Sabtu, 04 April 2009

A.B. dan Tripel 09:

catatan:
Ini adalah bab 1 naskah buku biografi Dr. A.B. Susanto yang sedang saya tulis. Menggunakan dinamika pendekatan dan tehnik literature of fact, genre baru creative non-fiction yang diperkenalkan Molly Blair (Blair, 2006).


BAB 1


A.B. dan Tripel 09:

Esensial, Penuh Pengertian


Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.
Hujan bagai dicurah dari bibir langit, deras membasahi muka bumi. Lampu-lampu jalanan mulai benderang. Dari arah tol Kebon Jeruk, Jakarta, jalanan macet total. Sejauh mata memandang, dari Tomang, antrean kendaraan tampak membujur hingga Komdak.

Kepadatan lalu lintas di senja, Jumat 3 April 2009, sungguh luar biasa. Bunyi klakson sahut-sahutan memekikkan gendang telinga. Pertanda banyak pengguna jasa lalu lintas Jakarta sudah tidak sabar. Usai bekerja, mereka buru-buru sampai rumah. Mereka yang masih ingin meneruskan bekerja, atawa sekadar menyalurkan hobi, ingin segera sampai lokasi.

SMS berdering. Segera saya merogoh kantong. „Kami menunggu di restoran, lobi, Hotel Mulia. Regards, Glory.“

Namanya juga SMS, pesannya singkat. Tentu ada konteks sebelumnya. Namun, saya sudah mafhum maknanya. Kemarin, Glory Rosari Oyong, staf khusus public relations The Jakarta Consulting Group, sudah mengontak via handphone. Dasar staf yang tidak hanya cerdas, tapi juga bernas, Glory masih mengingatkan janji meeting lewat SMS. „Kita meeting pukul 18.30. Usai acara bedah buku Pak Abe, Leadpreneurship.“

Bagi yang sudah mengenalnya, Abe adalah kependekan dari A.B. Susanto. Sosok yang sudah malang melintang dalam dunia konsultansi. Nyaris semua perusahaan besar dan terkemuka mengenalnya. Dengan bendera The Jakarta Consulting Group, A.B. Susanto telah banyak berkiprah, menolong ratusan perusahaan keluar dari krisis. Tak hanya itu. Dijiwai motto „Partner in Change“, ia siap mendonor darah segar, menyuntik √©lan vital banyak perusahaan, sehingga berkembang dan dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional.

Tak mengherankan, AB punya banyak gelar. Salah satu di antara yang paling substantif, ialah „the copporate doctor“.

Ya, beliau adalah dokter manusia. Menyandang gelar akademik tertinggi, Doktor lagi. Lulusan dari Jerman. Wah!

Namun, sebagaimana dikatakan Dr. Wagiono Ismangil, salah seorang intelektual pelaku
bisnis yang mengenalnya secara luar dalam. AB ialah dokter yang murtad. Sebabnya, keahlian dan kepakarannya (AB pakar di bidang diabetes melitus, atau kencing manis) untuk menyembuhkan manusia telah „disalahgunakan“. Keahliannya itu justru dipakai untuk menyembuhkan dan menyehatkan ribuan perusahaan.

A.B. Susanto murtad? Ya, memang, ditilik dari peralihan profesi. Namun, tak ada pengetahuan yang sia-sia. Pengetahuannya mengenai sebab musabab, asal mula, serta mengapa manusia sakit, diterapkannya pada perusahaan. Tidak hanya tindakan preventif, tapi juga tindakan kuratif.

Namun, justru dalam kemurtadannya, A.B. Susanto memberikan banyak kiprah. Justru latar belakang pendidikannya yang dokter manusia memberi perspektif tersendiri baginya sebagai konsultan perusahaan: sehat adalah tujuan. Apa yang telah dilakukannya, dinikmati oleh lebih banyak orang. Bayangkan, jika ia dokter manusia, ia hanya menyembuhkan dan mencegah sakit seorang saja. Dengan menyembuhkan dan mencegah banyak perusahaan jatuh sakit, maka orang sehat akan berlipat ganda.

Taruhlah sebuah perusahaan memiliki 100 karyawan. Jika saja tiap karyawan menanggung 3 anggota keluarga lain, sehingga ada 4 nyawa atau mulut yang menggantungkan hidup dari sebuah perusahaan. Nah, apabila A.B. Susanto berhasil menyehatkan sebuah perusahaan, maka ia telah menyehatkan dan mencegah sakit 400 orang. Bukankah buah karyanya jadi berlipat ganda? Dan kemurtadannya justru jadi blessing in disguise?

Jalanan menuju Hotel Mulia masih padat merayap. Demi mengejar waktu, saya memutuskan turun dari bus AC di Slipi. Lalu, ganti sekoci naik taksi. Saya melirik arloji di tangan. Pukul 18.56. Berarti, pesan singkat Glory telah lalu 26 menit. Hingga lewat sedikit pukul 19.00, sebuah taksi warna biru yang saya tumpangi memasuki pelataran depan Hotel Mulia.

Saya menghubungi Glory via HP. Terus terang, saya belum pernah tatap muka sebelumnya dengan dia. Saya hanya membayangkan, dari naga-naga suaranya, orangnya ramah, cerdas, cantik, anggun, dan .... segala yang baik mungkin ada dalam dirinya.

„Saya sudah di lobi. Anda di mana?“

„Sebentar saya keluar, nemui Bapak.“

Dalam sekejap, Glory keluar. Ia menekan tombol HP, menghubungi. Dalam hitungan detik, alat komunikasi canggih itu bekerja sesuai dengan mottonya, connecting people. HP saya bergetar. Saya angkat. „Oh!“ ternyata kami sama-sama menyerukan sepatah kata yang sama. Orang yang dihubungi sudah ada di depan mata. Saya dan Glory kini demikian dekat. Karena itu, tanpa ada yang menyuruh, kami sama-sama mematikan HP. Benar saja! Apa yang saya bayangkan, sesuai dengan kenyataan.

Mengapa reaksi Glory mematikan HP demikian spontan? Saya menangkap sinyal, itulah buah dari didikan JCG. Everybody sells, sebagaimana kerap dicanangkan AB pada rekan kerjanya. Didikan di sini memang beda, menempatkan orang di atas alat, secanggih apa pun alat itu. Dari tindak smart Glory, saya bisa menangkap, jika bertemu orang, sapalah dia secara personal. Personal communication jauh lebih berharga daripada alat. Saya juga menangkap di balik itu, terbetik visi pendidikan dari pendiri JCG untuk selalu menghargai orang bukan dari apa yang ia miliki, tapi karena esensinya sebagai manusia. Atribut, seperti jabatan, harta, dan pangkat bisa lenyap. Namun, kemuliaan dan martabat manusia tak pernah lekang!

Glory yang smart mengantar saya menuju meja restoran. Di sana AB sudah menunggu. Ia duduk santai. Ditemani Grace, salah seorang staf public relations JCG juga. Tangannya meraih segelas juice, lalu meminumnya. Penampilannya tetap terjaga. Rapi dan bersih. Cara duduknya sopan. Gaya bicara juga elegan. Suasana akrab dengan lekas terbangun.

„Apa khabar?“ ia berdiri, menyongsong saya sembari mengulurkan jabat tangan.

„Maaaf, membuat Anda lama menunggu,“ saya minta maaf. Saya merasa sedikit bersalah, karena molor. Saya tahu, bagi orang penting dan sesibuk beliau, waktu setengah jam amat sangat berharga. Ketika menyaksikan raut wajah AB yang bisa mengerti, dan ceria seperti biasa, baru saya berani meneruskan, bicara, „Baik, Pak!“

Seorang pramusaji restoran dipanggilnya menghampiri. Saya diminta memilih makanan dan minuman yang tertera pada daftar menu. Dan karena substansi pertemuan kali ini bukan makan-minum, saya memesan segelas juice. Sama seperti yang sudah mereka pesan. Sembari menunggu pesanan tiba, kami pun terlibat pembicaraan awal.

