Minggu, 06 Februari 2011

Climbing the Iceberg Top

Sebuah gunung es ialah potongan besar es dari air tawar yang patah dari gletser salju atau es terbentuk rak yang mengambang pada permukaan air yang terbuka. Air ini selanjutnya dapat menjadi beku menjadi kumpulan es.

Kemungkinan lain ialah kumpulan air ini bergerak dan tumpah di dasar laut pada air dangkal, menyebabkan es mengalir (juga dikenal sebagai ice gouging) atau menjadi pulau es.

Seperti diketahui bahwa kata "iceberg" merupakan terjemahan dari kata Belanda ijsberg yang secara harfiah berarti gunung es, dari isbjerg dalam bahasa Denmark, Jerman eisberg, Saxon Rendah iesbarg, dan Swedia/ Norwegia isberg. Semua bangsa yang mengenal empat musim tentu mafhum gunung es dan langsung paham akan metafora yang lahir dari fenomenon alam ini.

Apakah Anda pernah melihat gunung es? Yang menarik ialah bahwa apa yang tampak di permukaan, bukan seperti apa yang ada di bawahnya. Sebuah gunung es mengapung di atas air, tetapi es yang berada di bawah permukaan bisa saja cukup mendalam, namun tidak diketahui seberapa besar dan bagaimana sebenarnya kondisi yang ada di bawah permukaannya.

Kerap apa yang tampak di luar, dan apa yang ada di dalam, atau yang ada di permukaan tidak sama sehingga istilah “iceberg” atau gunung es dipakai untuk melukiskan fenomena serupa. Begitu pula dengan manusia.

Manusia, pada hakikatnya, sama dengan gunung es: apa yang tampak di permukaan, tidak sama dengan apa yang ada di dalam. Manusia, sebagaimana bahasan-bahasan sebelumnya, menyimpan “sisi gelap tertentu” yang hanya dirinya sendiri yang mengetahui, namun orang lain tidak mengetahuinya.

Saya tidak akan mengulang lagi membahas apa yang disebut dengan “Johari Windows”, yakni Jendela Johari seseorang yang tersembunyi bagi orang lain jika sisi yang tersembunyi itu tidak dibukakan jendelannya.

Hanya sekadar mengingatkan kembali bahwa pada aras ilmu komunikasi, Johari Windows digambarkan dalam bentuk empat jendela, yakni yang terbuka (open), jendela yang buta (blind), jendela yang tersembunyi (hidden), dan jendela yang tidak diketahui (unknown). Jendela yang tersembunyi dan tidak diketahui orang lain, jika suatu saat terbuka dan orang lain dapat memandang ke dalam, itulah yang dinamakan puncak gunung es. Manakala puncak gunung es meleleh, maka akan tampak isi dan strukturnya. Tampak pula dasarnya yang rapuh.

Ketika satu temuan pada dari seseorang, sekelompok orang, atau suatu organiasi mulai tersingkap satu demi satu dan orang lain kaget karena selama ini tidak mengetahui dan tidak percaya sesuatu yang tersembunyi, maka akan keluarlah ungkapan, “Bagaikan gunung es”. Artinya, ketika sebuah fakta kecil ditemukan, atau muncul ke permukaan, tentu masih ada lebih banyak lagi fakta yang lain di dalam gunung es tersebut yang terselubung. Tentu saja, kadang merupakan hipotesis yang masih perlu untuk dibuktikan lagi.

Gunung es juga mirip dengan kehidupan manusia. Sering kepribadian seseorang hanya tampak di permukaan saja. Kepribadian seseorang seperti gunung es di lautan yang dapat dilihat oleh setiap kapal yang lewat baik di malam hari maupun di siang hari. Puncak gunung es ialah sesuatu yang kita lihat pertama.

Gunung es yang tampak berada di atas air adalah permukaan luar dari kepribadian seseorang.

Kita semua sama seperti gunung es bagi orang lain. Jiga puncak gunung es mencair, orang baru tahu yang ada di bawahnya. Sadari bahwa kita seperti gunung es. Suatu saat akan terkena sinar matahari dan meleleleh. Tidak selalu kita tetap berada di kedalaman laut yang gelap.

Namun, kita bisa mengambil risiko. Kita dapat membuka diri dan menunjukkan pada orang lain agar mereka melihat apa yang ada di bawah permukaan yang tampak. Atau, kita bisa juga membuka diri pada orang lain agar mereka pun melihat melampaui permukaan. Yang penting, apakah kita mau mengungkapkan apa yang di bawah permukaan atau tidak?

Apa sebenarnya yang paling penting, sesuatu yang tampak di permukaan, ataukah isi yang ada di dalam? Seperti dikatakan di muka, puncak gunung es adalah fenomena. Artinya, apa yang ada di kedalaman diri kita begitu banyak, namun orang lain tidak selalu melihatnya. Atau jika pun melihatnya maka yang tampak hanyalah permukaan saja. Kedalaman jiwa kita adalah diri kita yang sejati, bukan apa yang mengapung dan tampak di permukaan.

Diri kita yang mengapung di permukaan ialah sesuatu yang artifisial, yang dapat berubah sewaktu-waktu. Namun, yang membuat kita benar-benar hidup adalah hati kita, jiwa kita, mimpi kita. Dan yang paling pokok ialah keinginan dan hasrat agar apa yang kita cita-citakan harus tercapai.
Seperti fenomena gunung es, manusia pun memunyai sisi-sisi gelap tertentu yang tidak muncul ke permukaan. Namun, suatu saat akan tampak manakala gunung es kita meleleh.

Fenomenon puncak gunung es bukan saja memunculkan banyak metafora, akan tetapi juga teori. Sebagaimana diketahui bahwa “The Iceberg Theory” (juga populer dengan "theory of omission") ialah terminologi untuk menggambarkan gaya tulisan penulis Amerika, Ernest Hemingway (1899-1961). Hemingway amat populer karena mahakaryanya yang universal dan populis berjudul The Sun Also Rises, A Farewell to Arms, dan The Old Man and the Sea.

Menurut Hemingway, manakala seseorang menulis menguasai topik yang ditulisnya maka pembaca akan memahami, lalu mengapresiasi tulisannya. Akan tetapi, manakala penulis tidak jelas menyebut (omission) atau menulis sesuatu sehingga kurang “nyambung”, maka ia memberikan kesempatan kepada pembaca untuk meneruskan cerita itu dalam perspektif mereka sendiri. Jeda ini memberikan kesempatan pada pembaca untuk berpikir mengenai alternatif dan setting cerita yang mungkin dibangun.

The Iceberg Theory kemudian dikembangkan dalam berbagai bidang, termasuk di bidang bisnis dan manajemen. Pada 2005, Stephen G. Haines dari Centre for Strategic Management mengembangkan konsep “The Iceberg Theory of Change”, suatu pendekatan sistem berpikir yang dapat meningkatkan kapasitas keunggulan bersaing dalam dunia bisnsis.

Bagaimana konsep itu? Sebenarnya, cukup sederhana. Gambarnya ialah sebuah prisma segitiga. Segitiga yang ada di depan, kita sebut sebagai yang pertama, di tengah adalah segitga yang kedua, dan yang paling kiri adalah segitiga yang ketiga.

Pada segitiga pertama terdapat tiga lapisan, paling puncak (peak) adalah lapisan 1 di mana terdapat gunung es karena letaknya di atas permukaan laut. Puncak ini disebut sebagai isi (content), yakni bagian yang paling tampak dan kasat mata. Untuk meraih keunggulan kompetitif di dunia bisnis, bagian ini memberikan kontribusi 13%.

Pada lapisan yang kedua terdapat apa yang disebut sebagai “proses” yang kata kuncinya adalah “how”. Bagian ini berada di bawah permukaan laut, tidak tampak.

Sementara lapisan ketiga ialah struktur (framework) yang terdapat di dalam kedalaman dasar laut. Struktur ini disangga oleh kultur dan komitmen. Sistem berpikir ada dalam lapisan ini.

Dua lapisan segitita pertama gunung es di bawah permukaan laut ini bersama-sama dengan segitga kedua (resources) dan segitiga ketiga (competences) memberikan sumbangan yang sangat besar untuk meraih keunggulan kompetitif di dunia bisnis, yakni 87%.

Apa hikmat puncak gunung es bagi kita? Banyak sekali. Yang pertama, tentu saja, jangan pernah menilai atau menghakimi orang berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Mengapa? Seperti gunung es, permukaan hanyalah apa yang tampak secara fisik, tidak mencerminkan isi dan struktur yang ada di dalam.

Sebagaimana dikemukakan Stephen G. Haines bahwa apa yang tampak di atas permukaan baru menggambarkan sebagian kecil (13%) dari isi dan luas gunung es yang sesungguhnya.

Di pihak lain, apa yang ada di bawah permukaan (laut) justru isi dan luasnya lebih besar, yakni 85%. Meski tidak tampak secara fisik, bagian yang terdiri atas dua lapisan ini kontribusinya sangat besar.

Proses dan kultur ada di lapisan ini, karena itu, puncak gunung es sebenarnya adalah akumulasi dari bagian yang tidak tampak ini.
Jika judul tulisan ini mengajak pembaca untuk mendaki peak gunung es maksudnya tentu tidak harfiah.

Di ketinggian, kita baru dapat mengukur seberapa tinggi sebuah gunung. Di ketinggian pula, biasanya orang menyadari bahwa dia “bukan siapa-siapa”.

Setelah bersusah payah mengerahkan tenaga dan pikiran meraih puncak, pendaki menyadari bahwa apa yang diraihnya memerlukan tekad dan mental baja. Hanya orang yang mengalami bahwa mencapai sesuatu tidak mudah akan menghargai pencapaiannya dan memahami para pendaki yang mencoba, namun belum berhasil mencapai puncak.

Mencapai puncak gunung es tidak mudah. Namun, jika sudah berada di puncak, akan menjadi jelas bangun struktur dan isinya.

Kita perlu mengetahui apa isi dan bangun struktur gunung es agar dapat mengambil keputusan tepat dan menetapkan langkah yang mantap. Dengan demikian, pendekatan lebih holistik karena tidak mendasarkannya hanya semata-mata pada fenomena yang hanya mencuat di permukaan.

Tidak ada komentar: