Selasa, 07 April 2009

Hati-hatilah dengan Novel Perdana

Prolog:
Banyak saya menerima email berkisar masalah proses kreatif penulisan novel. Mulai dari pertanyaan soal definisi dan ragam novel, hingga how to plotting. Bahkan, dua di antaranya mahasiswa yang ingin menyusun skripsi soal penulisan novel. Berikut cuplikan Bab 2 buku saya "101 Hari Menulis & Menerbitkan Novel" yang diterbitkan
Sangkan Paran Media, 2008. Semoga memberi pencerahan!


Saya menulis novel perdana 21 tahun silam. Sebelumnya, saya sudah biasa menulis untuk majalah kampus. Selain itu, saya pun menulis untuk koran lokal. Sesekali, cerpen dan novelet saya menghiasi halaman surat kabar daerah. Sebelumnya, ketika SMA, saya suka mengisi majalah dinding. Waktu itu, saya belum sanggup menulis panjang. Mengungkapkan pikiran melalui karya tulis yang panjang, saya tak bisa. Maka puisi pendek menjadi pilihan utama.

Ketika SMA, saya hobi korespondensi. Pen pal menjadi kegemaran, sehingga saya mulai senang menulis dari sini. Jadi, apa yang memampukan saya menulis?

Oke, jawabannya sederhana: saya gemar membaca. Mulai dari cerita silat, kisah klasik, sci-fi (sience fiction), novel petualangan, dan terutama novel-novel percintaan (Belakangan saya tahu, lewat Molly Blair, bahwa membaca menemukan gaya. Dengan mengemulasi bacaan bermutu, kita menghirup napas mutu pula).

Kisah cinta dan kasih asmara tak pernah lekang dari hidup manusia. Tema ini tidak pernah basi. Mulai dari syair panjang Homeros di tanah Yunani ribuan tahun silam, hingga zaman prakemerdekaan seperti Sitti Nurbaya, sampai kini di zaman digital dan multimedia; tema cinta senantiasa menarik.

Yang jelas, saya punya imaginasi yang luar biasa yang terasa sebagai sebuah dorongan hebat untuk segera ditulis. Masalahnya, I had no idea where to begin. Tak tahu harus mulai dari mana? Padahal, ide di otak ini begitu banyak, sampai kepala rasanya mau pecah. Tapi, saya harus mulai sesuatu. Saya yakin, menguraikan seribu satu soal, harus dimulai dari angka satu dulu.

Saya lalu menulis cerita pendek. Judulnya, Kembang-Kembang Desember. Settingnya di Puncak. Timing-nya bulan Desember, ketika kembang mulai bermekaran. Pas akhir tahun, piknik sekolah. Mengisahkan seorang siswi yang menaruh hati pada guru pembimbingnya. Ganteng. Masih muda. Namun, bisakah cinta keduanya bertaut? Di situ konflik mulai muncul. Cerpen itu hanya lima halaman, tapi saya telah mulai sesuatu. Ketika itu, saya masih memerlukan opening, sebuah storyline, dan bagaimana menutupnya. Namun, dengan jalan itu, saya lalu menemukan kiat jitu dan sederhana bagaimana membuat outline sebuah novel.

Novel saya yang perdana, Flamboyan Kembali Berbunga, sekali lagi, sebagian tentang saya. Saya menggunakan kotaku, Malang, sebagai lokasi kejadian. Saya mencintai kota indah dan sejuk ini (tahun 1980-an, Malang berjuluk “Kota Dingin”, dan ini benar).

Saya menulis sangat menghayati novel ini. Kadang, saya merasa, apa yang saya tulis seakan sebuah kenyataan khayal. Belakangan, baru saya tahu bahwa cara seperti inilah adalah tahap paling awal manusia memeroleh pengetahuan yang menurut Plato disebut eikasia. Yakni khayalan tentang apa saja. Namun, seakan-akan khayalan itu realistis. Tapi begitu masuk kembali alam kenyataan, kita sadar, bahwa khalayan tidak sama dengan kenyataan. Jika keduannya bertemu, namanya dream comes true!

Maka segera saya membuat karakter. Cerpen Kembang-Kembang Desember coba saya kembangkan. Namun, kali ini terbalik. Herman, mahasiswa sebuah univeritas di Malang, bertemu Vonny, seorang dosen cantik dan kaya di suatu sore gerimis di Jalan Mgr. Soegiyopranoto, Malang. Honda Civic bu dosen mogok dan Herman membantu. Inilah noktah awal kedua insan bertemu. Hingga nasib dan kesewenang-wenangan hereditas memisahkan keduanya.

Jalan Mgr. Soegiyopranoto sepenggal adzan magrib.
Sekawanan burung terbang mengitari pohon mahoni. Sebentar kemudian, berloncatan di dahan-dahan. Sebab, saatnyalah mereka kembali ke sarang sesenja begini. Di atas, langit berwarna kelam. Awan hitam bergerak ke selatan searah hembusan angin di bulan Mei. Ketika Herman perlahan memacu hondanya di jalan yang basah dan licin itu.
Ia merasa sangat kecapaian, sebab seharian mengawasi para pegawai bekerja. Tugas rutin, membosankan, dan tanpa variasi. Maka malam ini, malam panjang kata anak-anak muda, toh baginya sama saja dengan malam-malam kemarin. Bahkan, sebagaimana kebiasaannya, begitu tiba di tempat kost, ia langsung mengambil posisi horizontal. Tidur. Dalam arti yang sebenar-benarnya.
Berjejalnya lamunan yang berseliweran bagai dedaunan mahoni yang gugur melayang-layang ditiup angin sore itu mendadak buyar. Sialan, seseorang tiba-tiba menyetopnya. Wanita, masih muda. Dan pemuda itu pun buru-buru meminggirkan motornya.
“Ada yang harus saya bantu, tante?” tanya Herman, heran. Remang-remang begini, mengapa ada wanita cantik keluyuran di jantung kota? Wanita tuna susilakah dia? Istri pejabat yang kesepian? Ataukah jin gentayangan yang mencari mangsa?
Herman masih ingin meneruskan pertanyaan di otaknya. Tapi wanita muda itu segera memotongnya.
”Maaf, kalau saya merepotkan.”
”Oh..., tidak!” sahut Herman, seperti orang salah tingkah.
”Ban mobil saya meletus. Adakah bengkel sekitar sini?” tanya sang wanita.
”Ada, tante. Di sana!” tunjuk Herman mengarah ke sudut jauh. ”Tapi hanya tambal ban.”
”Wah!”
Hanya sepatah saja kata yang sanggup terucap. Selebihnya, wanita muda itu hanya menunduk. Herman melihatnya. Muncul niatan di hati untuk segera membantunya.

Inilah pertama kali saya menyelesaikan sebuah novel. Yang terasa menantang ialah, bagian opening dan ending. Berkali-kali bagian itu saya ganti. Berkali-kali pula plotnya harus menyesuaikan. Sampai saya berkesimpulan, tidak sembarang orang sanggup menulis novel. (Dua puluh tahun kemudian saya baru mafhum, opening sebuah kisah yang baik mesti ada daya pemicunya (inciting force) dan akhir cerita jangan gampang ditebak (surprise ending).

Mengapa? Karena harus bisa mengingat banyak hal. Harus sanggup mengabstraksi. Mesti bisa mereka peristiwa. Dan itu semua tidak sederhana!

Novel itu saya ketik sendiri, namun kurang rapi. Banyak coretan menggunakan xxxxx, lalu blepotan dengan tipp-Ex. Maklum, tahun 1980-an, komputer masihlah sarana menulis yang langka. Buram pertama, saya minta kakak kelas untuk mengetiknya. Untung, Teguh Poerwono, si pengetik itu, sudi. Ia memang terampil mengetik. Dosen-dosen sering minta bantuannya. Seingat saya, Teguh saya traktir makan dan kasih contoh novel.

Setelah dijilid rapi, novel itu saya tawarkan ke Jawa Pos. Beruntung, langsung bersambut. Pas cerber di harian itu akan habis muat. Saya tujukan kepada redaktur fiksinya, disertai pengantar seperlunya. Tiga minggu setelah dikirim, dimuat bersambung di Harian Jawa Pos selama lebih sebulan.

Pada akhir pemuatan, saya terkejut menerima dua wesel pos sekaligus. Masing-masing nilainya Rp 175.00. Jadi, total cerber dihargai Rp 350.000. Potongan wesel pos itu, kini masih saya simpan.