Pak AB membuka pembicaraan, dengan menyebut angka 09. Saya langsung mafhum maknanya. Itu adalah tanggal, bulan, dan tahun kelahiran beliau. Angka yang multimakna dan indah: 09.09.49. Artinya, beliau lahir pada 9 September 1949. Saya mafhum, karena bersama Mas Bimo dan Mas Dar dari Grasindo, sepuluh tahun lalu (1999), saya pernah menulis biografinya. Biografi, yang untuk ukuran saat itu, sangat luks. Dengan cetakan hardcover dan artpaper, buku itu bahkan di-launching di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Hadir ratusan orang penting saat itu. Semua merasa puas. Takjub dengan acara launching, sekaligus perayaan pesta emas Pak AB.

Bimo (Ariobimo Nusantara) dan Dar (Y.B. Sudarmanto) adalah dua sohib saya. Kebetulan, kami pernah sekantor selama belasan tahun. Namun, sejak 2005, kami tercerai berai. Saya memutuskan berani meninggalkan Palmerah (kantor pusat Kompas-Gramedia) untuk menguji nyali dan menerima tantangan di sebuah unit baru, namun masih sister company Gramedia Group. Dua tahun kemudian, unit usaha itu divestasi karena ada kebijakan regrouping dari CEO KKG yang baru saat itu. Saya lalu ditugaskan fulltimer sebagai dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Mengampu mata kuliah yang saya suka, penulisan berita dan feature serta literary journalism. Kebetulan, sebelum bergabung dengan Grasindo, saya juga redaktur sebuah majalah mingguan nasional di Jakarta. Profesi yang, secara koinsidensial, sangat saya sukai.

Mengapa saya, agaknya ada biochemistry tersendiri. Saat pertama berdiri, UMN seatap dengan JCG. UMN berkantor di lantai 44 Wisma BNI 46, sedangkan JCG di lantai 32. Saya sering jumpa dan hampir setiap hari berpapasan dengan AB di lift. Tiap kali bertemu, sapaan hangat dan keramahan selalu menghiasi wajahnya. Hingga, suatu hari, saya kaget bukan main. Pak AB duduk di kursi roda, didorong seorang staf, akibat sebuah malapraktik kecil. Sungguh tragis, seorang dokter harus mengalami hal seperti itu akibat tindakan dokter juga. Saya waktu itu merasa miris menyaksikan keadaan beliau. Namun, Pak AB bilang, waktu akan menyembuhkan segalanya. Tempus omnia curat. Begitu istilah medisnya. Ketika bertemu beliau di kursi roda itu, sudah terbersit sesuatu. „Kapan-kapan, saya memerlukan bantuan Pak Masri.“

Pak AB nadanya memang selalu halus. Jauh dari kesan meminta, apalagi menyuruh. Saya mafhum, beliau profesional. Orang yang tahu menghargai orang lain, berdasarkan kebisaan dan sumbangsihnya.

Kembali ke restoran, lobi Hotel Mulia. Saya masih menyaksikan vitalitas dan keceriaan seorang AB. Ia masih sosok seperti yang saya kenal sepuluh, bahkan belasan tahun lalu. Tatkala kantornya masih di lantai 11 Graha Unilever, gedung penuh kenangan yang berdiri kokoh di sayap jalan Gatot Subroto, Jakarta. Zat-zat kimiawi kami kembali saling bertemu. Saya bilang, baru seminggu lalu membaca kembali biografinya yang kami tulis memperingati usianya ke-50. Saya gunakan model penulisan buku itu sebagai contoh tehnik penulisan literature of fact, atau literary of reality. Sebuah genre baru kepenulisan biografi yang diperkenalkan Molly Blair. Yakni hibrida dari percampuran –Blair menyebutnya cross over—antara jurnalistik model konvensional 5W+1H dengan sastra.

Jadi, dalam cross over itu, biografi berbentuk sastra ditilik dari dinamika pendekatan, strutur gaya, dan isi. Pas! Saya membuka lembar biografi ini juga kebetulan, ketika sedang menyiapkan diktat perkuliahan Literary Journalism untuk mahasiswa semester IV UMN. Kimiawi bertemu, pas Pak AB juga sedang menyiapkan biografinya, jilid II. Rentang masa satu dasawarsa, tentu banyak yang bisa ditulis tentang beliau.

Pak AB memang sosok ibarat sumur Yakub. Tak pernah kering, dan selalu ada saja air bening untuk ditimba. Mengapa? Bab-bab berikut akan menjelaskannya. Namun, ilmu mengenai penomoran dan pembilangan (numerology), bisa secuil menguak rahasianya di balik semuanya. Mari kita simak makna di balik angka berikut ini.
NUMBER 1: loyal
NUMBER 2: imaginative
NUMBER 3: creative
NUMBER 4: hard working
NUMBER 5: versatile
NUMBER 6: loving
NUMBER 7: wise
NUMBER 8: trustworthy
NUMBER 9: understanding
NUMBER 11: inspiring
NUMBER 22: solid

Sasarkan anak panah mata Anda ke number 9. Itu jati diri AB Susanto. Tak syak, ia sosok penuh pengertian (understanding). Bukankah ‘pengertian’ sepatah kata yang sanggup untuk merangkum semua makna, dari setiap angka? Simbol yang sangat pas dengan pribadinya. Ia selalu mendengar dengan empati. Sekali pun tak pernah ia menukas pembicaraan lawan.

Waktu terus bergulir. Malam merangkak perlahan. Hotel Mulia sudah tidak seramai tadi. Di luar, hujan masih menetes deras, ketika AB melirik arloji di tangannya. Saya mafhum, kami sudah sampai pada deal. Maka pertemuan kali ini cukup sudah.
Memang, ihwal apa pun, seyogianya senantiasa diawali dengan makna angka 9. Sebuah angka yang melekat kuat dan kini jadi hakikat A.B. Susanto. Citra yang tentu tidak dibangunnya dalam sekejap, tapi melalui rangkaian kumpulan kebiasaan-kebiasaan selama rentang masa enam puluh tahun.

Di sini menjadi genap apa yang dikatakan Aristoteles yang hidup abad ke-4 sM. “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act but a habit”.
Orang yang belum, dan baru, mengenal A.B. Susanto barangkali punya kesan beliau hebat luar biasa. Sekali-kali, bukan! Kesan hebat (excellence)-nya sebagai dokter perusahaan, sejatinya merupakan akumulasi dari kebiasaan (habit) yang dilakukannya secara tekun. Justru tekun ini yang tidak semua orang bisa.

Dipadu dengan makna angka 09, sifat yang menunjukkan ciri A. B. Susanto, lengkaplah sudah! Dalam teori pakar komunikasi Inggris, Leslie Rae, AB adalah lapisan penting dalam bangun komunikasi model konvensional, piramida terbalik yakni lapisan ABC. A adalah lapisan esensial (essential), B penting (should), dan C kurang penting (could). Inilah lapisan paling tidak menguntungkan, sebab jika tidak ada tempat, dapat dibuang. Lapisan AB jauh dari dibuang, bahkan kehadirannya essential dan should.

Tak pelak, 09 dan AB adalah gabungan sempurna, menjelma jadi kekuatan luar biasa. Ia manusia bagi manusia lain. Karena itu, jika pada rentang satu dasawarsa garis hidupnya lewat 50 tahun, ia lebih banyak mengarah pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial dan “memberi”, AB hanya menggenapi apa kata pepatah, “Qui sibi soli vivit, male vivit “. Orang yang hidup bagi diri sendiri, cara hidupnya itu buruk.
A.B. Susanto telah, dan tetap, akan hidup bagi sesama. Bukan hanya sebatas angka 09.09.09!

Tidak ada komentar: