salah satu tokoh Dayak Jangkang yang turut aktif dalam perang Majang Desa Adalah Aen. Aen adalah guru saya ketika kelas I Sekolah Dasar Bersubsidi di Jangkang Benua pada tahun 1968. Ia berasal dari Kobang. Masuk akal yang bersangkutan turut aktif dalam Perang Majang Desa, sebab sangat fasih kosa kata Jepang dan fasih jika menerangkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di luar kepala.

Ada dinek (semacam epik yang dilagukan, namun bertujuan mengobarkan semangat perang) yang hingga hari ini masih saya ingat.

“Sanggau, Meliau, Tayan, dan Jangkang. Berani makan hati Jepang”. Semacam ajakan agar para Dayak Sanggau, Meliau, Tayan, hingga Jangkang bersatu padu melawan dan mengusir Jepang. Kalau perlu, memakan hatinya, sehingga semangat dan keberanian semakin bertambah. Pada masa pendudukan Jepang, Dayak Jangkang banyak dikerahkan membantu perlawanan dan berjuang atas nama Majang Desa.

Tentara Jepang melakukan sikap berpura-pura terhadap kaum pergerakan (nissinkhai). Seakan-akan hendak membantu dan mau bekerjasama. Karena info dan issue dari para mata-mata, pada akhir tahun 1943 Jepang mengundang semua kaum pergerakan untuk menghadiri suatu konperensi yang diselenggarakan di Gedung Landraadweg (Jalan Jenderal Urip sekarang). Konperensi itu dihadiri oleh 500 orang utusan kaum pergerakan terdiri atas para pemuda, alim ulama, kaum wanita, Sultan Sambas, para pangeran dan para panembahan di seluruh Kalimantan Barat.

Dalam konperensi itu, Jepang mempergunakan wanita-wanita kaum pergerakan untuk menyelenggarakan konsumsi. Suatu tindakan yang menimbulkan marah luar biasa dari pihak Jepang terhadap kaum pergerakan ialah dimasukkannya racun-racun ke dalam minuman para opsir Jepang dengan maksud untuk membunuhnya. Walaupun maksud jahat tentara Jepang itu telah direncanakan sebelumnya, tetapi perbuatan meracuni itu telah menimbulkan kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Gedung konperensi itu tiba-tiba saja dikepung dan disekap tidak seorang pun dapat melepaskan diri. Tamu-tamu kemudian diangkut dengan truk dibawa ke suatu tempat dan tidak pernah diketahui lagi nasibnya. Dari peristiwa itu penangkapan dan pembunuhan semakin mengganas dilakukan. Siapa yang dipanggil atau ditangkap oleh Jepang tidak pernah kembali lagi.

Pada 21 Desember 1943, sejumlah 23 pemimpin pergerakan ditangkap dan dihukum mati dengan jalan disembelih. Puluhan orang lainnya mati dalam tahanan karena kekejaman dan kelaparan. Sejumlah 750 orang lainnya kemudian dibantai habis. Gerakan illegal pimpinan BJ Haga, Gubernur Kalimantan, merencanakan akan melakukan pembrontakan pada bulan Juni 1943 setelah pemboman tentara sekutu. Tetapi rencana itu diketahui Jepang sehingga Jepang menangkap dan menawan 275 orang yang dicurigai kemudian dimusnahkan seluruhnya. Gubernur Haga sendiri mengalami nasib yang lebih buruk.

Tindakan kekejaman dan pembantaian besar-besaran itu sebagian besar dilakukan di Desa Mandor. Setiap hari truk-truk Jepang hilir mudik sarat penumpang yang bersungkup kepalanya. Teriakan dan pekik jerit yang histeris sangat memilukan karena mereka sadar bahwa akhir hayat yang mengerikan telah menghadangnya di ujung jalan, yaitu di Desa Mandor. Itulah Mandor, tempat pembantaian pemimpin dan tokoh-tokoh rakyat yang ingin merdeka di negrinya sendiri, sehingga peristiwanya disebut Peristiwa Mandor. Untuk mengenangnya, pemerintah daerah Kalimantan Barat telah mendirikan monumen nasional dengan nama “Makam Mandor” dan peristiwanya diperingati setiap tanggal 28 Juni.

Rakyat yang dianggap tidak berdosa, dipekerjakan sebagai romusha untuk membuat jalan antarkota, membuat lapangan udara Sungai Durian, membuat sumur-sumur rahasia di berbagai tempat. Ada pula yang dipekerjakan di pabrik-pabrik tanpa mendapatkan upah. Mereka menderita kecapaian, kelaparan, dan juga serangan penyakit sehingga sebagian besar mati kelaparn atau mati karena menderita penyakit yang tak terobati. Lubang-lubang besar kecil yang mereka gali itu untuk penguburan masal termasuk bagi pembuat lubang sendiri.

Keluarga mereka yang ditinggalkan tidak terurus nasibnya. Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit itu isteri-isteri dengan anak-anaknya harus hidup tanpa nafkah suami. Perdagangan mengalami kemacetan total, produksi dalam wilayah Kalimantan Barat sendiri sangat tidak mencukupi untuk keperluan penduduk, garam, gula, tembakau dan juga beras aulit dicari apalagi bahan pakaian. Jika bahan-bahan itu kebetulan ada, penduduk harus antri untuk mendapatkannya sekalipun hanya untuk membeli singkong.

Dalam keadaan perekonomian yang sangat sulit itu rakyat masih dibebani dengan pungutan paksa akan barang-barang berharga. Emas permata yang dimiliki oleh ibu-ibu atau para remaja putri harus diserahkan kepada Pemerintahan Bala Tentara Jepang. Kalau tidak, dapat memperoleh hukuman yang cukup berat.

Terhadap kaum remaja dan anak-anak, Jepang memberikan perhatian khusus. Remaja dan anak-anak disayangi, diajar dan disekolahkan. Mereka diajar menyanyi, taiso, baris berbaris, perang-perangan dan berbahasa Jepang. Latihan mempergunakan senjata juga diajarkan terhadap renaja. Senjata bahkan boleh dibawa pulang ke rumah remaja. Mereka ini adalah calon-calon generasi nasionalisasi Jepang, calon tentara yang akan melanjutkan perang dan pertahanan.

Sikap Jepang Terhadap Suku Dayak
Jepang berhasil melumpuhkan semangat perjuangan masyarakat kota. Kini tiba gilirannya penduduk daerah pedalaman harus dihadapi. Daerah pedalaman dihuni oleh etnis Dayak. Suku ini telah memahami batapa kejamnya tentara Jepang menyiksa dan mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat. Para sultan dan panembahan mereka telah banyak dibunuh dan disiksa secara kejam. Benih permusuhan itu telah tertanam dengan kuat.

Maka, kini gilirannya kekejaman Jepang diarahkan pada pendduk pedalaman. Mengetahui gelagat demikian, orang Dayak pun mengatur siasat. Apa siasat itu?

Terlena dalam kemenangan demi kemenangan yang diraih tanpa adanya kekuatan yang sanggup mematahkan membuat Jepang terlampau percaya diri. Pasukan Jepang dan kaki tangannya terus merangsek masuk jauh hingga ke pedalaman. Tujuannya satu: ingin menguasai Kalbar seluruhnya. Menekuklututkan semua penduduk. Lalu menguasainya.

Di tengah-tengah keterlenaan itu, Jepang tidak menyadari jika para Dayak telah mengatur siasat. Tidak ada laporan mata-mata yang masuk jika penduduk asli Kalimantan ini siap menghadapi. Dengan membiarkan Jepang masuk rumah mereka, para Dayak sebenarnya telah membuat perangkap maut.

Toh demikian, Jepang tetap waspada. Tindakan preventif dilancarkan. Senjata orang Dayak disita dan dikumpulkan. Senapan lantak, sumpit, mandau, panah, tombak (burus), parang, dan senjata tajam lainnya milik orang Dayak diminta untuk diserahkan. Sayangnya, permintaan ini sama sekali tidak diindahkan orang Dayak.

Jepang lalu marah luar biasa karena permohonan mereka ditampik Dayak. Maka Jepang mulai bertindak tegas. Barangsiapa yang tidak mengindahkan perintah, akan ditindakdengan tegas. Terutama para kepala adat akan mendapatkan hukuman yang sangat berat kalau kedapatan menyimpan senjata dan terbukti melawan.

Merasa Jepang menyerang dan masuk rumah mereka tanpa permisi, para Dayak tak setitik pun dihinggapi persaan takut. Ancaman Jepang sama sekali tidak menciutkan nyali mereka untuk menyerah kalah. Sebaliknya, semakin mengobarkan semangat persatuan untuk melawan dan segera memukul mundur mereka.

Para pemimpin adat Dayak sudah mafhum bahwa tentara Jepang sangat haus akan wanita-wanita. Kelemahan ini coba dimanfaatkan. Ketika masuk daerah pedalaman dan pemukiman orang Dayak, tentara Jepang disuguhi tuak dan arak. Yang menyuguhkan para wanita Dayak yang saat itu rata-rata masih berpakaian tradisional, bersongket dan bertelanjang dada. Namun, para wanita ini tidak asal melayani. Mereka sudah tahu tugasnya. Di tengah-tengah mabuk kepayang oleh pesta dan cinta, tentara-tentara Jepang dihabiskan para lelaki Dayak. Mereka diayau dan menemui ajalnya di tangan para headhunters.

Demikian pun, dalam perang terbuka di hutan-hutan, Jepang tak pernah sekali pun memetik kemenangan melawan pasukan Dayak. Para penglima perang Dayak yang sangat menguasai medan, dengan mudah memukul pasukan Jepang. Di waktu siang, para lelaki Dayak tidak pernah kedapatan berada di rumah. Mereka selalu mengundurkan diri ke hutan-hutan. Jepang mengira bahwa mereka sudah habis.

Manakala pasukan Jepang mengadakan patroli, orang Dayak dengan cepat menyergap. Dibantu sesama Dayak baik dari Kalimantan seluruhnya maupun dari daerah semenanjung Melayu, Tumasik dan sekitarnya, orang Dayak bersatu padu melawan Jepang.

Ajakan minta bala bantuan dengan tanda mangkok merah telah beredar dari kampung ke kampung. Pekik perang dan perlawanan sudah sampai ke seluruh penjuru. Maka, datanglah secepat kilat pasukan perang Dayak dari suku Iban, Sungkung, Seribas, Kantuk, Punan, Bukat, dan lain-lain menambah kekuatan perang.

Tentara Jepang bukan saja kocar kacir oleh orang Dayak, tapi juga dipukul telak dan tidak berkutik. Memang nama Pangsuma tercatat sebagai panglima perang Dayak pada masa pendudukan Jepang ini.

Namun, sebenarnya, masih terdapat panglima perang Dayak yang lain selain Pangsuma. Yakni Pang Dandan dan Pang Solang. Nama mereka kurang dikenal, namun jasa-jasanya jelas tak dapat dinafikan.

Sementara dari tanah Jangkang, panglima perang Dayak yang terkenal adalah Panglima Kilat. Kisah-kisah heroik dan epos Panglima Kilat hingga dekade 1970-an, masih sering dituturkan pada anak-anak. Ia dilukiskan sebagai sosok yang gagah berani, kuat, kebal, dan suka menolong. Jika ada orang Dayak yang menyerukan bantuan, secepat kilat ia datang membantu.

Usai Perang Majang Desa, Dayak Jangkang dan sekitarnya merayakan kemenangan ngayau di Bonti. Waktu ini kepala-kepala suku daerah Sanggau berkumpul, berpesta, menari (taja) di antara kelapa-kepala musuh (Jepang).

Ngayau tidaklah merupakan keputusan sesaat, harus melalui permufakatan antarpemerintahan lokal. Maklumat ngayau haruslah datang dari ketua para macan.

Paddy is a staff of life. Padi bagian dari hidup dan kehidupan Dayak Jangkang. Dayak Jangkang tengah memanen padi di ladang. Mereka mengelola hutan sangat arif dan bijaksana, tidak boleh merusak hutan. Sebuah lahan yang sama baru boleh diladangi kembali dalam siklus 15 tahun. Jadi, tidak benar kerusakan dan pembakaran hutan dilakukan penduduk asli, tapi dilakukan pengusaha perkebunan. Orang Dayak tidak akan merusak sendiri kehidupannya. Mereka tidak akan membakar lumbung penghidupannya sendiri. Dalam bab tersendiri dibahas kearifan tradisional Dayak Jangkang dan tata cara serta upacara seputar pertanian.

Catatan: Mana bab lainnya? Sengaja tidak dipublikasikan dalam blog ini, karena menyalahi etika dan hukum. Pembaca yang ingin mendapatkan content selengkapnya, dapat memesan via email: masrisareb@yahoo.com dan akan dikirim secara print on demand, harga Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)dengan mencantumkan nama pemesan dan alamat yang jelas.

Bagian buku ini boleh dikutip, asalkan sumbernya disebutkan.