Tahun 1980-an, uang sebesar itu lumayan besar. Sebagai perbandingan, sepiring nasi dengan lauk sepotong daging ayam dan sayur Rp 600. Pas waktu itu, saya hendak pulang kampung ke Kalbar. Jadi, saya senang sekali, serasa mendapat durian runtuh. Saya naik bus Lorena dari Malang ke Jakarta. Saya menyimpan uang di dua tempat, satu di saku celana belakang dan satunya lagi di saku baju depan. Di terminal Pulogadung, uang yang ditaruh di saku celana dicopet. Saya masygul sekali!

Usai dimuat bersambung, potongan Koran saya kumpulkan jadi klipping. Saya merapikan naskah dan sedikit melakukan revisi. Saya kirim ke penerbit Nusa Indah, yang bermarkas di Ende, Flores. Penerbit ini salah satu yang tertua di nusantara. Sudah eksis sejak zaman prakemerdekaan.

Setelah menghasilkan novel perdana, saya rasa mengarang makin mudah. Ide terus saja mengalir. Saya menulis novel kedua, Tetes Cinta yang Tercecer. Juga dimuat di Jawa Pos. Tahun 1990, saya nulis novel lagi, Ujung Sebuah Kerinduan. Kali ini dimuat bersambung di Harian Surya.

Berdasarkan pengalaman itu, inilah langkah mudah dan praktis menulis dan menghasilkan novel.
• Mulai dengan cerpen kurang dari 30 halaman.
• Tulis mengenai sesuatu yang Anda tahu dan dirasa menarik.
• Buat outline dan detail dari karakter, setting, dan plot.
• Tulis opening dan ending semenarik mungkin.
• Gunakan dialog yang menarik dan tepercaya, wajar, dan memang demikian terjadi sehari-hari.
• Gunakan tata bahasa baku, kosa kata yang umum, dan tidak ruwet.
• Jika selesai, baca ulang, edit, hingga Anda rasa benar-benar mantap.
Tunjukkan novel Anda pada kenalan, sahabat, dan handai taulan. Simak dan catat dengan saksama kritik dan masukan mereka. Mereka bilang apa? Apakah komentar mereka luar biasa? Selain kesalahan dalam pegetikan, tanda baca, dan ejaan, masih terdapatkah kelemahan lain dalam novel Anda? Apakah alurnya tidak logis? Apakah karakter dan settingnya bisa dipercaya?

JIka sudah merasa mantap, novel Anda siap dikirimkan. Bisa dengan cara:
(1) self-publish seperti Dee dengan Supernova-nya
(2) mengirimnya untuk dimuat bersambung
(3) langsung ke penerbit
(4) dijadikan skenario sinetron/film.

Kalau Anda kuat bersabar, maka sekali medayung dua honor didapat. Novel Anda dapat dicerberkan dulu, baru dibukukan.

Hati-hatilah dengan novel perdana, sebab itulah awal dari karier dan pencitraan Anda di dunia kepenulisan. Saya sendiri menerima banyak surat pembaca, begitu novel perdana saya tamat dimuat Jawa Pos.

Survei membuktikan, rata-rata novel perdana menyentak dan hebat. Novel berikutnya, tidak sehebat yang pertama. Maka, berhati-hatilah meluncurkan novel perdana.
Mau bukti?
1. Karmila adalah novel perdana Marga T. yang paling menyentak.
2. Upacara adalah novel perdana Korrie Layun Rampan yang paling dahsyat.
3. Cintaku di Kampus Biru adalah novel perdana Ashadi Siregar yang paling hebat.
4. Dari Lembah ke Coolibah adalah novel perdana Titis Basino yang berdaya pikat.
5. Supernova adalah novel perdana Dee (Dewi Lestari) yang kuat.
6. Saman adalah novel perdana Ayu Utami yang bahasa dan gayanya beda.
7. Jendela-jendela adalah novel perdana Fira Basuki yang paling luar biasa.
8. Miss Jutek adalah novel perdana Yennie Hardiwidjaja yang paling memukau.
9. Laskar Pelangi adalah novel perdana Andrea Hirata yang paling oke.


Anda sendiri, apa judul novel yang ingin Anda "lempar"?

Tidak ada komentar: