Kamis, 31 Desember 2009

Gus Dur dan Rekonsiliasi Nasional

Pengantar

Saya pribadi cukup mengenal Gus (sapaan akrab kalangan pesantren untuk "abang") Dur (singkatan Abdurrahman). Tahun 1998, ketika melakukan data gathering untuk buku Dari NU untuk Kebangkitan Bangsa, saya sempat ke rumahnya, di Ciganjur.

"Siapa itu yang di luar?" tanyanya pada asisten pribadinya.

"Orang Gramedia, Gus. Sudah janji, mau wawancara."

"Suruh langsung masuk!" kata Gus Dur, tanpa basa basi.

Saya pun menginjakkan kaki di rumah cucu pendiri NU itu. Ketika itu, Gus tengah membidani kelahiran partai NU, Partai Kebangkitan Bangsa.

Dua partai lahir dari rahim NU saat itu. Ibarat ayam, yang keluar dua: satu telur dan lainnya taik. "Lha, PKB itu telur," kata Gus Dur, membuat kami terkekeh-kekeh.....

Di awal berdiri, saya sangat dekat dengan para petinggi PKB, termasuk ketua umumnya, Matori Abdul Djalil. Oleh teman-teman, saya disebut aspiran NU, sekaligus simpatisan nahdliyin. Benar! Itu karena saya mengagumi filosofi NU, terutama ukhuwah atau dengan kata latin fraternity (persaudaraan sejati).

Kini, sang pejuang persaudaraan telah kembali ke khittah (bukan 1926, tapi Sang Khalik), asal mula segala yang hidup. Setelah kelelahan dalam rangkaian perjalanan ke Jombang, 30 Desember pukul 18.45, Gus Dur menutup mata selamanya.

Mengenang beliau, saya memposting tulisan ini. Khusus menyoroti sepak terjang dan perjuangan Gus Dur tanpa lelah melakukan rekonsiliasi nasional.

Semoga sidang pembaca terinspirasi dan tercerahkan!

***

Dengan apatah Gus Dur dapat diibaratkan?

Mungkin paling pas dengan sebuah buku tertutup. Yang sampul depan-belakangnya tersingkap. Lalu, tergeletak dan telanjang bulat di depan kita. Namun, musykil untuk membaca, apalagi memahami seluruh isinya.

Selalu ada-ada saja ide baru yang dilemparkannya. Dan, ide itu kerap menyentak. Tak ada badai tak ada hujan, serta merta ia minta maaf pada para korban G30S/PKI yang “diganyang dan dipinggirkan” Orde Baru, Gus Dur berniat mencabut TAP MPRS No. 25 Tahun 1966, yang melarang paham Marxisme dan komunisme diajarkan dan disebarkan di bumi Indonesia.

Ketika melempar ide itu, pasti Gus Dur sedang tidak bercanda. Sebagai bekas ketua PBNU, sekaligus warga nahdliyin, Gus Dur merasakan betul akibat label “komunis dan PKI”.

Karuan saja, cap ciptaan penguasa Orde Baru itu serta merta menjadi stigma politik. Siapa yang tak sealiran dan berseberangan dengan Orba, langsung digasak. Sebab menentang pemerintah adalah tindakan makar. Dan perbuatan makar cuma dilakukan PKI.

Gus Dur mafhum, dendam-dendam politik yang terkubur dan tak muncul ke permukaan selama ini, hingga sekarang masih kental. Bagai angin, wujud dendam itu tak kasat mata. Namun, bisa dirasa keberadaannya.

Contohnya, begitu mudah emosi massa dibakar dan demikian gampang orang melakukan tindak anarki. Kalau benih dendam tidak ada, mustahil kerusuhan demikian mudah disulut, dan akhirnya, meletus. Tak jarang, eskalasi kerusuhan meluas. Dan kita tak tahu biang penyebabnya, kecuali: dendam kesumat politik.

Dendam politik tak akan ada ujungnya, jika salah satu tak memaafkan. Balas membalas tidak akan mencapai kata akhir, jika salah satu pihak tak mengalah. Dalam konteks itulah, Gus Dur bertekad mencabut TAP MPRS No. XXV/1966. Sebab, TAP tersebut, ketika dibuat, sarat dengan muatan-muatan politis. Baik pertimbangan politik luar negeri, maupun luar negeri.

Konteks lahirnya TAP MPRS
Munculnya TAP MPRS XXV/1966 tak lepas dari konteks. Ketika itu, dunia dibelah dalam dua blok: Timur dan Barat. Blok Timur, dipimpin Uni Sovyet yang berhaluan komunis. Sementara, blok Barat dipimpin Amerika Serikat.

Dalam banyak hal, termasuk mencari pengaruh luarnegeri, kedua blok saling bersaing. Sering persaingan itu sedemikian tajam, sehingga bentrokan-bentrokan baik ideologi maupun fisik, tak bisa dihindari.

Kebetulan, awal tahun 1960-an, Indonesia merupakan salah satu negara di mana komunis tumbuh subur. Amerika tentu saja khawatir, sebagai salah satu negara kawasan Asia yang berpengaruh, jangan-jangan Indonesia berkawan dengan blok Timur. Maka tak ada jalan lain, kecuali menggempur para pentolan politik yang ada di tubuh PKI, sebelum akhirnya partai politik itu menyusahkan Amerika.

Akan tetapi, mengapa PKI gagal di Indonesia? Jawabnya mungkin tidak bisa hitam putih. Banyak studi dan teori yang mencoba menjelaskan hal itu. Satu di antaranya, studi DR. Olle Tornquist dari Universitas Uppsala, Swedia.

Menurutnya, Aidit cs telah keliru di dalam menerapkan teori Marx di Indonesia. Pisau analisa sosial yang dilakukan PKI waktu itu, kurang tajam. PKI terlampau yakin, massa rakyat (proletar) sudah 90% mendukungnya. Studi Tornquist tentang kegagalan komunis di Indonesia terhimpun dalam buku Dilemmas of Third World Communism, The Destruction of the PKI in Indonesia.

Sementara Kathhy Kadane, wartawati States News Service yang mendapat akses langsung dari perpustakaan Lyndon F. Johnson, berdasarkaan hasil korespondensi Kedubes AS dan CIA di Jakarta dengan Washington tahun 1963-1968 mengatakan, tak bisa dimungkiri CIA merupakan salah satu actor intellectual G30S/PKI. CIA sengaja menggunakan momentum isyu Dewan Jendral yang dikeluarkan PKI. Tujuannya menyudutkan PKI sendiri. Dan, dengan itu, berharap rivalitas Timur-Barat segera dapat dimenangkan Amerika.

Maka, demikian studi yang disebutkan di atas, bersekutulah CIA dengan Angkatan Darat dalam upaya menyingkirkan PKI. Dengan begitu, menjadi teranglah. Bahwa AD yang dimaksudkan sebagai “our local army friend” dalam sebuah dokumen rahasia yang dikeluarkan CIA tersebut.

Eksistensi komunis di Indonesia tahun 1960-an, cukup untuk membuat panik kubu Barat. Saat itu, PKI tercatat sebagai partai tertua di Asia. Tatkala HUT ke-45 PKI di Jakarta yang digelar pada 1965, ditaksir anggota PKI sebanyak 3 juta. Dengan jumlah ini, partai PKI mencatatkan diri sebagai partai komunis terbesar ketiga di dunia. Belum termasuk Barisan Tani Indonesia (BTI) yang dibina PKI, dengan anggota tak kurang dari tujuh juta.

Mengapa Marx dan komunis ditampik?
Karl Marx, dedengkot komunis itu, telah lama tiada. Ia meninggal pada 17 Maret 1883. Tak banyak, hanya sebelas orang saja waktu itu yang hadir pada upacara pemakamannya. Jasad penulis buku terkenal Das Kapital itu dibaringkan di pemakaman High Gate, di kota London.

Seorang dari sebelas hadirin yang turut hadir pada pemakaman Marx adalah Friederich Engel, muridnya. Berdua, guru-murid itu telah menyusun Manifesto Komunis. Yang menarik, dalam eulogi (pidato mengantar kematian) Karl Marx, Engel berkata, “Nama, pemikiran, dan karya Anda tak akan mati selamanya!”

Bisa jadi, waktu itu kata-kata Engel terasa berlebihan. Namun kemudian terbukti hampir semua pentolan politik dan tokoh dunia terkemuka pada abad 20 dipengaruhi Marx. Sebut saja Stalin, Lenin, Mao Zedong, Fidel Castro, dan Che Guevara, diakui atau tidak, telah menyerap paham Marx –dan mereka mengaku sebagai penganut Marxisme. Tak pelak, separuh umat manusia di bumi ini mengakui Marx sebagai penuntun dan inspirator.

Menakjubkan, pria Yahudi berjambang lebat kelahiran 5 Mei 1818 itu berhasil mempengaruhi ratusan juta umat manusia, termasuk manusia Indonesia. Apa sebenarnya pesona yang ditebar Marx di balik ajaran-ajarannya? Mengapa ideologi Marxisme-komunisme menarik?

Barangkali jawabnya karena Marx menjadi part of solution banyak orang saat itu. Pada waktu Marx hidup, banyak negara terkungkung dalam sistem politik-ideologi yang totaliter. Penguasa berbuat dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Bersamaan dengan itu, agama sebagai jalan umat manusia menuju Tuhan dijadikan alat atau legitimator penguasa. Padahal, semestinya fungsi agama tidak demikian. Sebaliknya, agama justru berfungsi sebagai pembebas dan mengingatkan penguasa untuk selalu berada di jalan yang benar (profetis).

Sebagai seorang yang tumbuh dari bawah, dari akar rumput Marx (hingga ajalnya Marx tidak memiliki kewarganegaraan yang jelas), kecewa. Ia melihat terjadi penghisapan manusia oleh manusia lain. Kaum buruh menuntut kenaikan upah. Pertentangan kelas terjadi di mana-mana, seakan tak ada hentinya.

Biang dari semua itu, tentu saja, ketidakadilan sosial. Kelas yang dip[erlakukan paling tidak adil itu adalah rakyat jelata. Itulah sebabnya, Marx menginginkan adanya suatu masyarakat tanpa kelas. Ia ingin supaya rakyat jelata atau kaum proletar (dari kata proles = rakyat) terbebas dari kungkungan penguasa, ibarat membentur tembok.

Marx mengamati, manusia tetap menjadi penindas (tyrant) bagi sesamanya. Dan karena penindasan terus berlanjut, maka Allah perlu dinyatakan tiada. Adagium “Allah telah mati,” yang datang filsut Nietze, diberi makna sosial oleh Marx.

Bila ditelusuri dengan rasio dan kepala dingin, sebenarnya sangat menarik ide Marxis, dengan manifesto komunisnya itu. Dalam bangun negara komunis, Marx memimpikan masyarakat sosialis yang egaliter melalui transformasi sosial secara radikal (sampai akarnya)-revolusioner. Itu sebabnya, ide itu sangat menarik terutama bagi mereka yang tak sabar pada perubahan sosial dan pada masyarakat yang gelisah.

Tak mengherankan, di tahun awal kemerdekaan hingga dekade 1960-an, ide-ide Marx yang disemaikan di Indonesia boleh dikatakan tumbuh subur. Presiden Soekarno dalam diplomasi luar negerinya, banyak berteman dengan pemimpin negara-negara blok Timur (komunis), termasuk menjalin hubungan baik dengan RRC. Ia bahkan mendirikan poros Jakarta-Peking.

Soekarno adalah seorang revolusioner. Ia ingin bangsanya segera bangkit, sejajar dengan bangsa maju yang lain. Di dalam upaya mewujudkan gagasannya, Soekarno memandang mungkin hanya PKI-lah yang bisa mendukung impiannya. Institusi tentara pasti tidak bisa mendukung, karena tentara itu antirevolusioner.

Sebagaimana sering diakuinya, Soekarno bukan seorang Marxis, bukan pula komunis. Dalam bayangannya, PKI cumalah “teman” yang bisa diajak berjalan bersama menuju Indonesia yang rakyatnya kuat dan merdeka. Istilah sekarang, menuju civil society. Salahkah gagasan Soekarno itu? Kalau toh salah, mungkin karena ia merangkul PKI.

Kalau ada yang harus dipersalahkan, apa yang mesti dikutuk dari Marxis, komunis, maupun PKI? Karena komunis menolak eksistensi Tuhan? Tidak, komunis –sebagaimana dinyatakan Marx—tetap mengakui adanya Allah, tetapi karena tetap terjadi tirani, maka Allah perlu dinyatakan mati. Allah akan hidup, dalam konsep Marxisme-komunisme, jika tirani sudah tidak ada lagi. Bukankah kita semua bercita-cita melawan tirani?

Komunis di Indonesia wajib dienyahkan karena PKI berkali-kali memberontak? Tunggu dulu, banyak versi soal itu. Persepsi masyakarat yang sudah kadung buruk soal komunis, yang sejak zaman Belanda dianggap sering membuat onar, bukankah itu sengaja dihembuskan dan dibangun pihak lawan? Apakah di balik perusakan nama PKI itu tidak ada campur tangan kubu lain yang berseberangan, misalnya pemuda Marhaen, PNI, atau Ansor dari NU yang juga menyiagakan diri? Istilah “komunistofobi” mungkin cukup untuk menjelaskan, bahwa sebenarnya telah terjadi saling curiga antarkelompok pada saat itu.

Masih adakah alasan lain untuk melenyapkan PKI? Karena pelaku perstiwa makar, G30S/PKI? Seperti sudah dikatakan, studi-studi ilmiah masih membuka kemungkinan lain -–selain pelaku tunggal PKI—dalam peristiwa berdarah itu.

Karena itu, dilihat dari analisis dan kacamata politik, label “komunis” dan “PKI” sebenarnya stigma yang dibuat penguasa untuk menghabiskan lawan politiknya. Terlalu banyak contoh untuk itu. Di masa Orba misalnya, jutaan orang dibantai gara-gara dicap PKI.

Kini Gus Dur hendak menghilangkan stigma politik itu. Dengan mencabut TAP MPRS XXV/1966, berarti selesai pula legitimasi untuk membantai lawan politik secara sewenang-wenang.

Gus Dur tak ingin mengulang pengalaman pahit masa lalu. Ia yakin seyakin-yakinnya. Stigma politik merupakan rintangan utama yang menghalangi rekonsiliasi nasional negeri ini.

Selamat jalan, penggiat demokrasi dan pendekar rekonsiliasi nasional. Upahmu besar di surga!
***

Tidak ada komentar: